Home / Fantasi / Turun Gunung Memikul Takdir / 18. Para Pria Bertopeng

Share

18. Para Pria Bertopeng

Author: Murlox
last update publish date: 2026-09-18 12:08:33

Gerak-gerik kedua sosok itu terlalu terlatih untuk sekadar pengawal biasa. Langkah mereka ringan, nyaris tak menimbulkan suara sedikit pun, dan mereka bergerak dengan kewaspadaan tinggi—seolah terbiasa menghindari mata-mata yang mengintai.

Firasat Wan Xuan langsung berbisik. Ada sesuatu yang tidak beres.

Tanpa berpikir panjang, ia mengubah arah tujuannya. Kompleks megah di selatan kota bisa menunggu, kedua sosok ini tampak jauh lebih mencurigakan.

Wan Xuan mulai mengikuti mereka dari kejauhan, menjaga jarak aman sambil tetap memastikan kedua sosok itu tak keluar dari jangkauan pandangannya.

Mereka bergerak melintasi atap-atap rumah penduduk, menghindari jalur patroli penjaga kota dengan gerakan yang begitu terlatih hingga hampir mustahil terdeteksi oleh orang awam.

Wan Xuan mengikuti dengan hati-hati, memastikan auranya tetap tersembunyi rapat.

Semakin jauh mereka bergerak, semakin jelas arah tujuan kedua sosok itu—mereka menuju sisi timur Kota Linmeng, sebuah kawasan yang cukup sepi dan jarang dilalui penduduk pada malam hari.

“Timur kota...” gumam Wan Xuan dalam hati. “Bukankah beberapa mayat korban pembunuhan ditemukan di sekitar sana?”

Ingatannya kembali pada informasi yang telah ia kumpulkan selama beberapa hari terakhir. Sebagian besar lokasi penemuan mayat memang berada di kawasan timur kota Linmeng.

Firasatnya semakin menguat.

Setibanya di kawasan timur, kedua sosok bertopeng itu berhenti di depan sebuah bangunan tua yang tampak terbengkalai. Dinding-dindingnya retak dimakan waktu, sementara pintu kayunya sudah lapuk dan berderit pelan tertiup angin.

Wan Xuan bersembunyi di balik reruntuhan tembok tak jauh dari sana, mengamati dengan saksama setiap gerakan mereka.

Salah satu sosok mengetuk pintu dengan pola tertentu—tiga ketukan cepat, jeda sejenak, lalu dua ketukan pelan.

Pintu itu terbuka perlahan dari dalam, menampakkan kegelapan pekat di baliknya.

Kedua sosok bertopeng itu melangkah masuk tanpa ragu, dan pintu kembali tertutup rapat.

Wan Xuan menunggu beberapa saat sebelum akhirnya mendekat dengan sangat hati-hati, memanfaatkan celah kecil di dinding bangunan untuk mengintip ke dalam.

Yang ia lihat membuat dugaannya semakin kuat.

Di dalam ruangan remang itu, tergeletak beberapa jasad yang darahnya masih hangat—masing-masing dengan lubang menganga di dada dan wajah tanpa bola mata. Persis seperti kasus-kasus pembunuhan yang selama ini menghebohkan Kota Linmeng.

Kedua sosok bertopeng itu berdiri di tengah ruangan, tampak sedang membahas sesuatu dengan nada rendah, meski Wan Xuan tak bisa menangkap seluruh percakapan mereka dengan jelas.

Namun satu hal sudah pasti baginya.

“... mereka lah dalang di balik semua kasus pembunuhan di kota ini,” batin Wan Xuan dingin, tatapannya semakin tajam di balik topeng musangnya.

Amarah sempat menggelegak dalam dadanya, namun ia menahan diri. Menyerang sekarang hanya akan menjadi tindakan gegabah. Ia belum tahu berapa banyak kekuatan yang mereka miliki, atau siapa saja yang berdiri di belakang mereka.

Wan Xuan memilih untuk tetap diam, mengamati dari kejauhan sambil menyimpan setiap detail yang bisa ia ingat.

“Belum waktunya,” gumamnya pelan dalam hati. “Aku harus tahu lebih banyak sebelum bergerak.”

Seorang pria kembali dari ruangan di belakang bangunan kosong itu, membawa dua kotak kayu berukuran sedang yang terselip di sela pinggangnya.

Kedua pria bertopeng masing-masing mengambil satu peti, lalu bertukar instruksi singkat sebelum bergerak mendekati pintu keluar.

Sementara itu, Wan Xuan tetap bersembunyi di tempat yang cukup aman, bahkan menekan auranya sedemikian rupa agar tak terdeteksi.

Begitu kedua sosok bertopeng itu pergi sambil membawa peti masing-masing, Wan Xuan menatap mereka sejenak sebelum mulai mengikuti dari belakang, menjaga jarak dengan hati-hati.

“Kalau mereka dibiarkan, seluruh kota bisa menjadi korban berikutnya,” batin Wan Xuan resah.

Namun ia segera menepis kepedulian itu. Ia kembali mengingat tujuan awalnya datang ke tempat ini—mencari petunjuk tentang kematian gurunya, bukan untuk berbuat kebaikan sementara dirinya sendiri masih belum cukup kuat untuk melindungi orang-orang yang penting baginya.

“Arah mereka berubah?” bisiknya setelah mengamati dari kejauhan.

Kedua sosok bertopeng itu semula melesat menuju jalur yang sama seperti sebelumnya, yang berarti tujuan mereka adalah kediaman raja kota.

Namun entah benar atau tidak dugaannya, keduanya justru berbelok tiba-tiba ke arah kiri, menuju wilayah hutan di luar benteng kota bagian timur.

Alis Wan Xuan berkerut. Semakin jauh ia mengikuti, semakin buruk pula firasat yang menghantuinya.

Tepat saat ia mendarat di sebidang tanah lapang, Wan Xuan baru menyadari bahwa keberadaannya telah terendus.

“Padahal aku sudah menyembunyikan auraku sebaik mungkin,” gumamnya agak heran, meski ekspresinya tetap datar tanpa gejolak.

Kedua sosok bertopeng itu turut berhenti tak jauh dari sana, berdiri tegak di atas dahan pohon yang menjulang tinggi.

“Hah? Mari kita lihat siapa yang berani mengikuti kita sampai sejauh ini,” kata salah satu sosok bertopeng dengan nada meremehkan.

“Hei... pakaian yang kita kenakan hampir mirip. Sayangnya, kau bukan bagian dari kami,” imbuh sosok satunya sambil menyipitkan mata di balik topengnya.

Wan Xuan tak menjawab. Ia hanya berdiri tegak, tanpa secuil pun rasa takut atau terancam.

“Jantung dan mata manusia... apa yang sebenarnya kalian rencanakan dengan benda-benda itu?” tanyanya datar, langsung menusuk inti persoalan.

Kedua sosok bertopeng itu tertegun sejenak. Mereka tak menyangka sosok misterius di hadapan mereka ternyata sudah mengetahui isi peti yang mereka bawa.

Namun mereka tak menganggapnya sebagai ancaman berarti. Salah satu di antara mereka justru tertawa getir, suaranya menggema dalam kesunyian malam.

“Ada hal-hal yang tak sepatutnya diketahui bocah ingusan sepertimu. Tapi karena kau sudah melihat kami dan mengetahui apa yang kami bawa... kami terpaksa harus menyingkirkanmu.”

Kata-kata terakhir sosok itu terdengar dingin, membawa tekanan yang cukup untuk membuat bulu kuduk siapa pun meremang.

“Hahaha... kau mengancamnya, tapi dia sama sekali tak tampak takut. Bukankah itu berarti dia bukan bocah biasa?” seru sosok lainnya, nada suaranya bercampur antara geli dan waspada.

Angin malam berembus pelan di antara dedaunan, seolah ikut menahan napas menyaksikan ketegangan yang mulai terbentuk. Wan Xuan tetap berdiri diam, matanya yang tajam di balik topeng rubah mengamati setiap gerak-gerik kedua sosok di hadapannya, menghitung langkah selanjutnya dengan kepala dingin.

"Yah terserah lah, siapapun dia karena sudah mengikuti kita sejauh ini... Bunuh saja."

"Tentu saja, jangan tinggalkan jejak sekecil apapun."

Akhirnya kedua sosok bertopeng menghunus pedang yang terikat di balik punggung mereka.

Suara gesekan logam dan kayu menggema di tengah kesunyian malam.

Salah satu sosok bertopeng menghentakkan kakinya di batang pohon, lalu melesat maju seperti bayangan hitam yang menyatu dengan kegelapan.

Pertarungan tak terelakkan akhirnya pecah.

Wan Xuan bahkan tak sempat memikirkan bagaimana dirinya bisa ketahuan secepat ini.

Kalau sudah begini, tak ada lagi jalan keluar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Jumadil Madil
ditunggu lanjutannta
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Turun Gunung Memikul Takdir   20. Mengulur Kematian

    Sosok bertopeng yang tersisa mengatupkan rahangnya keras-keras. Ia sadar betul bahwa kemampuan lawannya berada jauh di luar jangkauannya, bahkan mustahil untuk ditandingi.Ia menggeretakkan gigi dengan kesal. Tak peduli apa pun yang akan terjadi selanjutnya, ia hanya bisa pasrah sambil mencoba mencari celah untuk keluar dari situasi terjepit ini.“Kemampuan orang ini sulit dijelaskan dengan akal sehat. Bagaimana caraku menghabisinya? Atau setidaknya, bagaimana caraku bisa melarikan diri dari sini?” batin sosok bertopeng itu, dipenuhi kepanikan yang berusaha ia sembunyikan.Dalam jarak sekitar sepuluh meter, Wan Xuan menatapnya dalam diam. Ia bahkan tak lagi menghunus pedangnya—senjata itu justru kembali melekat tenang di balik punggungnya, seolah tak dianggap perlu.“Kau... biarkan aku pergi. Jika kau bersikeras ingin membunuhku di sini, cepat atau lambat tuanku akan mencarimu dan membalaskan dendam ini,” kata sosok bertopeng itu, berusaha mengulur waktu sebisa mungkin.“Setidaknya, j

  • Turun Gunung Memikul Takdir   19.Pedang Itu Kembali Terhunus

    Matanya menatap tajam di balik topeng rubah, sementara posturnya tetap tegap tanpa kuda-kuda yang berlebihan.Wan Xuan memutar tangannya sedikit. Pedang di balik punggungnya pun ditarik, lalu ditebaskan lurus dari atas.Sosok itu hanya terkekeh getir melihat bagaimana Wan Xuan mengayunkan pedangnya bak seorang petarung pemula.Saat bilah pedang melesat dari sisi kiri dan membidik leher sosok itu, ia mengayunkan bilah pedang di tangannya yang diselimuti denyut tipis hingga menggetarkan ruang.Ding!Hanya dengan sekali tebas, sosok itu dapat membelokkan serangan bilah logam tersebut dengan gerakan sederhana, membuat pedang Wan Xuan bergetar dan berdenting nyaring.Wan Xuan tak terkejut. Ia justru menatap dengan ekspresi datar di balik topeng rubahnya.Ia sengaja membiarkan bilah pedangnya terpental dan memanfaatkan momentum tersebut untuk melompat maju dengan kecepatan kilat.Sosok bertopeng yang berada paling depan itu tertegun. Wan Xuan telah muncul tepat di hadapannya. Bahkan yang le

  • Turun Gunung Memikul Takdir   18. Para Pria Bertopeng

    Gerak-gerik kedua sosok itu terlalu terlatih untuk sekadar pengawal biasa. Langkah mereka ringan, nyaris tak menimbulkan suara sedikit pun, dan mereka bergerak dengan kewaspadaan tinggi—seolah terbiasa menghindari mata-mata yang mengintai.Firasat Wan Xuan langsung berbisik. Ada sesuatu yang tidak beres.Tanpa berpikir panjang, ia mengubah arah tujuannya. Kompleks megah di selatan kota bisa menunggu, kedua sosok ini tampak jauh lebih mencurigakan.Wan Xuan mulai mengikuti mereka dari kejauhan, menjaga jarak aman sambil tetap memastikan kedua sosok itu tak keluar dari jangkauan pandangannya.Mereka bergerak melintasi atap-atap rumah penduduk, menghindari jalur patroli penjaga kota dengan gerakan yang begitu terlatih hingga hampir mustahil terdeteksi oleh orang awam.Wan Xuan mengikuti dengan hati-hati, memastikan auranya tetap tersembunyi rapat.Semakin jauh mereka bergerak, semakin jelas arah tujuan kedua sosok itu—mereka menuju sisi timur Kota Linmeng, sebuah kawasan yang cukup sepi

  • Turun Gunung Memikul Takdir   17. Bergerak dalam gelap

    Di tengah malam yang sunyi, cahaya bulan memancar redup, tak cukup kuat untuk melawan pekatnya kegelapan malam.Wan Xuan berdiri tegak di atas atap salah satu bangunan di pusat markas penjaga kota.Ia telah mengganti pakaiannya dengan seragam serba hitam. Wajahnya tertutup topeng kayu berukir yang menyerupai seekor musang.Setelah memastikan tak ada seorang pun yang memperhatikannya, ia tiba-tiba menghilang, seolah ditelan oleh kegelapan malam itu sendiri.Sementara itu, di tempat semula Wan Xuan tinggal sebagai tahanan rumahan, Sun Liang masih berbaring di pojok ruangan yang gelap—cukup gelap untuk menyembunyikan bentuk tubuh dan auranya.Tak lama kemudian, matanya terbuka dalam satu gerakan cepat. Ia menoleh ke arah tempat Wan Xuan biasa berbaring, namun tak menemukan siapa pun di sana.“Eh? Ke mana bajingan itu pergi?” tanya Sun Liang pada dirinya sendiri.Ekspresi wajahnya mulai menegang, bercampur antara kesal dan sedikit kepanikan.Ia segera mengerahkan indra spiritualnya, menya

  • Turun Gunung Memikul Takdir   16. Peringatan & Keluhan

    Sesaat kemudian, langkah ringan terdengar. Dari balik bayang-bayang di pojok ruangan, sosok Sun Liang muncul dengan senyum lebar terpasang di wajahnya.“Hmm-hmm... sudah kuduga. Tiba-tiba menyerahkan diri untuk ditahan—ternyata kau memang mengincar Komandan Xin.”Sun Liang menutup separuh mulutnya saat berbicara, sementara matanya melengkung seolah menahan tawa geli.Wan Xuan tak repot-repot menggubrisnya. Ia hanya ingin menanyakan satu hal.“Kau sendiri senang mengintip seorang pria. Sejak awal aku sudah curiga seleramu agak... menjijikkan.”Ucapan itu datar namun menohok, apalagi kata terakhir yang sengaja ia tekankan. Sun Liang tak menyangka pria sedingin Wan Xuan bisa melontarkan kalimat semacam itu.“Ka-kau—jangan sembarangan menilaiku begitu, sialan!” gerutu Sun Liang, wajahnya memerah menahan malu.“Kalau begitu, apa yang kau lakukan di sini?”Sun Liang berdeham pelan, memperbaiki posturnya hingga kembali tegap. Ia berlagak seolah-olah dirinya seorang petapa bijak yang penuh wi

  • Turun Gunung Memikul Takdir   15. Selamat Malam

    “Ba-bagaimana bisa...” Feng Sui menggeretakkan giginya, wajahnya bergantian antara merah dan pucat. “Kau benar-benar hanya menipuku selama ini?”“Anggap saja sebagai pelajaran,” jawab Wan Xuan datar. “Lain kali, pikirkan dulu sebelum menyerang orang yang tak kau kenal.”Feng Sui hendak membalas, namun Xin Nian buru-buru menahan bahunya.“Sudah cukup, Wakil Komandan Feng. Kembalilah beristirahat. Urusan ini biar aku yang tangani.”Feng Sui masih menatap tajam ke arah Wan Xuan, namun akhirnya ia mendecih dan berbalik pergi dengan langkah kaku, menyisakan tawa kecil dari beberapa penjaga yang menyaksikan dari kejauhan.Xin Nian menghela napas, lalu menoleh pada Wan Xuan.“Kau sengaja membuatnya panik seperti itu?”“Dia menyerangku duluan,” jawab Wan Xuan singkat. “Aku hanya membalas secukupnya.”Xin Nian tak membalas, hanya menatap pemuda di hadapannya dengan pandangan sulit diartikan—campuran antara curiga dan sesuatu yang lain yang belum ia pahami sendiri....Malam itu, langit Kota Li

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status