แชร์

41. Tidak Terima Kenyataan.

ผู้เขียน: Suzy Wiryanty
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-29 21:50:08

Di dalam mobil pikap suasana terasa hening.

Suara mesin mobil tua meraung pelan. Aroma amis telur yang masih tersisa memenuhi kabin.

Karena mobil tidak memiliki pendingin udara, membuat Tia berkeringat.

Ia menyeka pelipisnya diam-diam. Pasti wajahnya sekarang sudah kusam dan berminyak.

Azzam melirik sekilas, lalu membuka kaca jendela.

"Maaf. Mobilnya nggak ada AC."

"Nggak apa-apa."

Jawaban Tia singkat.

Angin sore menerpa wajah mereka, dalam suasana canggung. Beberapa menit berlalu tanpa ada
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   Rival?

    Baru saja masuk ke dalam rumah, lampu ruang tamu tiba-tiba menyala. Riffat kaget saat mendapati ayahnya duduk santai di sofa. Sepertinya ayahnya memang sudah menunggunya. Pandangan Pak Khalid langsung tertuju pada tangan Riffat yang terluka."Martin." Pak Khalid berseru. Tak lama kemudian seorang pria paruh baya yang masih mengenakan pakaian tidur keluar dari kamar. Tanpa banyak bertanya, ia mengambil kotak obat dan duduk di hadapan Riffat. Gerakannya cepat dan terampil. Beberapa menit kemudian, luka di telapak tangan Riffat sudah dibersihkan dan dibalut rapi."Sudah," ujar Pak Martin singkat.Ia kembali ke kamarnya.Ruang tamu kembali sunyi. Menyadari kalau ayahnya ingin bicara, Riffat pun duduk di hadapan sang ayah."Ayah sengaja menungguku?"Pak Khalid mengangguk."Betul.""Ada masalah apa, Yah?"Ayahnya menatapnya dengan pandangan menyelidik."Ada masalah apa antara kamu dengan Aminuddin Rahmadsyah? Mengapa kamu ingin menghancurkannya?"Riffat terdiam."Dari mana Ayah tahu soal

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   55. Penolong Misterius

    Tia membuka seragamnya dengan langkah sempoyongan. Kelelahan dan kurang tidur membuat kepalanya sekarang berputar seperti kitiran. Ia mengenakan kembali pakaian biasanya lalu memindai jam dinding. "Ya ampun sudah pukul setengah dua belas malam," gumamnya pelan. Ia lalu berjalan keluar ruang ganti karyawan sambil mengorder ojek online. Ia harus langsung tidur cepat agak bisa bangun subuh untuk memasak nasi uduk.Untungnya tidak sampai dua menit seorang pengemudi menerima pesanannya.Tia segera naik ke motor."Sesuai titik, Mbak?""Iya, Pak."Tia mengenakan helm, lalu tanpa sadar memeluk tas selempangnya lebih erat. Di dalam tas itu ada uang yang sangat berarti baginya. Honor banquet exclusive pertamanya.Mbak Christine benar-benar menepati janjinya. Honor event kali ini lima kali lipat dari honor banquet biasa. Ia bahkan mendapat bonus akhir bulan sebesar Rp3,5 juta.Ia sempat kebingungan ketika menerima uang bonus itu tadi."Bonus ini untuk apa, Mbak?""Anggap saja apresiasi dari h

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   54. Akhirnya Terungkap.

    Tia menarik napas panjang. Selalu begini. Dalam keadaan apa pun ibunya selalu mementingkan urusan panti. Entah apa yang membuat ibunya begitu terobsesi mengurus banyak sekali panti asuhan.Tia menatap piringnya.Tangannya menggenggam sendok erat-erat. Dengan mata yang masih basah, ia memaksa dirinya makan lagi. Karena besok pagi, ia tetap harus bangun sebelum subuh. Kembali mengais rezeki untuk hidup yang tak pasti. ***Dengan langkah tergesa, Bu Astri turun dari taksi online. Tatapannya langsung tertuju pada bangunan tua di hadapannya. Sebuah papan nama yang catnya mulai pudar tergantung di atas pintu masuk.Panti Asuhan Al Marhamah.Temboknya tampak kusam. Beberapa bagian bahkan sudah retak dan catnya mengelupas. Bangunan itu terlihat seperti telah melewati puluhan tahun yang berat.Bu Astri menarik napas panjang sebelum melangkah masuk.Di kantor depan, Bu Asih sudah menunggunya bersama seorang perempuan sepuh yang duduk di balik meja kayu. Rambutnya hampir seluruhnya memutih. Ke

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   53. Pilih Kasih.

    Saat ojek online yang ia tumpangi mendekati gang rumah, Tia melihat sebuah mobil yang sangat ia kenal. Mobil Paklik Usman. Itu artinya pakliknya sedang mengunjungi rumahnya. Akhir-akhir ini Paklik Usman memang sering menyambangi rumahnya.Baru turun dari ojek online, Tia melihat Rima tertawa lebar di halaman. Adiknya itu sedang berputar-putar mengendarai sebuah sepeda baru bersama Lisa.Di teras, Paklik Usman duduk sambil memperhatikan mereka bermain."Pelan-pelan, Rima. Jangan ngebut. Nanti jatuh."Tia memperlambat langkah.Sekilas saja melihat sepeda itu, ia sudah tahu siapa yang membelikannya. Pasti Paklik Usman.Tia berjalan mendekat dengan langkah lelah. Ia sangat lapar. Kedua tangannya mencengkeram erat kantong-kantong belanjaan dari pasar yang terasa semakin berat."Kak Tia!”Melihat kehadirannya, Rima langsung mengayuh sepedanya mendekat. "Kak, lihat sepeda baru Rima. Bagus nggak?" Rima memamerkan sepedanya dengan antusias.Tia memandang sepeda gunung anak-anak berwarna merah

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   52. Curiga.

    Seperti biasa, sepulang dari bekerja, Tia mampir ke pasar tradisional. Dan seperti biasa pula, kios telur Bu Rini menjadi tujuan terakhirnya."Eh, Tia!" Bu Rini langsung menyambutnya dengan senyum lebar. "Seperti biasa? Dua kilo?"Tia menggeleng"Hari ini tiga kilo, Bu."Bu Rini segera mengambil timbangan. Sambil menunggu, Tia memperhatikan Pak Husin yang sedang sibuk mengangkat beberapa peti telur ke belakang kios.Entah kenapa, pertanyaan yang beberapa hari ini mengganjal di kepalanya kembali muncul."Bu, saya boleh tanya sesuatu?""Tanya aja, Ti," kata Bu Rini sambil memasukkan telur ke kantongan."Kenapa profesi Pak Husin dan Dokter Agnes jauh banget, ya? Padahal mereka saudara kandung." Tia sangat penasaran. Namun ia segera sadar kalau pertanyaannya tidak sopan. "Maaf, saya tidak bermaksud merendahkan." Tia buru-buru meminta maaf.Bu Rini tersenyum kecil."Tidak usah meminta maaf. Bukan cuma kamu yang penasaran. Banyak juga orang-orang di pasar ini yang bertanya demikian," imbu

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   51. Siapa Dia?

    Begitu shift-nya selesai, Tia segera menuju ruang ganti. Saat masih bekerja tadi Mbak Christine memang memintanya datang ke ruangannya setelah shift berakhir. Katanya, ada sesuatu yang ingin dibicarakan.Setelah mengganti seragam dengan pakaian biasa, Tia segera menuju ruangan atasannya itu.Selain penasaran dengan urusan pekerjaan, ada satu hal yang sejak tadi mengganjal pikirannya.Ia ingin menanyakan siapa sebenarnya yang memberinya libur selama tiga hari. Karena ternyata bukan Pak Khalid lah orangnya.Tia mengetuk pintu."Masuk."Tia melebarkan pintu dan melihat Mbak Christine sedang duduk di belakang meja."Duduk, Tia.""Baik, Mbak."Tia duduk di kursi di hadapan atasannya.Mbak Christine membuka sebuah berkas."Ada kabar baik untukmu. Mulai hari ini selain berstatus sebagai waitress F&B kamu juga dipromosikan ke tim banquet exclusive. Bukan tim banquet yang regular biasa."Pak khalid ternyata menepati janji. Bahwa ia akan dipromosikan."Jadi apabila hotel membutuhkan tambahan te

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status