เข้าสู่ระบบ“Damian.” Ucapan Nayla beradu padu dengan desah panjang.
“Hm?”
“Lagi.”
Sambil sedikit melepas senyum tipis, jemari tangan Damian bergerak dengan semakin rakus. Tarikan napas Nayla semakin cepat. Dadanya naik-turun. Matanya setengah terpejam dengan racauan lirih yang lolos di sela bibirnya. Damian menatap wajah itu sejenak, lalu menunduk untuk meraih mulutnya lagi.
Ketika tubuh mereka kembali menyatu, Damian menahan napas panjang.
Damian menajamkan pandangan ke sekitar. Semakin ramai, semakin baik. Keramaian adalah kabut, dan kabut adalah tempat paling aman bagi seseorang yang ingin menghilang.Tak berselang lama sejak panggilan dengan Andy berakhir, kini ponselnya bergetar lagi. Alih-alih langsung menjawab, Damian justru terlebih dahulu menyesap kopi. Entah untuk mempersiapkan diri untuk informasi yang menegangkan, atau sekadar tak ingin tampak gusar. “Halo, Andy”, ucap Damian yang seketika setelah mengangkat panggilan.“Damian, kami sudah menangkap pergerakan mereka.”“Okay,” jawab Damian tanpa sedikit pun mengubah posisi duduk. “Sudah kamu pastikan?”“Sudah.” Kali ini nada suara Andy terkesan semakin tegang. “Ciri-ciri mobilnya cocok. Plat nomor sama dengan yang sudah kita catat. Dia mulai bergerak ke arah kota.”Damian mengangkat pandangan ke jalan di luar pagar. Matanya menyipit sedikit, bukan karena panik, melainkan karena semua perhitungannya terbukti tepat. Kini, segala kemungkinan yang semula hanya ad
Damian berpenampilan biasa saja, tak seperti prajurit berpedang, tapi dia tahu kalau dia akan berperang.Lantai lobi hotel mengilap, licin oleh pantulan cahaya pagi yang jatuh dari dinding kaca tinggi. Aroma pengharum ruangan selaras dengan mewahnya rangkaian dekorasi. Beberapa tamu asing menyeret koper, staf hotel bergerak cepat dengan senyum profesional yang seragam, dan di ujung ruangan seorang petugas resepsionis sedang berbicara pelan pada tamu yang tampak masih terlalu mengantuk.Damian berjalan tanpa tergesa. Dia tahu persis ke mana kamera-kamera mengarah. Dia pun tahu titik mana yang akan menangkap wajahnya paling jelas. Jadi, tentu saja dia melewati semuanya dengan sengaja. Bahunya tegak, pun dengan kepala yang terangkat dengan nyaris congkak.'Lihat baik-baik, Jonathan. Aku masih di sini,' batinnya dalam hati.Dia tidak berhenti lama di lobi. Setelah memesan satu kamar, dia naik dan kembali turun dari lift untuk sekadar meninggalkan jejak visual bila ada orang yang sedang me
Damian memejamkan mata sesaat ketika suara Andy terdengar dari seberang telepon. Ada bunyi-bunyi samar dari ujung sana. Gesekan kain, deru mesin mobil, dan sesuatu yang terdengar seperti pintu mobil ditutup pelan.“Tim medis sudah menangani. Sekarang kondisi Nayla stabil,” ucap Andy.Damian tidak menutup mata, tidak mendesah lega, tidak juga mengucap syukur keras-keras. Dia hanya membiarkan kabar baik itu menyelinap ke dalam kepala, seperti batu kecil yang akhirnya pas di celah dinding yang retak. Meski begitu, jemari yang sejak tadi terus mengepal tegang, kini akhirnya bisa melemas."Damian." Suara samar Nayla terdengar dari seberang.Lemahnya nada suara itu sempat membuat otak Damian kembali beku. Ingin rasanya berbicara dengan wanita itu barang sejenak. Namun, dia segera sadar kalau dia menuruti kata hati, dia akan tumbang lagi."Andy, biarkan salah satu dokter bersama kalian," ucap Damian yang mencoba mengalihkan perhatian, seolah sedang menipu hati kalau telinganya tidak mendenga
Damian masih berdiri di sana. Bahunya yang diperban mulai menghangat lagi. Kain putih di balik kaos hitamnya memerah tanpa menuntut perhatian.“Damian, dia pingsan.”Suara Andy dari seberang telepon terdengar lebih menyita perhatian. Selain sederet rencana yang memenuhi hampir seluruh ruang otaknya, nama Nayla adalah satu yang paling menguasai semua. Bukan berlebihan, tapi apapun tentang Nayla akan mampu menggeser apapun.Seorang supir sudah siap di balik kemudi. Dokter pribadi yang akan mendampingi Damian juga sudah duduk di kursi depan. Namun, sambil mematung dan menggenggam ponselnya, Damian masih saja diam di posisi yang sama, tak bergerak, dan seperti lupa bagaimana caranya bernapas.Nayla pingsan, dan itu karenanya. Karena keputusan yang dia buat secara sadar. Karena rencana besar yang tetap harus dijalankan.“Kita tidak bisa berhenti, tapi tim medis kita sudah menyusul dari belakang,” lanjut Andy.Damian masih tidak mampu menjawab apa-apa. Badai yang kini Damian alami terlalu k
Dalam sepersekian detik itu, Damian masih terlihat di kaca belakang. Sialnya, begitu mobil berbelok di tikungan, sosok itu pun tersapu pergi. Selain semak, pohon, dan aspal jalan, Nayla tidak melihat apapun lagi.Dada Nayla langsung mengencang. Udara yang baru saja dia hirup terasa menggantung, menyakitkan di tenggorokan. Nayla akhirnya benar-benar paham bagaimana rasanya dibunuh jiwanya. Tak ada luka, tapi nyawanya seperti dicabut paksa.“Tidak!”Telapak tangan Nayla menghantam kaca jendela berulang kali. Suara benturannya nyaring, beradu dengan deru mesin. Di sela pukulan, mulutnya ikut menciptakan bising dengan teriakan demi teriakan.“Berhenti! Berhenti sekarang!”Kulit telapak tangannya mulai memerah. Namun, Nayla tidak peduli. Hatinya sudah tercabik lebih parah di setiap meter jarak yang tercipta selama mobil bergerak.Adrian lantas meraih kedua pergelangannya. “Nayla, cukup!”“Lepaskan aku!”Nayla masih meronta. Tubuhnya terdorong ke depan seolah ingin menerobos pintu yang terk
Adrian sama sekali tidak memberi sedikit pun celah bagi Nayla untuk menolak. Tangannya mencengkeram lengan Nayla dengan tekanan yang mendesak. Di depannya, Andy segera membuka pintu mobil dengan satu gerakan cepat.“Ayo!” tegas Adrian.“Aku tidak mau!”Nayla memberontak. Benar-benar memberontak. Tangannya tak henti memukul dada Adrian sebagai wujud perlawanan. Kukunya pun sempat berhasil mencakar leher dan pelipis. Namun, Adrian tidak sekalipun goyah.Begitu sudah dekat dengan mobil, Nayla berhasil mendorong Andy yang berniat menjagalnya. Nayla waras, tapi kondisinya kini sudah seperti orang tidak waras. Satu saja amukan dari tubuh wanita harus diatasi oleh beberapa pria.Rambut Nayla sudah sangat berantakan. Teriakan dan umpatan mengiringi tangisnya yang tak kunjung padam. Wajahnya sudah basah, seiring dengan suaranya yang pecah.“Lepaskan aku! Lepaskan!” teriak Nayla. “Aku tidak akan pergi tanpa di
Gelisah.Otak Nayla berdesir, menolak untuk tenang. Dia mencoba menukar makna warna merah itu dengan apapun yang lebih masuk akal. Tumpahan saus, kopi, atau mungkin cat. Namun, tidak. Polanya, warnanya, bahkan cara serat kain menyerapnya, Nayla bisa memastikan kalau itu memang darah.Pikiran Nayla b
Suara itu, aroma tubuh itu, sesuatu yang sangat Nayla kenal, membelah kesadarannya yang masih setengah tertidur.“Sudah kamu beri obat penurun panas?”“Sudah, tapi dia menolak saat aku mengajaknya ke rumah sakit.” Kali ini suara Carina terdengar sangat jelas meski lirih.Kedua mata Nayla seketika t
Hari kemarin berlalu tanpa kejadian berarti. Tak ada bel gerbang yang berbunyi, tak ada telepon yang berdering tiba-tiba, juga tak ada pesan aneh yang masuk. Namun, bagi Nayla, rasanya tetap melelahkan, tetap menguras emosi, dan tetap menyisakan kebingungan.Nayla memang berhasil tidur dengan duras
Keheningan kembali merambat di dalam kamar setelah sambungan telepon terputus. Udara sekitar terasa menebal. Seperti sebuah ketegangan, tapi tidak bisa sepenuhnya disebut tegang. Seperti kewaspadaan, tapi di sisi lain, Nayla sama sekali tidak merasa harus takut akan apapun. Jadi, mungkin semua itu







