LOGINEu morri no meu aniversário, mas os meus pais e o meu marido não perceberam. Eles estavam ocupados demais, dedicando toda a atenção para planejar a festa de aniversário da minha irmã gêmea, Esme Shaw. Enquanto ela estava cercada por pessoas ajudando-a a escolher um vestido, eu fui amarrada e jogada no porão. Com a pouca força que me restava, forcei meus dedos quebrados a digitar o código—9395. Era um sinal que meu marido, Edwin Grant, e eu tínhamos combinado. Era uma forma direta de pedir ajuda em caso de perigo. Nunca pensei que um dia realmente precisaria dele. Mas quando enviei, ele não acreditou em mim. Sua resposta foi fria: "Claudia, está fazendo um espetáculo só porque não te levei pra comprar um vestido novo?" Você ainda pode usar o vestido do ano passado. Pare de arrumar confusão. Te vejo na festa mais tarde.” O que ele não sabia era que Esme já havia destruído aquele vestido em pedaços. Ele não tinha ideia de que eu parti logo após desligar. A celebração começou e eu não estava presente. Um alvoroço tomou conta da sala quando viram o presente que eu tinha preparado para a Esme com antecedência.
View More“Siapa dia?”
Mata Leandra Nafisah membola saat melihat wanita tak dikenal yang tiba-tiba datang bersama sang Suami ke rumah. Hampir dua bulan suaminya pergi keluar kota untuk urusan kerja. Tentu saja Lea terkejut saat melihatnya datang bersama seorang wanita. Apalagi penampilan wanita itu terlihat seksi dan berani mengenakan baju yang sedikit terbuka.
“Sayang … Lea … dengerin Mas dulu. Aku akan menjelaskan semuanya.”
Kenan Husein, pria yang sudah empat tahun ini dinikahinya tampak menatap Lea penuh harap. Pria berwajah menarik itu terlihat sedang memohon agar Lea bersabar.
Lea menarik napas panjang, menatap tajam ke arah Kenan, kemudian menganggukkan kepala. Ia sudah lama menunggu kedatangan suaminya dan sangat shock saat melihatnya tiba-tiba datang bersama seorang wanita.
Namun, Lea juga harus mendengar penjelasan Kenan. Ia sangat mengenal suaminya dan tahu jika suaminya tidak akan berbuat aneh-aneh di luar sana.
Kenan menarik tangan Lea dan mengajaknya duduk di sofa. Wanita tak dikenal itu juga duduk di sana sambil sesekali melirik mereka berdua.
“Dia Lisa. Dia adik sahabatku. Dia sedang hamil dan suaminya seorang tentara yang sedang tugas negara. Untuk sementara dia akan tinggal di sini, Lea.”
Lea tampak terkejut, menatap Lisa sekilas. Wanita itu masih sangat muda, Lea menafsir usianya mungkin kisaran awal 20-an. Tidak diduga ternyata dia sudah menikah.
“Lalu ke mana keluarganya? Apa tidak ada yang bersedia menampungnya?”
Kenan menarik napas panjang sambil mengelus lembut tangan Lea.
“Sayang … Lisa itu yatim piatu. Kakaknya sedang sakit. Untuk biaya berobat saja dia kesulitan, bagaimana hendak menampung adiknya juga. Jadi apa salahnya kita menampung dia di sini?”
Lea terdiam, menelan saliva sambil kembali melirik Lisa. Lisa tersenyum sekilas sambil menganggukkan kepala. Namun, entah mengapa Lea merasa ada yang disembunyikan wanita muda ini.
“Apa benar seperti itu?” tanya Lea kemudian.
Lisa mengangguk sambil tersenyum. “Iya, Mbak. Maaf, kalau merepotkan. Hanya Kak Kenan yang saya kenal. Jadi tidak ada tempat lain lagi untuk berlindung.”
Lea menghela napas sambil kembali melihat Kenan. Kenan tersenyum, mengelus tangan Lea sambil menatapnya dengan sendu.
“Memangnya berapa usia kandunganmu?” tanya Lea.
“Baru tiga minggu, Mbak.”
Lea menarik napas sambil melirik perut Lisa. Memang perut wanita itu tidak terlihat begitu besar. Namun, segitu saja sudah membuat Lea meradang.
Sudah empat tahun ia menikah dengan Kenan dan hingga kini belum ada tanda-tanda mengenai kehamilannya. Kadang Lea merasa sedih, apalagi jika ia mendengar ucapan mertuanya.
Kenan anak tunggal dan kedua orang tua Kenan selalu menuntut cucu darinya. Kalau sudah begitu, Kenan akan menghibur dan membesarkan hatinya. Kenan sangat perhatian pada Lea dan begitu besar mencintainya. Bahkan dulu Kenan yang jatuh cinta padanya lebih dulu dan berusaha mati-matian untuk mendapatkan Lea.
“Ya sudah … kalau begitu biar aku minta tolong Bibi siapkan kamar. Kamu pasti lelah, kan?”
Lisa mengangguk sambil tersenyum. Lea segera memanggil salah satu asisten rumah tangga dan tak lama sudah mengantar Lisa ke kamarnya. Tinggal Kenan dan Lea di ruang tamu.
Kenan tersenyum sambil menatap dengan penuh hasrat ke istrinya. Lea hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
“Apa kamu tidak merindukan aku, Sayang?” tanya Kenan.
Lea tersenyum sambil menatap wajah rupawan Kenan. Meski Kenan keluar kota, dia selalu pulang seminggu sekali. Lalu dia juga tak lupa selalu menelepon Lea setiap malam. Hal seperti itu selalu dilakukannya sepanjang dua bulan ini dan Lea yakin tidak ada yang berubah dengan Kenan.
“Apa kamu tidak akan keluar kota lagi?” Bukan jawaban yang dilontarkan Lea malah sebuah pertanyaan.
Kenan tersenyum dan menggelengkan kepala.
“Tentu tidak, Sayang. Aku sudah menyelesaikan urusanku di kantor cabang. Semua sudah beres di sana. Selanjutnya aku bisa pantau dari sini saja.”
Lea tersenyum sambil menganggukkan kepala. Keluarga Kenan merupakan salah satu pemilik perusahaan terbesar di kota ini. Mereka memiliki bisnis di berbagai bidang. Kemarin adalah pembukaan kantor cabang baru dan Kenan perlu merapikannya agar bisa berjalan dengan baik serta bisa dipantau dari kantor pusat.
“Sudah omong-omongnya, kita lanjut di dalam, ya?”
Tanpa menunggu jawaban Lea, Kenan langsung menggendong tubuh Lea membawanya masuk ke dalam kamar. Terang saja Lea tersenyum kesenangan dibuatnya. Sudah lama dia merindukan belaian suaminya dan rasanya malam ini dia akan melalui malam panas dengan Kenan.
Entah berapa kali mereka melakukannya, yang pasti Lea sangat kelelahan dan sudah terlelap. Ia terbangun saat panggilan alam mengganggunya. Lea mengerjapkan mata sambil meraih jubah tidurnya. Ia membungkus asal tubuh polosnya dan berlarian ke kamar mandi.
Cukup lama Lea menghabiskan waktu di kamar mandi. Usai bercinta tadi, Lea langsung terpulas dan lupa belum membersihkan diri. Jadi sekalian saja ia membersihkan diri kali ini. Namun, saat keluar dari kamar mandi dan hendak kembali ke kasur Lea baru sadar jika tidak ada Kenan di sana.
“Mas Kenan ke mana? Dia gak ada di kamar mandi. Terus ke mana?”
Lea merapikan jubah tidurnya, membuka pintu kamar dan berjalan mengendap-endap keluar kamar. Seluruh ruangan di rumah sudah temaram. Salah satu kebiasaannya memang mematikan semua lampu di rumah jika sudah terlelap.
Lea berjalan sambil berpegangan ke dinding seraya memicingkan mata. Ia mengedarkan pandangan untuk mencari suaminya. Kemudian matanya tiba-tiba melihat sekilas bayangan melintas keluar dari kamar tamu, tempat Lisa beristirahat.
“Siapa itu? Apa Lisa yang keluar?” batin Lea.
Ia mempercepat langkahnya hendak mengejar sosok bayangan tadi. Ia takut kalau itu Lisa yang keluar kamar. Bisa jadi Lisa haus dan lupa membawa minum. Sedangkan tadi, ia lupa menunjukkan dapur.
Lea berdecak sambil menghela napas saat melihat kamar Lisa tertutup rapat dan bayangan yang dilihatnya tadi sudah menghilang.
“Kayaknya aku salah lihat, deh.”
Lea menghela napas dan bersiap membalikkan badan kembali ke kamar. Namun, dia langsung dikejutkan oleh sebuah tepukan yang singgah di bahunya. Lea hampir menjerit kalau tidak melihat wajah Kenan tadi.
“Mas!! Kamu ngagetin aku aja!!” semprot Lea.
Kenan hanya tersenyum sambil mengerjapkan matanya.
“Kamu dari mana? Aku mencarimu tadi.”
“Aku dari dapur, bikin mie instan. Kamu juga aku bikini, sudah aku bawa ke kamar.”
Lea tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia hampir lupa dengan kebiasaan Kenan yang suka makan mie instan usai pergulatan panas mereka.
Tak lama, mereka sudah kembali ke kamar menghadap mie instan yang asapnya masih mengepul.
“Hmm … enak banget. Udah lama gak makan mie instan bikinanmu, Mas.”
Lea tersenyum kesenangan sambil terus menikmati mie instannya. Kenan yang duduk di sampingnya ikut senang sambil sesekali menganggukkan kepala. Kemudian tiba-tiba perhatian Lea teralihkan ke leher Kenan. Ada lingkaran merah tertera jelas di leher putih mulusnya.
Lea terdiam sejenak, menghentikan makannya dan langsung mengulurkan tangan menyentuh leher suaminya.
“Lehermu kenapa, Mas?”
A queda de Esme não me surpreendeu. Ela era arrogante e dominadora. Ninguém conseguia suportá-la por muito tempo.Os guardas da prisão disseram que ela rabiscava freneticamente nas paredes, gritando enquanto desenhava.— Sou uma gênio! Sou uma grande artista!Dia após dia, a mesma exibição maníaca ocorria até que suas companheiras de cela finalmente perderam a paciência e reagiram com violência.Quando Mamãe e Papai souberam da notícia, ficaram atordoados. Eles odiavam Esme por destruir suas vidas, mas ela ainda era a filha deles. Como a única filha que lhes restava, foram visitá-la uma última vez.Ela estava deitada na cama do hospital, com o rosto impassível. Diz-se que, nos momentos finais, a pessoa revive a lembrança mais inesquecível da sua vida.O que ela viu foi eu, sentada com ela ao pôr do sol, ensinando-a a pintar. Misturava cores para ela, ajudava-a a buscar inspiração e, no final, bagunçava seu cabelo com um sorriso.— Você é incrível.Uma única lágrima escorreu pel
As outras presas trocaram olhares impotentes, claramente sem saber o que fazer. Elas já haviam contado a Esme a verdade incontáveis vezes, mas ela se recusava a acreditar.Ela era mimada devido aos anos em que foi idolatrada por todos. Estava convencida de que ainda tinha legiões de admiradores que nunca a abandonariam.No entanto, essa ilusão se despedaçou quando Edwin apareceu. Ele leu uma ação judicial após a outra bem diante dela.A cada palavra, seu rosto se esvaziava de cor até que, finalmente, ela gritou:— Você está mentindo! Só está tentando me assustar para me fazer confessar, não é?Vendo-a perder o controle, ele bateu a pilha de documentos contra o rosto dela.— Assustar você? Você ao menos entende o quão incompetente realmente é? Durante os quatro anos na faculdade, você faltava constantemente às aulas e quase foi expulsa. Suas notas sempre foram péssimas. — Quanto mais ele falava, mais amarga se tornava sua risada. Era como se estivesse rindo de si mesmo. — E ainda
A polícia levou Esme embora pouco depois.Mamãe e Papai sentaram‑se na sala, soluçando descontroladamente, enquanto Edwin permanecia em silêncio, encarando a janela.Então, o seu olhar se voltou para a caixa no canto — a mesma que todos haviam desprezado antes. Agora era tratada como uma relíquia sagrada.Ele se aproximou e abriu cuidadosamente. Dentro havia um acordo de divórcio assinado, com um anel de diamante amarelado entre as páginas.Abaixo dele, estava um retrato de família. Minha parte havia sido riscada, restando apenas eles três sorrindo juntos. No rodapé havia um pequeno chip.Edwin reproduziu o vídeo.Na tela, eu estava sentada diante da câmera. Meu rosto pálido e meus olhos inchados de tanto chorar mostravam minha fragilidade. Minha voz, tênue e delicada, encheu o cômodo:— Se vocês estão assistindo a isso, provavelmente eu não estou mais aqui. Os médicos disseram que eu tenho câncer, e me restam no máximo sete dias. Pensei em dizer muitas coisas, mas percebi que n
As pernas de Edwin fraquejaram e ele caiu de joelhos.— C‑Claudia! Para com essa palhaçada! Como você ousa fingir estar morta logo hoje? — Papai arregalou os olhos, gaguejando de pânico.Ele avançou e me deu dois chutes fortes.— Levanta!Mas eu não me movi. Ele se agachou, impaciente, observando o sangue no meu rosto. Então, soltou uma risada fria e debochada:— Então é aqui que o ketchup foi parar? Teve coragem de desperdiçar tudo só pra fazer cena, sua ridícula!Ele estendeu a mão para limpar o sangue, mas assim que seus dedos encostaram na minha pele, um grito de horror saiu de sua boca quando percebeu que eu estava gelada como gelo.Sua mão tremeu violentamente enquanto ele me apontava, com a voz trôpega:— Ela… ela está morta. Ela está realmente morta!A respiração de Edwin travou. Ele encarou meu corpo sem vida, o peito apertado, sem acreditar no que via.Mamãe começou a uivar, quase desmaiando. Pela primeira vez, vi medo verdadeiro estampado no rosto deles. Mesmo assi
Os lábios de Edwin e Esme finalmente se separaram.As bochechas dela estavam coradas, enquanto ele saiu do quarto às pressas, nitidamente desnorteado. Seu coração ainda batia forte quando seu olhar caiu sobre o vestido que estava no sofá.Sem hesitar, ele pegou uma garrafa de vinho tinto e derramo
Mãe, Pai e Edwin correram até lá, apenas para encontrar Esme caída no chão. Ela soluçava descontroladamente, com pedaços de papel rasgado em suas mãos.— E-Estes não eram os designs que você ia mostrar hoje à noite? Como puderam ser destruídos? Quem fez isso? — Mãe se agachou imediatamente para amp
Em pouco tempo, o salão de banquetes estava completamente preparado. A mesa de jantar estava coberta de salmão — o favorito de Esme — e o bolo trazia seu nome em delicada cobertura.— Mãe, talvez devêssemos pedir outro bolo. E se os convidados falarem pelas nossas costas? — A voz soou doce como mel
Eu morri de uma forma dolorosa no dia do meu próprio aniversário, e ninguém da minha família sequer percebeu. Eles me culparam por ter faltado à grande festa da Esme, sem imaginar que eu estive lá o tempo todo, mas não da forma que pensavam. Eu estava ali como uma alma....Naquela noite, minha fa












Bem-vindo ao Goodnovel mundo de ficção. Se você gosta desta novela, ou você é um idealista que espera explorar um mundo perfeito, e também quer se tornar um autor de novela original online para aumentar a renda, você pode se juntar à nossa família para ler ou criar vários tipos de livros, como romance, leitura épica, novela de lobisomem, novela de fantasia, história e assim por diante. Se você é um leitor, novelas de alta qualidade podem ser selecionados aqui. Se você é um autor, pode obter mais inspiração de outras pessoas para criar obras mais brilhantes, além disso, suas obras em nossa plataforma chamarão mais atenção e conquistarão mais admiração dos leitores.
reviews