Home / Romansa / Under His Darkness / 103. Breaking News

Share

103. Breaking News

Author: Hanana
last update Petsa ng paglalathala: 2025-08-18 00:15:49

Pintu rumah terbuka tanpa aba-aba. Damian berdiri di ambang. Setelan hitamnya tampak kontras dengan kotak pizza yang dia jinjing santai di tangan.

“Pintu tidak terkunci. Jadi kupikir siapa pun bisa masuk tanpa perlu menunggu tuan rumah membukakan,” ucap Damian ringan.

Damian melangkah masuk tanpa ragu, seolah rumah itu memang dibangun untuknya. Melihatnya, Nayla menahan napas. Adrian sudah mulai seenaknya keluar masuk ke rumah ini. Dan kini, Damian juga seperti mulai menodai keinginan Nayla unt
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Under His Darkness   171. Peperangan yang Sesungguhnya

    Damian memejamkan mata sesaat ketika suara Andy terdengar dari seberang telepon. Ada bunyi-bunyi samar dari ujung sana. Gesekan kain, deru mesin mobil, dan sesuatu yang terdengar seperti pintu mobil ditutup pelan.“Tim medis sudah menangani. Sekarang kondisi Nayla stabil,” ucap Andy.Damian tidak menutup mata, tidak mendesah lega, tidak juga mengucap syukur keras-keras. Dia hanya membiarkan kabar baik itu menyelinap ke dalam kepala, seperti batu kecil yang akhirnya pas di celah dinding yang retak. Meski begitu, jemari yang sejak tadi terus mengepal tegang, kini akhirnya bisa melemas."Damian." Suara samar Nayla terdengar dari seberang.Lemahnya nada suara itu sempat membuat otak Damian kembali beku. Ingin rasanya berbicara dengan wanita itu barang sejenak. Namun, dia segera sadar kalau dia menuruti kata hati, dia akan tumbang lagi."Andy, biarkan salah satu dokter bersama kalian," ucap Damian yang mencoba mengalihkan perhatian, seolah sedang menipu hati kalau telinganya tidak mendenga

  • Under His Darkness   170. Mayat Hidup

    Damian masih berdiri di sana. Bahunya yang diperban mulai menghangat lagi. Kain putih di balik kaos hitamnya memerah tanpa menuntut perhatian.“Damian, dia pingsan.”Suara Andy dari seberang telepon terdengar lebih menyita perhatian. Selain sederet rencana yang memenuhi hampir seluruh ruang otaknya, nama Nayla adalah satu yang paling menguasai semua. Bukan berlebihan, tapi apapun tentang Nayla akan mampu menggeser apapun.Seorang supir sudah siap di balik kemudi. Dokter pribadi yang akan mendampingi Damian juga sudah duduk di kursi depan. Namun, sambil mematung dan menggenggam ponselnya, Damian masih saja diam di posisi yang sama, tak bergerak, dan seperti lupa bagaimana caranya bernapas.Nayla pingsan, dan itu karenanya. Karena keputusan yang dia buat secara sadar. Karena rencana besar yang tetap harus dijalankan.“Kita tidak bisa berhenti, tapi tim medis kita sudah menyusul dari belakang,” lanjut Andy.Damian masih tidak mampu menjawab apa-apa. Badai yang kini Damian alami terlalu k

  • Under His Darkness   169. Dibunuh Paksa

    Dalam sepersekian detik itu, Damian masih terlihat di kaca belakang. Sialnya, begitu mobil berbelok di tikungan, sosok itu pun tersapu pergi. Selain semak, pohon, dan aspal jalan, Nayla tidak melihat apapun lagi.Dada Nayla langsung mengencang. Udara yang baru saja dia hirup terasa menggantung, menyakitkan di tenggorokan. Nayla akhirnya benar-benar paham bagaimana rasanya dibunuh jiwanya. Tak ada luka, tapi nyawanya seperti dicabut paksa.“Tidak!”Telapak tangan Nayla menghantam kaca jendela berulang kali. Suara benturannya nyaring, beradu dengan deru mesin. Di sela pukulan, mulutnya ikut menciptakan bising dengan teriakan demi teriakan.“Berhenti! Berhenti sekarang!”Kulit telapak tangannya mulai memerah. Namun, Nayla tidak peduli. Hatinya sudah tercabik lebih parah di setiap meter jarak yang tercipta selama mobil bergerak.Adrian lantas meraih kedua pergelangannya. “Nayla, cukup!”“Lepaskan aku!”Nayla masih meronta. Tubuhnya terdorong ke depan seolah ingin menerobos pintu yang terk

  • Under His Darkness   168. Rupa Sebuah Perpisahan

    Adrian sama sekali tidak memberi sedikit pun celah bagi Nayla untuk menolak. Tangannya mencengkeram lengan Nayla dengan tekanan yang mendesak. Di depannya, Andy segera membuka pintu mobil dengan satu gerakan cepat.“Ayo!” tegas Adrian.“Aku tidak mau!”Nayla memberontak. Benar-benar memberontak. Tangannya tak henti memukul dada Adrian sebagai wujud perlawanan. Kukunya pun sempat berhasil mencakar leher dan pelipis. Namun, Adrian tidak sekalipun goyah.Begitu sudah dekat dengan mobil, Nayla berhasil mendorong Andy yang berniat menjagalnya. Nayla waras, tapi kondisinya kini sudah seperti orang tidak waras. Satu saja amukan dari tubuh wanita harus diatasi oleh beberapa pria.Rambut Nayla sudah sangat berantakan. Teriakan dan umpatan mengiringi tangisnya yang tak kunjung padam. Wajahnya sudah basah, seiring dengan suaranya yang pecah.“Lepaskan aku! Lepaskan!” teriak Nayla. “Aku tidak akan pergi tanpa di

  • Under His Darkness   167. Menunda Kematian

    Sunyi mengintimidasi seisi ruang. Semua orang tahu kalau ucapan Damian sepenuhnya benar. Lokasi villa ini sudah bocor, dan entah bagaimana, Jonathan pasti akan segera datang.“Kita tetap jalankan rencana awal,” lanjut Damian. “Nayla pergi bersama Adrian. Dan Andy, kamu ikut dengan mereka.”Andy langsung menggeleng. “Tidak. Aku ikut denganmu.”“Itu perintah.”“Aku tidak peduli.” Suara Andy menegang. “Kamu terluka parah, Damian. Jonathan akan mengirim lebih banyak orang. Kamu butuh aku.”Damian lantas memaksakan diri untuk berdiri. Tubuhnya sempat goyah satu detik sebelum kembali tegak. Darah segera merembes tipis di bawah perban, tapi dia tetap menegakkan kaki seperti seseorang yang menolak dirobohkan.“Aku butuh Nayla hidup, dan dia lebih membutuhkan kamu dibanding aku,” ucap Damian dengan nada yang dibuat setenang mungkin. “Lagipula, aku masih punya ba

  • Under His Darkness   166. Pasca Kekacauan

    Villa itu tidak lagi terasa seperti rumah. Bau mesiu bercampur darah masih menggantung di udara. Lantai batu yang semula bersih, kini ternoda jejak sepatu, serpihan kaca, dan warna merah yang belum sempat mengering. “Bersihkan sisi utara!”“Angkat dia! Tekan lukanya!”“Pantau kamera luar!”Teriakan demi teriakan saling bersahutan, menciptakan kebisingan. Suara instruksi terdengar tumpang tindih. Telepon di tangan Andy kerap kali berdering. Radio komunikasi yang dipegang beberapa kepala tim pun terus berbunyi tanpa henti.“Tim dua, sapu taman belakang. Pastikan tidak ada yang tertinggal.”“Marco, kumpulkan semua selongsong. Jangan ada jejak.”“Siapa yang tadi tertembak di kaki? Bawa ke ruang tamu.”Di sisi lain ruangan, Adrian sudah sepenuhnya kehilangan kesabaran. Seisi ruang seperti sudah berapi, dan amarahnya yang terlampau besar seolah membuat semuanya semakin terbakar. Sejak tadi, dia berdiri membawa gelombang kemurkaan yang tidak kunjung menemukan tempat untuk menghantam.“Apa i

  • Under His Darkness   133. Lupakan Uang

    “Mereka sudah sampai di sana?” tanya Andy dari seberang telepon.“Sudah.”“Lawan belum bisa mengendus jejak kalian. Semuanya masih aman,” ucap Andy.“Tapi tetap harus pertebal keamanan. Fokuskan semuanya kepada keselamatan Nayla, sesuai rencana awal.”“Baik.”Damian mengalihkan pandang pada jendela

  • Under His Darkness   132. Perang Tanpa Genderang

    “Makan, Amore. Kamu terlalu banyak melamun,” ucap Damian tiba-tiba.Pria itu menaruh irisan keju dan telur di sisi kanan piring milik Nayla. Sejenak, dia beralih ke ponsel lagi. Ada getaran singkat di meja seiring dengan sebaris pesan yang menyembul dari layar ponsel yang menyala. Damian sempat men

  • Under His Darkness   131. Iran

    Matahari menetas perlahan, menyingkap cahaya tipis yang jatuh di meja makan. Aroma kopi hitam dan roti panggang memenuhi udara, tapi tak ada yang benar-benar terasa nikmat. Damian duduk di ujung meja dengan luka yang tak dibalut dengan apapun, seolah wajahnya adalah peta peperangan. Di hadapannya,

  • Under His Darkness   130. Titik Paling Rentan

    ‘Aku? Kelemahan itu adalah aku?’ batin Nayla.Tubuh Nayla membeku. Dadanya tertahan, seolah napasnya enggan keluar. Kata-kata Damian barusan bukan sekadar jawaban, tetapi seperti celah kecil yang tanpa sengaja menyingkap jurang besar di balik dirinya.Nayla tidak langsung bisa menjawab. Pengakuan D

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status