Mag-log inXin Nian berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang, wajahnya memerah seperti tomat matang dan pikirannya kacau tak menentu.
Saat wajahnya menunduk berusaha menyembunyikan rona di pipinya, keanehan itu justru tertangkap jelas oleh beberapa penjaga yang kebetulan lewat, termasuk Feng Sui yang berada tak jauh dari sana. “Huh? Komandan Xin, kenapa ekspresinya seperti itu?” gumam Feng Sui pada dirinya sendiri, mengamati dengan alis terangkat. Ia sempat heran, namun tak lama kemudian sebuah kecurigaan tiba-tiba melintas di benaknya. “Tunggu... arah itu? ...Komandan baru saja meninggalkan tempat bajingan itu ditahan. Jangan-jangan sesuatu yang buruk sudah terjadi padanya di sana.” Tak mau tinggal diam, Feng Sui segera bergegas menuju kediaman tempat penahanan Wan Xuan. Ekspresinya berubah serius, dipenuhi kecurigaan yang semakin membesar seiring langkahnya. “Entah apa yang bajingan itu lakukan pada Komandan Xin, sudah pasti sesuatu yang buruk... awas saja kau,” geramnya di sela-sela perjalanan, tangannya mengepal erat. Langkahnya semakin cepat, dan begitu tiba di depan kediaman itu, ia langsung membanting pintu dengan sekuat tenaga. Pintu kayu itu langsung ambruk, beberapa sisinya bahkan retak parah akibat hantaman keras. Feng Sui terlalu dikuasai amarah hingga tak lagi menunjukkan belas kasihan sedikit pun pada pintu kayu tua tersebut. “Wan Xuan, bajingan!” teriak Feng Sui, suaranya menggema keras hingga terdengar sampai ke halaman luar. Wan Xuan berdiri tenang di tengah ruangan, membelakangi Feng Sui dengan kedua tangan bersilang di balik punggung. Sudut bibirnya tersungging tipis. Sikapnya yang begitu tenang dan santai itu seolah menandakan ia sudah memperkirakan kedatangan Feng Sui, cepat atau lambat. “Ada apa lagi, Wakil Komandan Feng?” tanya Wan Xuan pelan, nadanya begitu tenang hingga justru membuat urat di dahi Feng Sui semakin menonjol. “Kau masih bisa bersikap setenang ini setelah berbuat buruk pada Komandan Xin?! Mukamu benar-benar tebal, bajingan tak tahu malu!” serunya penuh amarah, tangannya sudah mengepal erat di sisi tubuh. Wan Xuan mengendurkan senyumnya sedikit, tampak benar-benar tak memahami maksud tuduhan itu. Ia bahkan sempat berpikir apakah Feng Sui sudah melupakan rasa sakit di dadanya akibat gertakan palsu waktu itu. “Aku tak melakukan apa pun padanya,” jawabnya datar. “Hah! Kau pikir masih bisa membodohiku lagi kali ini?! Aku tahu betul Komandan Xin baru saja meninggalkan tempat ini—saat aku melihatnya, dia tampak begitu tertekan, bahkan dipanggil pun tak menoleh sama sekali. Aku sangat mengenalnya, dia tak mungkin bersikap seperti itu tanpa alasan jelas... kau pasti sudah mengancamnya, kan?!” Wan Xuan menatapnya datar tanpa sedikit pun berubah ekspresi. “Kau salah lihat.” Feng Sui mengerutkan kening dalam-dalam, urat di dahinya semakin menonjol jelas. Ia benar-benar muak menghadapi pria dingin dan penuh misteri yang menurutnya terlalu pandai berkelit ini. “Cukup! Tipu muslihatmu berakhir sampai di sini, sialan!” cetusnya keras, suaranya bergetar menahan emosi yang meluap. Feng Sui melangkah maju tanpa ragu, tak lagi kuasa menahan dirinya sendiri. Kali ini ia begitu percaya diri, sampai-sampai lupa mengingat siapa sebenarnya sosok yang berdiri di hadapannya. Ia bahkan tak datang seorang diri. Beberapa pengawal setianya tiba-tiba menerobos masuk dengan gerakan cepat dan terkoordinasi. Mereka segera menghunus pedang masing-masing, membentuk formasi pengepungan yang rapi—berniat melumpuhkan Wan Xuan tanpa memberi kesempatan untuk melawan. Wan Xuan hanya melirik sekilas ke arah para pengawal yang mengelilinginya, ekspresinya tetap datar tanpa secuil pun rasa gentar. “Kau membawa pengawal setiamu hanya untuk menghadapi tuduhan yang bahkan tak punya bukti,” ucapnya pelan, nada suaranya terdengar seperti menyindir. “Apa kepercayaan dirimu sebesar itu, atau justru sebaliknya—kau tak yakin bisa mengalahkanku sendirian?” Ucapan itu sukses membuat wajah Feng Sui memerah padam, antara malu dan murka yang semakin membuncah. “Diam kau! Aku tak butuh alasan lain selain melihat wajah menyebalkanmu itu sangat mencurigakan!” bentaknya, lalu memberi isyarat cepat pada para pengawalnya. “Tangkap dia sekarang juga!” Para pengawal segera bergerak serentak, pedang mereka berkilat diterangi cahaya matahari yang menembus jendela kecil ruangan itu. Namun Wan Xuan tak menunjukkan tanda-tanda panik sedikit pun. Ia hanya menghela napas pelan, seolah kejadian ini tak lebih dari gangguan kecil yang mengganggu waktu istirahatnya. “Aku kan sudah memperingatkanmu berkali-kali,” gumamnya rendah, sorot matanya berubah tajam dalam sekejap. “Yah, otak udang memang sulit diperingati.” Para pengawal mulai mendekat dari segala arah, sementara Feng Sui berdiri di belakang mereka dengan wajah penuh kemenangan—tak menyadari bahwa keputusannya untuk ke sekian kali mungkin akan berujung pada kesalahan besar yang sulit ia lupakan nanti. Mendadak hembusan angin kencang meledak, bukan dari luar kediaman, melainkan berpusat dari Wan Xuan itu sendiri. Tak hanya mengusir debu, namun juga menodorong mundur para pengawal setia Feng Sui hingga terhempas menabrak dinding kayu. Itu jelas bukan hembusan angin biasa, melainkan gejolak energi tak kasat mata yang mampu merobohkan kepercayaan diri seseorang dalam sekejap.Wan Xuan melepaskan tekanan Qi yang kuat dari tubuhnya. Gelombang energi itu menyapu ruangan dan menghantam para pengawal Feng Sui yang berusaha mendekat.“Ugh!”Beberapa pengawal langsung kehilangan keseimbangan. Tubuh mereka terangkat akibat tekanan Qi yang begitu kuat, lalu terpental ke belakang dan menghantam dinding di tepi ruangan dengan suara keras.Brak! Brak!Tubuh mereka jatuh ke lantai satu demi satu, mengerang kesakitan.Bahkan Feng Sui yang berdiri tidak jauh dari mereka ikut terdorong beberapa langkah ke belakang. Ia segera menahan tubuhnya agar tidak ikut terjatuh, lalu menatap Wan Xuan dengan wajah yang mulai berubah tegang.Ini bukan kali pertama Wan Xuan memperingatkannya dengan cara seperti itu. Namun, Feng Sui terlalu bodoh untuk mengingat peringatan terakhir yang hampir saja merenggut nyawanya.Yang terus terngiang di kepalanya hanyalah penghinaan yang pernah dilontarkan Wan Xuan kepadanya. Rasa malu itu memenuhi hati dan pikirannya, sampai-sampai ia melupakan bet
Xin Nian berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang, wajahnya memerah seperti tomat matang dan pikirannya kacau tak menentu.Saat wajahnya menunduk berusaha menyembunyikan rona di pipinya, keanehan itu justru tertangkap jelas oleh beberapa penjaga yang kebetulan lewat, termasuk Feng Sui yang berada tak jauh dari sana.“Huh? Komandan Xin, kenapa ekspresinya seperti itu?” gumam Feng Sui pada dirinya sendiri, mengamati dengan alis terangkat.Ia sempat heran, namun tak lama kemudian sebuah kecurigaan tiba-tiba melintas di benaknya.“Tunggu... arah itu? ...Komandan baru saja meninggalkan tempat bajingan itu ditahan. Jangan-jangan sesuatu yang buruk sudah terjadi padanya di sana.”Tak mau tinggal diam, Feng Sui segera bergegas menuju kediaman tempat penahanan Wan Xuan. Ekspresinya berubah serius, dipenuhi kecurigaan yang semakin membesar seiring langkahnya.“Entah apa yang bajingan itu lakukan pada Komandan Xin, sudah pasti sesuatu yang buruk... awas saja kau,” geramnya di sela-sela perjalana
Matahari menyingsing dari arah timur, menerangi Kota Linmeng dengan kilau keemasan yang penuh kehangatan.Embun beku akibat dinginnya malam perlahan mencair, menciptakan kilau indah dari pantulan sinar matahari pada rerumputan dan helai-helai dedaunan.Markas pusat penjaga kota kembali disibukkan oleh penyelidikan kasus pembunuhan. Beberapa prajurit penyidik sudah dikerahkan untuk menyisir setiap sudut kota.Hanya saja, Komandan Xin Nian tak tampak senang. Ekspresi wajahnya agak cemberut, menyimpan sedikit... kecurigaan yang enggan ia ungkapkan.“Huh... ke mana orang itu pergi? Wan Xuan seharusnya sadar dirinya berada dalam kondisi yang tak menguntungkan sekarang, tapi dia justru menghilang begitu saja,” gumamnya kesal.Xin Nian berjalan tergesa menuju kediaman tempat penahanan Wan Xuan. Mendengar kabar bahwa Wan Xuan menghilang dari tempatnya sudah cukup membuat jantungnya berdebar tak menentu.“Untung saja Feng Sui belum mengetahui apa pun. Kalau tidak, dia pasti jadi orang pertama
Sosok bertopeng yang tersisa mengatupkan rahangnya keras-keras. Ia sadar betul bahwa kemampuan lawannya berada jauh di luar jangkauannya, bahkan mustahil untuk ditandingi.Ia menggeretakkan gigi dengan kesal. Tak peduli apa pun yang akan terjadi selanjutnya, ia hanya bisa pasrah sambil mencoba mencari celah untuk keluar dari situasi terjepit ini.“Kemampuan orang ini sulit dijelaskan dengan akal sehat. Bagaimana caraku menghabisinya? Atau setidaknya, bagaimana caraku bisa melarikan diri dari sini?” batin sosok bertopeng itu, dipenuhi kepanikan yang berusaha ia sembunyikan.Dalam jarak sekitar sepuluh meter, Wan Xuan menatapnya dalam diam. Ia bahkan tak lagi menghunus pedangnya—senjata itu justru kembali melekat tenang di balik punggungnya, seolah tak dianggap perlu.“Kau... biarkan aku pergi. Jika kau bersikeras ingin membunuhku di sini, cepat atau lambat tuanku akan mencarimu dan membalaskan dendam ini,” kata sosok bertopeng itu, berusaha mengulur waktu sebisa mungkin.“Setidaknya, j
Matanya menatap tajam di balik topeng rubah, sementara posturnya tetap tegap tanpa kuda-kuda yang berlebihan.Wan Xuan memutar tangannya sedikit. Pedang di balik punggungnya pun ditarik, lalu ditebaskan lurus dari atas.Sosok itu hanya terkekeh getir melihat bagaimana Wan Xuan mengayunkan pedangnya bak seorang petarung pemula.Saat bilah pedang melesat dari sisi kiri dan membidik leher sosok itu, ia mengayunkan bilah pedang di tangannya yang diselimuti denyut tipis hingga menggetarkan ruang.Ding!Hanya dengan sekali tebas, sosok itu dapat membelokkan serangan bilah logam tersebut dengan gerakan sederhana, membuat pedang Wan Xuan bergetar dan berdenting nyaring.Wan Xuan tak terkejut. Ia justru menatap dengan ekspresi datar di balik topeng rubahnya.Ia sengaja membiarkan bilah pedangnya terpental dan memanfaatkan momentum tersebut untuk melompat maju dengan kecepatan kilat.Sosok bertopeng yang berada paling depan itu tertegun. Wan Xuan telah muncul tepat di hadapannya. Bahkan yang le
Gerak-gerik kedua sosok itu terlalu terlatih untuk sekadar pengawal biasa. Langkah mereka ringan, nyaris tak menimbulkan suara sedikit pun, dan mereka bergerak dengan kewaspadaan tinggi—seolah terbiasa menghindari mata-mata yang mengintai.Firasat Wan Xuan langsung berbisik. Ada sesuatu yang tidak beres.Tanpa berpikir panjang, ia mengubah arah tujuannya. Kompleks megah di selatan kota bisa menunggu, kedua sosok ini tampak jauh lebih mencurigakan.Wan Xuan mulai mengikuti mereka dari kejauhan, menjaga jarak aman sambil tetap memastikan kedua sosok itu tak keluar dari jangkauan pandangannya.Mereka bergerak melintasi atap-atap rumah penduduk, menghindari jalur patroli penjaga kota dengan gerakan yang begitu terlatih hingga hampir mustahil terdeteksi oleh orang awam.Wan Xuan mengikuti dengan hati-hati, memastikan auranya tetap tersembunyi rapat.Semakin jauh mereka bergerak, semakin jelas arah tujuan kedua sosok itu—mereka menuju sisi timur Kota Linmeng, sebuah kawasan yang cukup sepi







