Share

Bab 2

Penulis: Flower
Setelah kembali ke rumah, Julia langsung menunjukkan sifat aslinya.

Dia menerobos masuk ke kamarku dan menendang kursi rodaku hingga terguling.

"Kamu sedang merencanakan apa lagi?"

Aku jatuh berlutut di lantai, menahan sakit sambil berpegangan pada dinding untuk berdiri.

"Dengan keadaanku sekarang, mau merencanakan apa pun sudah nggak ada gunanya, 'kan?"

Dia menatapku dari atas ke bawah, mendengus dingin, lalu melangkah mendekat.

"Jadi, kamu mengaku kalah?"

Aku tersenyum pahit. "Ya, aku kalah. Aku kalah total."

Hening sejenak. Julia menatapku dengan kening berkerut, seolah melihat orang asing.

"Aku nggak percaya," katanya. "Kecuali kamu menyerahkan lukisan-lukisan itu padaku."

Sejak kecil, karena iri melihatku mendapat perhatian lewat melukis, Julia selalu meniru karyaku.

Akan tetapi, dia sama sekali tidak punya bakat. Hasil jiplakannya hanya menyentuh permukaan saja. Meski begitu, dia tidak menyerah, bahkan mulai mencuri lukisanku secara terang-terangan dan membubuhkan namanya sendiri.

Karena dia terus mengejarku tanpa henti, aku sudah bertahun-tahun tidak melukis lagi. Keluargaku bahkan sempat mengira aku sudah meninggalkan dunia seni.

"Kenapa? Nggak rela? Aku sudah tahu …."

"Oke, aku setuju."

Julia menatapku tak percaya.

Baru setelah lukisan itu satu per satu benar-benar terpampang di hadapannya, dia akhirnya percaya. Senyumnya melebar, hampir tampak menyeramkan.

Dia menjambak rambutku, lalu berkata pelan, tetapi tegas, "Dasar bodoh. Tanpa lukisan, bahkan kalau kamu sembuh pun, kamu nggak akan berarti apa-apa lagi!"

"Kembali ke posisi semula?" Dia mencibir. "Aku susah payah mendapatkan posisi Nyonya Rivano, mana mungkin kuserahkan begitu saja!"

"Tenang saja, di hari pernikahan nanti, aku akan tidur dengan priamu, lalu mengandung anaknya. Aku akan membuatmu benar-benar kehilangan harapan."

Saat itu juga, Ibu memanggil kami dari lantai bawah untuk makan.

Dia tiba-tiba melepaskan cengkeramannya, lalu seketika berubah kembali menjadi sosok gadis anggun seperti biasa.

Di meja makan, dia mengeluarkan salah satu lukisan yang baru saja kuberikan. Ayah dan Ibu begitu terkejut sampai pisau dan garpu mereka terjatuh.

"Julia, sejak kapan kemampuan melukismu setinggi ini?"

Kakakku juga ikut bersemangat. "Aku yakin lukisan ini pasti bisa terjual dengan harga tinggi."

Malam itu juga, kakakku langsung mengunggah lukisan itu ke situs lelang dan tak lama kemudian dibeli oleh seorang kolektor terkenal dengan harga tinggi.

Keesokan paginya, nama Julia bahkan muncul di berbagai forum besar.

Aku menatap mereka yang bersukacita, tetapi hatiku tidak terusik sedikit pun.

Jantungku tinggal beberapa hari lagi sebelum berhenti berdetak.

Dan senyum mereka … apakah akan ikut menghilang?

Dampak dari kejadian ini sangat besar. Beberapa hari berikutnya, para wartawan selalu memadati depan rumah, ingin mewawancarai pelukis genius yang tiba-tiba muncul ini.

Di depan kamera, Ibu sampai menangis haru. "Untung dulu yang terluka bukan dia, kalau nggak, keluarga kami akan kehilangan seorang genius sejati!"

Di hadapan semua orang, dia memberikan kalung berharga peninggalan Nenek kepada Julia.

Padahal kalung itu seharusnya diwariskan kepadaku.

Tatapanku meredup. Tiba-tiba para wartawan mulai menanyakan sumber inspirasi lukisan tersebut.

Julia berpikir sejenak, lalu wajahnya merona malu. "Itu terinspirasi dari tunanganku."

Para wartawan langsung antusias. "Boleh tahu siapa tunangan Anda? Apa dia juga berkecimpung di dunia seni?"

Julia sempat ragu, tetapi Ayah langsung merebut mikrofon dan berkata dengan bangga, "Dia adalah pewaris Grup Rivano, Aldi Rivano!"

Wawancara itu langsung memicu perbincangan hangat. Label nyonya keluarga kaya dan pelukis genius seketika menarik perhatian semua orang.

Bahkan ayah Aldi, Fahmi Rivano, sampai turun tangan sendiri untuk mengonfirmasi identitas Julia sebagai calon menantu Keluarga Rivano.

Tujuan Julia akhirnya tercapai.

Dia menatapku dengan angkuh. "Kak, kamu sudah bertindak terlalu jauh. Sekarang, benar-benar nggak ada jalan kembali."

Aku tersenyum ringan. "Aku memang nggak pernah berniat kembali. Aku sungguh berharap kamu bahagia."

"Kamu!" Julia hendak memukulku, tetapi dia melihat Aldi berdiri di ambang pintu.

"Kak Aldi, kenapa kamu ke sini?" Dia segera menghampiri dan menggandeng lengan Aldi, tetapi pria itu menghindar dengan halus.

Aldi mengusap kepalanya dan berucap lembut, "Kamu keluar dulu, aku ingin bicara dengan kakakmu."

Dengan enggan, Julia pun keluar. Sebelum pergi, dia sempat melotot padaku diam-diam.

Aku membalasnya dengan sebuah senyuman.

"Wulan." Aldi menggenggam tanganku erat. "Jangan salah paham, ini nggak seperti yang kamu kira."

"Awalnya aku ingin tetap diam, tapi Ayah nggak setuju. Dia merasa Julia bisa sangat membantu mempromosikan perusahaan, jadi ...."

"Nggak perlu dijelaskan." Aku menarik tanganku dan melangkah mundur. "Fakta kalau dia akan menikah denganmu sudah jelas. Kamu nggak salah."

"Lagi pula, aku juga tahu."

"Tahu apa?" Keningnya berkerut.

"Aroma parfum melati di pakaianmu yang nggak pernah hilang, bekas lipstik yang sesekali tertinggal di mobil, dan setiap kali bertemu denganku, tatapanmu yang tanpa sadar selalu mencari dia. Aku tahu semuanya."

"Cukup!"

Aldi tampak kesal dan tersinggung, sementara aku tidak ingin melanjutkan pembicaraan itu.

Dengan ekspresi muram, dia pun pergi. Ekspresiku tetap datar, aku berbalik dan mulai melukis.

Sejak Julia mendadak terkenal karena satu lukisan, dia mengancamku, setiap tiga hari, aku harus memberinya satu lukisan baru.

Jika tidak melakukannya, dia akan merebut obatku, membuatku tidak akan pernah sembuh seumur hidup.

Akan tetapi, dia tidak tahu, sebenarnya aku tidak membutuhkan obat itu sama sekali.

Meski begitu, aku tetap menyetujuinya.

Bagaimanapun, sebelum mati, paling banyak aku hanya perlu melukis dua lukisan lagi.

Akan tetapi, dua lukisan itu jelas tidak cukup untuknya seumur hidup. Setelah aku mati nanti, aku justru penasaran apa yang akan terjadi padanya.

Suatu hari, kakakku membuka pintu dan mendapati aku sedang melukis. Dia mencibir. "Kamu benaran cuma bisa meniru mentah-mentah. Dulu, kamu melukis belasan tahun, lalu bilang berhenti. Sekarang, lihat Julia jadi terkenal, langsung pegang kuas lagi. Benar-benar lucu."

"Aku sarankan kamu berhenti saja. Seumur hidup pun kamu nggak akan bisa mengejar jejak Julia."

Tanganku yang memegang kuas terhenti, tatapanku perlahan meredup.

Aku teringat saat pertama kali Julia diadopsi, kakakku masih berdiri di depanku dan memperingatkannya, "Kalau kamu berani menyakiti adikku, aku akan langsung mengembalikanmu ke panti asuhan."

Akan tetapi, seiring dia tumbuh dewasa, semuanya berubah.

Meski dalam segala hal aku selalu lebih baik darinya, semuanya tetap kalah oleh satu hal, Julia punya penyakit jantung.

Bahkan saat mendapat peringkat terakhir dalam lomba, dia bisa memegangi dadanya sambil menangis di hadapan orang tuaku, mengatakan bahwa di saat penting, penyakitnya kambuh hingga membuatnya gagal. Dia sering pingsan, lalu saat sadar kembali, dia menatap semua orang dengan mata merah dan berkata, "Ayah, Ibu, Kakak, aku nggak mau mati. Aku nggak mau meninggalkan kalian."

Keluarga kami pun merasa hancur karenanya. Perlahan mereka mengabaikanku, mencurahkan seluruh perhatian mereka untuk menjaganya.

Julia lalu memanfaatkan kesempatan itu untuk memfitnahku dalam beberapa hal, dengan mudah membalikkan citraku di mata keluarga.

Setelah kakakku pergi, aku duduk lama di ruang lukis, terpaku, lalu menelepon seseorang.

"Hasil penyelidikan kecelakaan itu sudah keluar?"

Di seberang sana terdiam sejenak, lalu menjawab dengan nada berat, "Nona Wulan, kecelakaan ini bukanlah sebuah kebetulan."

"Berdasarkan pemeriksaan kami, pintu belakang telah dimanipulasi hingga terkunci total. Selain itu, dari rekaman CCTV, mobil yang menabrak kalian sengaja menyesuaikan sudut sehingga titik benturan jatuh tepat di sisi pintu tempat Anda berada. Begitu kendaraan terguling, pengemudi bisa melarikan diri dengan mudah. Meskipun kursi penumpang depan ikut terhimpit, tekanan yang diterima jauh lebih ringan daripada yang Anda alami sehingga lebih mudah untuk diselamatkan."

"Nona Wulan, ini adalah pembunuhan yang sudah direncanakan. Apa Anda punya dugaan siapa pelakunya?"

Buku-buku jariku memutih karena genggaman yang kuat. Aku teringat saat setelah pesta ulang tahun berakhir, Julia bilang dia mabuk perjalanan dan ingin duduk di kursi penumpang depan.

Ternyata begitu ....

Aku tidak menjawab pertanyaan detektif itu, hanya memintanya merapikan semua berkas dan mengirimkannya ke emailku.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Upacara Terakhir untuk Cinta yang Telah Pergi   Bab 6

    Sudut pandang orang ketiga.Setelah pemakaman berakhir, berita tentang Julia bertahan di puncak trending selama setengah bulan.Dia langsung ditahan oleh polisi, menjadi sosok yang dihina banyak orang.Para pembeli yang sebelumnya menawar mahal lukisannya pun satu per satu menggugat ganti rugi. Keluarga Gunawan tiba-tiba dibebani utang besar, Ayah sampai terkena stroke karena marah dan syok.Sementara itu, saham Keluarga Rivano anjlok. Aldi dikeluarkan dari keluarganya dan hampir kehilangan segalanya.Dalam semalam, seluruh semangat hidupnya runtuh.Bahkan saat hanya terlelap sebentar, bayangannya selalu kembali ke hari kecelakaan itu, Wulan terjepit di bawah mobil, menarik ujung celananya sambil memohon, "Aldi, selamatkan aku … tolong … sakit sekali."Akan tetapi, dia justru melepaskan jari-jari Wulan satu per satu, lalu tanpa ragu menarik Julia keluar dari mobil.Adegan itu berulang ribuan kali dalam ingatannya. Seberapa banyak obat penenang pun tak mampu menghapusnya.Keluarga Gunaw

  • Upacara Terakhir untuk Cinta yang Telah Pergi   Bab 5

    Sudut pandang orang ketiga.Semua orang langsung menoleh bersamaan."Kamu siapa?"Julia mengernyit.Pria itu menunduk dan tersenyum ringan. "Aku cuma orang yang menjalankan urusan untuk Nona Wulan. Aku nggak penting, yang penting adalah isi kotak itu."Satu kalimat itu langsung membangkitkan rasa penasaran semua orang. Kamera-kamera pun serentak tertuju pada kotak tersebut.Kakakku segera berkata, "Kalau begitu, cepat dibuka saja, kita lihat apa yang Wulan tinggalkan untuk Julia.""Jangan!" Julia langsung menyela. "Hadiah pribadi seperti ini sebaiknya dibuka di rumah saja."Ayah menggeleng. "Kamu sudah memberikan penghormatan sebesar itu untuk Wulan di depan publik, masa hadiah darinya untukmu malah disembunyikan?"Sambil berkata begitu, dia langsung maju, mengambil kotak itu, lalu membuka pita pengikatnya.Di dalamnya hanya ada sebuah flashdisk kecil."Pasti rekaman kenangan atau video pesan terakhir," kata Ayah dengan yakin.Dia langsung mencolokkannya ke komputer. Detik berikutnya,

  • Upacara Terakhir untuk Cinta yang Telah Pergi   Bab 4

    Setelah pesta pernikahan usai, Ayah dan Ibu tiba-tiba berhenti di depan pintu. "Eh, Wulan ke mana?"Mereka melihat ke sekeliling, tetapi tidak menemukan keberadaanku. Kakakku mencibir. "Paling juga nggak kuat menerima kenyataan, lalu sembunyi di sudut sambil menangis."Tiba-tiba Ibu menghela napas. "Mungkin ucapan kita tadi agak keterlaluan. Bagaimanapun, dia baru saja mengalami kecelakaan yang sangat mengerikan."Kakakku menepuk bahu Ibu. "Sudahlah, Bu, jangan terlalu dipikirkan. Biar aku telepon dan minta maaf padanya, oke?"Dia mencoba menelepon, tetapi operator menyatakan bahwa ponselku tidak aktif. Julia merebut ponsel itu dan tersenyum ringan. "Ayah, Ibu, jangan khawatir soal Kak Wulan. Ayo cepat berangkat, kalau tidak, kita akan melewatkan upacara penghargaannya."Begitu mendengar soal penghargaan, Ibu langsung berhenti ragu, tak lagi memikirkan aku, lalu segera naik ke mobil.Akan tetapi, sepanjang perjalanan, suasana tidak seantusias biasanya.Tiba-tiba ponsel Ibu berdering.

  • Upacara Terakhir untuk Cinta yang Telah Pergi   Bab 3

    Setelah itu, mereka mulai sibuk. Di satu sisi dengan persiapan pernikahan, di sisi lain dengan acara penghargaan Julia.Senyum di wajah mereka makin sering terlihat, sementara tubuhku perlahan melemah. Menjelang malam sebelum pernikahan, aku bahkan sudah tidak bisa makan.Malam itu, Ibu berkata dengan santai, "Wulan, untuk resepsi Julia besok, sebaiknya kamu nggak perlu datang. Kondisimu nggak memungkinkan, nanti kalau kami sibuk, kami nggak bisa mengurusmu."Ayah menimpali, "Kebetulan aku sudah mencarikan dokter spesialis dari luar negeri. Besok kamu bisa pergi menemuinya."Aku hendak bicara, tetapi Julia lebih dulu menepuk meja. "Ayah, Ibu, jangan bicara begitu! Dia kakakku, bagaimana mungkin nggak datang ke pernikahanku.""Tentu saja aku akan datang." Aku tersenyum padanya. "Adikku menikah, mana mungkin kakaknya nggak hadir."Ibu menatapku tidak puas, tetapi aku mengabaikannya dan melanjutkan, "Tenang saja, aku akan diam di sudut, nggak akan ke mana-mana dan merepotkan kalian."Kaka

  • Upacara Terakhir untuk Cinta yang Telah Pergi   Bab 2

    Setelah kembali ke rumah, Julia langsung menunjukkan sifat aslinya.Dia menerobos masuk ke kamarku dan menendang kursi rodaku hingga terguling."Kamu sedang merencanakan apa lagi?"Aku jatuh berlutut di lantai, menahan sakit sambil berpegangan pada dinding untuk berdiri."Dengan keadaanku sekarang, mau merencanakan apa pun sudah nggak ada gunanya, 'kan?"Dia menatapku dari atas ke bawah, mendengus dingin, lalu melangkah mendekat."Jadi, kamu mengaku kalah?"Aku tersenyum pahit. "Ya, aku kalah. Aku kalah total."Hening sejenak. Julia menatapku dengan kening berkerut, seolah melihat orang asing."Aku nggak percaya," katanya. "Kecuali kamu menyerahkan lukisan-lukisan itu padaku."Sejak kecil, karena iri melihatku mendapat perhatian lewat melukis, Julia selalu meniru karyaku.Akan tetapi, dia sama sekali tidak punya bakat. Hasil jiplakannya hanya menyentuh permukaan saja. Meski begitu, dia tidak menyerah, bahkan mulai mencuri lukisanku secara terang-terangan dan membubuhkan namanya sendiri

  • Upacara Terakhir untuk Cinta yang Telah Pergi   Bab 1

    Saat aku sadar kembali, beberapa dokter berdiri di samping tempat tidur, menatapku dengan raut wajah murung."Luka bakar di paru-parumu sudah terlalu parah, Nona. Waktumu paling lama tinggal satu bulan lagi."Aku menatap ruang rawat yang kosong, lalu bertanya pelan, "Keluargaku ... apa mereka sudah tahu?"Dokter itu terdiam sejenak. "Mereka sedang berada di ruang pasien lain."Ruangan pun kembali sunyi.Aku mengangguk dan tidak bertanya lagi.Beberapa saat kemudian, aku baru berkata, "Tolong rahasiakan hal ini."Setelah dokter pergi, aku menelepon untuk memesan layanan kematian sebulan ke depan.Baru saja menutup telepon, Aldi Rivano mendorong pintu dan masuk. "Kamu sudah bangun? Bagaimana perasaanmu?"Aku hanya mengiyakan dengan lirih."Wulan, hari pernikahan sudah makin dekat.""Kamu juga tahu, Keluarga Rivano akan segera memilih pewaris dan syaratnya harus sudah menikah.""Tapi, dengan kondisimu sekarang, kamu nggak cocok menjadi Nyonya Rivano. Demi kepentingan kedua keluarga, kami

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status