Home / Fantasi / Turun Gunung Memikul Takdir / 23. Peringatan Terakhir

Share

23. Peringatan Terakhir

Author: Murlox
last update publish date: 2026-09-23 13:56:45

Wan Xuan melepaskan tekanan Qi yang kuat dari tubuhnya. Gelombang energi itu menyapu ruangan dan menghantam para pengawal Feng Sui yang berusaha mendekat.

“Ugh!”

Beberapa pengawal langsung kehilangan keseimbangan. Tubuh mereka terangkat akibat tekanan Qi yang begitu kuat, lalu terpental ke belakang dan menghantam dinding di tepi ruangan dengan suara keras.

Brak! Brak!

Tubuh mereka jatuh ke lantai satu demi satu, mengerang kesakitan.

Bahkan Feng Sui yang berdiri tidak jauh dari mereka ikut terdorong beberapa langkah ke belakang. Ia segera menahan tubuhnya agar tidak ikut terjatuh, lalu menatap Wan Xuan dengan wajah yang mulai berubah tegang.

Ini bukan kali pertama Wan Xuan memperingatkannya dengan cara seperti itu. Namun, Feng Sui terlalu bodoh untuk mengingat peringatan terakhir yang hampir saja merenggut nyawanya.

Yang terus terngiang di kepalanya hanyalah penghinaan yang pernah dilontarkan Wan Xuan kepadanya. Rasa malu itu memenuhi hati dan pikirannya, sampai-sampai ia melupakan betapa berbahayanya peringatan Wan Xuan sebelumnya.

Seharusnya Feng Sui menyadari hal itu sejak awal.

Namun, egonya terlalu keras untuk tunduk begitu saja.

“Berhenti, Wakil Komandan Feng,” kata Wan Xuan dengan tenang. “Kalau kau masih keras kepala, aku bisa menjamin tubuhmu akan meledak.”

Feng Sui tampak tertekan. Meski begitu, ia memaksakan senyum sinis, seolah ancaman Wan Xuan hanyalah omong kosong belaka.

“Meledakkan tubuhku? Kau pikir aku anak kecil yang gampang ditipu, hah!” seru Feng Sui, meski suaranya sedikit bergetar.

Wan Xuan menatapnya dengan senyum kaku.

“Apa kau lupa dengan racun di dalam tubuhmu?”

Mendengar ucapan itu, tubuh Feng Sui mendadak kaku sempurna.

Ingatan tentang beberapa hari lalu kembali terlintas di kepalanya. Saat itu, rasa sakit luar biasa tiba-tiba menyerang tubuhnya. Jantungnya terasa seperti diremas dari dalam, membuatnya nyaris tak mampu bernapas.

Dan semua itu terjadi setelah Wan Xuan memberitahunya tentang racun yang mengalir di dalam tubuhnya.

“Ta-tapi... sebelumnya kau bilang itu bukan racun.” Suara Feng Sui mulai bergetar. “Tipuan, kan? Kau bilang itu hanya tipuan belaka, kan?”

Keberanian dan sikap keras kepalanya yang tadi begitu besar mendadak luntur seketika.

“Hmm...” Wan Xuan mengangkat sudut bibirnya. “Aku memang menyalurkan Qi ke dalam tubuhmu. Setelah itu, aku mengendalikannya agar menyusup perlahan ke jantungmu.”

Wan Xuan berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap dalam-dalam ke pikiran Feng Sui yang kian panik.

“Dengan begitu, sebenarnya aku bisa mengendalikan hidup dan matimu kapan saja aku mau.”

Senyum tipis yang tampak jahat menghiasi wajah Wan Xuan, membuat suasana ruangan terasa semakin mencekam.

Melihat senyum tersebut, Feng Sui merasa bulu kuduknya meremang hebat.

Entah kenapa, pikirannya langsung membayangkan sosok Wan Xuan berubah menjadi raksasa mengerikan yang berdiri di hadapannya, sementara tubuhnya sendiri dikendalikan bagai boneka tak berdaya.

“Ti-tidak... tidak mungkin...” Feng Sui mundur selangkah, tubuhnya gemetar. Wajahnya mulai pucat pasi. “To-tolong jangan bunuh aku. Kumohon!”

Sementara itu, Wan Xuan sebenarnya sedang tertawa getir di dalam hati.

Tampaknya, ia semakin memahami watak Feng Sui yang sesungguhnya.

Pria itu memang keras kepala dan tak pernah mau mengalah. Namun, di balik semua itu, Feng Sui ternyata sangat mudah ditipu dan gampang termakan gertakan kosong.

Wan Xuan bahkan tak perlu melakukan apa pun yang berarti. Cukup memberikan sedikit tekanan, Feng Sui sudah mulai kehilangan akal sehatnya sendiri.

“Kalau aku tidak mau?” tanya Wan Xuan, nadanya santai seolah sedang membahas cuaca.

Wajah Feng Sui seketika semakin panik, keringat dingin membasahi dahinya.

“A-apa maumu? Katakan saja, akan kuturuti! Asal jangan bunuh aku!”

Beberapa pengawal yang masih sadar dan tergeletak di lantai hanya bisa menyaksikan dalam diam, tak berani lagi bergerak sedikit pun.

Wan Xuan melangkah pelan mendekati Feng Sui yang gemetar hebat, tangannya masih bersilang santai di balik punggung.

“Aku hanya ingin kau berhenti mencurigaiku tanpa alasan jelas,” katanya tenang. “Dan berhenti menyeret orang lain ke dalam urusan yang tak kau pahami sepenuhnya.”

Feng Sui mengangguk cepat, kepalanya nyaris terantuk-antuk saking paniknya. “Ba-baik! Aku janji! Aku tak akan mengganggu lagi!”

“Bagus.” Wan Xuan berhenti tepat di hadapannya, menatap dalam-dalam ke mata Feng Sui yang dipenuhi ketakutan. “Mungkin lain kali, aku tak akan sebaik ini.”

Ucapan itu terdengar seperti vonis mutlak, membuat seluruh tubuh Feng Sui merinding hingga ke tulang.

Di luar ruangan, beberapa penjaga yang mendengar keributan mulai berdatangan, namun tak satu pun berani melangkah masuk setelah melihat pemandangan para pengawal Feng Sui yang tergeletak lemah di lantai.

Wan Xuan akhirnya berbalik, melangkah kembali ke tepi jendela seperti semula, membiarkan Feng Sui berdiri kaku dengan wajah pucat pasi—terlalu shock untuk sekadar bergerak dari tempatnya.

“Kau boleh pergi sekarang,” kata Wan Xuan tanpa menoleh. “Kecuali kau ingin menambah masalah lagi.”

Tanpa membuang waktu, Feng Sui langsung berbalik dan berlari keluar ruangan secepat mungkin, meninggalkan para pengawalnya yang masih tergeletak lemas di lantai—sebuah pemandangan yang pasti akan menjadi bahan gunjingan di seluruh markas dalam waktu dekat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Turun Gunung Memikul Takdir   23. Peringatan Terakhir

    Wan Xuan melepaskan tekanan Qi yang kuat dari tubuhnya. Gelombang energi itu menyapu ruangan dan menghantam para pengawal Feng Sui yang berusaha mendekat.“Ugh!”Beberapa pengawal langsung kehilangan keseimbangan. Tubuh mereka terangkat akibat tekanan Qi yang begitu kuat, lalu terpental ke belakang dan menghantam dinding di tepi ruangan dengan suara keras.Brak! Brak!Tubuh mereka jatuh ke lantai satu demi satu, mengerang kesakitan.Bahkan Feng Sui yang berdiri tidak jauh dari mereka ikut terdorong beberapa langkah ke belakang. Ia segera menahan tubuhnya agar tidak ikut terjatuh, lalu menatap Wan Xuan dengan wajah yang mulai berubah tegang.Ini bukan kali pertama Wan Xuan memperingatkannya dengan cara seperti itu. Namun, Feng Sui terlalu bodoh untuk mengingat peringatan terakhir yang hampir saja merenggut nyawanya.Yang terus terngiang di kepalanya hanyalah penghinaan yang pernah dilontarkan Wan Xuan kepadanya. Rasa malu itu memenuhi hati dan pikirannya, sampai-sampai ia melupakan bet

  • Turun Gunung Memikul Takdir   22. Salah Paham Lagi

    Xin Nian berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang, wajahnya memerah seperti tomat matang dan pikirannya kacau tak menentu.Saat wajahnya menunduk berusaha menyembunyikan rona di pipinya, keanehan itu justru tertangkap jelas oleh beberapa penjaga yang kebetulan lewat, termasuk Feng Sui yang berada tak jauh dari sana.“Huh? Komandan Xin, kenapa ekspresinya seperti itu?” gumam Feng Sui pada dirinya sendiri, mengamati dengan alis terangkat.Ia sempat heran, namun tak lama kemudian sebuah kecurigaan tiba-tiba melintas di benaknya.“Tunggu... arah itu? ...Komandan baru saja meninggalkan tempat bajingan itu ditahan. Jangan-jangan sesuatu yang buruk sudah terjadi padanya di sana.”Tak mau tinggal diam, Feng Sui segera bergegas menuju kediaman tempat penahanan Wan Xuan. Ekspresinya berubah serius, dipenuhi kecurigaan yang semakin membesar seiring langkahnya.“Entah apa yang bajingan itu lakukan pada Komandan Xin, sudah pasti sesuatu yang buruk... awas saja kau,” geramnya di sela-sela perjalana

  • Turun Gunung Memikul Takdir   21. Sekedar Mengingatkan

    Matahari menyingsing dari arah timur, menerangi Kota Linmeng dengan kilau keemasan yang penuh kehangatan.Embun beku akibat dinginnya malam perlahan mencair, menciptakan kilau indah dari pantulan sinar matahari pada rerumputan dan helai-helai dedaunan.Markas pusat penjaga kota kembali disibukkan oleh penyelidikan kasus pembunuhan. Beberapa prajurit penyidik sudah dikerahkan untuk menyisir setiap sudut kota.Hanya saja, Komandan Xin Nian tak tampak senang. Ekspresi wajahnya agak cemberut, menyimpan sedikit... kecurigaan yang enggan ia ungkapkan.“Huh... ke mana orang itu pergi? Wan Xuan seharusnya sadar dirinya berada dalam kondisi yang tak menguntungkan sekarang, tapi dia justru menghilang begitu saja,” gumamnya kesal.Xin Nian berjalan tergesa menuju kediaman tempat penahanan Wan Xuan. Mendengar kabar bahwa Wan Xuan menghilang dari tempatnya sudah cukup membuat jantungnya berdebar tak menentu.“Untung saja Feng Sui belum mengetahui apa pun. Kalau tidak, dia pasti jadi orang pertama

  • Turun Gunung Memikul Takdir   20. Mengulur Kematian

    Sosok bertopeng yang tersisa mengatupkan rahangnya keras-keras. Ia sadar betul bahwa kemampuan lawannya berada jauh di luar jangkauannya, bahkan mustahil untuk ditandingi.Ia menggeretakkan gigi dengan kesal. Tak peduli apa pun yang akan terjadi selanjutnya, ia hanya bisa pasrah sambil mencoba mencari celah untuk keluar dari situasi terjepit ini.“Kemampuan orang ini sulit dijelaskan dengan akal sehat. Bagaimana caraku menghabisinya? Atau setidaknya, bagaimana caraku bisa melarikan diri dari sini?” batin sosok bertopeng itu, dipenuhi kepanikan yang berusaha ia sembunyikan.Dalam jarak sekitar sepuluh meter, Wan Xuan menatapnya dalam diam. Ia bahkan tak lagi menghunus pedangnya—senjata itu justru kembali melekat tenang di balik punggungnya, seolah tak dianggap perlu.“Kau... biarkan aku pergi. Jika kau bersikeras ingin membunuhku di sini, cepat atau lambat tuanku akan mencarimu dan membalaskan dendam ini,” kata sosok bertopeng itu, berusaha mengulur waktu sebisa mungkin.“Setidaknya, j

  • Turun Gunung Memikul Takdir   19.Pedang Itu Kembali Terhunus

    Matanya menatap tajam di balik topeng rubah, sementara posturnya tetap tegap tanpa kuda-kuda yang berlebihan.Wan Xuan memutar tangannya sedikit. Pedang di balik punggungnya pun ditarik, lalu ditebaskan lurus dari atas.Sosok itu hanya terkekeh getir melihat bagaimana Wan Xuan mengayunkan pedangnya bak seorang petarung pemula.Saat bilah pedang melesat dari sisi kiri dan membidik leher sosok itu, ia mengayunkan bilah pedang di tangannya yang diselimuti denyut tipis hingga menggetarkan ruang.Ding!Hanya dengan sekali tebas, sosok itu dapat membelokkan serangan bilah logam tersebut dengan gerakan sederhana, membuat pedang Wan Xuan bergetar dan berdenting nyaring.Wan Xuan tak terkejut. Ia justru menatap dengan ekspresi datar di balik topeng rubahnya.Ia sengaja membiarkan bilah pedangnya terpental dan memanfaatkan momentum tersebut untuk melompat maju dengan kecepatan kilat.Sosok bertopeng yang berada paling depan itu tertegun. Wan Xuan telah muncul tepat di hadapannya. Bahkan yang le

  • Turun Gunung Memikul Takdir   18. Para Pria Bertopeng

    Gerak-gerik kedua sosok itu terlalu terlatih untuk sekadar pengawal biasa. Langkah mereka ringan, nyaris tak menimbulkan suara sedikit pun, dan mereka bergerak dengan kewaspadaan tinggi—seolah terbiasa menghindari mata-mata yang mengintai.Firasat Wan Xuan langsung berbisik. Ada sesuatu yang tidak beres.Tanpa berpikir panjang, ia mengubah arah tujuannya. Kompleks megah di selatan kota bisa menunggu, kedua sosok ini tampak jauh lebih mencurigakan.Wan Xuan mulai mengikuti mereka dari kejauhan, menjaga jarak aman sambil tetap memastikan kedua sosok itu tak keluar dari jangkauan pandangannya.Mereka bergerak melintasi atap-atap rumah penduduk, menghindari jalur patroli penjaga kota dengan gerakan yang begitu terlatih hingga hampir mustahil terdeteksi oleh orang awam.Wan Xuan mengikuti dengan hati-hati, memastikan auranya tetap tersembunyi rapat.Semakin jauh mereka bergerak, semakin jelas arah tujuan kedua sosok itu—mereka menuju sisi timur Kota Linmeng, sebuah kawasan yang cukup sepi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status