Mag-log in
"Kamu ini bagaimana sih jadi seorang ibu, Tri?” suara Pak Aminuddin meninggi. "Anakmu dipanggil ke sekolah karena nilainya jeblok semua. Ditambah merokok dan tawuran. Lihat ini percakapan Bu Tantri denganku!"
Pak Aminuddin menunjukkan percakapannya dengan wali kelas putrinya pada sang istri. Di sana tertera rangkuman nilai sang putri, berikut percakapannya dengan Bu Tantri.
"Lho, kenapa Mas menyalahkan aku saja?" balas Bu Astri tak kalah tajam. "Tia itu bukan anakku sendiri. Mas kan ayahnya juga."
Mendengar sanggahan sang istri, Pak Aminuddin melotot.
"Betul. Tapi kamu ibunya. Dan seorang Ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya."
Bu Astri seketika tertawa mengejek.
"Halah! Jangan bicara soal madrasah-madrasah segala, Mas. Nggak pantes dengan kelakuan bejatmu!" cetus Bu Astri jijik.
"Siang malam main perempuan, berani-beraninya ngomong soal madrasah. Kualat nanti kamu, Mas!" Amarah Bu Astri makin menjadi.
"Lah, kamu sendiri, bisa menjadi ketua yayasan anak-anak bermasalah. Tapi mengurus anak sendiri kamu tidak pernah punya waktu!" tuduh Pak Aminuddin tak mau kalah.
"Itu artinya kita berdua sama-sama tidak becus. Bukan cuma aku saja!" balas Bu Astri tak kalah tajam.
Tia menonton pertengkaran seru kedua orang tuanya sambil duduk santai di sofa. Satu kakinya diayun-ayunkan. Sudah lama sekali mereka ribut seperti ini.
Biasanya mereka sangat sulit bertemu satu sama lain, apalagi bertengkar. Kesempatan langka ini tidak akan ia sia-siakan.
Hingga sekonyong-konyong,
Plak!
Kepala Tia terlempar ke samping. Pipi kirinya terasa panas. Ayahnya menamparnya keras.
"Kenapa kamu jadi nakal begini, hah?" bentak Pak Aminuddin.
"Merokok di sekolah, tawuran! Kamu itu anak perempuan, Tia! Mau jadi apa kamu nanti?"
Tia menoleh perlahan. Lalu… tersenyum bahagia.
Plak!
Tamparan kedua mendarat di pipi kanannya.
"Senyum lagi?" Pak Aminuddin bertambah murka. "Kamu meledek Ayah?"
Suara ayahnya semakin tinggi. Dan senyum Tia semakin lebar.
Akhirnya mereka melihatnya juga.
"Kamu senang ya melihat Ayah marah? Nih, rasakan!" Pak Aminuddin menjambak rambut putrinya geram. Sungguh, ia tidak tahu lagi harus bagaimana mendidik anak gadisnya.
Capek menghajar Tia namun sang anak gadis tetap santai, Pak Aminuddin menghentikan aksinya.
Tia merapikan rambutnya yang acak-acakan sambil tetap tersenyum.
"Nggak kok, Yah," ucapnya ringan. "Tia nggak ngeledek. Tia cuma senang… akhirnya Ayah sama Ibu melihat Tia juga," tuturnya.
Sunyi.
"Jadi walaupun harus ditampar, dihajar, nggak apa-apa," lanjutnya. "Yang penting Ayah dan Ibu tahu kalau Tia ada."
Untuk pertama kalinya, Pak Aminuddin dan Bu Astri terdiam. Kata-kata Tia menggantung di udara, pelan namun menampar balik tanpa suara.
Pak Aminuddin mendengkus, lalu mengambil kunci mobil.
"Dasar anak gendeng." Ia memaki pelan. "Sana, urus anakmu," katanya datar pada Bu Astri sebelum pergi begitu saja.
Pintu pun tertutup. Sekarang tinggal dirinya dan sang ibu.
"Jaga sikapmu, Tia!" ujar Bu Astri dingin. "Jangan mempermalukan Ibu. Apa yang kamu dapat dari semua itu? Merokok? Tawuran?"
Tia menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Perhatian," jawabnya santai.
Bu Astri menghela napas kesal. "Kamu sudah terlalu besar untuk Ibu timang-timang."
Bu Astri menyambar kunci mobil di meja.
"Ibu ada acara. Ingat, jangan ulangi lagi kebodohan-kebodohan seperti ini. Ayah dan ibu adalah orang penting. Jangan mencoreng nama baik kami."
Lalu tiba-tiba ia berbalik. "Oh ya, bilang pada gurumu. Kami tidak punya waktu ke sekolah. Kalau ada apa-apa, email Ibu saja."
Tanpa menunggu jawaban, Bu Astri ikut pergi. Pintu kembali tertutup. Dan rumah besar itu kembali sunyi.
Tia menatap kosong ke depan.
Seperti biasa rumah kembali sunyi. Beginilah nasibnya sebagai putri sulung Aminuddin Rahmadsyah. Seorang pengusaha tambang ternama.Ibunya Astri Rahmadsyah adalah pemilik brand kosmetik besar sekaligus sosok dermawan yang dielu-elukan karena membantu banyak anak terlantar.
Di luar, mereka sempurna. Di dalam mereka saling menghancurkan.
Semua bermula dari ayahnya yang kerap berselingkuh tanpa rasa bersalah. Awalnya ibunya sedih dan terus menangis. Namun ayahnya terus mengulangi perbuatannya.
Lama kelamaan ibunya berhenti peduli dan mencari kesenangan dengan cara berbeda. Mereka sibuk membangun citra, tapi lupa membangun rumah.
Tia dan adiknya Rima tumbuh tanpa merasakan kasih sayang orang tua.
Tia, kelas tiga SMA. Dan Rima kelas 3 SD. Mereka dibesarkan oleh pengasuh. Dikenal dunia sebagai anak Pak Amin dan Bu Astri, tapi asing bagi orang tuanya sendiri.
Ponselnya bergetar. Airin meneleponnya.
"Tia! Kita jadi ke club nggak? Gue dan anak-anak udah nungguin nih?" suara Airin terdengar bersemangat.
"Kata Amira ntar ada party gede pas midnight. Kita bisa dance sampai pagi!"
Tia menyeringai kecil. Kesempatan untuk melampiaskan kekecewaannya.
"Jadi. Gue jemput kalian semua bentar lagi. Gue nidurin adik gue dulu."
"Oke. Eh… tapi gue mau minta tolong. Cuma agak nggak enak sih." Suara Airin mulai disedih-sedihkan.
"Yaelah. Bilang aja." Tia memutar bola mata. Pasti sahabatnya ini ingin meminta sesuatu. Ia sudah hapal dengan kelakuannya.
"Gue pengen lipstik sama baju yang kemarin lo pakai. Beliin dong?" Nada suara Airin mulai merayu.
Tia mendengus pelan. "Ntar gue transfer. Lo beli sendiri aja."
"Asik. Beneran ya? Eh, Amira pengen juga katanya."
"Ya udah. Ntar gue transfer juga ke dia," kata Tia enteng. Uang bukan masalah buatnya.
"Lo emang sahabat paling top deh. Oke, kami tunggu ya. Jangan lama-lama!"
Telepon ditutup. Tia berdiri, lalu berjalan ke lantai dua. Berbeda dengan dirinya, Rima masih butuh dipeluk untuk bisa tidur.
Dan Tia… selalu ada untuk itu.Tia mendorong pintu pelan. Mungkin saja Rima sudah tidur. Seketika kepala mungil di ranjang berwarna pink menoleh.
"Kak Tia," seru Rima gembira.
"Rima kok belum tidur?" Tia duduk di samping ranjang. Mengelus sayang puncak kepala sang adik.
"Kan Kakak belum membacakan cerita?" jawab Rima manja.
"Soalnya sudah malam sekali. Kakak pikir Rima sudah tidur." Tia mencubit gemas pipi gembul Rima.
"Tadi sudah. Tapi bangun lagi karena ayah dan ibu bertengkar." Air muka Rima berubah kecut. "Eh, mereka marahin Kak Tia juga ya?"
Tia meringis. "Iya. Tapi nggak apa-apa. Karena itu artinya mereka masih ada perhatian walau sedikit." Tia menenangkan adiknya.
"Sekarang Kakak akan membacakan cerita. Tapi habis itu Rima langsung tidur ya?"
Kepala mungil itu pun mengangguk.
Tia lalu meraih salah satu buku cerita hardcover dari nakas samping tempat tidur. Buku impor mahal dengan ilustrasi indah yang dulu dibelikan ayahnya saat ulang tahun Rima.
Tia membuka halaman pertama.
"Di sebuah kerajaan besar…" suaranya mulai lembut dan mengalun," tinggal seekor burung kecil di dalam sangkar emas."Rima berbalik menghadap sang kakak. Mencari posisi yang paling nyaman.
"Sangkarnya cantik banget. Semua orang yang melihat bilang, burung itu pasti bahagia."
"Tapi dia nggak bahagia ya, Kak?" tebak Rima prihatin.
Tia tersenyum tipis.
"Nggak."
"Kenapa?"
"Karena setiap malam… burung itu kesepian walau sering di dalam istananya sendiri."
Rima terdiam.
"Dia punya makanan mahal, tempat tidur hangat, pokoknya semua ada," lanjut Tia lirih sambil mengusap rambut adiknya. "Tapi dia tetap kesepian."
Hening.
"Tapi, burung kecil itu punya satu hal yang bikin dia tetap kuat."
"Apa?" tanya Rima penasaran.
"Adiknya." Tia mengubah ceritanya.
Rima tersenyum kecil.
"Jadi tiap malam, burung itu akan bernyanyi sampai adiknya tidur. Karena selama adiknya masih bisa tidur dengan tenang, dia merasa dunia tidak sepenuhnya sunyi."
Kelopak mata Rima mulai berat.
"Kak…"
"Hm?"
"Kak Tia jangan tinggalin Rima ya…"
Kalimat itu menghantam tepat ke dada Tia. Ia menatap wajah kecil adiknya lama. Di rumah sebesar ini, ternyata cuma Rima yang masih membuatnya merasa dibutuhkan.
Tia tersenyum tipis meski matanya mulai panas.
"Nggak akan."
"Janji?" Suara Rima mengecil karena mengantuk.
Tia menggenggam tangan kecil itu pelan.
"Janji," jawabnya sambil membelai-belai kepala sang adik.
Setelah memastikan Rima benar-benar tertidur, Tia berdiri.
Wajahnya kembali datar. Ia mengambil kunci mobil. Jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Dan seperti biasa, ia akan pergi menuju tempat yang bisa membuatnya gembira walau semu.
Meninggalkan rumah yang tak pernah benar-benar terasa seperti rumah. Menuju dunia lain. Tempat ia bisa tertawa, menari, dan melupakan semuanya bersama teman-temannya walau hanya untuk sementara.
Tia mengangkat alis."Ada apa, Bu?" tanya Tia heran.Bu Narti tidak menjawab namun ia duduk di kursi sebelah Tia.Tia semakin heran. Biasanya Bu Narti sangat sibuk melayani pembeli. Namun kali ini ia membiarkan Mbak Dewi sibuk sendiri."Maksud Bu Narti apa?" tanya Tia lagi. Ia penasaran.Wanita paruh baya itu menghela napas."Selama ini Ibu sulit bertemu kamu sendirian. Soalnya kalau ke sini Nak Tia selalu bersama dengan Airin dan Amira."Mendengar nama Airin dan Amira disebut, Tia makin penasaran. Namun ia tidak mengatakan apapun karena Mbak Dewi mengantarkan pesanannya."Memangnya kenapa, Bu?" tanya Tia sambil makan.Bu Narti tampak ragu sesaat.Namun akhirnya ia berkata pelan," Kamu jangan terlalu mempercayai mereka."Tia mengernyit. "Kenapa, Bu?""Karena mereka bukan teman yang baik."Tia langsung memandang Bu Narti lekat-lekat. Selera makannya mendadak hilang."Maksudnya?"Bu Narti menurunkan suaranya menjadi lebih kecil."Kamu tidak tahu kan kalau selama ini mereka sering ngomon
Ternyata apa yang dikatakan Ronald benar. Begitu sampai di ruang guru, Tia langsung melihat dua pria yang duduk di kursi tamu dekat meja Pak Aziz.Keduanya mengenakan pakaian sipil biasa.Tidak ada seragam polisi mau pun atribut kepolisian. Namun Tia langsung tahu kalau mereka bukan orang biasa. Postur dan bahasa tubuh keduanya yang kaku dengan rambut dipotong cepak, sudah mendeskripsikan profesi mereka.Saat Tia masuk, salah satu pria berdiri."Selamat pagi, Justitia Rahmadsyah?" tanyanya.Tia mengangguk. Pria itu mengeluarkan kartu identitas."Saya IPTU Ridwan."Pria di sampingnya ikut berdiri."IPDA Gultom."Pak Aziz yang sejak tadi mendampingi segera mempersilakan Tia duduk."Duduk, Tia. Pak polisi ini hanya ingin menanyakan beberapa hal," kata Pak Aziz menenangkan.Tia menarik kursi lalu duduk.Meski wajahnya terlihat santai, dalam hati ia sedikit gugup.Bagaimanapun juga, ini pertama kalinya ia dimintai keterangan oleh polisi.IPTU Ridwan membuka buku catatannya."Jangan takut.
Tia baru saja turun dari mobil saat suara riuh rendah menyambutnya dari arah gerbang sekolah."Woho! Keren banget lo, Tia. Ratu sekolah kita sudah datangbteman-teman ayo beri jalan... beri jalan!"Tia mengangkat sebelah alisnya.Di belakang gerbang, belasan siswa sudah berkumpul seperti sedang menunggu artis besar.Clara dan Desy bahkan berdiri paling depan.Begitu melihat Tia, keduanya langsung mengacungkan dua jempol tinggi-tinggi."Gokil lo, Tia!" teriak Clara. "Nggak kaleng-kaleng!" sambung Desy heboh. "Habis teler langsung check in hotel! Lo emang cegil sejati. Ratu dugem se-Harapan Bangsa!" Tepuk tangan semakin riuh. Teman-teman yang lain ikut bersorak. Beberapa orang membuat gerakan menyembah ala tren media sosial yang sedang viral."Hormat kepada Ratu Sky Light!""Salam kepada Penguasa Hotel Paramount!""Hidup Justitia Rahmadsyah!"Tia meringis. Pasti foto-fotonya sudah tersebar di dunia maya. Namun ia tak menganggap itu masalah. Dengan santai ia tersenyum jumawa dan melambai
Baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah, Tia sudah disambut oleh teriakan ibunya."Kamu ini kenapa membuat masalah terus sih, Tia!"Tia tidak menanggapi omelan ibunya. Kepalanya masih terasa pusing. Setelah membuka sepatu, ia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa."Coba lihat ini!" Ibunya terus mengejar, menyodorkan layar tablet ke depan wajahnya.Ogah-ogahan, Tia melirik. Di sana terpampang beberapa foto yang membuatnya mengernyit.Foto dirinya di Club Sky Light. Ada foto saat ia sedang menari. Foto ketika berjalan sempoyongan. Dan yang paling parah, foto ketika tubuhnya yang setengah sadar tampak bersandar pada seorang pria asing yang membawanya keluar dari klub.Berarti inilah pria yang dikatakan ayahnya tadi.Setelah memperhatikan lebih saksama, Tia yakin pria inilah yang berbicara dengan Airin dan Amira di klub. Sialan memang dua sahabatnya itu."Sekarang jelaskan!" bentak ibunya kesal. "Siapa pria ini, Tia?" Tia mengangkat bahu lalu menguap lebar."Tia nggak kenal, Bu," sahutn
Sementara itu di ujung koridor lantai atas. Seseorang berdiri memperhatikan lift yang baru saja turun.Riffat Herlambang.Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana. Tatapannya tetap dingin dan tenang.Tidak menunjukkan emosi apa pun. Namun ketika angka pada layar lift terus bergerak turun menuju lantai dasar,sudut bibirnya perlahan terangkat. Ia ternyum tipis namun cukup untuk menunjukkan kepuasan.Akhirnya setelah lima belas tahun berlalu ia bisa melihat wajah Aminuddin lagi. Wajah jahat dan dingin yang tega memfitnah kedua orang tuanya hingga menemui ajal dengan cara yang sangat tragis. Tidak satu hari pun sejak kejadian itu, ia bisa melupakan wajah kedua orang tuanya saat ajal menjemput.Takdir kini memberinya kesempatan untuk membalas semuanya. Ia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan itu.Ponselnya bergetar. Salah seorang anak buahnya mengirim beberapa foto. Foto Aminuddin yang menyeret Tia keluar kamar hotel. Foto wartawan yang mengerubungi mereka. Foto Tia yang masih terli
Tia merasa dirinya sedang berenang di tengah lautan yang sangat luas. Suasananya gelap dan dingin. Ombak besar bergulung-gulung di sekelilingnya.Ia terus berenang. Namun daratan tak kunjung terlihat.Kedua tangannya pegal danKakinya mulai kram. Napasnya juga terasa sesak.Di atas kepalanya, awan hitam bergumpal menutupi langit.Petir menyambar silih berganti.Tia semakin ketakutan."Tolong..."Suaranya tenggelam ditelan badai. Lalu hujan mulai turun.Awalnya rintik-rintik kecil.Namun beberapa detik kemudian berubah menjadi hujan deras yang menghantam wajahnya tanpa ampun.Byur!Air dingin menerpa wajahnya.Sekali. Dua kali. Semakin deras dan semakin kuat. Tia berusaha membuka mata. Namun air terus menghantam wajahnya.Byur!"Bangun, Tia! Bangun!"Suara seseorang terdengar samar. Tia mengernyit.Suara itu terasa sangat familiar.Byur!Air kembali menghantam wajahnya."Kamu dengar Ayah tidak?!"Ayah? Tia tertegun.Kenapa suara ayahnya ada di tengah lautan?Byur!Kali ini air menghant







