MasukSophie yang mendengar pernyataan Lucas membalikkan tubuhnya untuk kembali melihat ke arah pria itu yang terlihat sama sekali tidak peduli.
Tapi alih-alih menjawab ia mencoba menelan protesnya, berusaha untuk tidak memperburuk suasana antara dirinya dan Lucas.
Tapi dalam hati ia sudah berjanji ia akan kembali besok. Jika melakukan ini memiliki kemungkinan untuk membuat Lucas merubah pandangannya pada Sophie maka ia akan terus mencobanya.
=
Sophie sama sekali tidak berbohong ketika ia mengatakan bahwa ia akan mencoba kembali. Setelah kejadian kemarin, tekadnya justru semakin kuat.
Hal pertama yang ia lakukan begitu terbangun pagi itu adalah memastikan dirinya menjadi orang yang mengantarkan sarapan untuk Lucas ke ruang kerjanya.
Nampan berisi roti panggang hangat, telur rebus, dan kopi hitam tanpa gula sudah ditata rapi oleh pelayan. Sophie memandangi nampan itu lama, lalu mengulurkan tangannya.
“Aku saja,” ucapnya pelan.
Pelayan yang semula hendak melangkah terhenti. Tatapannya gugup, seolah tak tahu bagaimana harus menanggapi. “T-tapi, Nyonya… Tuan Lucas bilang beliau tidak ingin diganggu.”
Sophie memiringkan kepalanya sedikit. “Apa dia mengatakan secara khusus… bahwa aku yang mengganggunya kemarin?”
Pelayan itu terdiam, jelas bingung. Ada keragu-raguan di wajahnya, tapi Sophie tak memberinya kesempatan. “Berikan saja. Aku yang akan masuk.”
Langkahnya mantap meski jantungnya berdetak kencang. Ia mengetuk pintu ruang kerja Lucas dua kali. Hening. Tidak ada jawaban.
“Aku masuk,” katanya akhirnya, suaranya lirih tapi tegas.
Pintu didorong perlahan.
Saat pintu itu akhirnya di buka, pemandangan Lucas yang sedang bekerja di depan komputernya menyambut Sophie. Tapi pria itu bahkan enggan mengangkat kepalanya untuk menatap Sophie.
“Aku sudah bilang, jangan diganggu,” ucapnya datar.
Sophie menghela nafas pelan dan melangkah masuk sambil menaruh nampan perlahan di meja Lucas. “Ini sarapanmu,” katanya lembut. “Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu tidak melewatkan sarapan.”
Lucas mendongak, menatap Sophie yang berdiri di samping mejanya.
“Sophie,” suaranya dingin, penuh tekanan. “Aku tidak ingat memberimu izin.”
Sophie berusaha tersenyum kecil, meski bibirnya bergetar. “Kamu juga tidak melarangku.”
Alis Lucas terangkat. “Aku jelas-jelas melarangmu. Apa pelayan tidak memberitahumu?”
Sophie menegakkan punggungnya, mencoba terlihat percaya diri saat berbicara. “Kalau ada sesuatu yang ingin kamu katakan padaku… katakan itu dengan mulutmu sendiri.”
Lucas menyipitkan mata. “Apa?”
“Jangan hanya lewat orang lain. Kalau kamu mau aku berhenti, katakan langsung padaku.”
Tangan kiri Lucas yang tadinya memegang secarik kertas menggebrak kertas ke meja, membuat Sophie tersentak.
“Kau kira apa yang sedang kau lakukan?”
Sophie menelan ludah, tetapi berusaha menjawab. “Membawakanmu sarapan.”
“Tidak.” Suaranya meninggi. “Yang kau lakukan adalah terus menggangguku. Apa yang kau inginkan sebenarnya?”
Sophie membuka mulut, ingin menjawab, tapi Lucas lebih cepat.
“Jangan kira hanya karena aku membantumu beberapa kali… lalu aku sekarang berada di pihakmu, Sophie.”
“Pihakku?” Sophie mengulang, nyaris tak percaya. “Bukankah kita suami istri? Kenapa aku tidak bisa menganggap bahwa kamu berada di pihakku?”
Lucas tertawa mengejek. “Apa kau kira aku menikahimu karena aku memilih untuk hidup bersamamu?”
Sophie menegang. Hatinya serasa diremas. “Lalu aku? Kau kira aku punya pilihan? Kau menikahiku saat aku koma. Wanita yang koma tidak bisa memberi persetujuan, Lucas! Aku bisa saja tidak bangun lagi… atau memang itu yang kau harapkan?!”
Lucas berdiri dari tempat duduknya. “Jangan memelintir ucapanku. Kamu kira berpura-pura jadi istri yang baik bisa menghapus kesalahanmu?”
Sophie merasakan darahnya mendidih. Ia mendongak, menatap Lucas dengan tajam.
“Kesalahan apa?!” suaranya bergetar tapi lantang. “Kamu terus mengatakan aku melakukan kesalahan. Tapi kenapa kamu tidak pernah memberitahuku apa yang sebenarnya sudah kulakukan?!”
Lucas tidak menjawab, tapi wajahnya terlihat mengeras sebelum akhirnya ia memalingkan wajahnya.
“Lucas?!”
“Pergilah, kau menggangguku.”
Sophie merasakan matanya memanas saat perkataan Lucas yang kini sudah kembali duduk di kursinya.
Wajah pria kembali terlihat tenang, seolah tidak ada yang terjadi. Sophie yang melihatnya berakhir merasa pria itu sengaja mempermainkannya.
Sophie berjalan kearah pintu, dan dengan sengaja keluar sambil membanting pintu itu dengan kuat.
=
Pintu ruang kerja Lucas kembali dibuka saat makan malam tiba. Lucas mendongakkan kepalanya. Seorang pelayan masuk dan membawakan makan malamnya.
Apa wanita itu akhirnya sadar dan menyerah mengganggunya? Baguslah jika wanita itu akhirnya sadar diri dan berhenti.
“Dimana Sophie?”
Lucas ingin mengabaikannya, tapi wajah Sophie yang memandangnya dengan mata yang memerah pagi tadi membuat pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulutnya.
Pelayan yang baru saja masuk terlihat terkejut dengan pertanyaan Lucas. Hal yang sebenarnya dapat dimengerti karena baru saja kemarin dia memerintahkan agar Sophie tidak diizinkan untuk masuk ke ruangannya lagi
Pelayan itu menatapnya ragu, tapi mata Lucas seolah mendesaknya untuk memberikan jawaban.
“Nyonya Sophie tidak keluar dari kamarnya lagi setelah tadi pagi.”
Lucas terpaku. Matanya membelalak lebar, seolah tidak mempercayai pendengarannya sendiri. Namun perlahan, keterkejutan di wajahnya meluruh, digantikan oleh tatapan yang begitu lembut."Ulangi sekali lagi," pintanya dengan suara serak.Wajah Sophie memanas, semburat merah menjalar hingga ke telinganya. Ia menunduk malu, menghindari tatapan intens suaminya. "Aku sudah mengatakannya dua kali, Lucas."Lucas menangkup wajah Sophie, memaksanya untuk kembali menatapnya. "Sekali lagi saja. Aku ingin mendengarnya."Sophie menarik napas panjang, memberanikan diri. "Aku... men…"Belum sempat kalimat itu selesai, Lucas menunduk dan menyambar bibir Sophie. Ciuman itu dalam, seolah Lucas mencoba menumpahkan segala perasaan yang selama ini tertahan di antara mereka.Saat tautan bibir mereka terlepas, Lucas menempelkan keningnya pada kening Sophie, napas mereka beradu."Sophie, aku juga mencintaimu," bisiknya parau.Lucas memundurkan wajahnya sedikit, memberi jarak agar ia bisa menatap manik mata ist
Tubuh Sophie melayang di udara, matanya terpejam rapat, pasrah pada hantaman yang tak terelakkan.Namun, apa yang ia harapkan tidak terjadi. Alih-alih rasa sakit dari benturan beton yang dingin, Sophie merasakan sepasang lengan menangkap tubuhnya di udara dengan sentakan keras. Napas hangat menerpa wajahnya, diikuti oleh aroma yang sangat ia kenali.Lucas.Pria itu berhasil melompat menaiki beberapa anak tangga terbawah dan menangkap Sophie tepat sebelum tubuh istrinya menghantam beton. Keduanya terhuyung hebat, tapi Lucas berhasil mehan tubuhnya sendiri untuk tetap berdiri sambil tetap menahan Sophie.“Lucas…?” bisik Sophie, suaranya gemetar hebat. Ia mencengkeram kemeja Lucas sekuat tenaga, belum berani membuka mata sepenuhnya.“Aku di sini.” jawab Lucas parau. Napasnya memburu, jantungnya berdegup kencang seolah ingin meledak di dalam dada. Ia mendekap kepala Sophie ke dadanya.Ketika Lucas mendongak, tatapannya yang terarah pada Maya dan Elena begitu mematikan.Di sana, Maya berdi
Malam telah larut ketika Sophie akhirnya mematikan lampu di ruang kerja barunya. Keheningan menyelimuti ruangan besar yang kini sepenuhnya menjadi miliknya itu.Sophie meregangkan tubuhnya, tumpukan dokumen perusahaan yang menggunung seharian ini akhirnya selesai ia periksa. Meski lelah, ada kepuasan tersendiri yang menjalar di dadanya.Ia melirik ponselnya yang bergetar di atas meja mahoni. Sebuah pesan singkat dari Lucas baru saja masuk.[Aku sudah dekat.]Senyum kecil terukir di bibir Sophie. Lucas, dengan segala sifat protektifnya, seolah tahu bahwa Sophie sedang bersemangat untuk segera pulang. Pria itu benar-benar tidak bisa mengabaikannya sedikit pun bahkan walau ia masih marah.Dengan langkah ringan, Sophie menyambar tasnya dan berjalan keluar ruangan. Lobi gedung Elman Corp sudah sepi. Pencahayaan utama telah dimatikan, menyisakan lampu yang hidup di beberapa tempat. Hanya ada satu dua penjaga keamanan yang mengangguk hormat saat Sophie lewat.Pintu kaca otomatis terbuka. Ud
Suara pena yang digoreskan di atas kertas terdengar begitu nyaring di ruang rapat yang sunyi itu. Tidak ada percakapan basa-basi, tidak ada senyum ramah tamah. Hanya ada ketegangan yang mengisi ruangan.Sophie duduk di ujung meja, menatap lurus ke arah ayah dan sepupunya. Di hadapannya, tergeletak dokumen pengambilalihan penuh Elman Corp.Sophie akhirnya telah mengambil alih perusahaan itu sepenuhnya untuk dilebur ke dalam Campbell Industries.“Ini gila, Sophie!” Matthew akhirnya meledak. Ia membanting pulpennya ke meja, wajahnya memerah karena amarah dan rasa malu. “Kau tidak bisa menghapus nama ‘Elman’ dari perusahaan ini! Kakek membangunnya dari nol! Aku bekerja keras siang malam untuk…”“Bekerja keras untuk apa?” potong Sophie dingin. Tatapannya tajam, menusuk langsung ke mata Matthew yang bergetar. “Untuk menyalurkan dana ke rekening penipu? Untuk memalsukan laporan keuangan? Atau untuk menjual informasi tentang sepupumu sendiri demi menutupi kebodohanmu?”Matthew tercekat. Mulut
Lucas melangkah masuk ke ruangan Sophie tak lama setelah sambungan telepon itu terputus. Sorot matanya masih sedingin pagi tadi, namun kehadirannya di sana adalah bukti bahwa Lucas tidak mengabaikan Sophie sepenuhnya.“Apa yang mereka katakan?” tanya Lucas datar, menyembunyikan kekhawatirannya di balik suaranya.Sophie menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya. “Mereka ingin menyerahkan Elman Corp padaku,” ujarnya pelan, Sophie terdiam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. “Sepenuhnya… dan tanpa syarat.”“Oh,” tanggap Lucas singkat, wajahnya tak terbaca.Sophie menatap suaminya dengan ragu. “Bagaimana menurutmu, Lucas?”“Terserah padamu,” jawab Lucas acuh tak acuh, seolah keputusan besar itu hanyalah masalah sepele.Sophie menghela napas, ada kekecewaan tipis keluar dari dalam dirinya melihat respon dingin itu. Namun, fakta bahwa Lucas membiarkannya mengangkat telepon dari ayahnya, bahkan menyusulnya ke ruangan ini untuk bertanya langsung, cukup menjadi bukti bagi Sophi
“Tidak mungkin!” seru Matthew, suaranya meninggi karena panik yang tak bisa lagi ia bendung.Ia melempar dokumen di tangannya ke atas meja dengan kasar. “Paman, Sophie membenci kita! Dia bahkan tidak sudi melihat wajah kita lagi. Paman lupa perjanjian yang Paman tanda tangani dengan Lucas Campbell? Kita dilarang mendekatinya!”Robert tertawa, namun tawa itu terdengar hampa. Ia bangkit dari sofa, berjalan pelan menuju jendela besar yang menghadap ke kota, membelakangi Matthew.“Perjanjian itu dibuat karena kita berada di posisi yang lemah, Matthew. Tapi keadaan sudah berubah. Sekarang, kita bukan hanya lemah, kita sedang sekarat,” ujar Robert tanpa menoleh.“Dan soal kebencian… uang dan kekuasaan bisa menyembuhkan banyak luka lama. Jika aku menawarkan posisi ini padanya, posisi yang seharusnya menjadi hak lahirnya, dia mungkin akan mempertimbangkannya.”“Tapi aku CEO-nya di sini!” bantah Matthew, wajahnya memerah padam. “Aku yang menjalankan perusahaan ini selama dia koma! Aku yang…”“







