Home / Fantasi / Turun Gunung Memikul Takdir / 21. Sekedar Mengingatkan

Share

21. Sekedar Mengingatkan

Author: Murlox
last update publish date: 2026-09-22 14:03:38

Matahari menyingsing dari arah timur, menerangi Kota Linmeng dengan kilau keemasan yang penuh kehangatan.

Embun beku akibat dinginnya malam perlahan mencair, menciptakan kilau indah dari pantulan sinar matahari pada rerumputan dan helai-helai dedaunan.

Markas pusat penjaga kota kembali disibukkan oleh penyelidikan kasus pembunuhan. Beberapa prajurit penyidik sudah dikerahkan untuk menyisir setiap sudut kota.

Hanya saja, Komandan Xin Nian tak tampak senang. Ekspresi wajahnya agak cemberut, menyimpan sedikit... kecurigaan yang enggan ia ungkapkan.

“Huh... ke mana orang itu pergi? Wan Xuan seharusnya sadar dirinya berada dalam kondisi yang tak menguntungkan sekarang, tapi dia justru menghilang begitu saja,” gumamnya kesal.

Xin Nian berjalan tergesa menuju kediaman tempat penahanan Wan Xuan. Mendengar kabar bahwa Wan Xuan menghilang dari tempatnya sudah cukup membuat jantungnya berdebar tak menentu.

“Untung saja Feng Sui belum mengetahui apa pun. Kalau tidak, dia pasti jadi orang pertama yang mencaci maki Wan Xuan habis-habisan.”

Xin Nian menggeleng perlahan, sudut bibirnya sedikit terangkat tanpa sadar. “Kenapa juga aku harus sampai sepusing ini memikirkannya. Lagi pula, Wan Xuan tak pernah terlihat mencurigakan di mataku—setidaknya, dia bukan pelaku di balik kasus pembunuhan ini.”

Ia terus melangkah, namun kali ini langkahnya tak lagi setergesa sebelumnya, seolah rasa cemasnya perlahan mereda begitu pikirannya sendiri berusaha meyakinkan bahwa Wan Xuan bukanlah sosok yang pantas dicurigai.

Tak lama kemudian, ia tiba di kediaman tempat penahanan. Saat Xin Nian membuka pintu, ia justru tertegun di ambang pintu.

Bukan karena tak mendapati apa pun di dalam, melainkan karena Wan Xuan sendiri berada di sana, duduk tenang di tepi jendela, seolah tak pernah ke mana-mana.

“Uh-huh?”

Wan Xuan menoleh, alisnya terangkat sedikit, tampak sedikit heran melihat reaksi Xin Nian. “Komandan Xin? Ada yang perlu dibicarakan lagi?” tanyanya santai.

Xin Nian terdiam sesaat, baru menyadari bahwa dirinya mungkin telah dipermainkan.

“I-itu... aku dengar kau menghilang, jadi... aku bergegas ke sini,” ucapnya agak ragu, suaranya sedikit tergagap.

Wan Xuan tersenyum simpul, tatapannya menyiratkan sesuatu yang sulit ditebak. “Menghilang? Benarkah begitu? Atau mungkin Komandan Xin salah dengar laporan?”

Xin Nian sempat ragu sejenak. Ia mencoba mengingat kembali—seseorang memang baru saja melaporkan bahwa Wan Xuan menghilang dari tempat penahanannya. Namun kini, laporan itu tampak seperti kesalahan belaka.

Sementara itu, Wan Xuan terus menatapnya tanpa berkedip, membuat Xin Nian yang menyadari tatapan itu jadi sedikit tersipu dan gugup sendiri, meski berusaha menutupinya.

“Ba-bagus kalau begitu... setidaknya tak ada yang perlu dipermasalahkan lagi,” sahutnya cepat, berusaha menormalkan suaranya. “Kalau begitu, diamlah di sini sampai beberapa hari ke depan... aku akan kembali lagi nanti.”

“Tunggu dulu...” cegat Wan Xuan tiba-tiba.

Xin Nian yang hendak menutup pintu dan pergi pun terhenti seketika. Ia menoleh dengan ekspresi ragu bercampur sedikit malu.

“A-ada apa?”

Wan Xuan bangkit berdiri, lalu melangkah mendekat ke arah Xin Nian dengan tenang. Gerak-geriknya yang khas—dingin namun penuh kendali—membuat gadis berbalut baju zirah itu berdiri kaku, gugup tanpa alasan jelas, sementara detak jantungnya semakin meningkat tak terkendali.

Wan Xuan berhenti tepat di hadapannya, hanya menyisakan jarak sekitar dua jengkal saja di antara mereka.

Keduanya kini saling berhadapan dalam jarak yang begitu dekat. Xin Nian merasakan sensasi panas menjalar hingga ke ujung kepalanya, seiring detak jantungnya yang terus meningkat tanpa bisa ia kendalikan.

Ia tak mengerti, bahkan tak sanggup berpikir jernih, mengapa Wan Xuan tiba-tiba melangkah sedekat itu tanpa peringatan apa pun.

Angin pagi yang menyusup lembut membawa aroma segar, namun tak cukup untuk mendinginkan wajah Xin Nian yang mulai memerah samar.

“Kau... ada bercak darah kering di sisi lehermu,” ucap Wan Xuan pelan, suaranya nyaris berbisik.

Tangannya terangkat perlahan, seolah hendak menyentuh leher Xin Nian, namun berhenti tepat sebelum jarinya benar-benar menyentuh kulit.

Xin Nian tersentak, refleks mundur setengah langkah sambil buru-buru mengusap sisi leher kirinya dengan punggung tangan kanan, wajahnya kini benar-benar memerah padam menahan rasa malu yang tiba-tiba menyerbu.

“I-itu... pasti dari luka lama,” elaknya cepat, suaranya sedikit meninggi menutupi kegugupan yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya, padahal ia tak terluka sedikitpun.

Wan Xuan hanya menatapnya dalam diam, sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum tipis yang sulit diartikan—entah menggoda, entah sekadar menikmati reaksi yang berhasil ia timbulkan.

“Hmm? Baiklah kalau begitu,” katanya akhirnya, melangkah mundur memberi jarak seperti semula. “Aku hanya mengingatkan, Komandan Xin. Tak lebih dari itu.”

Xin Nian menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih belum sepenuhnya stabil. Ia berdeham pelan, berusaha mengembalikan wibawanya sebagai seorang komandan.

“Ka-kalau begitu... a-aku pergi dulu. Jangan macam-macam selama aku tak ada.”

Ia pun berbalik cepat dan melangkah keluar, menutup pintu di belakangnya dengan sedikit terburu-buru—meninggalkan Wan Xuan yang masih berdiri di tempatnya, memandangi pintu yang tertutup dengan tatapan yang jauh lebih dalam daripada yang bisa siapa pun tebak.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Turun Gunung Memikul Takdir   23. Peringatan Terakhir

    Wan Xuan melepaskan tekanan Qi yang kuat dari tubuhnya. Gelombang energi itu menyapu ruangan dan menghantam para pengawal Feng Sui yang berusaha mendekat.“Ugh!”Beberapa pengawal langsung kehilangan keseimbangan. Tubuh mereka terangkat akibat tekanan Qi yang begitu kuat, lalu terpental ke belakang dan menghantam dinding di tepi ruangan dengan suara keras.Brak! Brak!Tubuh mereka jatuh ke lantai satu demi satu, mengerang kesakitan.Bahkan Feng Sui yang berdiri tidak jauh dari mereka ikut terdorong beberapa langkah ke belakang. Ia segera menahan tubuhnya agar tidak ikut terjatuh, lalu menatap Wan Xuan dengan wajah yang mulai berubah tegang.Ini bukan kali pertama Wan Xuan memperingatkannya dengan cara seperti itu. Namun, Feng Sui terlalu bodoh untuk mengingat peringatan terakhir yang hampir saja merenggut nyawanya.Yang terus terngiang di kepalanya hanyalah penghinaan yang pernah dilontarkan Wan Xuan kepadanya. Rasa malu itu memenuhi hati dan pikirannya, sampai-sampai ia melupakan bet

  • Turun Gunung Memikul Takdir   22. Salah Paham Lagi

    Xin Nian berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang, wajahnya memerah seperti tomat matang dan pikirannya kacau tak menentu.Saat wajahnya menunduk berusaha menyembunyikan rona di pipinya, keanehan itu justru tertangkap jelas oleh beberapa penjaga yang kebetulan lewat, termasuk Feng Sui yang berada tak jauh dari sana.“Huh? Komandan Xin, kenapa ekspresinya seperti itu?” gumam Feng Sui pada dirinya sendiri, mengamati dengan alis terangkat.Ia sempat heran, namun tak lama kemudian sebuah kecurigaan tiba-tiba melintas di benaknya.“Tunggu... arah itu? ...Komandan baru saja meninggalkan tempat bajingan itu ditahan. Jangan-jangan sesuatu yang buruk sudah terjadi padanya di sana.”Tak mau tinggal diam, Feng Sui segera bergegas menuju kediaman tempat penahanan Wan Xuan. Ekspresinya berubah serius, dipenuhi kecurigaan yang semakin membesar seiring langkahnya.“Entah apa yang bajingan itu lakukan pada Komandan Xin, sudah pasti sesuatu yang buruk... awas saja kau,” geramnya di sela-sela perjalana

  • Turun Gunung Memikul Takdir   21. Sekedar Mengingatkan

    Matahari menyingsing dari arah timur, menerangi Kota Linmeng dengan kilau keemasan yang penuh kehangatan.Embun beku akibat dinginnya malam perlahan mencair, menciptakan kilau indah dari pantulan sinar matahari pada rerumputan dan helai-helai dedaunan.Markas pusat penjaga kota kembali disibukkan oleh penyelidikan kasus pembunuhan. Beberapa prajurit penyidik sudah dikerahkan untuk menyisir setiap sudut kota.Hanya saja, Komandan Xin Nian tak tampak senang. Ekspresi wajahnya agak cemberut, menyimpan sedikit... kecurigaan yang enggan ia ungkapkan.“Huh... ke mana orang itu pergi? Wan Xuan seharusnya sadar dirinya berada dalam kondisi yang tak menguntungkan sekarang, tapi dia justru menghilang begitu saja,” gumamnya kesal.Xin Nian berjalan tergesa menuju kediaman tempat penahanan Wan Xuan. Mendengar kabar bahwa Wan Xuan menghilang dari tempatnya sudah cukup membuat jantungnya berdebar tak menentu.“Untung saja Feng Sui belum mengetahui apa pun. Kalau tidak, dia pasti jadi orang pertama

  • Turun Gunung Memikul Takdir   20. Mengulur Kematian

    Sosok bertopeng yang tersisa mengatupkan rahangnya keras-keras. Ia sadar betul bahwa kemampuan lawannya berada jauh di luar jangkauannya, bahkan mustahil untuk ditandingi.Ia menggeretakkan gigi dengan kesal. Tak peduli apa pun yang akan terjadi selanjutnya, ia hanya bisa pasrah sambil mencoba mencari celah untuk keluar dari situasi terjepit ini.“Kemampuan orang ini sulit dijelaskan dengan akal sehat. Bagaimana caraku menghabisinya? Atau setidaknya, bagaimana caraku bisa melarikan diri dari sini?” batin sosok bertopeng itu, dipenuhi kepanikan yang berusaha ia sembunyikan.Dalam jarak sekitar sepuluh meter, Wan Xuan menatapnya dalam diam. Ia bahkan tak lagi menghunus pedangnya—senjata itu justru kembali melekat tenang di balik punggungnya, seolah tak dianggap perlu.“Kau... biarkan aku pergi. Jika kau bersikeras ingin membunuhku di sini, cepat atau lambat tuanku akan mencarimu dan membalaskan dendam ini,” kata sosok bertopeng itu, berusaha mengulur waktu sebisa mungkin.“Setidaknya, j

  • Turun Gunung Memikul Takdir   19.Pedang Itu Kembali Terhunus

    Matanya menatap tajam di balik topeng rubah, sementara posturnya tetap tegap tanpa kuda-kuda yang berlebihan.Wan Xuan memutar tangannya sedikit. Pedang di balik punggungnya pun ditarik, lalu ditebaskan lurus dari atas.Sosok itu hanya terkekeh getir melihat bagaimana Wan Xuan mengayunkan pedangnya bak seorang petarung pemula.Saat bilah pedang melesat dari sisi kiri dan membidik leher sosok itu, ia mengayunkan bilah pedang di tangannya yang diselimuti denyut tipis hingga menggetarkan ruang.Ding!Hanya dengan sekali tebas, sosok itu dapat membelokkan serangan bilah logam tersebut dengan gerakan sederhana, membuat pedang Wan Xuan bergetar dan berdenting nyaring.Wan Xuan tak terkejut. Ia justru menatap dengan ekspresi datar di balik topeng rubahnya.Ia sengaja membiarkan bilah pedangnya terpental dan memanfaatkan momentum tersebut untuk melompat maju dengan kecepatan kilat.Sosok bertopeng yang berada paling depan itu tertegun. Wan Xuan telah muncul tepat di hadapannya. Bahkan yang le

  • Turun Gunung Memikul Takdir   18. Para Pria Bertopeng

    Gerak-gerik kedua sosok itu terlalu terlatih untuk sekadar pengawal biasa. Langkah mereka ringan, nyaris tak menimbulkan suara sedikit pun, dan mereka bergerak dengan kewaspadaan tinggi—seolah terbiasa menghindari mata-mata yang mengintai.Firasat Wan Xuan langsung berbisik. Ada sesuatu yang tidak beres.Tanpa berpikir panjang, ia mengubah arah tujuannya. Kompleks megah di selatan kota bisa menunggu, kedua sosok ini tampak jauh lebih mencurigakan.Wan Xuan mulai mengikuti mereka dari kejauhan, menjaga jarak aman sambil tetap memastikan kedua sosok itu tak keluar dari jangkauan pandangannya.Mereka bergerak melintasi atap-atap rumah penduduk, menghindari jalur patroli penjaga kota dengan gerakan yang begitu terlatih hingga hampir mustahil terdeteksi oleh orang awam.Wan Xuan mengikuti dengan hati-hati, memastikan auranya tetap tersembunyi rapat.Semakin jauh mereka bergerak, semakin jelas arah tujuan kedua sosok itu—mereka menuju sisi timur Kota Linmeng, sebuah kawasan yang cukup sepi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status