共有

42. Lara Hatiku.

作者: Suzy Wiryanty
last update 公開日: 2026-07-29 21:50:54

Suasana mendadak sunyi.

"Anak saya menghabiskan masa mudanya bersama laki-laki yang usianya dua kali lipat darinya. Kalau almarhum memberi mobil atau uang, itu adalah kompensasi yang mereka berdua sepakati. Ibu boleh membenci anak saya, tapi Ibu tidak punya hak mengambil barang yang secara hukum sudah menjadi miliknya."

Setiap kalimat yang diucapkan Bu Melda memang getir. Namun apa yang ia katakan benar.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Tia menggenggam lengan ibunya.

"Ayo pulang, Bu."

"Ibu nggak ma
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (6)
goodnovel comment avatar
Arsyianti Nur
Kyknya tia bukan anak kandungnya deh soalnya terakhir bapaknya ngomng sama riffat, ada rahasia besar,, ini jawabannya deh
goodnovel comment avatar
Iin Iin
apa Tia bukan anak kandung bu Astri ya, beda bgt perlakuan ny sama Rima...
goodnovel comment avatar
Yanti Aching
penasaran deh kenapa Tia diperlakukan beda dgn rima,, moga penjelasan nya gak lama
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   42. Lara Hatiku.

    Suasana mendadak sunyi."Anak saya menghabiskan masa mudanya bersama laki-laki yang usianya dua kali lipat darinya. Kalau almarhum memberi mobil atau uang, itu adalah kompensasi yang mereka berdua sepakati. Ibu boleh membenci anak saya, tapi Ibu tidak punya hak mengambil barang yang secara hukum sudah menjadi miliknya."Setiap kalimat yang diucapkan Bu Melda memang getir. Namun apa yang ia katakan benar. Tanpa berkata apa-apa lagi, Tia menggenggam lengan ibunya."Ayo pulang, Bu.""Ibu nggak mau! Mobil itu milik ayahmu Tia!"Tia menarik napas panjang."Bu... cukup. Jangan membuat kita semua malu. Sudah ya, Bu."Suara Tia bergetar menahan tangis. Ia sungguh merasa lelah lahir dan batin. Bu Melda mengembuskan napas panjang. Amarah di wajahnya mulai mereda. Apalagi saat ia melihat Tia yang berjalan tertatih-tatih sambil menahan tubuh ibunya yang terus meronta. "Sebenarnya saya juga sudah menelepon Pak Usman," katanya pelan. "Saya kenal beliau karena dulu pernah beberapa kali datang k

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   41. Tidak Terima Kenyataan.

    Di dalam mobil pikap suasana terasa hening. Suara mesin mobil tua meraung pelan. Aroma amis telur yang masih tersisa memenuhi kabin.Karena mobil tidak memiliki pendingin udara, membuat Tia berkeringat. Ia menyeka pelipisnya diam-diam. Pasti wajahnya sekarang sudah kusam dan berminyak.Azzam melirik sekilas, lalu membuka kaca jendela."Maaf. Mobilnya nggak ada AC." "Nggak apa-apa."Jawaban Tia singkat.Angin sore menerpa wajah mereka, dalam suasana canggung. Beberapa menit berlalu tanpa ada yang berbicara sepatah kata pun.Tia akhirnya berdeham pelan."Jadi lo nanti jadi kuliah di mana?""BINUS.""Oh.""Gue dapet The Widya Scholarship."Tia menoleh sekilas."Yang beasiswa itu?""Iya." Azzam mengangguk. Kuliah gue ditanggung seratus persen. Dapet uang saku juga dari program CSR perusahaan mitra kampus."Tia mengangguk kecil."Pantes. Lo emang pinter kok."Azzam melirik Tia sekilas."Kalo lo, kuliah di mana?""Gue cuti dulu. Mau ngumpulin duit," jawabannya datar."Nanti kalau udah te

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   40. Pertemuan Tak Terduga.

    "Ngapain lo ke sini? Ini toilet khusus karyawan," desis Tia dengan suara tertahan. "Gue tahu. Gue cuma mau liat keadaan kaki lo aja. Silvia emang anjing banget!" Tony memaki kasar. "Udah, gue nggak apa-apa. Sana, lo balik ke depan."Tony menatapnya lekat-lekat."Iya, ntar gue ke depan. Tapi lo jawab dulu pertanyaan gue. Lo tinggal di mana sekarang?"Tia bungkam. Ia tidak mau mengharap belas kasihan Tony. Apalagi ia tidak mempunyai perasaan khusus padanya. Ia tidak mau memanfaatkan orang."Nomor lo juga udah nggak aktif. Sejak bokap lo meninggal dan lo pindah rumah, gue nyari-nyari lo. Tapi nggak pernah ketemu.""Gue... baik-baik aja," jawab Tia singkat.Tony menggeleng."Bukan itu jawaban dari pertanyaan gue."Tia berdecak pelan. "Gue lagi kerja sekarang, Ton. Lo ke depan aja. Tolong, jangan membuat gue kena masalah lagi."Melihat Tia yang berbicara serius dan ringisan kesakitan di wajahnya, Tony mengalah. "Gue pergi. Kalo lo butuh apa pun itu, telepon aja gue. Nomornya masih sama

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   39. Bertemu Teman Lama.

    Waktu telah menunjukkan pukul tiga sore. Seluruh staf banquet kembali berkumpul di ruang briefing.Di depan mereka, Bu Amel berdiri sambil memegang event order."Setelah ini kita akan menangani acara farewell party. Jumlah tamunya sekitar lima puluh orang," jelasnya. "Yang mengadakan acara akan kuliah ke luar negeri. Tamu-tamunya adalah anak SMA. Jangan anggap enteng. Biasanya tamu seusia mereka lebih heboh, banyak permintaan mendadak, dan suka memanggil waiter berkali-kali. Jadi kalian harus sigap.""Siap, Bu," jawab seluruh tim hampir bersamaan.Tia dan Mbak Lita ikut mengangguk. Tak lama kemudian, dekorasi ruangan selesai. Balon-balon berwarna pastel, rangkaian bunga segar, dan sebuah layar besar bertuliskan Bon Voyage, Silvia Maharani! menghiasi ballroom kecil Restoran Kenanga.Saat melihat nama itu, langkah Tia seketika terhenti. Jantungnya berdebar kencang.Silvia Maharani.Seperti nama teman sekelasnya sekaligus musuhnya selama tiga tahun di SMA. Silvia ini selalu ingin men

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   38. Musuh Terselubung.

    Tia tiba di Hotel Mulia tepat pukul sepuluh lewat sepuluh menit. Tanpa membuang waktu, ia langsung menuju ruang ganti karyawan. Dua puluh menit lagi briefing akan dimulai.Ia membuka loker kecilnya, lalu buru-buru mengenakan seragam. Kemeja yang ia pakai berukuran L yang kelonggaran. Namun berkat celemek hitam yang diikat kencang, ia terlihat cukup rapi.Sebagai pekerja part-time ia memang tidak mendapatkan kemewahan seragam yang diukur pas badan. Dia harus puas dengan apa pun yang tersisa di ruang binatu hotel.Baru saja Tia merapikan kerah kemejanya, seorang perempuan berusia akhir dua puluh-an masuk sambil mengikat rambutnya."Hallo, Tia."Tia menoleh."Eh, Mbak Lita. Baru datang, Mbak?""Iya. Anakku lagi sakit. Jadi agak rewel. Aku nunggu dia tidur dulu baru bisa kerja."Mbak Lita adalah sesama part-time waiter, tetapi sudah bekerja hampir dua tahun di hotel itu. Hampir semua karyawan baru belajar banyak darinya."Hari ini kita kerjanya harus ekstra hati-hati, lo Ti." Mbak Lita

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   37. Belajar Ikhlas.

    "Nasi uduk saya paket polos tujuh bungkus ya! Paket gorengan tiga! Paket lengkap dua saja!" seru Bu Rini, Bu Novi, dan Bu Ida hampir bersamaan.Minggu pagi itu, warung kecil di depan rumah kontrakan Tia ramai sejak matahari baru terbit.Tia sibuk membungkus nasi uduk satu per satu. Walau tangannya masih kaku, Tia berupaya memasukkan nasi, lauk, sambal, lalu mengikat bungkusan dengan karet gelang. "Kak Tia, kembaliannya Bu Rini empat puluh sembilan ribu, kan? Tujuh ribu kali tujuh," tanya Rima sambil memegang pouch berisi uang kembalian."Iya. Pinter kamu, Rim."Tia tersenyum tanpa menghentikan pekerjaannya."Terus punya Bu Novi ini berapa?" tanya Tia lagi sambil menyerahkan tiga bungkus nasi kepada Bu Novi.Rima berpikir beberapa detik."Paket gorengan sepuluh ribu kali tiga...""...berarti tiga puluh ribu.""Benar, Kak?"Tia langsung mengacungkan jempol."Wuih, pinter banget."Rima terkikik geli.Sudah seminggu terakhir, pagi-pagi mereka selalu sesibuk ini. Di luar dugaan, nasi uduk

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status