เข้าสู่ระบบTia melenguh pelan dan terbangun mendengar suara-suara orang yang berbicara bersamaan."Ada apa sih pagi-pagi buta udah ribut-ribut," keluhnya pelan.Rasanya ia baru memejamkan mata beberapa menit lalu.Perlahan ia membuka mata. Namun ia refleks menutupnya kembali karena silau.Silau?Ia langsung terduduk. Kalau silau berarti sudah pagi!Tangannya meraba-raba ponsel, tetapi matanya lebih dulu menangkap jam dinding.Pukul 07.30. WIB."Ya ampun!"Tia menepuk kening. Ia belum memasak nasi uduk! Ingatan terakhir yang tersisa adalah dirinya menangis di pelukan Bu Teti semalam. Entah kapan ia tertidur setelah itu.Tiba-tiba terdengar suara Bu Teti dari luar."Iya, Bu Novi. Hari ini Tia nggak jualan. Lagi sakit orangnya. Mungkin besok baru jualan lagi.""Oh, ya sudah. Saya heran aja. Biasanya si Tia nggak pernah tutup."Tia menajamkan pendengaran. Suara ribut-ribut itu berasal dari pelanggan nasi uduknya rupanya.Perlahan ia turun dari ranjang dan berjalan mengendap ke jendela. Dari celah ti
Tia baru saja membuka pintu rumah ketika langkahnya terhenti.Lampu di ruang tamu masih menyala terang. Di tengah malam seperti ini, seharusnya ibunya sudah tidur. Apakah ibunya lupa mematikan lampu?Tia menajamkan telinga. Ia mendengar suara ribut-ribut dari kamar ibunya. Penasaran, ia pun membuka pintu kamar sang ibu. Pemandangan di depannya membuatnya bingung. Alih-alih tidur, ibunya malah sibuk memasukkan pakaian ke dalam koper."Baru pulang, Tia? Cepat bantu Ibu dulu. Pakaianmu dan Rima belum ibu masukkan ke koper," kata Bu Astri tanpa melihat Tia.Tia mengernyit."Untuk apa, Bu? Kenapa Ibu menyusun pakaian malam-malam? Kita mau ke mana?""Jangan banyak tanya. Bantu saja Ibu dulu. Nanti baru Ibu jelaskan." Tangan ibunya dengan lincah menyusun sisa-sisa pakaian di ranjang ke dalam koper. Karena Tia tidak bereaksi, Bu Astri menatap putrinya. Pada saat itulah dia baru melihat keadaan sang putri yang luka-luka. Wajahnya lebam, lengan bajunya robek, dan luka di beberapa bagian tubu
Baru saja masuk ke dalam rumah, lampu ruang tamu tiba-tiba menyala. Riffat kaget saat mendapati ayahnya duduk santai di sofa. Sepertinya ayahnya memang sudah menunggunya. Pandangan Pak Khalid langsung tertuju pada tangan Riffat yang terluka."Martin." Pak Khalid berseru. Tak lama kemudian seorang pria paruh baya yang masih mengenakan pakaian tidur keluar dari kamar. Tanpa banyak bertanya, ia mengambil kotak obat dan duduk di hadapan Riffat. Gerakannya cepat dan terampil. Beberapa menit kemudian, luka di telapak tangan Riffat sudah dibersihkan dan dibalut rapi."Sudah," ujar Pak Martin singkat.Ia kembali ke kamarnya.Ruang tamu kembali sunyi. Menyadari kalau ayahnya ingin bicara, Riffat pun duduk di hadapan sang ayah."Ayah sengaja menungguku?"Pak Khalid mengangguk."Betul.""Ada masalah apa, Yah?"Ayahnya menatapnya dengan pandangan menyelidik."Ada masalah apa antara kamu dengan Aminuddin Rahmadsyah? Mengapa kamu ingin menghancurkannya?"Riffat terdiam."Dari mana Ayah tahu soal
Tia membuka seragamnya dengan langkah sempoyongan. Kelelahan dan kurang tidur membuat kepalanya sekarang berputar seperti kitiran. Ia mengenakan kembali pakaian biasanya lalu memindai jam dinding. "Ya ampun sudah pukul setengah dua belas malam," gumamnya pelan. Ia lalu berjalan keluar ruang ganti karyawan sambil mengorder ojek online. Ia harus langsung tidur cepat agak bisa bangun subuh untuk memasak nasi uduk.Untungnya tidak sampai dua menit seorang pengemudi menerima pesanannya.Tia segera naik ke motor."Sesuai titik, Mbak?""Iya, Pak."Tia mengenakan helm, lalu tanpa sadar memeluk tas selempangnya lebih erat. Di dalam tas itu ada uang yang sangat berarti baginya. Honor banquet exclusive pertamanya.Mbak Christine benar-benar menepati janjinya. Honor event kali ini lima kali lipat dari honor banquet biasa. Ia bahkan mendapat bonus akhir bulan sebesar Rp3,5 juta.Ia sempat kebingungan ketika menerima uang bonus itu tadi."Bonus ini untuk apa, Mbak?""Anggap saja apresiasi dari h
Tia menarik napas panjang. Selalu begini. Dalam keadaan apa pun ibunya selalu mementingkan urusan panti. Entah apa yang membuat ibunya begitu terobsesi mengurus banyak sekali panti asuhan.Tia menatap piringnya.Tangannya menggenggam sendok erat-erat. Dengan mata yang masih basah, ia memaksa dirinya makan lagi. Karena besok pagi, ia tetap harus bangun sebelum subuh. Kembali mengais rezeki untuk hidup yang tak pasti. ***Dengan langkah tergesa, Bu Astri turun dari taksi online. Tatapannya langsung tertuju pada bangunan tua di hadapannya. Sebuah papan nama yang catnya mulai pudar tergantung di atas pintu masuk.Panti Asuhan Al Marhamah.Temboknya tampak kusam. Beberapa bagian bahkan sudah retak dan catnya mengelupas. Bangunan itu terlihat seperti telah melewati puluhan tahun yang berat.Bu Astri menarik napas panjang sebelum melangkah masuk.Di kantor depan, Bu Asih sudah menunggunya bersama seorang perempuan sepuh yang duduk di balik meja kayu. Rambutnya hampir seluruhnya memutih. Ke
Saat ojek online yang ia tumpangi mendekati gang rumah, Tia melihat sebuah mobil yang sangat ia kenal. Mobil Paklik Usman. Itu artinya pakliknya sedang mengunjungi rumahnya. Akhir-akhir ini Paklik Usman memang sering menyambangi rumahnya.Baru turun dari ojek online, Tia melihat Rima tertawa lebar di halaman. Adiknya itu sedang berputar-putar mengendarai sebuah sepeda baru bersama Lisa.Di teras, Paklik Usman duduk sambil memperhatikan mereka bermain."Pelan-pelan, Rima. Jangan ngebut. Nanti jatuh."Tia memperlambat langkah.Sekilas saja melihat sepeda itu, ia sudah tahu siapa yang membelikannya. Pasti Paklik Usman.Tia berjalan mendekat dengan langkah lelah. Ia sangat lapar. Kedua tangannya mencengkeram erat kantong-kantong belanjaan dari pasar yang terasa semakin berat."Kak Tia!”Melihat kehadirannya, Rima langsung mengayuh sepedanya mendekat. "Kak, lihat sepeda baru Rima. Bagus nggak?" Rima memamerkan sepedanya dengan antusias.Tia memandang sepeda gunung anak-anak berwarna merah







