Mag-log inMatanya menatap tajam di balik topeng rubah, sementara posturnya tetap tegap tanpa kuda-kuda yang berlebihan.
Wan Xuan memutar tangannya sedikit. Pedang di balik punggungnya pun ditarik, lalu ditebaskan lurus dari atas. Sosok itu hanya terkekeh getir melihat bagaimana Wan Xuan mengayunkan pedangnya bak seorang petarung pemula. Saat bilah pedang melesat dari sisi kiri dan membidik leher sosok itu, ia mengayunkan bilah pedang di tangannya yang diselimuti denyut tipis hingga menggetarkan ruang. Ding! Hanya dengan sekali tebas, sosok itu dapat membelokkan serangan bilah logam tersebut dengan gerakan sederhana, membuat pedang Wan Xuan bergetar dan berdenting nyaring. Wan Xuan tak terkejut. Ia justru menatap dengan ekspresi datar di balik topeng rubahnya. Ia sengaja membiarkan bilah pedangnya terpental dan memanfaatkan momentum tersebut untuk melompat maju dengan kecepatan kilat. Sosok bertopeng yang berada paling depan itu tertegun. Wan Xuan telah muncul tepat di hadapannya. Bahkan yang lebih buruk, ia sama sekali tak melihat bagaimana Wan Xuan bergerak. Mendadak, udara terasa semakin dingin. Sosok bertopeng itu merasakan bulu kuduknya meremang, sementara instingnya berpacu menuju titik tertinggi. Sesaat setelah Wan Xuan muncul di hadapannya, bilah logam yang memantulkan cahaya bulan melintas tepat di depan matanya. Sosok itu menahan napas. Posisinya benar-benar tak diuntungkan oleh serangan tersebut. “Sial!” Sosok bertopeng mengutuk tajam. Dengan tergesa-gesa, ia memaksakan tubuhnya berputar di udara, lalu memacu Qi untuk menyelimuti lengan kirinya, berharap dapat menangkis tebasan Wan Xuan secara langsung. Bilah pedang menebas lengan itu. Craaak! Suara benturan keras menggema di tengah hutan. Lapisan Qi yang menyelimuti lengan sosok tersebut pecah seketika, seperti kaca tipis yang dihantam batu. Tubuhnya terlempar dan menghantam batang pohon tua hingga kulit kayunya retak. Ia berguling di tanah, lalu segera bangkit dengan satu lutut. Dari balik topengnya terdengar napas berat. “Bagaimana mungkin?” Wan Xuan tidak memberinya waktu untuk berpikir. Ia menginjak tanah dan melesat kembali. Pedangnya bergerak sederhana, tanpa teknik mencolok, tetapi setiap tebasan mengarah pada titik yang paling sulit dihindari. Sosok bertopeng itu buru-buru mengangkat pedangnya. Ding! Ding! Ding! Tiga benturan berturut-turut membuat telapak tangannya mati rasa. Ia mundur beberapa langkah, sedangkan Wan Xuan tetap berdiri di tempat semula seolah tidak mengerahkan tenaga sedikit pun. “Gerakanmu terlalu lambat,” ujar Wan Xuan datar. Sosok kedua akhirnya ikut turun tangan. Ia melemparkan dua jarum hitam dari balik lengan bajunya. Jarum-jarum itu melesat tanpa suara, membidik leher dan dada Wan Xuan. Wan Xuan memiringkan kepala. Jarum pertama menembus helaian rambutnya, sementara jarum kedua menancap di tanah. Dalam sekejap, rerumputan di sekitar jarum itu menghitam dan layu. “Racun?” gumam Wan Xuan. Tatapannya berubah dingin, seolah-olah ia baru saja melihat sesuatu yang familiar. Kedua sosok itu saling berpandangan. Untuk pertama kalinya, tidak ada ejekan di mata mereka. “Bunuh dia sekarang!” teriak sosok pertama. Mereka menyerang bersamaan. Satu dari kiri, satu dari kanan. Pedang mereka membelah udara, membentuk kepungan rapat yang menutup seluruh jalan mundur. Wan Xuan justru melangkah maju. Tubuhnya berputar di antara dua bilah pedang. Ia menunduk menghindari tebasan pertama, lalu menghantamkan gagang pedangnya ke perut sosok kedua. Buk! Sosok itu terhuyung. Sebelum sempat memperbaiki posisi, Wan Xuan menyapu kakinya hingga ia jatuh tersungkur. Sosok pertama menggeram dan menusukkan pedang dari belakang. Wan Xuan berhenti. Ujung pedang hanya berjarak sejengkal dari punggungnya. Ia berbalik dan menjepit bilah pedang lawan dengan dua jarinya. Retakan halus menjalar di sepanjang pedang itu. Sosok bertopeng tersebut membeku. “Tidak mungkin…?” Wan Xuan menjentikkan jarinya. Krak! Pedang itu patah menjadi dua. ... Bagaimana mungkin kekuatan sebesar itu dimiliki oleh seorang pemuda tak dikenal? Pertanyaan tersebut menggema di dalam benak kedua sosok bertopeng. Di balik pelat kayu tipis yang menyembunyikan wajah mereka, keterkejutan semakin menjadi-jadi. “Sejak awal, dia telah menyembunyikan kekuatan sejatinya. Kami benar-benar tertipu,” batin salah satu sosok bertopeng. Keduanya saling berpandangan sesaat. Mereka seolah memahami maksud satu sama lain hanya melalui anggukan singkat. “Dia bukan pemuda biasa. Ayo, mundur.” Sosok bertopeng itu memegangi lengan kirinya yang hampir terpotong. Kemudian, ia melompat mundur dengan cepat, diikuti oleh rekannya. Wan Xuan tersenyum tipis. Senyum itu tersembunyi di balik topeng rubah yang dingin dan menusuk. Ia tidak bergerak dari tempatnya. Pemuda itu hanya menatap bilah logam yang masih berada dalam genggamannya. Setelah memutar pergelangan tangan, ia melemparkan pedang tersebut hingga menukik lurus, membidik salah satu sosok bertopeng. Selama berada di Kota Linmeng, Wan Xuan tidak pernah sekalipun menghunus pedang itu dari sarungnya. Bahkan sejak memilikinya, pedang tersebut hanya bisa dihitung dengan jari tangan berapa kali telah dikeluarkan. Namun malam ini, di bawah sinar bulan yang temaram, pedang itu kembali terhunus. Langit menjadi saksi bisu ketika bilah tersebut merenggut darah pertama sejak Wan Xuan tiba di Kota Linmeng. Salah satu sosok bertopeng merasakan hawa dingin menjalar di balik punggungnya. Nalurinya memperingatkan bahwa sesuatu yang buruk sedang mendekat. Ia menoleh dan matanya terbelalak. Bilah logam berwarna pucat itu telah melesat ke arahnya, membidik tepat organ vital di tengah dadanya. “Ack!” Jeritan singkat terdengar, lalu terputus secara mengerikan. Dalam satu tarikan napas, sosok bertopeng itu langsung roboh. Tubuhnya terhempas dan menghantam tanah yang kasar. Sementara itu, peti kayu yang dibawanya terlempar ke samping dengan cukup keras hingga tutupnya terbuka dan isinya jatuh berserakan. Puluhan pasang bola mata manusia menggelinding keluar dari dalam peti. Jumlahnya begitu banyak hingga tidak mungkin dihitung hanya dengan sekali pandang. Sosok bertopeng yang tersisa menoleh sekilas. Pemandangan tersebut membuat napasnya tercekat, tetapi ia segera mengatupkan gigi. “Tidak peduli apa yang terjadi, aku harus kabur dari sini.” Napasnya terembus berat. Tanpa memedulikan kondisi tubuhnya, ia terus memacu langkah dan tidak berani menoleh ke belakang. Sisa-sisa Qi di dalam tubuhnya diperas habis. Ia menyalurkan seluruh energi tersebut ke bagian bawah pinggangnya, berharap dapat bergerak secepat kilat. “Seorang seniman bela diri yang hampir mencapai ranah Grandmaster sepertiku tidak mungkin dikejar dalam kecepatan seperti ini.” “Begitu tiba di markas, aku akan melaporkan pemuda itu. Setelah itu, aku akan kembali membawa lebih banyak pasukan untuk membunuhnya. Tunggu saja, kau sialan!” Ia terus melaju menembus kegelapan, meninggalkan rekannya yang telah tewas tanpa sedikit pun keraguan. Namun, setelah beberapa saat, langkahnya mulai goyah. Luka pada lengan kirinya membuat darah mengalir deras, sementara penggunaan Qi secara berlebihan membuat tubuhnya semakin lemah. Ia tetap memaksa diri untuk berlari. Di belakangnya, tidak terdengar suara pengejaran. Tidak ada langkah kaki, tidak ada teriakan, bahkan tidak ada suara ranting patah. Keheningan itu seharusnya membuatnya lega. Namun justru sebaliknya. Sosok bertopeng tersebut tiba-tiba merasakan hawa dingin menyentuh tengkuknya. Ia berhenti, lalu menatap ke depan dengan wajah tegang. Wan Xuan berdiri di atas sebuah batu besar, seolah telah menunggunya sejak tadi. Topeng rubah di wajahnya memantulkan cahaya bulan, sementara pedang yang baru saja dilemparkannya telah kembali ke dalam sarungnya. “Kau…” Suara sosok bertopeng itu bergetar. “Bagaimana kau bisa berada di sini?” Wan Xuan menatapnya tanpa emosi. Ia tak menjawab seolah-olah pertanyaan itu tak berarti baginya.Matahari menyingsing dari arah timur, menerangi Kota Linmeng dengan kilau keemasan yang penuh kehangatan.Embun beku akibat dinginnya malam perlahan mencair, menciptakan kilau indah dari pantulan sinar matahari pada rerumputan dan helai-helai dedaunan.Markas pusat penjaga kota kembali disibukkan oleh penyelidikan kasus pembunuhan. Beberapa prajurit penyidik sudah dikerahkan untuk menyisir setiap sudut kota.Hanya saja, Komandan Xin Nian tak tampak senang. Ekspresi wajahnya agak cemberut, menyimpan sedikit... kecurigaan yang enggan ia ungkapkan.“Huh... ke mana orang itu pergi? Wan Xuan seharusnya sadar dirinya berada dalam kondisi yang tak menguntungkan sekarang, tapi dia justru menghilang begitu saja,” gumamnya kesal.Xin Nian berjalan tergesa menuju kediaman tempat penahanan Wan Xuan. Mendengar kabar bahwa Wan Xuan menghilang dari tempatnya sudah cukup membuat jantungnya berdebar tak menentu.“Untung saja Feng Sui belum mengetahui apa pun. Kalau tidak, dia pasti jadi orang pertama
Sosok bertopeng yang tersisa mengatupkan rahangnya keras-keras. Ia sadar betul bahwa kemampuan lawannya berada jauh di luar jangkauannya, bahkan mustahil untuk ditandingi.Ia menggeretakkan gigi dengan kesal. Tak peduli apa pun yang akan terjadi selanjutnya, ia hanya bisa pasrah sambil mencoba mencari celah untuk keluar dari situasi terjepit ini.“Kemampuan orang ini sulit dijelaskan dengan akal sehat. Bagaimana caraku menghabisinya? Atau setidaknya, bagaimana caraku bisa melarikan diri dari sini?” batin sosok bertopeng itu, dipenuhi kepanikan yang berusaha ia sembunyikan.Dalam jarak sekitar sepuluh meter, Wan Xuan menatapnya dalam diam. Ia bahkan tak lagi menghunus pedangnya—senjata itu justru kembali melekat tenang di balik punggungnya, seolah tak dianggap perlu.“Kau... biarkan aku pergi. Jika kau bersikeras ingin membunuhku di sini, cepat atau lambat tuanku akan mencarimu dan membalaskan dendam ini,” kata sosok bertopeng itu, berusaha mengulur waktu sebisa mungkin.“Setidaknya, j
Matanya menatap tajam di balik topeng rubah, sementara posturnya tetap tegap tanpa kuda-kuda yang berlebihan.Wan Xuan memutar tangannya sedikit. Pedang di balik punggungnya pun ditarik, lalu ditebaskan lurus dari atas.Sosok itu hanya terkekeh getir melihat bagaimana Wan Xuan mengayunkan pedangnya bak seorang petarung pemula.Saat bilah pedang melesat dari sisi kiri dan membidik leher sosok itu, ia mengayunkan bilah pedang di tangannya yang diselimuti denyut tipis hingga menggetarkan ruang.Ding!Hanya dengan sekali tebas, sosok itu dapat membelokkan serangan bilah logam tersebut dengan gerakan sederhana, membuat pedang Wan Xuan bergetar dan berdenting nyaring.Wan Xuan tak terkejut. Ia justru menatap dengan ekspresi datar di balik topeng rubahnya.Ia sengaja membiarkan bilah pedangnya terpental dan memanfaatkan momentum tersebut untuk melompat maju dengan kecepatan kilat.Sosok bertopeng yang berada paling depan itu tertegun. Wan Xuan telah muncul tepat di hadapannya. Bahkan yang le
Gerak-gerik kedua sosok itu terlalu terlatih untuk sekadar pengawal biasa. Langkah mereka ringan, nyaris tak menimbulkan suara sedikit pun, dan mereka bergerak dengan kewaspadaan tinggi—seolah terbiasa menghindari mata-mata yang mengintai.Firasat Wan Xuan langsung berbisik. Ada sesuatu yang tidak beres.Tanpa berpikir panjang, ia mengubah arah tujuannya. Kompleks megah di selatan kota bisa menunggu, kedua sosok ini tampak jauh lebih mencurigakan.Wan Xuan mulai mengikuti mereka dari kejauhan, menjaga jarak aman sambil tetap memastikan kedua sosok itu tak keluar dari jangkauan pandangannya.Mereka bergerak melintasi atap-atap rumah penduduk, menghindari jalur patroli penjaga kota dengan gerakan yang begitu terlatih hingga hampir mustahil terdeteksi oleh orang awam.Wan Xuan mengikuti dengan hati-hati, memastikan auranya tetap tersembunyi rapat.Semakin jauh mereka bergerak, semakin jelas arah tujuan kedua sosok itu—mereka menuju sisi timur Kota Linmeng, sebuah kawasan yang cukup sepi
Di tengah malam yang sunyi, cahaya bulan memancar redup, tak cukup kuat untuk melawan pekatnya kegelapan malam.Wan Xuan berdiri tegak di atas atap salah satu bangunan di pusat markas penjaga kota.Ia telah mengganti pakaiannya dengan seragam serba hitam. Wajahnya tertutup topeng kayu berukir yang menyerupai seekor musang.Setelah memastikan tak ada seorang pun yang memperhatikannya, ia tiba-tiba menghilang, seolah ditelan oleh kegelapan malam itu sendiri.Sementara itu, di tempat semula Wan Xuan tinggal sebagai tahanan rumahan, Sun Liang masih berbaring di pojok ruangan yang gelap—cukup gelap untuk menyembunyikan bentuk tubuh dan auranya.Tak lama kemudian, matanya terbuka dalam satu gerakan cepat. Ia menoleh ke arah tempat Wan Xuan biasa berbaring, namun tak menemukan siapa pun di sana.“Eh? Ke mana bajingan itu pergi?” tanya Sun Liang pada dirinya sendiri.Ekspresi wajahnya mulai menegang, bercampur antara kesal dan sedikit kepanikan.Ia segera mengerahkan indra spiritualnya, menya
Sesaat kemudian, langkah ringan terdengar. Dari balik bayang-bayang di pojok ruangan, sosok Sun Liang muncul dengan senyum lebar terpasang di wajahnya.“Hmm-hmm... sudah kuduga. Tiba-tiba menyerahkan diri untuk ditahan—ternyata kau memang mengincar Komandan Xin.”Sun Liang menutup separuh mulutnya saat berbicara, sementara matanya melengkung seolah menahan tawa geli.Wan Xuan tak repot-repot menggubrisnya. Ia hanya ingin menanyakan satu hal.“Kau sendiri senang mengintip seorang pria. Sejak awal aku sudah curiga seleramu agak... menjijikkan.”Ucapan itu datar namun menohok, apalagi kata terakhir yang sengaja ia tekankan. Sun Liang tak menyangka pria sedingin Wan Xuan bisa melontarkan kalimat semacam itu.“Ka-kau—jangan sembarangan menilaiku begitu, sialan!” gerutu Sun Liang, wajahnya memerah menahan malu.“Kalau begitu, apa yang kau lakukan di sini?”Sun Liang berdeham pelan, memperbaiki posturnya hingga kembali tegap. Ia berlagak seolah-olah dirinya seorang petapa bijak yang penuh wi







