Home / Romansa / Under His Darkness / 140. Manis dan Darah

Share

140. Manis dan Darah

Author: Hanana
last update publish date: 2025-11-12 18:46:01

“Aku bersumpah kamu akan miskin setelah ini,” ucap Andy yang sejak tadi mengoceh dari balik telepon.

“Seharusnya kamu bersyukur karena secara tidak langsung, uangku menyelamatkan nyawamu juga,” balas Damian.

“Dan kamu rela memiskinkan diri?” Andy masih sedikit bernada tinggi.

“Lalu? Apa aku harus lebih memilih mati?”

Napas Andy terdengar mendesah panjang. “Okay, tapi apapun itu, apa dia bisa dipercaya?”

“Iya,” jawab Damian tegas. “Aku tahu betul bagaimana reputasinya.”

Operasi mulai berja
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Under His Darkness   172. Menantang Semesta

    Damian berpenampilan biasa saja, tak seperti prajurit berpedang, tapi dia tahu kalau dia akan berperang.Lantai lobi hotel mengilap, licin oleh pantulan cahaya pagi yang jatuh dari dinding kaca tinggi. Aroma pengharum ruangan selaras dengan mewahnya rangkaian dekorasi. Beberapa tamu asing menyeret koper, staf hotel bergerak cepat dengan senyum profesional yang seragam, dan di ujung ruangan seorang petugas resepsionis sedang berbicara pelan pada tamu yang tampak masih terlalu mengantuk.Damian berjalan tanpa tergesa. Dia tahu persis ke mana kamera-kamera mengarah. Dia pun tahu titik mana yang akan menangkap wajahnya paling jelas. Jadi, tentu saja dia melewati semuanya dengan sengaja. Bahunya tegak, pun dengan kepala yang terangkat dengan nyaris congkak.'Lihat baik-baik, Jonathan. Aku masih di sini,' batinnya dalam hati.Dia tidak berhenti lama di lobi. Setelah memesan satu kamar, dia naik dan kembali turun dari lift untuk sekadar meninggalkan jejak visual bila ada orang yang sedang me

  • Under His Darkness   171. Peperangan yang Sesungguhnya

    Damian memejamkan mata sesaat ketika suara Andy terdengar dari seberang telepon. Ada bunyi-bunyi samar dari ujung sana. Gesekan kain, deru mesin mobil, dan sesuatu yang terdengar seperti pintu mobil ditutup pelan.“Tim medis sudah menangani. Sekarang kondisi Nayla stabil,” ucap Andy.Damian tidak menutup mata, tidak mendesah lega, tidak juga mengucap syukur keras-keras. Dia hanya membiarkan kabar baik itu menyelinap ke dalam kepala, seperti batu kecil yang akhirnya pas di celah dinding yang retak. Meski begitu, jemari yang sejak tadi terus mengepal tegang, kini akhirnya bisa melemas."Damian." Suara samar Nayla terdengar dari seberang.Lemahnya nada suara itu sempat membuat otak Damian kembali beku. Ingin rasanya berbicara dengan wanita itu barang sejenak. Namun, dia segera sadar kalau dia menuruti kata hati, dia akan tumbang lagi."Andy, biarkan salah satu dokter bersama kalian," ucap Damian yang mencoba mengalihkan perhatian, seolah sedang menipu hati kalau telinganya tidak mendenga

  • Under His Darkness   170. Mayat Hidup

    Damian masih berdiri di sana. Bahunya yang diperban mulai menghangat lagi. Kain putih di balik kaos hitamnya memerah tanpa menuntut perhatian.“Damian, dia pingsan.”Suara Andy dari seberang telepon terdengar lebih menyita perhatian. Selain sederet rencana yang memenuhi hampir seluruh ruang otaknya, nama Nayla adalah satu yang paling menguasai semua. Bukan berlebihan, tapi apapun tentang Nayla akan mampu menggeser apapun.Seorang supir sudah siap di balik kemudi. Dokter pribadi yang akan mendampingi Damian juga sudah duduk di kursi depan. Namun, sambil mematung dan menggenggam ponselnya, Damian masih saja diam di posisi yang sama, tak bergerak, dan seperti lupa bagaimana caranya bernapas.Nayla pingsan, dan itu karenanya. Karena keputusan yang dia buat secara sadar. Karena rencana besar yang tetap harus dijalankan.“Kita tidak bisa berhenti, tapi tim medis kita sudah menyusul dari belakang,” lanjut Andy.Damian masih tidak mampu menjawab apa-apa. Badai yang kini Damian alami terlalu k

  • Under His Darkness   169. Dibunuh Paksa

    Dalam sepersekian detik itu, Damian masih terlihat di kaca belakang. Sialnya, begitu mobil berbelok di tikungan, sosok itu pun tersapu pergi. Selain semak, pohon, dan aspal jalan, Nayla tidak melihat apapun lagi.Dada Nayla langsung mengencang. Udara yang baru saja dia hirup terasa menggantung, menyakitkan di tenggorokan. Nayla akhirnya benar-benar paham bagaimana rasanya dibunuh jiwanya. Tak ada luka, tapi nyawanya seperti dicabut paksa.“Tidak!”Telapak tangan Nayla menghantam kaca jendela berulang kali. Suara benturannya nyaring, beradu dengan deru mesin. Di sela pukulan, mulutnya ikut menciptakan bising dengan teriakan demi teriakan.“Berhenti! Berhenti sekarang!”Kulit telapak tangannya mulai memerah. Namun, Nayla tidak peduli. Hatinya sudah tercabik lebih parah di setiap meter jarak yang tercipta selama mobil bergerak.Adrian lantas meraih kedua pergelangannya. “Nayla, cukup!”“Lepaskan aku!”Nayla masih meronta. Tubuhnya terdorong ke depan seolah ingin menerobos pintu yang terk

  • Under His Darkness   168. Rupa Sebuah Perpisahan

    Adrian sama sekali tidak memberi sedikit pun celah bagi Nayla untuk menolak. Tangannya mencengkeram lengan Nayla dengan tekanan yang mendesak. Di depannya, Andy segera membuka pintu mobil dengan satu gerakan cepat.“Ayo!” tegas Adrian.“Aku tidak mau!”Nayla memberontak. Benar-benar memberontak. Tangannya tak henti memukul dada Adrian sebagai wujud perlawanan. Kukunya pun sempat berhasil mencakar leher dan pelipis. Namun, Adrian tidak sekalipun goyah.Begitu sudah dekat dengan mobil, Nayla berhasil mendorong Andy yang berniat menjagalnya. Nayla waras, tapi kondisinya kini sudah seperti orang tidak waras. Satu saja amukan dari tubuh wanita harus diatasi oleh beberapa pria.Rambut Nayla sudah sangat berantakan. Teriakan dan umpatan mengiringi tangisnya yang tak kunjung padam. Wajahnya sudah basah, seiring dengan suaranya yang pecah.“Lepaskan aku! Lepaskan!” teriak Nayla. “Aku tidak akan pergi tanpa di

  • Under His Darkness   167. Menunda Kematian

    Sunyi mengintimidasi seisi ruang. Semua orang tahu kalau ucapan Damian sepenuhnya benar. Lokasi villa ini sudah bocor, dan entah bagaimana, Jonathan pasti akan segera datang.“Kita tetap jalankan rencana awal,” lanjut Damian. “Nayla pergi bersama Adrian. Dan Andy, kamu ikut dengan mereka.”Andy langsung menggeleng. “Tidak. Aku ikut denganmu.”“Itu perintah.”“Aku tidak peduli.” Suara Andy menegang. “Kamu terluka parah, Damian. Jonathan akan mengirim lebih banyak orang. Kamu butuh aku.”Damian lantas memaksakan diri untuk berdiri. Tubuhnya sempat goyah satu detik sebelum kembali tegak. Darah segera merembes tipis di bawah perban, tapi dia tetap menegakkan kaki seperti seseorang yang menolak dirobohkan.“Aku butuh Nayla hidup, dan dia lebih membutuhkan kamu dibanding aku,” ucap Damian dengan nada yang dibuat setenang mungkin. “Lagipula, aku masih punya ba

  • Under His Darkness   158. Tinggalkan Dia

    Gerbang besi itu menutup kembali seiring dengan mobil Damian yang meluncur perlahan ke halaman villa. Lampunya meredup, sebelum akhirnya mati sepenuhnya. Mesin masih menyala saat Andy seketika muncul dari pintu utama. Matanya menyapu mobil, lalu naik ke arah Damian.Damian tidak menoleh. Dia hanya

  • Under His Darkness   157. Pekerjaan Selesai

    “Kalian merasa pintar?” tanya Damian pelan.Damian tidak langsung bergerak untuk menghabisi. Langkahnya justru maju satu tapak, terukur, dan berhenti pada jarak yang membuat napas mereka saling bersinggungan. Dari posisi sedekat itu, Damian bisa melihat pori-pori kulit yang menegang karena takut.T

  • Under His Darkness   156. Part Menyenangkan

    Damian berdiri setelah terlebih dahulu berjabat tangan. Setelah membuat kesan seolah baru saja menyepakati sebuah pertemuan bisnis, Damian lantas berjalan keluar meninggalkan bar. Jaketnya disampirkan ke bahu, lalu segera kembali ke mobil di mana Alessandro sudah terlebih dahulu masuk.“Kita akan m

  • Under His Darkness   155. Masuk Perangkap

    Alessandro sudah melangkah lebih dulu. Tidak menoleh, juga tanpa berpamitan. Pria itu tidak pernah berpamitan pada tempat yang akan dia tinggalkan.“Kita terlambat lima menit, Damian,” ucap Alessandro sambil tetap berjalan dan melirik jam di pergelangan tangan.Tanpa menjawab, Damian menyusul setel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status