Short
Upacara Terakhir untuk Cinta yang Telah Pergi

Upacara Terakhir untuk Cinta yang Telah Pergi

By:  FlowerCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
6Chapters
4.0Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Di hari ulang tahunku, aku dan adik angkatku mengalami kecelakaan mobil. Saat api mulai mengoyak tubuhku, tunanganku justru menunjuk ke kursi penumpang dan berseru, "Selamatkan Julia dulu, dia punya penyakit jantung!" Saat terbangun, wajahku hancur sepenuhnya, dan hidupku divonis tinggal satu bulan lagi. Demi kepentingan bisnis kedua keluarga, orang tuaku memutuskan agar adik angkatku menggantikanku untuk menikah. Tunanganku membelai perban di wajahku dengan penuh simpati, lalu berjanji, "Setelah kamu sembuh, posisi Nyonya Rivano tetap akan menjadi milikmu." Aku tersenyum dan menyetujuinya. Bahkan, aku memberikan semua saham, aset properti, hingga karya lukisanku yang belum dipublikasikan sebagai hadiah pernikahan untuk adikku. Bermodalkan lukisanku, dia menjadi seniman besar yang dipuja banyak orang. Saat diwawancarai wartawan, ibuku menangis haru. "Syukurlah dulu bukan dia yang celaka. Kalau nggak, keluarga kami pasti akan kehilangan sosok genius seperti dia!" Tunanganku pun mengumumkan dengan bangga bahwa adikku akan menjadi satu-satunya nyonya di Keluarga Rivano. Akan tetapi, mereka tidak tahu bahwa sang genius yang asli sedang memperhatikan mereka dengan dingin dari sudut ruangan. Dan segala hal yang kuberikan dengan tanganku sendiri itu .... Sejak awal hanyalah tumbal yang kusiapkan untuk membalas dendam.

View More

Chapter 1

Bab 1

Saat aku sadar kembali, beberapa dokter berdiri di samping tempat tidur, menatapku dengan raut wajah murung.

"Luka bakar di paru-parumu sudah terlalu parah, Nona. Waktumu paling lama tinggal satu bulan lagi."

Aku menatap ruang rawat yang kosong, lalu bertanya pelan, "Keluargaku ... apa mereka sudah tahu?"

Dokter itu terdiam sejenak. "Mereka sedang berada di ruang pasien lain."

Ruangan pun kembali sunyi.

Aku mengangguk dan tidak bertanya lagi.

Beberapa saat kemudian, aku baru berkata, "Tolong rahasiakan hal ini."

Setelah dokter pergi, aku menelepon untuk memesan layanan kematian sebulan ke depan.

Baru saja menutup telepon, Aldi Rivano mendorong pintu dan masuk. "Kamu sudah bangun? Bagaimana perasaanmu?"

Aku hanya mengiyakan dengan lirih.

"Wulan, hari pernikahan sudah makin dekat."

"Kamu juga tahu, Keluarga Rivano akan segera memilih pewaris dan syaratnya harus sudah menikah."

"Tapi, dengan kondisimu sekarang, kamu nggak cocok menjadi Nyonya Rivano. Demi kepentingan kedua keluarga, kami memutuskan Julia yang akan menggantikanmu menikah."

"Kami?"

"Ya, orang tuamu dan kakakmu juga setuju."

Aku menoleh, baru sadar mereka semua berdiri di ambang pintu, mengintip ke dalam.

Aku pun kembali menatap ke depan, lalu berkata dengan dingin, "Tapi, aku jadi seperti ini, bukannya karena kamu …."

Belum sempat aku selesai bicara, Aldi sudah menggenggam tanganku dengan erat.

"Wulan, jangan salahkan aku. Julia punya penyakit jantung. Ingat 'kan, waktu itu dia baru naik roller coaster saja sudah dilarikan ke UGD, apalagi kecelakaan mobil ...."

"Kalau dia nggak diselamatkan, dia pasti mati. Sedangkan kamu, meskipun menderita luka bakar, setidaknya kamu masih bertahan hidup."

Benar, aku memang selamat, tetapi paling lama hanya satu bulan.

"Ya, aku mengerti." Aku membalikkan badan. "Lakukan saja seperti yang kalian mau."

Aldi menghela napas lega, lalu memberi isyarat agar anggota keluarga yang lain di luar pintu masuk ke dalam.

Ibu melirik Ayah dengan bangga. "Katamu Wulan nggak akan pernah setuju, tapi dia sudah berubah, nggak sekeras dulu."

Kakakku tersenyum sambil berkata, "Tenang saja, Julia itu berpikiran luas. Bahkan kalau kamu jadi kekasih Kak Aldi, dia juga nggak akan peduli."

"Jangan bicara sembarangan!" bentak Aldi dengan pelan. "Kalau Wulan sudah pulih, semuanya akan kembali seperti semula."

Suara ramai terdengar di belakangku. Aku yang kelelahan hanya menarik selimut, menenggelamkan diri.

Bagi seseorang yang hanya punya waktu satu bulan lagi, banyak hal sudah tidak penting.

Misalnya keluarga, atau tunangan. Selama Julia Gunawan menginginkannya, semuanya bisa kuberikan padanya.

Bagaimanapun juga, aku tidak bisa membawanya pergi.

Aku merapikan semua aset yang kumiliki, lalu menuliskan nama penerima sebagai Julia Gunawan, bersiap mencari hari yang tepat untuk memberikannya padanya.

Beberapa waktu kemudian aku keluar dari rumah sakit. Hari itu, Aldi datang menjemputku dan Julia sudah duduk di kursi penumpang depan.

Aku langsung menyerahkan surat pengalihan aset kepadanya.

Setelah membaca isinya, matanya langsung membelalak. "Apa?! 10 juta dolar? Dari mana kamu dapat uang sebanyak ini? Semuanya kamu berikan padaku?"

Itu hasil diam-diam dari menjual lukisan-lukisanku dulu.

Akan tetapi, sekarang, bagiku itu hanya seperti tumpukan kertas tak berarti.

Aku tidak menjelaskan, hanya tersenyum tipis. "Anggap saja ini hadiah pernikahan untukmu."

Mendengar itu, tangan Aldi yang memegang setir sedikit menegang.

"Itu cuma ...."

"Wah, terima kasih, Kak Wulan!"

Julia memeluk berkas itu dengan gembira sepanjang perjalanan, sementara pria itu tetap diam tanpa sepatah kata pun.

Setelah mobil berhenti, aku baru sadar tujuan kami bukan rumah, melainkan sebuah butik gaun pengantin.

Hari ini adalah hari mereka memilih gaun pengantin pesanan mereka.

Julia berkata ceria, "Kak Wulan, tenang saja, kami nggak akan lama."

"Nggak usah pikirkan aku, kalian pilih saja pelan-pelan."

Setelah berkata begitu, aku menggerakkan kursi rodaku masuk ke dalam toko.

Aldi mengernyit, menatapku dengan perasaan yang rumit.

Di dalam toko, saat Julia sedang mencoba gaun, dia akhirnya tak bisa menahan diri untuk berbicara, "Wulan, kamu melakukan semua ini, apa karena marah padaku?"

"Aku sudah berkali-kali bilang, kalau kamu sembuh nanti, posisi Nyonya Rivano tetap jadi milikmu. Kamu ...."

"Kamu terlalu banyak berpikir." Aku langsung memotongnya. "Aku cuma agak lelah."

Aldi masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi saat itu Julia mengeluh padanya, "Kak Aldi, aku sudah coba banyak, tapi nggak ada satu pun yang aku suka."

Mendengar itu, aku melambaikan tangan untuk memanggil manajer toko, memintanya mengambil gaun pengantin yang dulu pernah aku pesan.

Begitu melihatnya, mata Julia langsung berbinar. "Aku suka ini."

"Ambil saja," kataku pelan.

Aldi mengernyit. "Nggak bisa, kamu sendiri yang mendesainnya selama sebulan."

Benar.

Setiap butir manik, setiap inci kain, semuanya kupilih sendiri.

Akan tetapi, dalam hidup ini, aku tak akan pernah sempat memakainya.

Julia pun ikut berpura-pura sedih. "Aku cuma pengganti, mana pantas memakai gaun yang Kak Wulan rancang sendiri?"

"Sekarang justru kamu yang lebih cocok memakainya." Aku menepuk pelan tangannya. "Menemukan yang benar-benar disukai itu nggak mudah, jadi hargai baik-baik."

Meski sudah sampai sejauh itu, Julia masih saja berlagak iba. "Nanti setelah aku pakai hari Jumat depan, pasti akan kucuci bersih lalu kukembalikan ke Kak Wulan."

Aku melirik kalender. Jumat depan … itu tepat hari terakhir hidupku.

Kebetulan sekali.

Andai saja aku bisa bertahan sampai saat itu, menyaksikan semuanya, baru menutup mata.

Tapi aku tidak lagi seperti dulu, membongkar kepura-puraan Julia.

Karena mereka tidak akan percaya, malah hanya akan menyalahkanku karena dianggap terlalu cemburu dan suka berbohong.

Akan tetapi, sebentar lagi semua orang akan benar-benar melihat sifatnya sebenarnya.

Mereka akan mulai mengingat keberadaanku, penderitaanku, dan pada malam-malam sunyi, menyesali semua yang telah mereka lakukan padaku.

Tapi ... pada saat itu, aku sudah tidak ada lagi.

Inilah rencana balas dendamku.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status