Teilen

Upacara Terakhir untuk Cinta yang Telah Pergi
Upacara Terakhir untuk Cinta yang Telah Pergi
Flower

Bab 1

Flower
Saat aku sadar kembali, beberapa dokter berdiri di samping tempat tidur, menatapku dengan raut wajah murung.

"Luka bakar di paru-parumu sudah terlalu parah, Nona. Waktumu paling lama tinggal satu bulan lagi."

Aku menatap ruang rawat yang kosong, lalu bertanya pelan, "Keluargaku ... apa mereka sudah tahu?"

Dokter itu terdiam sejenak. "Mereka sedang berada di ruang pasien lain."

Ruangan pun kembali sunyi.

Aku mengangguk dan tidak bertanya lagi.

Beberapa saat kemudian, aku baru berkata, "Tolong rahasiakan hal ini."

Setelah dokter pergi, aku menelepon untuk memesan layanan kematian sebulan ke depan.

Baru saja menutup telepon, Aldi Rivano mendorong pintu dan masuk. "Kamu sudah bangun? Bagaimana perasaanmu?"

Aku hanya mengiyakan dengan lirih.

"Wulan, hari pernikahan sudah makin dekat."

"Kamu juga tahu, Keluarga Rivano akan segera memilih pewaris dan syaratnya harus sudah menikah."

"Tapi, dengan kondisimu sekarang, kamu nggak cocok menjadi Nyonya Rivano. Demi kepentingan kedua keluarga, kami memutuskan Julia yang akan menggantikanmu menikah."

"Kami?"

"Ya, orang tuamu dan kakakmu juga setuju."

Aku menoleh, baru sadar mereka semua berdiri di ambang pintu, mengintip ke dalam.

Aku pun kembali menatap ke depan, lalu berkata dengan dingin, "Tapi, aku jadi seperti ini, bukannya karena kamu …."

Belum sempat aku selesai bicara, Aldi sudah menggenggam tanganku dengan erat.

"Wulan, jangan salahkan aku. Julia punya penyakit jantung. Ingat 'kan, waktu itu dia baru naik roller coaster saja sudah dilarikan ke UGD, apalagi kecelakaan mobil ...."

"Kalau dia nggak diselamatkan, dia pasti mati. Sedangkan kamu, meskipun menderita luka bakar, setidaknya kamu masih bertahan hidup."

Benar, aku memang selamat, tetapi paling lama hanya satu bulan.

"Ya, aku mengerti." Aku membalikkan badan. "Lakukan saja seperti yang kalian mau."

Aldi menghela napas lega, lalu memberi isyarat agar anggota keluarga yang lain di luar pintu masuk ke dalam.

Ibu melirik Ayah dengan bangga. "Katamu Wulan nggak akan pernah setuju, tapi dia sudah berubah, nggak sekeras dulu."

Kakakku tersenyum sambil berkata, "Tenang saja, Julia itu berpikiran luas. Bahkan kalau kamu jadi kekasih Kak Aldi, dia juga nggak akan peduli."

"Jangan bicara sembarangan!" bentak Aldi dengan pelan. "Kalau Wulan sudah pulih, semuanya akan kembali seperti semula."

Suara ramai terdengar di belakangku. Aku yang kelelahan hanya menarik selimut, menenggelamkan diri.

Bagi seseorang yang hanya punya waktu satu bulan lagi, banyak hal sudah tidak penting.

Misalnya keluarga, atau tunangan. Selama Julia Gunawan menginginkannya, semuanya bisa kuberikan padanya.

Bagaimanapun juga, aku tidak bisa membawanya pergi.

Aku merapikan semua aset yang kumiliki, lalu menuliskan nama penerima sebagai Julia Gunawan, bersiap mencari hari yang tepat untuk memberikannya padanya.

Beberapa waktu kemudian aku keluar dari rumah sakit. Hari itu, Aldi datang menjemputku dan Julia sudah duduk di kursi penumpang depan.

Aku langsung menyerahkan surat pengalihan aset kepadanya.

Setelah membaca isinya, matanya langsung membelalak. "Apa?! 10 juta dolar? Dari mana kamu dapat uang sebanyak ini? Semuanya kamu berikan padaku?"

Itu hasil diam-diam dari menjual lukisan-lukisanku dulu.

Akan tetapi, sekarang, bagiku itu hanya seperti tumpukan kertas tak berarti.

Aku tidak menjelaskan, hanya tersenyum tipis. "Anggap saja ini hadiah pernikahan untukmu."

Mendengar itu, tangan Aldi yang memegang setir sedikit menegang.

"Itu cuma ...."

"Wah, terima kasih, Kak Wulan!"

Julia memeluk berkas itu dengan gembira sepanjang perjalanan, sementara pria itu tetap diam tanpa sepatah kata pun.

Setelah mobil berhenti, aku baru sadar tujuan kami bukan rumah, melainkan sebuah butik gaun pengantin.

Hari ini adalah hari mereka memilih gaun pengantin pesanan mereka.

Julia berkata ceria, "Kak Wulan, tenang saja, kami nggak akan lama."

"Nggak usah pikirkan aku, kalian pilih saja pelan-pelan."

Setelah berkata begitu, aku menggerakkan kursi rodaku masuk ke dalam toko.

Aldi mengernyit, menatapku dengan perasaan yang rumit.

Di dalam toko, saat Julia sedang mencoba gaun, dia akhirnya tak bisa menahan diri untuk berbicara, "Wulan, kamu melakukan semua ini, apa karena marah padaku?"

"Aku sudah berkali-kali bilang, kalau kamu sembuh nanti, posisi Nyonya Rivano tetap jadi milikmu. Kamu ...."

"Kamu terlalu banyak berpikir." Aku langsung memotongnya. "Aku cuma agak lelah."

Aldi masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi saat itu Julia mengeluh padanya, "Kak Aldi, aku sudah coba banyak, tapi nggak ada satu pun yang aku suka."

Mendengar itu, aku melambaikan tangan untuk memanggil manajer toko, memintanya mengambil gaun pengantin yang dulu pernah aku pesan.

Begitu melihatnya, mata Julia langsung berbinar. "Aku suka ini."

"Ambil saja," kataku pelan.

Aldi mengernyit. "Nggak bisa, kamu sendiri yang mendesainnya selama sebulan."

Benar.

Setiap butir manik, setiap inci kain, semuanya kupilih sendiri.

Akan tetapi, dalam hidup ini, aku tak akan pernah sempat memakainya.

Julia pun ikut berpura-pura sedih. "Aku cuma pengganti, mana pantas memakai gaun yang Kak Wulan rancang sendiri?"

"Sekarang justru kamu yang lebih cocok memakainya." Aku menepuk pelan tangannya. "Menemukan yang benar-benar disukai itu nggak mudah, jadi hargai baik-baik."

Meski sudah sampai sejauh itu, Julia masih saja berlagak iba. "Nanti setelah aku pakai hari Jumat depan, pasti akan kucuci bersih lalu kukembalikan ke Kak Wulan."

Aku melirik kalender. Jumat depan … itu tepat hari terakhir hidupku.

Kebetulan sekali.

Andai saja aku bisa bertahan sampai saat itu, menyaksikan semuanya, baru menutup mata.

Tapi aku tidak lagi seperti dulu, membongkar kepura-puraan Julia.

Karena mereka tidak akan percaya, malah hanya akan menyalahkanku karena dianggap terlalu cemburu dan suka berbohong.

Akan tetapi, sebentar lagi semua orang akan benar-benar melihat sifatnya sebenarnya.

Mereka akan mulai mengingat keberadaanku, penderitaanku, dan pada malam-malam sunyi, menyesali semua yang telah mereka lakukan padaku.

Tapi ... pada saat itu, aku sudah tidak ada lagi.

Inilah rencana balas dendamku.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Upacara Terakhir untuk Cinta yang Telah Pergi   Bab 6

    Sudut pandang orang ketiga.Setelah pemakaman berakhir, berita tentang Julia bertahan di puncak trending selama setengah bulan.Dia langsung ditahan oleh polisi, menjadi sosok yang dihina banyak orang.Para pembeli yang sebelumnya menawar mahal lukisannya pun satu per satu menggugat ganti rugi. Keluarga Gunawan tiba-tiba dibebani utang besar, Ayah sampai terkena stroke karena marah dan syok.Sementara itu, saham Keluarga Rivano anjlok. Aldi dikeluarkan dari keluarganya dan hampir kehilangan segalanya.Dalam semalam, seluruh semangat hidupnya runtuh.Bahkan saat hanya terlelap sebentar, bayangannya selalu kembali ke hari kecelakaan itu, Wulan terjepit di bawah mobil, menarik ujung celananya sambil memohon, "Aldi, selamatkan aku … tolong … sakit sekali."Akan tetapi, dia justru melepaskan jari-jari Wulan satu per satu, lalu tanpa ragu menarik Julia keluar dari mobil.Adegan itu berulang ribuan kali dalam ingatannya. Seberapa banyak obat penenang pun tak mampu menghapusnya.Keluarga Gunaw

  • Upacara Terakhir untuk Cinta yang Telah Pergi   Bab 5

    Sudut pandang orang ketiga.Semua orang langsung menoleh bersamaan."Kamu siapa?"Julia mengernyit.Pria itu menunduk dan tersenyum ringan. "Aku cuma orang yang menjalankan urusan untuk Nona Wulan. Aku nggak penting, yang penting adalah isi kotak itu."Satu kalimat itu langsung membangkitkan rasa penasaran semua orang. Kamera-kamera pun serentak tertuju pada kotak tersebut.Kakakku segera berkata, "Kalau begitu, cepat dibuka saja, kita lihat apa yang Wulan tinggalkan untuk Julia.""Jangan!" Julia langsung menyela. "Hadiah pribadi seperti ini sebaiknya dibuka di rumah saja."Ayah menggeleng. "Kamu sudah memberikan penghormatan sebesar itu untuk Wulan di depan publik, masa hadiah darinya untukmu malah disembunyikan?"Sambil berkata begitu, dia langsung maju, mengambil kotak itu, lalu membuka pita pengikatnya.Di dalamnya hanya ada sebuah flashdisk kecil."Pasti rekaman kenangan atau video pesan terakhir," kata Ayah dengan yakin.Dia langsung mencolokkannya ke komputer. Detik berikutnya,

  • Upacara Terakhir untuk Cinta yang Telah Pergi   Bab 4

    Setelah pesta pernikahan usai, Ayah dan Ibu tiba-tiba berhenti di depan pintu. "Eh, Wulan ke mana?"Mereka melihat ke sekeliling, tetapi tidak menemukan keberadaanku. Kakakku mencibir. "Paling juga nggak kuat menerima kenyataan, lalu sembunyi di sudut sambil menangis."Tiba-tiba Ibu menghela napas. "Mungkin ucapan kita tadi agak keterlaluan. Bagaimanapun, dia baru saja mengalami kecelakaan yang sangat mengerikan."Kakakku menepuk bahu Ibu. "Sudahlah, Bu, jangan terlalu dipikirkan. Biar aku telepon dan minta maaf padanya, oke?"Dia mencoba menelepon, tetapi operator menyatakan bahwa ponselku tidak aktif. Julia merebut ponsel itu dan tersenyum ringan. "Ayah, Ibu, jangan khawatir soal Kak Wulan. Ayo cepat berangkat, kalau tidak, kita akan melewatkan upacara penghargaannya."Begitu mendengar soal penghargaan, Ibu langsung berhenti ragu, tak lagi memikirkan aku, lalu segera naik ke mobil.Akan tetapi, sepanjang perjalanan, suasana tidak seantusias biasanya.Tiba-tiba ponsel Ibu berdering.

  • Upacara Terakhir untuk Cinta yang Telah Pergi   Bab 3

    Setelah itu, mereka mulai sibuk. Di satu sisi dengan persiapan pernikahan, di sisi lain dengan acara penghargaan Julia.Senyum di wajah mereka makin sering terlihat, sementara tubuhku perlahan melemah. Menjelang malam sebelum pernikahan, aku bahkan sudah tidak bisa makan.Malam itu, Ibu berkata dengan santai, "Wulan, untuk resepsi Julia besok, sebaiknya kamu nggak perlu datang. Kondisimu nggak memungkinkan, nanti kalau kami sibuk, kami nggak bisa mengurusmu."Ayah menimpali, "Kebetulan aku sudah mencarikan dokter spesialis dari luar negeri. Besok kamu bisa pergi menemuinya."Aku hendak bicara, tetapi Julia lebih dulu menepuk meja. "Ayah, Ibu, jangan bicara begitu! Dia kakakku, bagaimana mungkin nggak datang ke pernikahanku.""Tentu saja aku akan datang." Aku tersenyum padanya. "Adikku menikah, mana mungkin kakaknya nggak hadir."Ibu menatapku tidak puas, tetapi aku mengabaikannya dan melanjutkan, "Tenang saja, aku akan diam di sudut, nggak akan ke mana-mana dan merepotkan kalian."Kaka

  • Upacara Terakhir untuk Cinta yang Telah Pergi   Bab 2

    Setelah kembali ke rumah, Julia langsung menunjukkan sifat aslinya.Dia menerobos masuk ke kamarku dan menendang kursi rodaku hingga terguling."Kamu sedang merencanakan apa lagi?"Aku jatuh berlutut di lantai, menahan sakit sambil berpegangan pada dinding untuk berdiri."Dengan keadaanku sekarang, mau merencanakan apa pun sudah nggak ada gunanya, 'kan?"Dia menatapku dari atas ke bawah, mendengus dingin, lalu melangkah mendekat."Jadi, kamu mengaku kalah?"Aku tersenyum pahit. "Ya, aku kalah. Aku kalah total."Hening sejenak. Julia menatapku dengan kening berkerut, seolah melihat orang asing."Aku nggak percaya," katanya. "Kecuali kamu menyerahkan lukisan-lukisan itu padaku."Sejak kecil, karena iri melihatku mendapat perhatian lewat melukis, Julia selalu meniru karyaku.Akan tetapi, dia sama sekali tidak punya bakat. Hasil jiplakannya hanya menyentuh permukaan saja. Meski begitu, dia tidak menyerah, bahkan mulai mencuri lukisanku secara terang-terangan dan membubuhkan namanya sendiri

  • Upacara Terakhir untuk Cinta yang Telah Pergi   Bab 1

    Saat aku sadar kembali, beberapa dokter berdiri di samping tempat tidur, menatapku dengan raut wajah murung."Luka bakar di paru-parumu sudah terlalu parah, Nona. Waktumu paling lama tinggal satu bulan lagi."Aku menatap ruang rawat yang kosong, lalu bertanya pelan, "Keluargaku ... apa mereka sudah tahu?"Dokter itu terdiam sejenak. "Mereka sedang berada di ruang pasien lain."Ruangan pun kembali sunyi.Aku mengangguk dan tidak bertanya lagi.Beberapa saat kemudian, aku baru berkata, "Tolong rahasiakan hal ini."Setelah dokter pergi, aku menelepon untuk memesan layanan kematian sebulan ke depan.Baru saja menutup telepon, Aldi Rivano mendorong pintu dan masuk. "Kamu sudah bangun? Bagaimana perasaanmu?"Aku hanya mengiyakan dengan lirih."Wulan, hari pernikahan sudah makin dekat.""Kamu juga tahu, Keluarga Rivano akan segera memilih pewaris dan syaratnya harus sudah menikah.""Tapi, dengan kondisimu sekarang, kamu nggak cocok menjadi Nyonya Rivano. Demi kepentingan kedua keluarga, kami

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status