共有

3. Terperangkap.

作者: Suzy Wiryanty
last update 公開日: 2026-06-21 19:07:07

Tia merasa tubuhnya ringan.

Sangat ringan. Ia merasa seolah sedang melayang di udara.

Di sekelilingnya hanya ada kabut putih tebal yang menutupi pandangan. 

Ia berusaha berjalan, tetapi kakinya seperti tidak menyentuh apa pun.

"Kak Tia..."

Suara kecil itu terdengar samar.

"Rima?"

Tia menoleh ke segala arah.

Namun tidak melihat siapa-siapa.

"Kak Tia jangan tinggalin Rima ya..."

Suara itu kembali terdengar. Hati Tia mencelos. Ia ingin menjawab. Tapi bibirnya terasa berat. Kabut semakin tebal. Dan semuanya kembali gelap.

Sementara itu, sebuah mobil hitam melaju memasuki area parkir bawah tanah Hotel Paramount melalui jalur khusus yang tidak dilewati tamu biasa.

Jason menyeringai puas dari balik kemudi.

"Beres juga akhirnya. Berhasil juga kita ngelabuhin si Dex." Jason kembali menyeringai senang. 

Di kursi belakang, tubuh Tia terkulai lemah. Kepalanya bersandar ke jendela tanpa kesadaran penuh.

Alvin melirik ke belakang. "Iya berhasil. Tapi kalo tadi kita gagal gimana?" Alvin berdecak.

Jason tertawa pendek.

"Selama ini gue nggak pernah gagal. Udah, nggak usah ngomongin yang belum terjadi. Lo mau ikut nyicipin nggak?" Jason menaikturunkan alisnya mesum. 

Alvin mendengkus. "Kalo nggak mau, gue nggak bakal bantuin lo tadi."

Tak lama mobil berhenti di area privat. Beberapa staf hotel yang sudah mengenal Jason segera menghampiri. Salah seorang menyerahkan kartu akses kamar tanpa banyak bicara. Mereka sudah terlalu sering membantu pria itu. Dan selama ini tidak pernah ada masalah. Setidaknya begitu yang mereka kira. 

Jason dan Alvin lalu membawa Tia menuju lift khusus yang jarang digunakan tamu umum.

Beberapa menit kemudian mereka tiba di sebuah suite mewah di lantai atas.

Pintu terbuka. Jason membaringkan tubuh Tia di atas ranjang besar yang empuk.

Tatapannya langsung berubah mesum. Ia menyeringai seraya

menggosok-gosok kedua telapak tangannya tidak sabar.

Alvin bersandar di dekat pintu. Ia meringis melihat ekspresi Jason. Temannya ini memang pecinta wanita sejati.

"Gue tunggu di lobby aja. Biar lo puas nyicipinnya." Alvin nyengir.

Jason terkekeh. "Siap. Lo tenang aja. Gue pastiin gadis itu masih fresh saat gue serah terima ke lo nanti."

"Bener ya? Jangan ntar udah ancur aja baru lo kasih ke gue. Ya udah gue ke depan. Inget

Kalo udah selesai, langsung kabarin. Jangan lama-lama. Ntar dia keburu sadar." Alvin mengingatkan.

"Iya. Nggak percaya amat sih lo," dengkus Jason tanpa mengalihkan pandangan dari ranjang. Alvin pun keluar lalu pintu ditutup.

Kini di dalam kamar hanya tersisa Jason dan Tia. Jason melangkah mendekat ke ranjang. Menatap Tia yang tergolek lemah seolah-olah makanan yang lezat. Tepat saat ia hendak menyentuh gadis itu, bel kamar berbunyi.

Jason berdecak kesal.

"Sialan! Nggak sabar amat ini si Alvin. Belum juga ngapa-ngapain!" Jason menyumpah-nyumpah. Ia mengabaikan panggilan Alvin.

Namun bel kembali berbunyi.

"Brengsek bener ini si Alvin!" 

Dengan gerutuan panjang, Jason berjalan menuju pintu. 

"Lo ini nggak sabaran banget sih? Gue belum ngapa-ngapain tahu?" Jason membuka pintu kasar. 

Sejurus kemudian wajahnya langsung berubah pucat. 

Di ambang pintu berdiri seorang pria tinggi besar dengan tatapan dingin yang menusuk hingga ke tulang.

Riffat Herlambang. Putra tunggal Khalid Herlambang, pemilik Hotel Paramount ini. Ayah dan anak yang dikenal sebagai penguasa dunia malam-orang-orang yang namanya lebih baik tidak disebut sembarangan.

Di belakang Riffat berdiri dua staf hotel- Dennis dan Lutfi yang biasa "membantunya. Keduanya tampak gemetar ketakutan. Satu lagi seorang perempuan berjas putih yang sepertinya seorang dokter.

"P... Pak Riffat. Sa... saya..."

Bugh!

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah bogem mentah singgah wajahnya. Riffat menghajarnya!

Kerasnya pukulan membuat Jason terhempas ke lantai.

Jason memegangi rahangnya yang nyeri luar biasa. Belum sempat Jason bersuara lebih lanjut, Riffat masuk beberapa langkah ke dalam kamar.

Tatapannya menyapu ruangan.

Lalu berhenti pada sosok Tia yang terbaring tak berdaya di atas ranjang.

Rahang Riffat mengeras.

"Berani sekali Anda melakukan hal kriminal di hotel saya."

Jason buru-buru bangkit.

"Ini... tidak seperti Bapak kira. Saya... bisa jelaskan." Sambil menyeka hidungnya yang hangat karena darah yang mulai menetes, Jason coba membela diri. Melalui sudut mata, Jason melihat wanita berjas putih tersebut memeriksa keadaan Tia.

Bugh!

Pukulan kedua mendarat tanpa ampun. Jason kembali tersungkur.

"Apa yang ingin Anda jelaskan?" suara Riffat terdengar rendah namun mengandung ancaman berbahaya. 

"Anda mau bilang kalau Anda telah memanfaatkan dua teman gadis ini untuk menjebaknya di Club Sky Light," Riffat menunjuk Tia. 

"Saya kebetulan ada di club tadi dan telah memeriksa CCTV." Riffat memberi clue.

Wajah Jason makin pucat. Club Sky Light adalah club malam milik Riffat juga. Jason sadar, Riffat pasti telah melihat aksinya mengelabuhi Tia.

"Anda mempedaya gadis ini di club saya dan membawanya ke hotel saya juga? Nyali Anda sungguh besar," pungkas Riffat dingin.

Jason berkeringat dingin. Telinganya berdenging memikirkan akibat dari perbuatannya. "Saya salah, Pak."

"Salah?" Tatapan Riffat menajam. "Anda telah melakukan perbuatan kriminal."

Jason makin pucat. "Saya minta maaf."

Mendengar kata polisi, seluruh keberanian Jason lenyap. 

Keringat dingin membasahi pelipisnya. Apalagi tak lama kemudian dua polisi berseragam memasuki kamar dan meringkusnya.

Sisa-sisa keberaniannya menguap dalam sekejap.

"Pak polisi ... saya benar-benar minta maaf. Saya belum melakukan apa-apa pada dia." Jason meronta panik.

"Jangan seperti ayam sayur kau!" Polisi itu menoyor wajah Jason yang sudah lebih dulu dihajar Riffat. "Nanti kau jelaskan aja semuanya di kantor. Jalan sekarang!" Sang polisi itu memiting leher Jason dan menggelandangnya pergi. 

Polisi lainnya menahan Dennis dan Lutfi yang sejak tadi berdiri gemetar di depan pintu. Selama ini mereka sering "membantu" Jason. Memberikan akses. Menyiapkan kamar. Dan pura-pura tidak melihat saat perempuan-perempuan mabuk dibawa masuk ke hotel. 

Riffat mendekat pada dua stafnya dan berkata dingin.

"Mulai detik ini kalian dipecat."

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
コメント (1)
goodnovel comment avatar
Iin Iin
untung ada Riffat yg nolongin Tia..
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   60. Penasaran.

    Tia menatap gelang di tangannya lalu memandang Pak Khalid."Kenapa, Pak?" tanyanya bingung."Jawab saja pertanyaan saya. Dari mana kamu mendapatkan gelang itu?" Pak Khalid menunjuk pergelangan tangan Tia."Ini?" Tia mengangkat lengannya. "Dari Ibu saya. Kata Ibu sekarang gelang ini milik saya.""Itu bukan gelang ibumu. Tapi gelang orang lain," pungkas Pak Khalid tegas. "Maaf, apa dasar Bapak berani mengklaim kalau gelang itu bukan milik Ibu saya?" Alis Tia bertaut. "Atas dasar kebenaran. Gelang itu adalah hadiah dari saya untuk Nila."Tia terdiam. Nama itu langsung mengingatkannya pada sesuatu.Pak Khalid pernah menyebut nama yang sama ketika mabuk di apartemennya. Pak Khalid mengangkat wajah."Kalau kamu tidak percaya, coba periksa. Di inisial huruf P itu, dibaliknya ada huruf R yang diukir kecil. Lalu di inisial huruf A ada huruf H yang juga diukir kecil."Penasaran, Tia pun melepas gelangnya dan memeriksa inisial huruf yang Pak Khalid katakan. Dan ternyata apa yang Pak Khalid ka

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   59. Milik Siapa?

    Setelah berpakaian rapi dan siap berangkat ke hotel, Tia tiba-tiba teringat sesuatu. Ia belum mentransfer utangnya pada Riffat!Tia buru-buru mengambil ponsel. Ia tidak ingin Riffat menganggapnya sengaja mangkir. Ia lalu mengetik pesan pada Riffat meminta nomor rekeningnya.Minta nomor rekening, Pak. Saya mau mentransfer cicilan.Tak sampai satu menit, balasan masuk. Riffat mengirimkan nomor rekeningnya tanpa basa-basi. Besok kamu tidak usah datang ke hotel.Tia mengernyit. Apa-apaan ini! Apa Riffat memecatnya?Tanpa berpikir panjang, ia langsung menelepon."Kenapa saya tidak boleh masuk kerja? Apa Bapak mau memecat saya?" tanya Tia gusar."Kalau saya dipecat, bagaimana saya bisa membayar utang?" lanjut Tia lagi.Di seberang terdengar suara decakan lidah."Kamu buta huruf atau bagaimana? Ada saya tulis memecatmu? Tia terdiam. Memang tidak."Saya cuma tidak ingin melihat wajahmu di restoran dalam dua hari ini."Tia masih belum bersuara."Saya ada pertemuan penting dengan beberapa kli

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   58. Haru Biru.

    Tia melenguh pelan dan terbangun mendengar suara-suara orang yang berbicara bersamaan."Ada apa sih pagi-pagi buta udah ribut-ribut," keluhnya pelan.Rasanya ia baru memejamkan mata beberapa menit lalu.Perlahan ia membuka mata. Namun ia refleks menutupnya kembali karena silau.Silau?Ia langsung terduduk. Kalau silau berarti sudah pagi!Tangannya meraba-raba ponsel, tetapi matanya lebih dulu menangkap jam dinding.Pukul 07.30. WIB."Ya ampun!"Tia menepuk kening. Ia belum memasak nasi uduk! Ingatan terakhir yang tersisa adalah dirinya menangis di pelukan Bu Teti semalam. Entah kapan ia tertidur setelah itu.Tiba-tiba terdengar suara Bu Teti dari luar."Iya, Bu Novi. Hari ini Tia nggak jualan. Lagi sakit orangnya. Mungkin besok baru jualan lagi.""Oh, ya sudah. Saya heran aja. Biasanya si Tia nggak pernah tutup."Tia menajamkan pendengaran. Suara ribut-ribut itu berasal dari pelanggan nasi uduknya rupanya.Perlahan ia turun dari ranjang dan berjalan mengendap ke jendela. Dari celah ti

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   57. Kebingungan Tia.

    Tia baru saja membuka pintu rumah ketika langkahnya terhenti.Lampu di ruang tamu masih menyala terang. Di tengah malam seperti ini, seharusnya ibunya sudah tidur. Apakah ibunya lupa mematikan lampu?Tia menajamkan telinga. Ia mendengar suara ribut-ribut dari kamar ibunya. Penasaran, ia pun membuka pintu kamar sang ibu. Pemandangan di depannya membuatnya bingung. Alih-alih tidur, ibunya malah sibuk memasukkan pakaian ke dalam koper."Baru pulang, Tia? Cepat bantu Ibu dulu. Pakaianmu dan Rima belum ibu masukkan ke koper," kata Bu Astri tanpa melihat Tia.Tia mengernyit."Untuk apa, Bu? Kenapa Ibu menyusun pakaian malam-malam? Kita mau ke mana?""Jangan banyak tanya. Bantu saja Ibu dulu. Nanti baru Ibu jelaskan." Tangan ibunya dengan lincah menyusun sisa-sisa pakaian di ranjang ke dalam koper. Karena Tia tidak bereaksi, Bu Astri menatap putrinya. Pada saat itulah dia baru melihat keadaan sang putri yang luka-luka. Wajahnya lebam, lengan bajunya robek, dan luka di beberapa bagian tubu

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   Rival?

    Baru saja masuk ke dalam rumah, lampu ruang tamu tiba-tiba menyala. Riffat kaget saat mendapati ayahnya duduk santai di sofa. Sepertinya ayahnya memang sudah menunggunya. Pandangan Pak Khalid langsung tertuju pada tangan Riffat yang terluka."Martin." Pak Khalid berseru. Tak lama kemudian seorang pria paruh baya yang masih mengenakan pakaian tidur keluar dari kamar. Tanpa banyak bertanya, ia mengambil kotak obat dan duduk di hadapan Riffat. Gerakannya cepat dan terampil. Beberapa menit kemudian, luka di telapak tangan Riffat sudah dibersihkan dan dibalut rapi."Sudah," ujar Pak Martin singkat.Ia kembali ke kamarnya.Ruang tamu kembali sunyi. Menyadari kalau ayahnya ingin bicara, Riffat pun duduk di hadapan sang ayah."Ayah sengaja menungguku?"Pak Khalid mengangguk."Betul.""Ada masalah apa, Yah?"Ayahnya menatapnya dengan pandangan menyelidik."Ada masalah apa antara kamu dengan Aminuddin Rahmadsyah? Mengapa kamu ingin menghancurkannya?"Riffat terdiam."Dari mana Ayah tahu soal

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   55. Penolong Misterius

    Tia membuka seragamnya dengan langkah sempoyongan. Kelelahan dan kurang tidur membuat kepalanya sekarang berputar seperti kitiran. Ia mengenakan kembali pakaian biasanya lalu memindai jam dinding. "Ya ampun sudah pukul setengah dua belas malam," gumamnya pelan. Ia lalu berjalan keluar ruang ganti karyawan sambil mengorder ojek online. Ia harus langsung tidur cepat agak bisa bangun subuh untuk memasak nasi uduk.Untungnya tidak sampai dua menit seorang pengemudi menerima pesanannya.Tia segera naik ke motor."Sesuai titik, Mbak?""Iya, Pak."Tia mengenakan helm, lalu tanpa sadar memeluk tas selempangnya lebih erat. Di dalam tas itu ada uang yang sangat berarti baginya. Honor banquet exclusive pertamanya.Mbak Christine benar-benar menepati janjinya. Honor event kali ini lima kali lipat dari honor banquet biasa. Ia bahkan mendapat bonus akhir bulan sebesar Rp3,5 juta.Ia sempat kebingungan ketika menerima uang bonus itu tadi."Bonus ini untuk apa, Mbak?""Anggap saja apresiasi dari h

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status