LOGINBersambung... Bab Utama : 2/3.
“Aku pasang angka sembilan!” Suara Udin memecah keramaian.Dua lembar uang satu juta diletakkannya di atas meja kayu yang sudah penuh noda dan bekas goresan. Beberapa petaruh yang sejak tadi hanya menjadi penonton langsung saling pandang.“Dua juta?”“Dia berani juga!”“Kalau tadi saja menang, berarti memang lagi hoki!”Tanpa menunggu lama, beberapa orang ikut menggeser taruhan mereka ke angka sembilan.“Aku ikut!”“Semoga sembilan!”“Angka hoki!”Suasana yang tadinya tegang mendadak berubah menjadi hiruk-pikuk. Uang berpindah tangan. Suara koin dan lembaran rupiah bercampur dengan tawa para petaruh.Ujang justru tidak ikut tertawa. Matanya terpaku pada Dukun Karta.Pria berpakaian hitam itu masih berdiri di belakang meja. Wajahnya memang tersenyum, tetapi sorot matanya sudah berubah. Ada sesuatu yang dingin bersembunyi di balik tatapan tersebut.“Hahaha...” Dukun Karta tertawa pendek. “Kalian ini memang mudah sekali dibutakan oleh kemenangan sesaat anak muda ini.”Tangannya kembali me
“Dua jin kelas menengah.” Suara Kandita terdengar pelan di telinga Ujang.“Namun keduanya jauh lebih kuat dibandingkan jin yang membantu Pak Kades sebelumnya.”Ujang tidak langsung menjawab. Matanya masih terpaku pada meja taruhan. Ada sesuatu yang bergerak di udara di sekitar Dukun Karta, sesuatu yang tidak mampu dilihat mata manusia biasa.“Delapan!”Teriakan Udin membuat Ujang tersentak. Ia segera mengalihkan pandangan ke meja.Dua dadu yang tadi berputar kini telah berhenti. Satu dadu menunjukkan angka tiga sedangkan dadu yang lainnya lima.Tiga ditambah lima... jadi delapan.Ujang mengangkat alis. Bahkan dirinya tidak menyangka hasilnya akan seperti itu.Namun, orang yang paling terkejut justru Dukun Karta.Wajah pria berpakaian hitam itu membeku. Senyumnya lenyap. Jari-jarinya mengepal di bawah meja.“Tidak mungkin...” gumamnya.Bibirnya kemudian bergerak cepat. Komat-kamit seperti sedang memarahi seseorang yang berdiri tepat di hadapannya. Padahal tidak ada seorang pun di sana.
Bandar taruhan itu tertawa kecil. Suaranya terdengar berat dan licik, nyaris tenggelam di tengah riuh rendah para penjudi yang mengelilingi meja.Matanya langsung tertuju pada uang di tangan Udin.“Pasang saja angka yang kalian suka,” katanya sambil mengetuk meja dengan ujung jarinya. “Mulai dari dua sampai dua belas. Kalau menang, bayarannya tiga kali lipat!”Ia kemudian mengangkat dua jari.“Kalau cuma pasang ganjil atau genap, bayarannya satu banding satu. Gampang, tapi hadiahnya kecil.”Ujang memperhatikan meja permainan.Dua buah dadu tergeletak di atas kain hitam. Di sampingnya terdapat angka-angka dari dua sampai dua belas. Beberapa petaruh telah meletakkan uang di angka pilihan mereka.“Lebih susah daripada permainan Pak Kades, Din,” bisik Ujang.Udin mengerutkan kening. “Kenapa?”“Jumlah kemungkinan angkanya lebih banyak. Dari dua sampai dua belas ada sebelas angka. Kalau kau memilih satu angka, peluangnya jelas lebih kecil.”Udin menelan ludah. “Kalau begitu pasang genap-ganj
“Memangnya turnamen mulai jam berapa, Bang?”Udin bertanya sambil masih mengelus kepala Jago Merah yang dibungkus kain. Ayam jago itu mengeluarkan suara pelan, lalu bergerak gelisah ketika suara orang-orang di sekeliling semakin riuh.Seorang peserta bertubuh kurus yang berdiri di samping mereka menjawab sambil mengunyah rokok.“Jam enam pagi. Peserta harus daftar ulang sebelum pertandingan dimulai. Kalau telat datang, dianggap gugur.”Udin mengangguk. “Masih sempat berarti.”Pria itu malah tertawa pendek. “Semoga saja.”Udin mengernyit. “Kenapa?”Pria kurus itu menunjuk ke arah kandang besar di ujung lapangan. Di sana seekor ayam jago berbulu hitam legam sedang berdiri dengan kepala tegak. Jenggernya merah menyala, sementara kedua kakinya tampak kokoh mencengkeram tanah.“Itu lawanmu.”Udin menelan ludah. “Yang mana?”“Itu. Juara tahun lalu.”Ujang ikut memperhatikan.Ayam hitam itu tiba-tiba mengepakkan sayap.Brak!Debu beterbangan dari tanah.Beberapa orang di sekitarnya langsung b
“Din! Cepetan!”Suara Ujang menggema di halaman rumah Udin.Ia mengerem motor sampai ban belakang sedikit bergeser di atas tanah kering. Debu tipis mengepul di belakang roda, sementara suara mesin yang masih panas berdetak kasar.Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka.Udin muncul dengan wajah terburu-buru sambil menggendong seekor ayam jago yang tubuhnya dibungkus kain.Ujang langsung tertawa.“Hahaha! Kamu serius menggendong ayam begitu?”“Jangan banyak ketawa!” gerutu Udin. “Jago Merah harus dibawa untuk pendaftaran. Aku gak punya tas buat bawa dia.”Ujang menatap ayam itu.Bulu merah kehitaman di lehernya tampak menyembul dari balik kain. Jenggernya yang merah masih berdiri, meskipun matanya terlihat sayu dan tubuhnya tak banyak bergerak.“Wah, sudah dikasih nama juga?”“Sudah.”“Jago Merah?”“Iya.”Ujang kembali terkekeh. “Hebat. Ayam saja sudah punya nama. Aku kira namanya cuma ‘ayam’.”“Kalau kau terus ngoceh, kau yang aku suruh gendong!”“Siap, Tuan Jago!”“Ujang!”“Eh, Tuan Ud
Saat kembali dari membeli keran air, Juminten sudah selesai mandi dan memakai pakaian tidur yang agak tipis, membuat seluruh tubuhnya yang kin harum oleh wangi sabun dan parfum mengusik jiwa Ujang kembali.“Aku ini kenapa sih? Tertarik sama Kak Juminten tapi tidak berani menuntaskannya,” pikir Ujang sambil memasang keran baru.“Jang.”Suara Juminten membuat Ujang tersadar dari lamunannya.“Kakak lupa kasih uang buat beli keran tadi.”Ujang mengedipkan mata, lalu tersenyum canggung.“Gak apa-apa, Kak. Malahan Ujang sudah beli sesuatu buat Kakak.”Ia segera berbalik dan berlari kecil menuju motor Udin yang terparkir tidak jauh dari rumah. Beberapa detik kemudian, Ujang kembali membawa kantong kresek berisi kotak martabak telur. Aroma gurih telur, daging, daun bawang, dan bawang goreng langsung menyebar begitu tutup kotaknya sedikit terbuka.Mata Juminten berbinar. “Wuih! Martabak telur?”Ujang mengangguk. “Martabak telur kesukaan Kak Jum.”Juminten menyilangkan tangan di dada. “Pasti bua
Ujang mengusap mata dan berpura-pura.“Oh iya, Juragan… saya sih nggak lihat apa-apa… cuman mata saya ini agak gatal, agak buram… kayaknya butuh obat tetes mata…” katanya, lalu menyodorkan telapak tangan dengan ekspresi lugu.Juragan Baskoro menatapnya tajam. Ia bukan orang bodoh. Ia tahu maksud an
“Aah… Terus, Juragan… jangan berhenti!”Langkah Ujang tiba-tiba terhenti di tengah jalan pintas kebun pisang yang remang.Ada suara lain. Samar-samar dan tertahan. Seperti erangan.“Jangan-jangan… kuntilanak lagi?” bisiknya. Tenggorokannya kering. “Tapi masa ada kuntilanak keluar sebelum magrib?”T
Juminten mendecak pelan lalu melirik jalan depan rumah. Dari kejauhan terdengar suara emak-emak sedang mengobrol sambil menampi beras. Di desa kecil seperti itu, suara sendok jatuh saja bisa berubah jadi gosip tiga hari tiga malam.“Ujang tahu sendiri gimana tetangga di sini,” katanya sambil memuta
Ujang masih terdiam dengan tubuh gemetaran melihat pemandangan indah di depannya , tak mampu bergerak sedikit pun.Maisaroh langsung menarik tangan Ujang dan diletakkannya di bagian tubuh atasnya yang seperti pualam. ‘Mbak akan melayanimu sampai puas, asalkan kau tidak mengungkit lagi masalah Mbak







