FAZER LOGINLampu-lampu neon berwarna biru dan ungu menari liar memenuhi ruangan Club Sky Light. Dentuman musik elektronik mengguncang lantai dance floor yang dipenuhi tubuh-tubuh muda berpakaian mahal.
Malam itu, Tia menjadi pusat perhatian. Gaun hitam pendek yang membalut tubuhnya membuatnya tampak mencolok di antara keramaian. Rambut panjangnya tergerai bergelombang, sementara tubuh mudanya bergerak mengikuti irama musik dengan penuh percaya diri. Airin dan Amira tertawa riang di sampingnya.
"Yuhuuu!" teriak Amira sambil mengangkat tangan. Tia ikut tertawa lepas. Untuk beberapa jam, ia bisa melupakan rumahnya yang kacau. Melupakan suara pertengkaran orang tuanya. Melupakan tatapan dingin ayah dan ibunya yang saling membenci.
Di sini, ia hanya ingin menjadi gadis biasa yang bersenang-senang.Beberapa lelaki berkali-kali mencoba mendekat, tapi Tia selalu menghindar halus sambil tetap menari.
Di area bar, dua pria dewasa memperhatikan Tia sejak tadi.
Jason menyeringai kecil sambil menyandarkan siku di meja bartender."Gila… cantik banget," Jason bersiul kagum.
Alvin mengangguk setuju. "Iya. gerah banget gue ngeliat dia dari tadi. Pengen nyicipin."
Bartender yang sedang mengelap gelas mendelik galak.
"Jangan macam-macam lo bedua dia."
Jason tertawa pendek. "Santai aja, Dex. Kita cuma kagum."
Dexter menatap mereka bergantian sebelum menurunkan suara.
"Kagum pala lo. Horny lo bilang kagum! Dexter berdecih. "Gue ingetin lo bedua ya. Tia itu bukan cewek bookingan. Dia cuma senang party aja."
Jason mengangkat alis.
"Serius?"
"Iya. Dia bahkan nggak minum alkohol." Dexter menunjuk botol kecil di meja VIP Tia. "Isinya air mineral terus."
Alvin tampak heran. "Di klub minum air mineral?"
Dexter tersenyum tipis. "Makanya jangan samain dia dengan sama cewek-cewek lain."
Ia lalu mencondongkan tubuh sedikit.
"Dan satu lagi… dia anak orang penting. Kalo bedua nyari masalah sama dia, habis kalian."
Jason melirik ke arah dance floor lagi. Tatapannya justru makin tertarik.
"Nah kalau dua yang itu?" tanyanya sambil menunjuk Airin dan Amira.
Dex mengikuti arah pandang mereka lalu menghela napas. "Sahabat-sahabatnya Tia."
"Tapi bukan dari level yang sama, ya?" potong Jason. Ia melihat perbedaan cara berbusana keduanya. Bahan dan potongan pakaian mereka kualitas murahan. Tidak branded seperti Tia.
Dex diam sebentar sebelum menjawab pendek.
"Ekonominya jauh. Tapi Tia tulus berteman dengan mereka. Tia itu anak baik."Jason dan Alvin saling berpandangan singkat.
Tatapan mereka berubah penuh arti.Beberapa menit kemudian, keduanya ikut naik ke dance floor.
Jason mulai mendekati Airin sambil ikut bergerak mengikuti musik.
"Sering ikut Tia party?" teriaknya di tengah dentuman lagu.
Airin yang heran karena seorang pria asing tahu nama Tia menoleh heran.
"Iya. Kok kalian tahu nama Tia?"
"Tahu dong," jawab Jason penuh rahasia.
Sementara di sisi lain, Alvin mendekat ke Amira.
“Kalian sahabatan dekat banget, ya?”Amira mengangguk sambil tetap menari. Tak lama kemudian, Jason membisikkan sesuatu ke telinga Airin. Ekspresi gadis itu langsung berubah.
"Apa?" pekiknya kaget.
Jason hanya tersenyum santai lalu menunjuk ke arah meja VIP mereka.Beberapa menit kemudian, Airin dan Amira turun dari dance floor bersama Jason dan Alvin.
Mereka duduk melingkar di sofa kulit hitam.Jason mengeluarkan kotak ponsel terbaru dari tas kecilnya dan meletakkannya di meja.
Mata Airin langsung membesar."Itu serius?"
"Kalau kalian mau membantu sedikit aja." Jason tersenyum licik.
Amira tampak mulai tidak nyaman. "Bantu apa ya?"
Alvin membuka tutup botol air mineral dingin yang sudah mereka siapkan.
"Kasih ini ke Tia."
Airin langsung menggeleng cepat.
"Gila ya? Kalau dia tahu—"
"Dia nggak bakal tahu." Jason memotong santai. "Cuma bikin dia lebih rileks aja. Swear deh." Jason membuat huruf V dengan tangannya.
Amira menelan ludah gugup.
Jason lalu mengeluarkan ponselnya."Selain dapet iphone, kalian berdua juga masing-masing dapet duit banyak." Ia memperlihatkan layar mobile banking. "Ada transferan uang tunai juga."
Nominal di layar membuat napas Airin dan Amira tertahan.
Jumlah uang itu lebih besar dari penghasilan ayah mereka selama beberapa bulan."Cuma nyuruh minum air ini doang," bisik Alvin membujuk.
Airin dan Amira saling bertatapan. Ragu. Takut. Tapi juga tergoda.Beberapa detik kemudian, Jason tersenyum puas saat melihat Airin mengangguk pelan.
"Pinter."
Tak lama, Airin melambaikan tangan ke arah dance floor.
"Tia! Sini dulu!"
Tia yang masih menari menoleh.
"Kenapa?"
"Minum dulu! Istirahat bentar!"
Dengan napas terengah, Tia akhirnya turun sambil tertawa kecil.
"Astaga, gue capek banget!"
Amira buru-buru menyodorkan botol air mineral.
"Ya udah. Nih, minum dulu." Tanpa curiga, Tia langsung meminumnya beberapa teguk.
Namun beberapa detik kemudian, wajahnya berubah."Eh…" Ia memandang botol itu bingung. "Airnya aneh."
Airin langsung tertawa gugup."Aneh bagaimana? Perasaan lo aja kali."
"Agak bau obat dan pahit." Tia menjulurkan lidah.
"Lo kebanyakan joget kali, makanya lidah lo jadi aneh," imbuh Amira. Berusaha menutupi keresahan hatinya.
Karena haus, Tia akhirnya menghabiskan air itu hingga tandas.
Beberapa menit berlalu.
Lalu pandangan Tia mulai kabur. Musik terdengar makin jauh."Kok..." Ia memegang kepalanya pelan. "Gue pusing ya?" Tubuh Tia limbung.
Jason langsung sigap menangkap bahunya.
"Wah, hati-hati."
"Tia?" Amira mulai panik sungguhan. Tia mencoba fokus, tapi tubuhnya terasa makin lemas.
"Rin, gue kenapa ya?" Tia kebingungan.
"Kita bawa dia keluar dulu," kata Alvin cepat. Jason dan Alvin kemudian memapah Tia melewati lorong belakang klub yang lebih sepi. Kepala Tia jatuh lemah di bahu Jason.
Sementara itu, Dexter masih sibuk melayani pelanggan di bar tanpa menyadari apa yang terjadi.
Di meja VIP, Airin menatap layar ponselnya yang baru saja menerima notifikasi transfer.
Tangan mereka gemetar."Kita... kita salah nggak nih, Mir?" bisiknya panik.
Amira terlihat pucat. "Kalau Tia tahu gimana? Terus kalau Tia sadar nanti kita nggak ada, pasti dia tahu kalo kita udah ngerjain dia."
Mereka berdua mulai menyesal.
Namun semuanya sudah terlambat.Di luar klub, mobil hitam milik Jason melaju meninggalkan area parkir lewat jalur belakang.
Tanpa mereka sadari sebuah sedan hitam lain bergerak perlahan mengikuti dari kejauhan. Di dalamnya, seorang pria berjas hitam duduk tenang sambil menatap lurus ke arah mobil Jason. Tatapannya dingin.
Dan penuh rencana.Tia tiba di Hotel Mulia tepat pukul sepuluh lewat sepuluh menit. Tanpa membuang waktu, ia langsung menuju ruang ganti karyawan. Dua puluh menit lagi briefing akan dimulai.Ia membuka loker kecilnya, lalu buru-buru mengenakan seragam. Kemeja yang ia pakai berukuran L yang kelonggaran. Namun berkat celemek hitam yang diikat kencang, ia terlihat cukup rapi.Sebagai pekerja part-time ia memang tidak mendapatkan kemewahan seragam yang diukur pas badan. Dia harus puas dengan apa pun yang tersisa di ruang binatu hotel.Baru saja Tia merapikan kerah kemejanya, seorang perempuan berusia akhir dua puluh-an masuk sambil mengikat rambutnya."Hallo, Tia."Tia menoleh."Eh, Mbak Lita. Baru datang, Mbak?""Iya. Anakku lagi sakit. Jadi agak rewel. Aku nunggu dia tidur dulu baru bisa kerja."Mbak Lita adalah sesama part-time waiter, tetapi sudah bekerja hampir dua tahun di hotel itu. Hampir semua karyawan baru belajar banyak darinya."Hari ini kita kerjanya harus ekstra hati-hati, lo Ti." Mbak Lita
"Nasi uduk saya paket polos tujuh bungkus ya! Paket gorengan tiga! Paket lengkap dua saja!" seru Bu Rini, Bu Novi, dan Bu Ida hampir bersamaan.Minggu pagi itu, warung kecil di depan rumah kontrakan Tia ramai sejak matahari baru terbit.Tia sibuk membungkus nasi uduk satu per satu. Walau tangannya masih kaku, Tia berupaya memasukkan nasi, lauk, sambal, lalu mengikat bungkusan dengan karet gelang. "Kak Tia, kembaliannya Bu Rini empat puluh sembilan ribu, kan? Tujuh ribu kali tujuh," tanya Rima sambil memegang pouch berisi uang kembalian."Iya. Pinter kamu, Rim."Tia tersenyum tanpa menghentikan pekerjaannya."Terus punya Bu Novi ini berapa?" tanya Tia lagi sambil menyerahkan tiga bungkus nasi kepada Bu Novi.Rima berpikir beberapa detik."Paket gorengan sepuluh ribu kali tiga...""...berarti tiga puluh ribu.""Benar, Kak?"Tia langsung mengacungkan jempol."Wuih, pinter banget."Rima terkikik geli.Sudah seminggu terakhir, pagi-pagi mereka selalu sesibuk ini. Di luar dugaan, nasi uduk
Baru saja turun dari ojek online, langkah Tia terhenti. Jantungnya berdebar kencang saat melihat sebuah mobil SUV hitam yang sangat dikenalnya terparkir di depan rumah kontrakan.Mobil Riffat."Apa yang dia lakukan di sini?" Tia menggeram kesal.Setelah mengucapkan terima kasih pada driver, Tia berlari masuk ke dalam rumah.Pintu dalam keadaan terbuka. Darahnya langsung mendidih melihat pemandangan di depannya.Riffat duduk santai di lantai yang dilapisi karpet bersama dengan Rima. Keduanya tertawa-tawa sambil menggigiti coklat batang."Rima!"Suara Tia menggema. Rima yang sedang duduk di lantai langsung menoleh."Kak Tia!"Rima tersenyum gembira melihat kakaknya pulang. Namun senyumnya lenyap saat melihat sang kakak tampak marah.Kamu lagi ngapain?" Tia menarik Rima hingga berdiri dari lantai."Lagi nonton sambil makan coklat, Kak. Cobain deh coklatnya. Enak banget." Rima menyodorkan coklat yang baru ia makan separuh.Pandangan Tia tertuju pada sekotak coklat import dan jajanan maha
Keesokan paginya, Tia bangun jauh lebih awal dari biasanya.Ia mengenakan kemeja putih polos yang masih tersisa di lemarinya, dipadukan dengan celana bahan hitam.Rambut panjangnya diikat rapi menjadi ekor kuda. Penampilannya sederhana, jauh berbeda dengan Tia yang dulu selalu mengenakan pakaian seksi dan bermerek.Sebelum berangkat, ia berpamitan kepada ibunya dan Rima."Doain ya, Bu, Dek. Semoga aku diterima kerja.""Harus diterima. Kamu harus berusaha keras untuk mendapat pekerjaan ini. Ingat, kita semua harus makan dan kamu masih punya utang." Bu Astri kembali mengingatkan tanggung jawab putri sulungnya."Kita semua punya utang, Bu. Bukan utangku saja," tegas Tia.Ibunya menggerutu lalu masuk ke dalam kamar. Akhir-akhir ini ibunya memang kerap menggerutu dan marah-marah sendiri."Kakak pasti diterima, karena Kakak cantik!" Rima membuat pose imut ala-ala girlband Korea.Tia tersenyum kecil, lalu memesan ojek online menuju Hotel Mulia.Begitu memasuki lobi hotel, Tia tertegun sejen
Mereka bertiga ditambah Rima mulai kembali memasak. Kali ini, Tia mengikuti setiap arahan mereka. Cara mencuci beras, menakar santan sampai tehnik menggoreng kacang dan kerupuk."Kita skip masak bihun gorengnya karena lama. Harus direndam sampai benar-benar lembut dulu," kata Clara.Hampir satu jam kemudian,nasi uduk baru berikut lauk pauknya matang. Kecuali bihun goreng.Tia mencicipi masakannya sendiri dan matanya langsung membesar."Enak!"Rima ikut mencoba."Kali ini enak banget, Kak!" Rima mengacungkan jempolnya.Desy tertawa puas."Apa gue bilang, semua orang bisa masak kok. Asal tau trik dan takaran bumbunya pas."Tia memandang Clara dan Desy dengan mata berkaca-kaca."Gue... terima kasih banget sama lo bedua." Suara Tia tersendat."Karena lo bedua ada, saat semua orang menjauhi gue.""Sama-sama, Ti. Kami berdua cuma ingin membalas budi baik lo," ujar Clara."Budi baik? Budi baik apa? Perasaan gue nggak pernah nolongin lo."Clara dan Desy tersenyum lalu saling memandang."Mung
"Bagaimana Rim, enak nggak masakan Kakak?" Tia menatap Rima penuh harap. Sejak subuh ia sudah sibuk di dapur. Berbekal video YouTube ia belajar memasak nasi uduk komplit untuk pertama kalinya. Di meja ada sepanci nasi uduk, bihun goreng, tempe orek, sambal kacang, dan kerupuk.Rencananya, jika masakannya berhasil, ia akan mulai berjualan nasi uduk setiap pagi.Rima mengambil beberapa suap. Mengunyah pelan lalu wajahnya berubah aneh. "Gimana, Dek? Enak nggak?" tanya Tia semakin penasaran. Rima menelan makanannya lebih dulu."Nggak, Kak," jawabnya polos.Tia tertawa miris."Masa sih, Dek? Padahal Kakak udah ngikutin semua resepnya, lho.""Kalau gitu coba Kakak cicipi sendiri. Siapa tahu lidah Rima yang salah," usul Rima. "Oke. Kakak coba."Tia mengambil piring, lalu menyendok nasi dan lauk. Baru mencoba beberapa suap, ia langsung meringis."Gimana, Kak?"Rima menatap kakaknya penuh rasa bersalah.Tia menghela napas panjang."Emang nggak enak, Dek. Lidahmu nggak salah."Tia mengad







