登入Di hari ulang tahunku, aku dan adik angkatku mengalami kecelakaan mobil. Saat api mulai mengoyak tubuhku, tunanganku justru menunjuk ke kursi penumpang dan berseru, "Selamatkan Julia dulu, dia punya penyakit jantung!" Saat terbangun, wajahku hancur sepenuhnya, dan hidupku divonis tinggal satu bulan lagi. Demi kepentingan bisnis kedua keluarga, orang tuaku memutuskan agar adik angkatku menggantikanku untuk menikah. Tunanganku membelai perban di wajahku dengan penuh simpati, lalu berjanji, "Setelah kamu sembuh, posisi Nyonya Rivano tetap akan menjadi milikmu." Aku tersenyum dan menyetujuinya. Bahkan, aku memberikan semua saham, aset properti, hingga karya lukisanku yang belum dipublikasikan sebagai hadiah pernikahan untuk adikku. Bermodalkan lukisanku, dia menjadi seniman besar yang dipuja banyak orang. Saat diwawancarai wartawan, ibuku menangis haru. "Syukurlah dulu bukan dia yang celaka. Kalau nggak, keluarga kami pasti akan kehilangan sosok genius seperti dia!" Tunanganku pun mengumumkan dengan bangga bahwa adikku akan menjadi satu-satunya nyonya di Keluarga Rivano. Akan tetapi, mereka tidak tahu bahwa sang genius yang asli sedang memperhatikan mereka dengan dingin dari sudut ruangan. Dan segala hal yang kuberikan dengan tanganku sendiri itu .... Sejak awal hanyalah tumbal yang kusiapkan untuk membalas dendam.
查看更多Sudut pandang orang ketiga.Setelah pemakaman berakhir, berita tentang Julia bertahan di puncak trending selama setengah bulan.Dia langsung ditahan oleh polisi, menjadi sosok yang dihina banyak orang.Para pembeli yang sebelumnya menawar mahal lukisannya pun satu per satu menggugat ganti rugi. Keluarga Gunawan tiba-tiba dibebani utang besar, Ayah sampai terkena stroke karena marah dan syok.Sementara itu, saham Keluarga Rivano anjlok. Aldi dikeluarkan dari keluarganya dan hampir kehilangan segalanya.Dalam semalam, seluruh semangat hidupnya runtuh.Bahkan saat hanya terlelap sebentar, bayangannya selalu kembali ke hari kecelakaan itu, Wulan terjepit di bawah mobil, menarik ujung celananya sambil memohon, "Aldi, selamatkan aku … tolong … sakit sekali."Akan tetapi, dia justru melepaskan jari-jari Wulan satu per satu, lalu tanpa ragu menarik Julia keluar dari mobil.Adegan itu berulang ribuan kali dalam ingatannya. Seberapa banyak obat penenang pun tak mampu menghapusnya.Keluarga Gunaw
Sudut pandang orang ketiga.Semua orang langsung menoleh bersamaan."Kamu siapa?"Julia mengernyit.Pria itu menunduk dan tersenyum ringan. "Aku cuma orang yang menjalankan urusan untuk Nona Wulan. Aku nggak penting, yang penting adalah isi kotak itu."Satu kalimat itu langsung membangkitkan rasa penasaran semua orang. Kamera-kamera pun serentak tertuju pada kotak tersebut.Kakakku segera berkata, "Kalau begitu, cepat dibuka saja, kita lihat apa yang Wulan tinggalkan untuk Julia.""Jangan!" Julia langsung menyela. "Hadiah pribadi seperti ini sebaiknya dibuka di rumah saja."Ayah menggeleng. "Kamu sudah memberikan penghormatan sebesar itu untuk Wulan di depan publik, masa hadiah darinya untukmu malah disembunyikan?"Sambil berkata begitu, dia langsung maju, mengambil kotak itu, lalu membuka pita pengikatnya.Di dalamnya hanya ada sebuah flashdisk kecil."Pasti rekaman kenangan atau video pesan terakhir," kata Ayah dengan yakin.Dia langsung mencolokkannya ke komputer. Detik berikutnya,
Setelah pesta pernikahan usai, Ayah dan Ibu tiba-tiba berhenti di depan pintu. "Eh, Wulan ke mana?"Mereka melihat ke sekeliling, tetapi tidak menemukan keberadaanku. Kakakku mencibir. "Paling juga nggak kuat menerima kenyataan, lalu sembunyi di sudut sambil menangis."Tiba-tiba Ibu menghela napas. "Mungkin ucapan kita tadi agak keterlaluan. Bagaimanapun, dia baru saja mengalami kecelakaan yang sangat mengerikan."Kakakku menepuk bahu Ibu. "Sudahlah, Bu, jangan terlalu dipikirkan. Biar aku telepon dan minta maaf padanya, oke?"Dia mencoba menelepon, tetapi operator menyatakan bahwa ponselku tidak aktif. Julia merebut ponsel itu dan tersenyum ringan. "Ayah, Ibu, jangan khawatir soal Kak Wulan. Ayo cepat berangkat, kalau tidak, kita akan melewatkan upacara penghargaannya."Begitu mendengar soal penghargaan, Ibu langsung berhenti ragu, tak lagi memikirkan aku, lalu segera naik ke mobil.Akan tetapi, sepanjang perjalanan, suasana tidak seantusias biasanya.Tiba-tiba ponsel Ibu berdering.
Setelah itu, mereka mulai sibuk. Di satu sisi dengan persiapan pernikahan, di sisi lain dengan acara penghargaan Julia.Senyum di wajah mereka makin sering terlihat, sementara tubuhku perlahan melemah. Menjelang malam sebelum pernikahan, aku bahkan sudah tidak bisa makan.Malam itu, Ibu berkata dengan santai, "Wulan, untuk resepsi Julia besok, sebaiknya kamu nggak perlu datang. Kondisimu nggak memungkinkan, nanti kalau kami sibuk, kami nggak bisa mengurusmu."Ayah menimpali, "Kebetulan aku sudah mencarikan dokter spesialis dari luar negeri. Besok kamu bisa pergi menemuinya."Aku hendak bicara, tetapi Julia lebih dulu menepuk meja. "Ayah, Ibu, jangan bicara begitu! Dia kakakku, bagaimana mungkin nggak datang ke pernikahanku.""Tentu saja aku akan datang." Aku tersenyum padanya. "Adikku menikah, mana mungkin kakaknya nggak hadir."Ibu menatapku tidak puas, tetapi aku mengabaikannya dan melanjutkan, "Tenang saja, aku akan diam di sudut, nggak akan ke mana-mana dan merepotkan kalian."Kaka






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.