Inicio / Romansa / Under His Darkness / 177. Roma, Italia

Compartir

177. Roma, Italia

Autor: Hanana
last update Fecha de publicación: 2026-07-07 08:07:45

Beberapa saat sebelum berangkat, dokter sempat memeriksa lukanya dengan cepat. Perban baru sudah diganti tanpa perlu obrolan berlebihan. Begitu pesawat mulai bergerak di taxiway, Damian segera menyandarkan kepala ke kursi dan menutup mata. Obat tidur dosis aman yang dia telan memaksanya untuk terlelap meski yang dia cari bukan sekadar istirahat fisik.

Dokter di sampingnya sesekali tetap membangunkan Damian untuk sekadar minum banyak air. Sayangnya, efek obat tidak berdampak lama. Beg
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Under His Darkness   177. Roma, Italia

    Beberapa saat sebelum berangkat, dokter sempat memeriksa lukanya dengan cepat. Perban baru sudah diganti tanpa perlu obrolan berlebihan. Begitu pesawat mulai bergerak di taxiway, Damian segera menyandarkan kepala ke kursi dan menutup mata. Obat tidur dosis aman yang dia telan memaksanya untuk terlelap meski yang dia cari bukan sekadar istirahat fisik.Dokter di sampingnya sesekali tetap membangunkan Damian untuk sekadar minum banyak air. Sayangnya, efek obat tidak berdampak lama. Begitu gelap datang, dia justru terjaga.Malam penyerbuan Saeed kembali teringat dengan jelas. Ratusan peperangan serupa memang sudah Damian alami. Namun, kejadian malam tadi adalah hal yang berbeda. Setiap detik seperti mengukir jejak trauma.Dia mendengar lagi bunyi kaca pecah yang tajam, seperti suara yang tidak pernah benar-benar hilang dari telinga. Teriakan Nayla yang terdengar panik dan penuh ketakutan pun ikut muncul juga. Lalu, dentuman pistol yang meledak seperti meningg

  • Under His Darkness   176. Pria Itu

    Damian memutuskan untuk berjalan melewati lelaki itu, tidak menghindari, tetapi juga tidak mendekat terlalu cepat. Dia berjalan dengan ritme yang tetap, menjaga tangannya tetap santai meski setiap saraf di tubuhnya bersiaga.Saat jaraknya tinggal beberapa meter, lelaki itu tiba-tiba tersenyum."Damian?" panggilnya dengan nada yang akrab.Damian berhenti. Dia menatap lelaki itu lebih jelas sekarang. Wajahnya benar-benar familiar, dan jelas-jelas Damian tidak hanya pernah bertemu dengannya satu atau dua kali saja. Tak sampai dua detik kemudian, ingatannya saling berkesinambungan.Vincent. Dia adalah salah seorang pelanggan VIP di beach club miliknya. Pengusaha properti dari Jakarta yang sering datang ke Bali untuk berlibur dan selalu memesan area VIP di beach club Damian.

  • Under His Darkness   175. Ketegangan di Bandara

    Petugas mengulurkan tangan, sementara Damian menyerahkan boarding pass dan paspor tanpa banyak bicara. Seorang pria paruh baya dengan seragam rapi memindai barcode di boarding pass dengan alat scanner. Bunyi beep pendek terdengar, lalu layar menyala hijau.Saat membuka halaman paspor, tangannya berhenti di halaman foto. Matanya turun ke lembaran di tangan, lalu naik menatap wajah Damian. Tidak ada ekspresi khusus di wajah petugas itu, hanya pandangan datar yang profesional. Namun, waktu itu terasa melambat. Tiga detik terasa ratusan kali lipat lebih lama dari seharusnya.Damian menahan napas tanpa sadar. Dia tidak mengalihkan pandangan, tidak mengubah ekspresi, tidak pula melakukan apa pun yang bisa dianggap mencurigakan. Seolah dia hanya seorang penumpang biasa yang akan terbang ke negara lain dengan alasan yang biasa pula.Petugas lantas menutup paspor. "Silakan."Damian menerimanya dengan tenang, meski ada kelegaan luar biasa yang mengalir di dadanya. Dia menghela napas pelan. Rint

  • Under His Darkness   174. Meninggalkan Bayangan

    Nayla.Nama itu kembali muncul di benaknya. Tajam, tapi dipaksa untuk jangan sampai mengganggu fokus pikiran. Damian tidak mau membiarkannya tinggal terlalu lama di dalam benak. Sayangnya, bayangan wajah Nayla masih saja menyusup setiap kali dia bernapas.Damian membuka ponsel dengan sedikit gusar. Tak ada pesan baru dari Andy. Pria itu pasti sedang sibuk memindahkan Nayla ke rumah aman. Selama beberapa menit, Damian terus menimang-nimang nomor ponsel itu. Namun, pada akhirnya dia tetap memutuskan tidak menekan tombol panggil.Seolah bisa membaca pikiran Damian, telepon dari Andy tiba-tiba muncul. Tanpa mengurangi fokus dalam berkendara, Damian langsung menggeser ikon hijau. “Halo. Bagaimana?”“Tetap gunakan rute yang sama.” Andy membuka percakapan dengan suara rendah dan bernada terburu. “Setelah sampai By Pass Ngurah Rai, kamu masuk jalur lewat peta yang aku kirim.” “Okay.”Tidak ada ucapan lagi yang keluar dari mulut Damian. Namun, panggilan masih tersambung dan menciptakan hen

  • Under His Darkness   173. Langkah Pertama

    Damian menajamkan pandangan ke sekitar. Semakin ramai, semakin baik. Keramaian adalah kabut, dan kabut adalah tempat paling aman bagi seseorang yang ingin menghilang.Tak berselang lama sejak panggilan dengan Andy berakhir, kini ponselnya bergetar lagi. Alih-alih langsung menjawab, Damian justru terlebih dahulu menyesap kopi. Entah untuk mempersiapkan diri untuk informasi yang menegangkan, atau sekadar tak ingin tampak gusar. “Halo, Andy”, ucap Damian yang seketika setelah mengangkat panggilan.“Damian, kami sudah menangkap pergerakan mereka.”“Okay,” jawab Damian tanpa sedikit pun mengubah posisi duduk. “Sudah kamu pastikan?”“Sudah.” Kali ini nada suara Andy terkesan semakin tegang. “Ciri-ciri mobilnya cocok. Plat nomor sama dengan yang sudah kita catat. Dia mulai bergerak ke arah kota.”Damian mengangkat pandangan ke jalan di luar pagar. Matanya menyipit sedikit, bukan karena panik, melainkan karena semua perhitungannya terbukti tepat. Kini, segala kemungkinan yang semula hanya ad

  • Under His Darkness   172. Menantang Semesta

    Damian berpenampilan biasa saja, tak seperti prajurit berpedang, tapi dia tahu kalau dia akan berperang.Lantai lobi hotel mengilap, licin oleh pantulan cahaya pagi yang jatuh dari dinding kaca tinggi. Aroma pengharum ruangan selaras dengan mewahnya rangkaian dekorasi. Beberapa tamu asing menyeret koper, staf hotel bergerak cepat dengan senyum profesional yang seragam, dan di ujung ruangan seorang petugas resepsionis sedang berbicara pelan pada tamu yang tampak masih terlalu mengantuk.Damian berjalan tanpa tergesa. Dia tahu persis ke mana kamera-kamera mengarah. Dia pun tahu titik mana yang akan menangkap wajahnya paling jelas. Jadi, tentu saja dia melewati semuanya dengan sengaja. Bahunya tegak, pun dengan kepala yang terangkat dengan nyaris congkak.'Lihat baik-baik, Jonathan. Aku masih di sini,' batinnya dalam hati.Dia tidak berhenti lama di lobi. Setelah memesan satu kamar, dia naik dan kembali turun dari lift untuk sekadar meninggalkan jejak visual bila ada orang yang sedang me

  • Under His Darkness   123. Ciuman

    Rumah sewa Nayla sunyi ketika Damian membuka pintu. Lampu ruang tamu menyala lembut. Begitu pintu terbuka setengah, Nayla muncul dengan kaus tipis dan rambut disanggul seadanya.“Damian.” Matanya langsung menyapu wajah Damian. Diam sepersekian detik, lalu alisnya mengerut.“Wajahmu…” lanjutnya pela

  • Under His Darkness   122. Dunia Lain

    Di parkiran belakang, dua mobil sudah terparkir rapi. Dua orang yang semula diutus untuk mengantar mobil, hanya beberapa detik tampak, lalu kemudian pergi meninggalkan mobil dengan mesin yang bergetar pelan seperti binatang buas yang menunggu dilepas. Satu SUV hitam legam untuk Damian, satu van tan

  • Under His Darkness   121. Tirai Abu-Abu

    Damian masih berlumuran darah di bibir dan sudut hidung ketika berdiri tegak di tengah ruangan. Rahangnya memar, napasnya berat, tapi suaranya jernih. Tak ada ragu, pun sudah lepas dari bimbang. Sebaliknya, Adrian justru masih gemetar dengan dada yang naik turun.“Kamu ikut dengan Andy,” titah Dami

  • Under His Darkness   118. Identitas Damian

    Damian melangkah masuk, dan ketenangan seketika berubah menjadi ketegangan.Beberapa pria berdiri rapat, sebagian duduk, tapi semuanya serentak bangkit, tanpa satu pun berani berjarak. Hening seperti sengaja menyandera setiap suara. Hanya denting langkah dari sepatu milik Damian yang terdengar sepe

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status