Share

Bab 2

Author: Pelan-pelan Saja
Meski sudah menggunakan tangan sendiri untuk meredam gejolak di bawah sana, rasanya hati ini masih terasa kosong.

Hal itu membuatku tidak fokus sama sekali saat makan malam.

Sesekali melalui sudut mata, aku mencuri pandang ke arah Rora. Rasa haus dan panas di tenggorokanku malah semakin menjadi-jadi.

Kakak tidak tahu pikiran kotor apa yang ada di kepalaku. Dia malah merangkul Rora dengan santai di hadapanku dan berkata padaku,

“Hendy, umurmu juga sudah dewasa… ayo lebih semangat, usahakan tahun baru mendatang sudah bawa pacar pulang ke rumah!”

Rora tampak seperti mata air musim semi yang sejuk, bersandar manja di pelukan kakak.

Bokong sexynya yang besar itu bergoyang-goyang di atas paha kakak, entah apa yang… sedang digesek.

Yang jelas, raut wajah kakak tampak agak berubah, napasnya pun mulai terengah-engah.

Sebagai sesama pria, tentu aku paham apa yang dipikirkan kakak.

Bagaimanapun, kalau punya pacar semenarik dan segenit Rora, pasti sudah kuhajar habis-habisan di atas ranjang setiap hari!

Dengan gugup, aku mengambil gelas dan meminum seteguk air, jakunku bergerak naik turun berusaha menekan gejolak di dalam diri.

Tiba-tiba, saat mereka sedang bercanda, posisi tubuh Rora tidak stabil.

Dia mendadak jatuh terhuyung ke arahku….

“Aaaa….”

Sambil berseru kaget, tanpa pikir panjang aku langsung mengulurkan tangan untuk menangkapnya.

Karena kejadiannya begitu mendadak, aku juga tak memperhatikan… posisi kedua tanganku langsung masuk ke bawah ketiaknya dan mencengkeram dua buah dadanya yang kenyal.

Sialan, dia benaran tak pakai bra.

Rora yang kehilangan keseimbangan juga asal memegang dan kebetulan sekali, dia malah meremas… benda milikku….

Aku mengerang kesakitan sekaligus nikmat, “Ssshhh… ah….”

Meskipun Rora segera melepaskannya setelah tersadar, tatapannya padaku sekarang berbeda total.

Di matanya yang sayu dan berair itu, tersirat gairah dan… godaan yang sangat jelas.

Dia bahkan sempat menjulurkan lidah mungilnya, membasahi sudut bibirnya dengan nakal.

Gerakan itu jauh lebih menggoda daripada menjilat es krim!

Aku langsung memalingkan muka dan memutar tubuh, takut kalau kakak melihat reaksi yang tidak seharusnya ada ini.

Untungnya, kakak sudah minum terlalu banyak hari ini, jadi dia sama sekali tidak menyadari interaksi di antara kami.

Sambil mengatur napas yang memburu, aku bergeser agak jauh, “Kak Rora… aku nggak sengaja….”

Melihatku bicara terbata-bata, Rora tidak berkata apa-apa. Dia hanya menutup mulut sambil tertawa kecil.

Suara tawanya terdengar nakal dan menggoda….

Setelah makan malam, aku tidak berminat menonton acara TV. Begitu suasana di luar sudah sepi, aku baru beranjak ke kamar mandi untuk mandi.

Tak disangka, saat menyandarkan tangan di wastafel, pandanganku tertuju pada sebuah celana thong berwarna merah maroon.

Warna yang begitu sexy, sudah pasti itu milik Rora.

Teringat kembali sentuhan lembut tadi, entah iblis apa yang merasukiku, aku mengambil potongan kain merah itu.

“Sial… sexy sekali….”

Dadaku bergerak naik turun dengan cepat. Aku menggenggam potongan kain itu dan meremasnya beberapa kali.

Akhirnya… aku bahkan menempelkannya di bawah hidung dan menghirup aromanya dalam-dalam.

Tanganku yang terasa panas menggenggam kain merah itu erat-erat, enggan melepaskannya.

Sampai akhirnya, pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka perlahan dan dari belakang terdengar suara manja Rora,

“Hendy… apa yang kamu lakukan?”

Tertangkap basah sedang melakukan hal memalukan, wajahku langsung memerah.

Rasanya ingin menghilang saja.

“Aku… aku….”

Aku terbata-bata setengah mati, tak mampu mengeluarkan satu pun alasan yang masuk akal.

Tak disangka, Rora malah mendekat. Dia memberiku tatapan penuh makna, lalu perlahan membungkuk tepat di sampingku.

Dia menunggingkan bokongnya ke arahku dan di balik itu… dia tak memakai apapun.

Mataku langsung membelalak. Pandanganku yang liar menyapu setiap bagian kulit bokongnya yang putih mulus itu.

Rasanya sangat mendebarkan, seolah-olah sedang memperkosanya melalui tatapan mata.

Tanpa rasa malu sedikitpun, Rora mengambil sebuah baskom, mengisinya dengan air, lalu menoleh padaku.

“Kok masih belum pergi juga… mau melihatku cuci bokong?”

Kalimat mencuci bokong itu diucapkannya begitu saja dengan nada yang sangat santai.

Seluruh darah di tubuhku rasanya mendidih, rasanya aku hampir meledak saat itu juga.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ujian Kesetiaan Saudara   Bab 7

    “Rora… kakak ipar….” Panggilan kakak ipar itu kuucapkan seolah untuk memperingatkannya, sekaligus memperingatkan diriku sendiri agar tidak bertindak gegabah.Tanpa menunggu jawabannya, aku berkata lagi dengan nada yang sangat tegas, “Aku nggak bisa… membantu kalian. Teknologi zaman sekarang sudah canggih, seharusnya kalian pergi ke dokter!”Melihatku menolak dengan tegas, air mata Rora langsung menetes.Seketika, dia menangis tersedu-sedu, terlihat sangat menyedihkan.Aku tak tega melihatnya begitu, sehingga terpaksa memalingkan wajah ke arah lain agar tidak menatapnya.Rora sesenggukan, suaranya masih bergetar, “Kalau punya cara lain, kami nggak akan melakukan… hal sekonyol ini….”Dia bicara dengan emosi yang semakin meluap, “Kakakmu itu sangat menjaga harga diri, dia nggak ingin masalah ini diketahui orang banyak. Bantuan sekecil ini pun kamu nggak mau menolong?”“Aku….” Aku sempat kesulitan membalas ucapannya.Namun, logika memberitahuku bahwa diriku benar-benar tidak boleh membantu

  • Ujian Kesetiaan Saudara   Bab 6

    Rora menyeringai nakal, sengaja menggodaku,“Aku mau berkencan… di atas ranjang bersamamu….”Kata-kata itu membuatku tak bisa menahan diri untuk tak mendongak dan menatapnya lekat-lekat.Dia tampak seperti pemain profesional yang biasa memainkan pria, menatapku tanpa berkedip sedikit pun.Saat saling bertatapan, aku tetap kalah telak.“Kamu… kamu jangan bicara sembarangan….” Aku sangat gugup, bahkan bicara saja tergagap.Melihatku setegang itu, akhirnya Rora berhenti menggodaku, “Ganti baju dulu, nanti baru kita bicarakan di luar. Mungkin mau jalan-jalan saja….”Aku menghela napas lega. Hampir saja aku mengira dia akan memaksaku melakukannya lagi.Meskipun tenaganya tak sebanding denganku, aku tetap tak berani menjamin pendirianku bisa sekuat itu.Aku segera kembali ke kamar untuk mengganti pakaian. Saat aku keluar, Rora sudah siap.Dia mengenakan mantel berwarna krem, membuatnya terlihat sangat manis dan menggemaskan.Entah kenapa, jantungku berdegup kencang melihatnya.Aku berpura-pu

  • Ujian Kesetiaan Saudara   Bab 5

    Besoknya adalah hari pertama di tahun baru.Tahun-tahun sebelumnya, aku selalu jadi orang yang bangun paling awal untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah.Namun tahun ini, matahari sudah bersinar cerah dan aku masih belum beranjak dari ranjang.Kakak pun agak heran, dia mengetuk pintu kamarku dan bertanya dengan perhatian, “Hendy, kamu nggak apa-apa? Lagi nggak enak badan, ya?”Mendengar suara kakak, aku langsung tersentak bangun.Punggungku sudah basah oleh keringat dingin.Bukan karena kaget dengan ucapan kakak, tapi karena aku baru saja bermimpi buruk.Dalam mimpi itu, aku dan Rora sedang bergumul hebat dalam gairah yang membara, tapi tepat saat keadaan sedang memuncak, kakak mendadak muncul.Pikiranku masih linglung, wajahku bahkan sampai pucat.Karena tidak ada jawaban dari dalam kamar, kakak mengetuk lagi.“Hendy, kamu kenapa?”Aku tersadar kembali dan segera menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, lalu menjawab, “Nggak… nggak apa-apa. Aku main game sampai larut ma

  • Ujian Kesetiaan Saudara   Bab 4

    “Rora, kamu begitu berani… emangnya nggak takut kalau kakakku sampai tahu?”Sebelum benar-benar melangkah lebih jauh, aku merasa perlu memastikannya sekali lagi.Rora terus menggeliat menggoda, tak peduli lagi dengan pertanyaanku. Dia menempelkan bibirnya ke telingaku dan berbisik pelan, “Dia nggak akan tahu….”“Kok kamu bisa seyakin ini?” tanyaku sambil mencubit pinggangnya, sengaja menginterogasinya.Dia mendesah dan tubuhnya gemetar untuk waktu yang cukup lama. Setelah gejolak itu agak mereda, barulah dia menjawab dengan terengah-engah,“Karena… aku nggak akan bilang, apalagi kamu….”Dugaannya benar!Dalam situasi sekonyol ini, mana ada orang bodoh yang mau membeberkannya ke mana-mana?Aku sadar betul kalau ini salah, tapi logika dan moralitas selalu kalah melawan api gairah yang membara.Apalagi aku ini pemuda yang sedang dalam masa puncaknya, sangat sulit untuk mengendalikan diri sendiri.Tiba-tiba, aku melayangkan tamparan ke bokong Rora.“Plak!” Suara itu bergema, membuatnya ha

  • Ujian Kesetiaan Saudara   Bab 3

    Tepat saat aku ragu apakah harus keluar atau tidak, ternyata Rora sudah perlahan-lahan berjongkok. Dia mengangkat daster tidurnya yang menghalangi, lalu mengangkat salah satu kakinya.Pemandangan di baliknya… terpampang jelas tanpa ada yang menutupi.Begitu montok… menggoda… dan mulus, membuatku menelan ludah berkali-kali.Seolah tidak ada orang lain di sana, dia perlahan mengambil air dengan tangannya dan membasuh bagian itu.Seluruh tubuhnya tampak gemetar karena merasa nyaman, napasnya pun terasa berat.“Uh… hm….”Hanya cuci bokong saja, emangnya senyaman itu?Aku bahkan tak berani berkedip sedikit pun, mataku terpaku pada setiap gerakan tangannya. Aku melihat Rora membukanya perlahan, membersihkannya dengan sangat teliti.Luar dan dalam… tidak ada satu pun bagian yang terlewat.Rona merah mudah yang cantik, benar-benar menggoda! Bahkan pelipisku mulai berdenyut kencang tak henti-henti.Aku merasa sudah sangat tegang dan sesak, baru saja ingin memalingkan wajah untuk menghindar, m

  • Ujian Kesetiaan Saudara   Bab 2

    Meski sudah menggunakan tangan sendiri untuk meredam gejolak di bawah sana, rasanya hati ini masih terasa kosong. Hal itu membuatku tidak fokus sama sekali saat makan malam.Sesekali melalui sudut mata, aku mencuri pandang ke arah Rora. Rasa haus dan panas di tenggorokanku malah semakin menjadi-jadi.Kakak tidak tahu pikiran kotor apa yang ada di kepalaku. Dia malah merangkul Rora dengan santai di hadapanku dan berkata padaku, “Hendy, umurmu juga sudah dewasa… ayo lebih semangat, usahakan tahun baru mendatang sudah bawa pacar pulang ke rumah!”Rora tampak seperti mata air musim semi yang sejuk, bersandar manja di pelukan kakak.Bokong sexynya yang besar itu bergoyang-goyang di atas paha kakak, entah apa yang… sedang digesek.Yang jelas, raut wajah kakak tampak agak berubah, napasnya pun mulai terengah-engah.Sebagai sesama pria, tentu aku paham apa yang dipikirkan kakak.Bagaimanapun, kalau punya pacar semenarik dan segenit Rora, pasti sudah kuhajar habis-habisan di atas ranjang seti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status