Share

Bab 3

Author: Flower
Setelah itu, mereka mulai sibuk. Di satu sisi dengan persiapan pernikahan, di sisi lain dengan acara penghargaan Julia.

Senyum di wajah mereka makin sering terlihat, sementara tubuhku perlahan melemah. Menjelang malam sebelum pernikahan, aku bahkan sudah tidak bisa makan.

Malam itu, Ibu berkata dengan santai, "Wulan, untuk resepsi Julia besok, sebaiknya kamu nggak perlu datang. Kondisimu nggak memungkinkan, nanti kalau kami sibuk, kami nggak bisa mengurusmu."

Ayah menimpali, "Kebetulan aku sudah mencarikan dokter spesialis dari luar negeri. Besok kamu bisa pergi menemuinya."

Aku hendak bicara, tetapi Julia lebih dulu menepuk meja. "Ayah, Ibu, jangan bicara begitu! Dia kakakku, bagaimana mungkin nggak datang ke pernikahanku."

"Tentu saja aku akan datang." Aku tersenyum padanya. "Adikku menikah, mana mungkin kakaknya nggak hadir."

Ibu menatapku tidak puas, tetapi aku mengabaikannya dan melanjutkan, "Tenang saja, aku akan diam di sudut, nggak akan ke mana-mana dan merepotkan kalian."

Kakakku mendengus dingin, "Lebih baik begitu. Kalau kamu macam-macam lagi, aku nggak akan tinggal diam."

...

Keesokan harinya, aku sudah menunggu di bawah sejak pagi.

Julia tersenyum sinis. "Yang nggak tahu, bisa-bisa mengira kamu yang menikah, saking semangatnya."

Aku tersenyum tipis. "Soalnya perban harus dililit berlapis-lapis, jadi aku harus bersiap lebih awal."

Mendengar itu, sorot matanya makin penuh kemenangan. Dia lalu turun dan menjepitkan tanda nama di dadaku, menunjukkan identitasku.

Saat pelayan mendorongku masuk ke aula resepsi, semua mata langsung tertuju padaku.

"Ternyata Julia masih punya kakak? Kok ibunya nggak pernah cerita, ya?"

"Sudah jelas 'kan, pasti karena perbedaannya terlalu jauh."

Beberapa tamu yang tahu hubunganku dengan Aldi hanya bisa menghela napas, memandangku dengan rasa kasihan.

Aku menghindari semua itu, tetap berada di sudut seperti yang kujanjikan.

Tiba-tiba Aldi berjalan ke arahku sambil menggoyang-goyangkan gelas anggurnya.

"Jelas-jelas kamu sendiri yang bersikeras mau datang, kenapa sekarang malah nggak tahan mendengar omongan orang?"

Aku tertawa kesal, tetapi malas menjelaskan lagi. Aku mengangkat gelas sampanyeku untuk bersulang dengannya. "Selamat menempuh hidup baru, Aldi."

Aldi langsung marah. Dia menepis gelasku hingga jatuh.

"Kamu mau bersikap sinis seperti ini sampai kapan? Sudah berapa kali aku bilang aku akan menikahimu, kenapa kamu nggak percaya?"

Dada pria itu naik turun, seolah-olah justru dia yang tersakiti. "Kalau kamu terus begini, hati-hati, aku benar-benar akan menjadikannya sungguhan!"

Saat itu juga, Julia datang dan merangkul lengannya dengan erat. "Sayang, upacara pernikahannya sebentar lagi dimulai."

Mendengar panggilan itu, hatiku justru tidak bergejolak sedikit pun.

Aku duduk di sudut aula, menyaksikan pria yang dulu memberiku begitu banyak janji, kini mengucapkan sumpah pada wanita yang merebut segalanya dariku.

"Julia, aku akan mencintaimu selamanya."

Dia membalas ciumannya, lalu berkata, "Aku juga."

Di bawah panggung, Ibu menangis tersedu-sedu. "Andai saja Julia benar-benar anak kandungku."

Kakakku mengusap air matanya, matanya pun merah. "Ibu bicara apa sih, Julia memang anakmu, adikku, kebanggaan kita semua."

Kebanggaan?

Aku tersenyum tipis, lalu diam-diam berbalik pergi.

Tiba-tiba, Julia memanggil namaku di depan semua orang. "Kak Wulan, kamu nggak ingin mengatakan sesuatu?"

Aku menekan rem kursi roda, perlahan berbalik, menatap pasangan yang nyaris sempurna itu.

Lalu, berkata dengan pelan dan jelas, "Semoga kalian bisa terus bahagia selamanya."

Suasana seketika berubah menjadi hening yang janggal. Mungkin karena ucapanku terdengar kaku atau mungkin karena penampilanku yang terlalu mencolok.

Singkatnya, Ayah dan Ibu tampak tidak senang. Setelah kerumunan bubar, mereka berbalik dan menegurku, "Bahkan mengucapkan selamat saja kamu nggak bisa? Selain bikin malu, apa lagi yang bisa kamu lakukan?"

Kakakku mendengus dingin sambil mendorongku. "Julia itu terlalu baik, sampai-sampai masih mengizinkan orang pembawa sial sepertimu datang ke pernikahan!"

Aku terhuyung, lalu jatuh ke lantai.

Kakakku tertegun sejenak, refleks ingin mengulurkan tangan, tetapi rasa gengsi membuatnya urung menolongku. Dia hanya menegakkan kursi rodaku.

Dengan segenap tenaga, aku merangkak sedikit demi sedikit hingga kembali naik ke kursi roda.

Apa lagi yang bisa kukatakan?

Di mata mereka, aku tidak ada apa-apanya dibanding Julia.

Bahkan ucapan selamat dariku pun dianggap salah.

Aku pergi dalam diam, menggunakan sisa tenaga untuk mendorong kursi roda yang sudah rusak akibat tendangan tadi.

Saat mendongak, aku tiba-tiba melihat Aldi berdiri tidak jauh.

Tatapan kami bertemu sejenak, lalu dia memegang gelas anggur dan berbalik pergi, seolah tidak pernah melihat apa pun.

Di saat itu, sisa kekuatan dalam diriku benar-benar hilang tanpa jejak.

Aku berjalan pelan di jalanan, seperti bayangan tanpa jiwa. Tiba-tiba aku mendongak, melihat puluhan drone perlahan membentuk nama Julia di langit.

Ironis sekali, itu sebenarnya ide yang dulu pernah aku ajukan.

Hanya saja, tak kusangka akhirnya justru menjadi miliknya.

Teleponku berdering, terdengar tawa mengejek dari seberang.

"Baru segini saja sudah nggak tahan dan kabur? Aku bahkan belum selesai bermain."

"Tapi, santai saja, setelah pernikahan ini, masih ada acara penghargaan. Nanti masih ada pertunjukan yang lebih seru."

"Wulan, seumur hidupmu, kamu nggak akan pernah bisa muncul di acara yang sama dengan Aldi lagi."

Ponsel itu terlepas dan jatuh ke tanah, tetapi aku bahkan tidak punya tenaga untuk mengambilnya.

Suara di seberang mulai terdengar kesal. "Ke mana kamu? Kenapa nggak jawab? Sialan, kalau kamu masih diam, jangan harap nanti aku akan mencarikan dokter untukmu! Sekarang di keluarga ini, akulah pemegang kendalinya!"

Setelah keheningan panjang, dia menutup telepon dengan geram.

Saat itu, pintu perlahan terbuka. Seorang pria berjas hitam masuk dan membantuku berdiri.

"Nona Wulan, apa Anda yang memesan layanan kematian?"

Aku mengangguk, lalu dengan lemah menunjuk ke arah kotak kertas di kejauhan.

"Setelah aku mati nanti, tolong putarkan semua yang ada di dalam itu di pemakamanku."

Tanganku pun jatuh lemas di samping tubuh.

Terdengar suara helaan napas pria itu di telingaku.

"Nona Wulan, sepanjang hidup Anda, Anda sudah sangat menderita."

"Sisanya, serahkan saja padaku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Upacara Terakhir untuk Cinta yang Telah Pergi   Bab 6

    Sudut pandang orang ketiga.Setelah pemakaman berakhir, berita tentang Julia bertahan di puncak trending selama setengah bulan.Dia langsung ditahan oleh polisi, menjadi sosok yang dihina banyak orang.Para pembeli yang sebelumnya menawar mahal lukisannya pun satu per satu menggugat ganti rugi. Keluarga Gunawan tiba-tiba dibebani utang besar, Ayah sampai terkena stroke karena marah dan syok.Sementara itu, saham Keluarga Rivano anjlok. Aldi dikeluarkan dari keluarganya dan hampir kehilangan segalanya.Dalam semalam, seluruh semangat hidupnya runtuh.Bahkan saat hanya terlelap sebentar, bayangannya selalu kembali ke hari kecelakaan itu, Wulan terjepit di bawah mobil, menarik ujung celananya sambil memohon, "Aldi, selamatkan aku … tolong … sakit sekali."Akan tetapi, dia justru melepaskan jari-jari Wulan satu per satu, lalu tanpa ragu menarik Julia keluar dari mobil.Adegan itu berulang ribuan kali dalam ingatannya. Seberapa banyak obat penenang pun tak mampu menghapusnya.Keluarga Gunaw

  • Upacara Terakhir untuk Cinta yang Telah Pergi   Bab 5

    Sudut pandang orang ketiga.Semua orang langsung menoleh bersamaan."Kamu siapa?"Julia mengernyit.Pria itu menunduk dan tersenyum ringan. "Aku cuma orang yang menjalankan urusan untuk Nona Wulan. Aku nggak penting, yang penting adalah isi kotak itu."Satu kalimat itu langsung membangkitkan rasa penasaran semua orang. Kamera-kamera pun serentak tertuju pada kotak tersebut.Kakakku segera berkata, "Kalau begitu, cepat dibuka saja, kita lihat apa yang Wulan tinggalkan untuk Julia.""Jangan!" Julia langsung menyela. "Hadiah pribadi seperti ini sebaiknya dibuka di rumah saja."Ayah menggeleng. "Kamu sudah memberikan penghormatan sebesar itu untuk Wulan di depan publik, masa hadiah darinya untukmu malah disembunyikan?"Sambil berkata begitu, dia langsung maju, mengambil kotak itu, lalu membuka pita pengikatnya.Di dalamnya hanya ada sebuah flashdisk kecil."Pasti rekaman kenangan atau video pesan terakhir," kata Ayah dengan yakin.Dia langsung mencolokkannya ke komputer. Detik berikutnya,

  • Upacara Terakhir untuk Cinta yang Telah Pergi   Bab 4

    Setelah pesta pernikahan usai, Ayah dan Ibu tiba-tiba berhenti di depan pintu. "Eh, Wulan ke mana?"Mereka melihat ke sekeliling, tetapi tidak menemukan keberadaanku. Kakakku mencibir. "Paling juga nggak kuat menerima kenyataan, lalu sembunyi di sudut sambil menangis."Tiba-tiba Ibu menghela napas. "Mungkin ucapan kita tadi agak keterlaluan. Bagaimanapun, dia baru saja mengalami kecelakaan yang sangat mengerikan."Kakakku menepuk bahu Ibu. "Sudahlah, Bu, jangan terlalu dipikirkan. Biar aku telepon dan minta maaf padanya, oke?"Dia mencoba menelepon, tetapi operator menyatakan bahwa ponselku tidak aktif. Julia merebut ponsel itu dan tersenyum ringan. "Ayah, Ibu, jangan khawatir soal Kak Wulan. Ayo cepat berangkat, kalau tidak, kita akan melewatkan upacara penghargaannya."Begitu mendengar soal penghargaan, Ibu langsung berhenti ragu, tak lagi memikirkan aku, lalu segera naik ke mobil.Akan tetapi, sepanjang perjalanan, suasana tidak seantusias biasanya.Tiba-tiba ponsel Ibu berdering.

  • Upacara Terakhir untuk Cinta yang Telah Pergi   Bab 3

    Setelah itu, mereka mulai sibuk. Di satu sisi dengan persiapan pernikahan, di sisi lain dengan acara penghargaan Julia.Senyum di wajah mereka makin sering terlihat, sementara tubuhku perlahan melemah. Menjelang malam sebelum pernikahan, aku bahkan sudah tidak bisa makan.Malam itu, Ibu berkata dengan santai, "Wulan, untuk resepsi Julia besok, sebaiknya kamu nggak perlu datang. Kondisimu nggak memungkinkan, nanti kalau kami sibuk, kami nggak bisa mengurusmu."Ayah menimpali, "Kebetulan aku sudah mencarikan dokter spesialis dari luar negeri. Besok kamu bisa pergi menemuinya."Aku hendak bicara, tetapi Julia lebih dulu menepuk meja. "Ayah, Ibu, jangan bicara begitu! Dia kakakku, bagaimana mungkin nggak datang ke pernikahanku.""Tentu saja aku akan datang." Aku tersenyum padanya. "Adikku menikah, mana mungkin kakaknya nggak hadir."Ibu menatapku tidak puas, tetapi aku mengabaikannya dan melanjutkan, "Tenang saja, aku akan diam di sudut, nggak akan ke mana-mana dan merepotkan kalian."Kaka

  • Upacara Terakhir untuk Cinta yang Telah Pergi   Bab 2

    Setelah kembali ke rumah, Julia langsung menunjukkan sifat aslinya.Dia menerobos masuk ke kamarku dan menendang kursi rodaku hingga terguling."Kamu sedang merencanakan apa lagi?"Aku jatuh berlutut di lantai, menahan sakit sambil berpegangan pada dinding untuk berdiri."Dengan keadaanku sekarang, mau merencanakan apa pun sudah nggak ada gunanya, 'kan?"Dia menatapku dari atas ke bawah, mendengus dingin, lalu melangkah mendekat."Jadi, kamu mengaku kalah?"Aku tersenyum pahit. "Ya, aku kalah. Aku kalah total."Hening sejenak. Julia menatapku dengan kening berkerut, seolah melihat orang asing."Aku nggak percaya," katanya. "Kecuali kamu menyerahkan lukisan-lukisan itu padaku."Sejak kecil, karena iri melihatku mendapat perhatian lewat melukis, Julia selalu meniru karyaku.Akan tetapi, dia sama sekali tidak punya bakat. Hasil jiplakannya hanya menyentuh permukaan saja. Meski begitu, dia tidak menyerah, bahkan mulai mencuri lukisanku secara terang-terangan dan membubuhkan namanya sendiri

  • Upacara Terakhir untuk Cinta yang Telah Pergi   Bab 1

    Saat aku sadar kembali, beberapa dokter berdiri di samping tempat tidur, menatapku dengan raut wajah murung."Luka bakar di paru-parumu sudah terlalu parah, Nona. Waktumu paling lama tinggal satu bulan lagi."Aku menatap ruang rawat yang kosong, lalu bertanya pelan, "Keluargaku ... apa mereka sudah tahu?"Dokter itu terdiam sejenak. "Mereka sedang berada di ruang pasien lain."Ruangan pun kembali sunyi.Aku mengangguk dan tidak bertanya lagi.Beberapa saat kemudian, aku baru berkata, "Tolong rahasiakan hal ini."Setelah dokter pergi, aku menelepon untuk memesan layanan kematian sebulan ke depan.Baru saja menutup telepon, Aldi Rivano mendorong pintu dan masuk. "Kamu sudah bangun? Bagaimana perasaanmu?"Aku hanya mengiyakan dengan lirih."Wulan, hari pernikahan sudah makin dekat.""Kamu juga tahu, Keluarga Rivano akan segera memilih pewaris dan syaratnya harus sudah menikah.""Tapi, dengan kondisimu sekarang, kamu nggak cocok menjadi Nyonya Rivano. Demi kepentingan kedua keluarga, kami

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status