MasukSudut pandang orang ketiga.Setelah pemakaman berakhir, berita tentang Julia bertahan di puncak trending selama setengah bulan.Dia langsung ditahan oleh polisi, menjadi sosok yang dihina banyak orang.Para pembeli yang sebelumnya menawar mahal lukisannya pun satu per satu menggugat ganti rugi. Keluarga Gunawan tiba-tiba dibebani utang besar, Ayah sampai terkena stroke karena marah dan syok.Sementara itu, saham Keluarga Rivano anjlok. Aldi dikeluarkan dari keluarganya dan hampir kehilangan segalanya.Dalam semalam, seluruh semangat hidupnya runtuh.Bahkan saat hanya terlelap sebentar, bayangannya selalu kembali ke hari kecelakaan itu, Wulan terjepit di bawah mobil, menarik ujung celananya sambil memohon, "Aldi, selamatkan aku … tolong … sakit sekali."Akan tetapi, dia justru melepaskan jari-jari Wulan satu per satu, lalu tanpa ragu menarik Julia keluar dari mobil.Adegan itu berulang ribuan kali dalam ingatannya. Seberapa banyak obat penenang pun tak mampu menghapusnya.Keluarga Gunaw
Sudut pandang orang ketiga.Semua orang langsung menoleh bersamaan."Kamu siapa?"Julia mengernyit.Pria itu menunduk dan tersenyum ringan. "Aku cuma orang yang menjalankan urusan untuk Nona Wulan. Aku nggak penting, yang penting adalah isi kotak itu."Satu kalimat itu langsung membangkitkan rasa penasaran semua orang. Kamera-kamera pun serentak tertuju pada kotak tersebut.Kakakku segera berkata, "Kalau begitu, cepat dibuka saja, kita lihat apa yang Wulan tinggalkan untuk Julia.""Jangan!" Julia langsung menyela. "Hadiah pribadi seperti ini sebaiknya dibuka di rumah saja."Ayah menggeleng. "Kamu sudah memberikan penghormatan sebesar itu untuk Wulan di depan publik, masa hadiah darinya untukmu malah disembunyikan?"Sambil berkata begitu, dia langsung maju, mengambil kotak itu, lalu membuka pita pengikatnya.Di dalamnya hanya ada sebuah flashdisk kecil."Pasti rekaman kenangan atau video pesan terakhir," kata Ayah dengan yakin.Dia langsung mencolokkannya ke komputer. Detik berikutnya,
Setelah pesta pernikahan usai, Ayah dan Ibu tiba-tiba berhenti di depan pintu. "Eh, Wulan ke mana?"Mereka melihat ke sekeliling, tetapi tidak menemukan keberadaanku. Kakakku mencibir. "Paling juga nggak kuat menerima kenyataan, lalu sembunyi di sudut sambil menangis."Tiba-tiba Ibu menghela napas. "Mungkin ucapan kita tadi agak keterlaluan. Bagaimanapun, dia baru saja mengalami kecelakaan yang sangat mengerikan."Kakakku menepuk bahu Ibu. "Sudahlah, Bu, jangan terlalu dipikirkan. Biar aku telepon dan minta maaf padanya, oke?"Dia mencoba menelepon, tetapi operator menyatakan bahwa ponselku tidak aktif. Julia merebut ponsel itu dan tersenyum ringan. "Ayah, Ibu, jangan khawatir soal Kak Wulan. Ayo cepat berangkat, kalau tidak, kita akan melewatkan upacara penghargaannya."Begitu mendengar soal penghargaan, Ibu langsung berhenti ragu, tak lagi memikirkan aku, lalu segera naik ke mobil.Akan tetapi, sepanjang perjalanan, suasana tidak seantusias biasanya.Tiba-tiba ponsel Ibu berdering.
Setelah itu, mereka mulai sibuk. Di satu sisi dengan persiapan pernikahan, di sisi lain dengan acara penghargaan Julia.Senyum di wajah mereka makin sering terlihat, sementara tubuhku perlahan melemah. Menjelang malam sebelum pernikahan, aku bahkan sudah tidak bisa makan.Malam itu, Ibu berkata dengan santai, "Wulan, untuk resepsi Julia besok, sebaiknya kamu nggak perlu datang. Kondisimu nggak memungkinkan, nanti kalau kami sibuk, kami nggak bisa mengurusmu."Ayah menimpali, "Kebetulan aku sudah mencarikan dokter spesialis dari luar negeri. Besok kamu bisa pergi menemuinya."Aku hendak bicara, tetapi Julia lebih dulu menepuk meja. "Ayah, Ibu, jangan bicara begitu! Dia kakakku, bagaimana mungkin nggak datang ke pernikahanku.""Tentu saja aku akan datang." Aku tersenyum padanya. "Adikku menikah, mana mungkin kakaknya nggak hadir."Ibu menatapku tidak puas, tetapi aku mengabaikannya dan melanjutkan, "Tenang saja, aku akan diam di sudut, nggak akan ke mana-mana dan merepotkan kalian."Kaka
Setelah kembali ke rumah, Julia langsung menunjukkan sifat aslinya.Dia menerobos masuk ke kamarku dan menendang kursi rodaku hingga terguling."Kamu sedang merencanakan apa lagi?"Aku jatuh berlutut di lantai, menahan sakit sambil berpegangan pada dinding untuk berdiri."Dengan keadaanku sekarang, mau merencanakan apa pun sudah nggak ada gunanya, 'kan?"Dia menatapku dari atas ke bawah, mendengus dingin, lalu melangkah mendekat."Jadi, kamu mengaku kalah?"Aku tersenyum pahit. "Ya, aku kalah. Aku kalah total."Hening sejenak. Julia menatapku dengan kening berkerut, seolah melihat orang asing."Aku nggak percaya," katanya. "Kecuali kamu menyerahkan lukisan-lukisan itu padaku."Sejak kecil, karena iri melihatku mendapat perhatian lewat melukis, Julia selalu meniru karyaku.Akan tetapi, dia sama sekali tidak punya bakat. Hasil jiplakannya hanya menyentuh permukaan saja. Meski begitu, dia tidak menyerah, bahkan mulai mencuri lukisanku secara terang-terangan dan membubuhkan namanya sendiri
Saat aku sadar kembali, beberapa dokter berdiri di samping tempat tidur, menatapku dengan raut wajah murung."Luka bakar di paru-parumu sudah terlalu parah, Nona. Waktumu paling lama tinggal satu bulan lagi."Aku menatap ruang rawat yang kosong, lalu bertanya pelan, "Keluargaku ... apa mereka sudah tahu?"Dokter itu terdiam sejenak. "Mereka sedang berada di ruang pasien lain."Ruangan pun kembali sunyi.Aku mengangguk dan tidak bertanya lagi.Beberapa saat kemudian, aku baru berkata, "Tolong rahasiakan hal ini."Setelah dokter pergi, aku menelepon untuk memesan layanan kematian sebulan ke depan.Baru saja menutup telepon, Aldi Rivano mendorong pintu dan masuk. "Kamu sudah bangun? Bagaimana perasaanmu?"Aku hanya mengiyakan dengan lirih."Wulan, hari pernikahan sudah makin dekat.""Kamu juga tahu, Keluarga Rivano akan segera memilih pewaris dan syaratnya harus sudah menikah.""Tapi, dengan kondisimu sekarang, kamu nggak cocok menjadi Nyonya Rivano. Demi kepentingan kedua keluarga, kami







