Share

Ujian Kesetiaan Saudara
Ujian Kesetiaan Saudara
Author: Pelan-pelan Saja

Bab 1

Author: Pelan-pelan Saja
Namaku Hendy, mahasiswa tingkat akhir yang sebentar lagi lulus.

Dengan tubuh tinggi besar dan penuh tenaga, di fakultas olahraga, aku dijuluki tank manusia.

Sebelumnya, aku susah payah mendapatkan pacar seorang primadona dari jurusan seni tari. Tapi, saat kami sudah di kamar hotel, wajahnya mendadak pucat karena ketakutan.

“Kamu… kamu ini monster, ya? Seram sekali….”

Aku mencoba membujuknya untuk lanjut, tapi dia tak sanggup menghadapi pria sepertiku. Dia langsung mengambil pakaiannya dan kabur begitu saja.

Alhasil, saat pulang kampung untuk merayakan tahun baru, aku harus merana sendirian.

Kakakku, Randy, lima tahun lebih tua dariku. Tahun ini dia membawa pulang pacar yang sangat cantik bernama Rora.

Tubuhnya benar-benar montok, tipe wanita yang terlihat… sangat kuat di ranjang….

Bokongnya bulat besar dan bergoyang setiap kali dia melangkah.

Rora berpakaian santai. Di balik jaket tebalnya, dia hanya memakai kaus dalam tipis yang ketat.

Bentuk payudaranya yang menonjol terlihat jelas… dia tidak memakai bra sama sekali.

Begitu melihatku, dia langsung menyapa dengan akrab dan memelukku.

“Kamu Hendy? Wah, badanmu kekar sekali….”

Rora seolah benar-benar menganggapku seperti adik kandungnya sendiri. Kelembutan dadanya yang kenyal itu menempel erat di lenganku.

Bagian ujungnya yang keras tidak sengaja bergesekan, membuat seluruh tubuhku merinding.

Wajahku langsung memerah, aku sampai gagap saat bicara,

“Salam kenal… kak….”

Melihatku yang sangat tegang, Rora tersenyum manis dan mulai menggodaku,

“Kok pemalu sekali? Jangan-jangan kamu masih perjaka?”

Kata perjaka itu seketika membuat tubuhku membeku.

Meskipun aku pernah punya beberapa pacar, mereka semua takut dengan fisikku yang… mengerikan ini.

Di saat-saat terakhir, mereka tidak pernah membiarkanku melakukannya.

Alhasil, sampai sekarang aku belum tahu bagaimana rasanya… seorang wanita yang sebenarnya.

“Masa, sih?” Mata Rora membelalak, menatapku lekat-lekat, “Tebakanku benar?”

Kemudian Rora mengangkat tangannya dan mengusap dada bidangku yang sekeras batu sebanyak dua kali.

Tawanya sangat menggoda, bahkan suaranya terdengar sedikit mendesah,

“Sayang sekali nggak ada wanita yang mencicipi… tubuh sebagus ini….”

Kata-kata vulgar yang blak-blakan itu membuatku tak tahu harus menjawab apa.

Untungnya, saat itu kakak datang menyelamatkanku. Dia menepuk bokong Rora dan berkata,

“Kamu pikir semua orang sama liarnya denganmu…?”

Mengira tak ada yang melihat, kakak meremas bokong bulat yang montok itu dengan keras menggunakan tangan besarnya.

Dia bahkan berbisik nakal di telinga Rora,

“Dasar genit! Jangan menggoda adikku terus….”

Rora tak bisa menahan diri dan mengeluarkan rintihan manja.

“Ugh….”

“Dasar… pelan-pelan sedikit meremasnya!”

Melihat mereka berdua bermesraan dan saling menggoda seperti itu, aku hanya berdiri mematung dengan canggung.

Aku segera mencari alasan untuk kabur kembali ke kamar.

Begitu pintu tertutup, barulah aku berani menarik napas dalam-dalam.

Jelas-jelas Rora yang tidak tahu malu, tapi kok malah aku yang merasa… lebih bergairah.

Aku menunduk dan benar saja, benda milikku sudah bereaksi hebat.

Aku mengumpat pelan, “Sialan….”

Rasa sesak dan tegang di bawah sana membuatku mengerutkan kening. Aku terpaksa menyandarkan satu tangan ke dinding.

Otakku tak bisa berhenti membayangkan bentuk yang kencang… dan lembut tadi….

Payudara sebesar itu, kalau diremas pasti terasa mantap sekali.

Apalagi kalau bisa… merasakannya langsung, mungkin aku bisa mati kehabisan napas karena terhimpit!

Dalam bayangan liar itu, aku semakin sulit mengendalikan diri.

Desahan demi desahan mulai lolos dari mulutku, “Hmm… ah….”
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ujian Kesetiaan Saudara   Bab 7

    “Rora… kakak ipar….” Panggilan kakak ipar itu kuucapkan seolah untuk memperingatkannya, sekaligus memperingatkan diriku sendiri agar tidak bertindak gegabah.Tanpa menunggu jawabannya, aku berkata lagi dengan nada yang sangat tegas, “Aku nggak bisa… membantu kalian. Teknologi zaman sekarang sudah canggih, seharusnya kalian pergi ke dokter!”Melihatku menolak dengan tegas, air mata Rora langsung menetes.Seketika, dia menangis tersedu-sedu, terlihat sangat menyedihkan.Aku tak tega melihatnya begitu, sehingga terpaksa memalingkan wajah ke arah lain agar tidak menatapnya.Rora sesenggukan, suaranya masih bergetar, “Kalau punya cara lain, kami nggak akan melakukan… hal sekonyol ini….”Dia bicara dengan emosi yang semakin meluap, “Kakakmu itu sangat menjaga harga diri, dia nggak ingin masalah ini diketahui orang banyak. Bantuan sekecil ini pun kamu nggak mau menolong?”“Aku….” Aku sempat kesulitan membalas ucapannya.Namun, logika memberitahuku bahwa diriku benar-benar tidak boleh membantu

  • Ujian Kesetiaan Saudara   Bab 6

    Rora menyeringai nakal, sengaja menggodaku,“Aku mau berkencan… di atas ranjang bersamamu….”Kata-kata itu membuatku tak bisa menahan diri untuk tak mendongak dan menatapnya lekat-lekat.Dia tampak seperti pemain profesional yang biasa memainkan pria, menatapku tanpa berkedip sedikit pun.Saat saling bertatapan, aku tetap kalah telak.“Kamu… kamu jangan bicara sembarangan….” Aku sangat gugup, bahkan bicara saja tergagap.Melihatku setegang itu, akhirnya Rora berhenti menggodaku, “Ganti baju dulu, nanti baru kita bicarakan di luar. Mungkin mau jalan-jalan saja….”Aku menghela napas lega. Hampir saja aku mengira dia akan memaksaku melakukannya lagi.Meskipun tenaganya tak sebanding denganku, aku tetap tak berani menjamin pendirianku bisa sekuat itu.Aku segera kembali ke kamar untuk mengganti pakaian. Saat aku keluar, Rora sudah siap.Dia mengenakan mantel berwarna krem, membuatnya terlihat sangat manis dan menggemaskan.Entah kenapa, jantungku berdegup kencang melihatnya.Aku berpura-pu

  • Ujian Kesetiaan Saudara   Bab 5

    Besoknya adalah hari pertama di tahun baru.Tahun-tahun sebelumnya, aku selalu jadi orang yang bangun paling awal untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah.Namun tahun ini, matahari sudah bersinar cerah dan aku masih belum beranjak dari ranjang.Kakak pun agak heran, dia mengetuk pintu kamarku dan bertanya dengan perhatian, “Hendy, kamu nggak apa-apa? Lagi nggak enak badan, ya?”Mendengar suara kakak, aku langsung tersentak bangun.Punggungku sudah basah oleh keringat dingin.Bukan karena kaget dengan ucapan kakak, tapi karena aku baru saja bermimpi buruk.Dalam mimpi itu, aku dan Rora sedang bergumul hebat dalam gairah yang membara, tapi tepat saat keadaan sedang memuncak, kakak mendadak muncul.Pikiranku masih linglung, wajahku bahkan sampai pucat.Karena tidak ada jawaban dari dalam kamar, kakak mengetuk lagi.“Hendy, kamu kenapa?”Aku tersadar kembali dan segera menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, lalu menjawab, “Nggak… nggak apa-apa. Aku main game sampai larut ma

  • Ujian Kesetiaan Saudara   Bab 4

    “Rora, kamu begitu berani… emangnya nggak takut kalau kakakku sampai tahu?”Sebelum benar-benar melangkah lebih jauh, aku merasa perlu memastikannya sekali lagi.Rora terus menggeliat menggoda, tak peduli lagi dengan pertanyaanku. Dia menempelkan bibirnya ke telingaku dan berbisik pelan, “Dia nggak akan tahu….”“Kok kamu bisa seyakin ini?” tanyaku sambil mencubit pinggangnya, sengaja menginterogasinya.Dia mendesah dan tubuhnya gemetar untuk waktu yang cukup lama. Setelah gejolak itu agak mereda, barulah dia menjawab dengan terengah-engah,“Karena… aku nggak akan bilang, apalagi kamu….”Dugaannya benar!Dalam situasi sekonyol ini, mana ada orang bodoh yang mau membeberkannya ke mana-mana?Aku sadar betul kalau ini salah, tapi logika dan moralitas selalu kalah melawan api gairah yang membara.Apalagi aku ini pemuda yang sedang dalam masa puncaknya, sangat sulit untuk mengendalikan diri sendiri.Tiba-tiba, aku melayangkan tamparan ke bokong Rora.“Plak!” Suara itu bergema, membuatnya ha

  • Ujian Kesetiaan Saudara   Bab 3

    Tepat saat aku ragu apakah harus keluar atau tidak, ternyata Rora sudah perlahan-lahan berjongkok. Dia mengangkat daster tidurnya yang menghalangi, lalu mengangkat salah satu kakinya.Pemandangan di baliknya… terpampang jelas tanpa ada yang menutupi.Begitu montok… menggoda… dan mulus, membuatku menelan ludah berkali-kali.Seolah tidak ada orang lain di sana, dia perlahan mengambil air dengan tangannya dan membasuh bagian itu.Seluruh tubuhnya tampak gemetar karena merasa nyaman, napasnya pun terasa berat.“Uh… hm….”Hanya cuci bokong saja, emangnya senyaman itu?Aku bahkan tak berani berkedip sedikit pun, mataku terpaku pada setiap gerakan tangannya. Aku melihat Rora membukanya perlahan, membersihkannya dengan sangat teliti.Luar dan dalam… tidak ada satu pun bagian yang terlewat.Rona merah mudah yang cantik, benar-benar menggoda! Bahkan pelipisku mulai berdenyut kencang tak henti-henti.Aku merasa sudah sangat tegang dan sesak, baru saja ingin memalingkan wajah untuk menghindar, m

  • Ujian Kesetiaan Saudara   Bab 2

    Meski sudah menggunakan tangan sendiri untuk meredam gejolak di bawah sana, rasanya hati ini masih terasa kosong. Hal itu membuatku tidak fokus sama sekali saat makan malam.Sesekali melalui sudut mata, aku mencuri pandang ke arah Rora. Rasa haus dan panas di tenggorokanku malah semakin menjadi-jadi.Kakak tidak tahu pikiran kotor apa yang ada di kepalaku. Dia malah merangkul Rora dengan santai di hadapanku dan berkata padaku, “Hendy, umurmu juga sudah dewasa… ayo lebih semangat, usahakan tahun baru mendatang sudah bawa pacar pulang ke rumah!”Rora tampak seperti mata air musim semi yang sejuk, bersandar manja di pelukan kakak.Bokong sexynya yang besar itu bergoyang-goyang di atas paha kakak, entah apa yang… sedang digesek.Yang jelas, raut wajah kakak tampak agak berubah, napasnya pun mulai terengah-engah.Sebagai sesama pria, tentu aku paham apa yang dipikirkan kakak.Bagaimanapun, kalau punya pacar semenarik dan segenit Rora, pasti sudah kuhajar habis-habisan di atas ranjang seti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status