Beranda / Romansa / Under His Darkness / 158. Tinggalkan Dia

Share

158. Tinggalkan Dia

Penulis: Hanana
last update Tanggal publikasi: 2025-12-29 11:03:15

Gerbang besi itu menutup kembali seiring dengan mobil Damian yang meluncur perlahan ke halaman villa. Lampunya meredup, sebelum akhirnya mati sepenuhnya. Mesin masih menyala saat Andy seketika muncul dari pintu utama. Matanya menyapu mobil, lalu naik ke arah Damian.

Damian tidak menoleh. Dia hanya mengangkat satu jari, lalu menurunkannya kembali.

Cukup.

Andy urung mendekat. Dia mengangguk tipis, berbalik, dan masuk kembali ke dalam villa sambil mencegah Andrian yang juga hampir mendekati Damian
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Under His Darkness   185. Celah Jendela

    Enzo beranjak ke arah jendela, sementara Damian masih memperhatikan layar tablet. Satu jari Enzo menyingkap tirai selebar tak lebih dari dua sentimeter. Dia bisa melihat keluar dari celah sempit itu, tapi tetap tidak terlihat dari luar."Ada orang di seberang," katanya denan suara rendah.Damian mendekat, berdiri di sisi lain jendela yang sama. Di bawah sana, seorang pria berdiri di depan toko yang sudah tutup. Kedua tangannya masuk ke dalam saku jaket, diam, dan selama beberapa saat, pria itu tetap tidak melakukan apa-apa selain berdiri. .Enzo menggeser posisinya sedikit, lalu menoleh ke arah layar gawai. "Sekarang ada dua lagi. Di ujung jalan."Sorot mata Damian langsung jatuh ke titik yang Enzo sebut. Dua sosok pria tengah berjalan pelan. Posisi mereka sedikit berjarak, tapi arah mereka sama. Keduanya menuju losmen ini."Ada tiga," gumam Damian."Bersenjata?" tanya Enzo."Tidak kelihatan," jawab Damian, "tapi anggap saja iya."Damian lantas mundur dari jendela, lalu memeriksa isi

  • Under His Darkness   184. Terkepung

    Sambungan itu terputus, tapi Damian tidak langsung bergerak. Dia duduk diam dengan ponsel yang masih tergenggam di tangan. Matanya tertutup, membiarkan benaknya berkeliaran dan tertinggal di sana, di kamar itu, bersama NaylaSuara wanita itu baru saja hilang. Namun, Damian masih bisa mengingat setiap detail percakapan, pun bagaimana cara napas Nayla berubah dan bagaimana suaranya pecah karena berhasil menabrakkan rindu yang sama besarnya dengan rindu Damian sendiri. Untuk beberapa detik, dia bukan siapa-siapa selain seorang pria yang merindukan wanita yang dicintainya.Damian jarang membiarkan dirinya berada di titik ini, saat cinta dan rindu jadi satu-satunya hal yang dia rasakan, tanpa kalkulasi dan tanpa strategi. Dia nyaris tidak pernah membiarkan dirinya mencecap rasa yang sepenuhnya manusiawi. Kali ini, dia memperbolehkan dadanya merasakan kehangatan, lengkap dengan senyum tipis yang bertahan beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.Dia tahu betapa berbahayanya perasaan

  • Under His Darkness   183. Api di Balik Layar

    Suara Damian mengalun lebih dalam dan lebih pelan. Seketika, sesuatu di dalam diri Nayla mengencang. Ada panas yang menjalar naik dari dada ke lehernya. Tak sanggup lagi beradu tatap, Nayla memutuskan untuk menghadap langit-langit."Amore.""Iya?""Lihat aku," pinta Damian, suaranya melembut, seolah tiap kata sengaja dilepas pelan-pelan agar tak satu pun terlewat oleh Nayla. "Aku tidak bisa lama-lama di telepon, tapi mau aku ceritakan apa saja yang aku ingat?"Nayla yang sudah merebah menghadap atas, kini sedikit menoleh ke layar ponsel yang bersandar di bantal sebelahnya. Cahaya dari layar itu memantul di wajahnya yang sudah sedikit memerah. Ada kilau di kedua matanya yang tak lagi bisa menyembunyikan bara.Di seberang, dia melihat Damian sedang sedikit membungkuk mendekat ke kamera. Gerak kecil bahu pria itu tampak seperti sedang berusaha memperkecil jarak yang pada kenyataannya sama sekali tak bisa diperkecil. Semakin lama mata mereka beradu, Nayla semakin bisa melihat ada sesuatu

  • Under His Darkness   182. Mengulang Malam Itu

    Dari balik layar, Damian tampak sedang duduk di kamar asing yang cukup sempit. Cahaya lampu meja menerangi separuh wajahnya, sedangkan separuhnya lagi dibiarkan tetap gelap. Sorot matanya masih sama, tenang, dalam, tapi juga tampak menyimpan sesuatu yang pernah terucap.Nayla memindai wajah itu lekat-lekat. Matanya sibuk mencari luka baru, bekas memar, atau apa pun yang bisa mengkhianati kalimat menenangkan yang biasa dia dengar dari mulut Damian. Meski pada akhirnya tetap tidak ada luka yang tampak, tapi fakta itu tidak pernah cukup untuk membuatnya benar-benar lega."Hei," ucap Damian lembut. "Kamu bisa dengar suaraku?""Iya."Nayla hanya bisa menjawab dengan satu kata singkat. Itupun disertai dengan getar yang tak sanggup dia sembunyikan."Apa aku setampan itu sampai kamu lupa caranya berkedip?" Damian mencoba mencairkan suasana.Sambil sedikit menunduk, Nayla melepas tawa singkat dan pelan."Nah, tetaplah seperti itu, Amore. That smile looks good on you.""Okay, lalu bagaimana? Ka

  • Under His Darkness   181. Rumah Rahasia

    Nayla masih terjaga menatap langit-langit berhias lampu gantung yang terlalu mewah untuk sebuah persembunyian rahasia. Selain megah, rumah itu punya satu ciri yang selalu diingat Nayla. Jendela-jendela kaca raksasa yang menjulang, seolah dindingnya sengaja dihilangkan supaya cahaya bisa masuk tanpa halangan.Dia ingat betul saat pertama kali berdiri di rumah itu beberapa waktu lalu. Saat itu, Damian sendiri yang membawa Nayla masuk, membuka pintu, dan menuntunnya melewati setiap ruangan. Hanya mereka berdua, dan memang tak boleh ada orang lain selain mereka berdua.Kini, situasinya telah sepenuhnya terbalik. Nayla kembali ada di ruangan yang sama, dikelilingi orang-orang Damian, ditemani kakaknya sendiri, tapi justru tanpa Damian. Justru Nayla tidak diperbolehkan berada di dekat Damian sama sekali.“Kamu belum makan malam,” ucap Adrian, menghancurkan lamunan Nayla.Nayla menoleh sebentar, lalu kembali mengalihkan pandangan. “Sudah.”“Hanya sepotong kentang.”“Aku bukan anak kecil lagi

  • Under His Darkness   180. Kabut di Roma

    "Kita pindah sekarang," titah Damian kepada Enzo.Matahari belum sepenuhnya muncul, tapi mereka sudah harus kembali bergerak cepat. Enzo segera menghubungi seseorang yang bertugas mengatur perjalanan selanjutnya. Tak boleh ada waktu yang sia-sia. Sebab Enzo paham betul kalau Damian pasti sudah sangat teliti dalam menghitung berapa menit lagi mereka boleh berdiri di tempat yang sama.Ponsel yang baru saja Damian pakai untuk menelepon Jonathan, dia tinggalkan begitu saja kepada salah seorang anak buah yang dibiarkan tetap berdiam diri di dermaga. Dia didandani menjadi seorang pekerja kapal yang duduk di atas kotak kayu, menyalakan rokok, dan berpura-pura menunggu waktu melaut. Sinyal telepon itu akan tetap menyala di sana selama beberapa jam ke depan, memberi kesan bahwa Damian masih di sekitar Napoli, sementara dia sendiri sudah jauh melangkah ke arah lain.Mereka bergerak ke utara sebelum pagi benar-benar terik. Mobil yang tampak murah dan pasaran dikendarai menembus jalan-jalan sepi

  • Under His Darkness   14. Diselamatkan oleh Kehancuran

    Satu pesan masuk dari akun seorang wanita yang Nayla kenal. Tanpa sapaan, tanpa basa-basi, dia hanya mengirim satu foto.Nathan.Telanjang.Tertidur di atas ranjang dengan sprei kusut.Dan lengan wanita itu terlihat jelas. Dia berbaring di sampingnya, dan sebagian wajahnya ma

  • Under His Darkness   11. Headline Berita

    Nayla dihantam oleh kebisingan yang tak bersuara. Layar ponsel terus berkedip seperti denyut luka yang masih menganga. Notifikasi berdatangan tanpa jeda, menampakkan ratusan komentar yang menyebut namanya di beberapa unggahan foto Nathan bersama seorang wanita yang dia kenal dengan cukup baik.“Apa

  • Under His Darkness   10. Damian dan Adrian

    Pria berdasi rapi itu tampak sedang menggandeng wanita di sebuah hotel bintang lima. Kamera paparazi tidak seberapa jelas. Siluet buram, cahaya lampu yang terlalu silau, dan bayangan kaca yang membaurkan segalanya. Namun, seluruh dunia pasti bisa menyimpulkan kalau itu memanglah Nathan. Dan wanita

  • Under His Darkness   5. Cerai

    “Cerai?” Suara Nathan terdengar pelan, tapi tajam.Nayla tidak menunduk. Matanya tetap menantang ke arah pria yang dulu pernah dia cintai. Atau lebih tepatnya, dia pikir, pernah dia cintai.“Nayla, jangan bercanda.”“Aku serius,” pungkas Nayla. “Aku sudah memutuskan, lebih baik kita bercerai.”Nath

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status