LOGIN“Maaf pak Yaka, Anda dipecat tak hormat atas perintah CEO,” saat esok paginya masuk kantor dengan wajah lusuh karena tak tidur, Yaka mendapat kejutan dari satpam. Bahkan bukan dipanggil ke HRD, atau setidaknya resepsionis, ini satpam yang langsung menghampiri saat dia turun dari mobil!
Yaka sadar, CEO kantornya adalah paman Husni, sahabat papanya.
Dan masalah hukum di kantor ini semua ditangani law firm sang papa.
“Ini surat PHK nya, dan setahu saya, pak Ikhsan Caturangga sudah memberitahu pada beberapa rekanan agar tak menerima Anda bekerja di kantor mereka bila tak ingin dipersulit pak Ikhsan Caturangga,” Kusno, manager HRD memberikan amplop berlogo perusahaan pada Yaka.
‘Bagaimana bisa secepat itu?’
‘Nadia baru mengeluh sakit dua hari lalu dan aku tinggal dia di rumah demi mengurus Rahma, dan aku pulang ke rumah kemarin pagi.’
‘Kemarin aku masih bekerja, malah meeting dadakan.’
‘Kemarin sore aku kembali ke rumah Rahma, malamnya papa datang ngelabrak, dan ternyata pagi ini semua berkas di kantor sudah siap?’
Yaka keluar ruang HRD dengan gontai. Tak bisa lagi melawan d0minasi sang papa.
Masih pagi, dia tak tahu harus kemana, dengan surat PHK di tangannya, tanpa pesangon, tanpa surat pengalaman kerja.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Nadia, kamu dimana Sayang?”
“Aku tak pernah selingkuh,” gumam Yaka lirih, dia masih duduk terpaku di mobil yang tetap terparkir di kantornya, lebih tepat mantan kantornya.
“Wait, papa teriak, Rahma selalu memanasi Nadia?” Yaka baru sadar, ucapan papanya semalam belum dia cerna, walau dia dengar ocehan para tetangga Rahma, sebab semalam dia lebih fokus kalau papanya sudah memproses akta cerai dirinya, juga tentang Nadia yang keguguran.
Anak yang dia dan Nadia tunggu setelah 15 bulan pernikahan.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Baik, apa pun yang terjadi aku harus ketemua Nadia,” Yaka melajukan mobilnya ke rumah mertuanya. Dia siap menerima caci maki dua mertuanya dan Nadia, bahkan bila ayah mertuanya akan memukulnya dia tak akan melawan. Yang penting bisa bersua dengan kekasih hati.
“Maaf den Yaka, sejak 3 hari lalu, ibu dan bapak tak pernah pulang, sejak ditelepon mbak Nadia,” jelas pembantu rumah mertuanya.
“Apa Mbok tahu, Nadia dirawat di rumah sakit mana?” Pancing Yaka.
“Waktu pertama masuk ke RSIA Kasih Bunda, rumah sakit terdekat dari rumah den Yaka, tapi katanya terus pindah ke RSIA Ayah Bunda, tempat ibu kerja, sebab non Nadia perdarahan sangat banyak,” jelas simbok.
‘Berarti benar Nadia keguguran, kalau dengar cerita simbok bahwa Nadia perdarahan,’ sesal Yaka dalam batinnya.
‘Pantas mama dan papa sangat murka, sebab aku tak peduli pada Nadia yang mengeluh mulas, aku malah panik dengan kondisi kram perut yang Rahma kabarkan,’ Yaka sangat ingat amarah mama dan papanya semalam.
‘Aku hanya menjalankan wasiat Bagas sebelum meninggal, agar menjaga adiknya.’
‘Bagas telah menyelamatkanku, dia mengusir ular cobra yang mau menyerangku, sehingga malah dia yang kena gigit.’
‘Bagas meninggal karena aku, apa aku salah menjaga adiknya, sesuai permintaan Bagas sebelum meninggal?’
Yaka ingat, saat pesta anniversary pernikahan pertama, dia meninggalkan pesta demi Rahma, dan besoknya mama serta papanya mengecam habis-habisan.
‘Mama dan papa tak percaya kalau aku tak cinta Rahma dan pengorbananku meninggalkan pesta terlalu berlebihan bagi orang yang tak mencintai seperti yang aku jelaskan.’
‘Mama dan papa saja tak percaya, terlebih Nadia.’
‘Untung sehabis itu Nadia mau aku bujuk, sehingga rumah tangga kami bisa aman.’
‘Aku tak menyangka kalau kemarin Nadia sangat butuh ke rumah sakit, dia lebih perlu perhatianku daripada Rahma yang saat aku tiba di rumahnya sudah tak merasakan kram perut lagi,’ Yaka baru mulai merasa menyesal.
“Anakku.”
“Nadia sangat marah karena dia keguguran, dia bahkan tak mengabarkan aku, kalau dia dirawat karena keguguran. Aku tak bisa membujuknya lagi, terlebih papa sdh memproses perceraian kami.”
“Sekarang aku harus cari Nadia dimana?” Yaka kalut.
Selama surat cerai belum turun, dia berharap bisa minta maaf jadi Nadia membatalkan perceraian, atau bila surat sudah keluar, sebelum 30 hari kan bisa dibatalkan, begitu pikirnya.
Sungguh Yaka tak percaya, akibat memperhatikan adik penolongnya, rumah tangganya harus kandas!
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Kamu nggak sadar kan dimanfaatin sama keluarganya Soraya Caraka?”
“Sekarang logikanya dimana Rahma punya foto kamu lagi makein sepatu?”
“Rahma punya foto kamu lagi nyelimutin dia dan terlihat dengan tatap mendamba.”
“Rahma juga punya foto kamu lagi kecup kening dia.”
“Belum lagi Rahma punya foto kamu lagi pegang perut dia.”
“Selain itu, Rahma punya foto kamu lagi nyuapin dia!”
“Kalau bukan memang ibunya yang ngatur agar ada foto tersebut? Bagaimana semua bisa ada?”
“Jadi memang seperti yang ibumu bilang, keluarga itu keluarga nggak bener,” ucap seorang tetangga Soraya Caraka, ketika bertemu dengan Nayaka di kedai kopi pinggir jalan, dia perlihatkan semua foto hasil screenshot yang awalnya Ikhsan berikan pada seorang tetangga Rahma, lalu bergulir terus, tanpa bisa dibendung.
Nayaka sangat geram membaca semua kalimat Rahma pada Nadia, dia tak membayangkan bagaimana sabarnya Nadia menyimpan semua itu sendirian.
“Tapi para tetangga belum tahu peranan Pak Achmad dalam hal itu. Kami merasa pak Achmad bukan sosok yang jahat.”
“Tapi kalau peranan Bu Soraya Caraka sudah jelas, sangat jelas dia dalang semua foto itu.”
“Kalau kita lihat dari ucapan ibumu dan ucapan papamu, jelas, sangat jelas Rahma mengirim banyak foto untuk istrimu untuk menghancurkan rumah tanggamu.”
“Seperti kata mamamu sejak mereka berteman dulu Ibu soraya itu hobinya ngerebut pacar mamamu kecuali papamu karena mamamu diam-diam ketika pacaran dengan papamu sampai menikah.”
“Jadi memang kamu aja yang terlalu bodoh dengan mengedepankan jasanya Bagas demi alasan apa pun di atas kepentingan keluarga.”
“Sampai kamu kehilangan rumah tanggamu. Sampai kamu kehilangan anakmu, kehilangan istrimu, kehilangan orang tuamu dan yang paling pasti kamu kehilangan masa depan karena sekarang kamu mau kerja di mana?”
“Mungkin bisa sih kerja asal kerja tapi kan nggak seperti yang sekarang kamu dapatkan.”
“Di tempat lain juga belum tentu seperti itu.”
“Selamat lah kamu memang sudah masuk dalam kubangan Soraya Caraka dan Rahma,” tutup lelaki itu puas, melihat wajah Yaka yang tak percaya melihat semua bukti screenshot dari Rahma.
YaKa makin kesal mengingat bagaimana dia bisa lebih mementingkan Rahma dengan alasan Rahma tidak mau makan, dengan alasan Rahma kedinginan sehingga akhirnya ada foto-foto tersebut foto ketika yaka menyuapi, foto ketika Yaka menyelimuti karena Rahma bilang kedinginan dan Rahma juga minta ucapan terima kasih Yaka kepada Bagas diberikan dengan cara Yaka mengecup keningnya.
“Bagaimana bisa kondisi seperti itu difoto kalau memang tidak direncanakan lebih dulu?”
Jadi memang benar, Yaka benar-benar terjebak kubangan soraya dari Rahma!
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Namun semua orang di ruangan itu tahu, itu hanyalah alasan klasik untuk menutupi kondisi keuangan mereka yang sebenarnya, sangat kontras dengan kemapanan mutlak yang ditunjukkan oleh Aditya.Nenden yang sedang duduk di sofa ruang tamu langsung mengetatkan rahangnya. Jemarinya mencengkeram erat ritsleting tas jinjingnya hingga buku-buku jarinya memutih. Dadanya bergemuruh hebat dihantam rasa dongkol dan malu yang luar biasa.‘T‘ua bangka ini benar-benar sengaja mempermalukan aku di depan semua orang!’maki Nenden dalam hati, melotot tak senang ke arah lantai granit. Kamar tamu yang tadi disiapkan pembantu untuknya mendadak terasa seperti penjara penghinaan. Dia merasa dikuliti hidup-hidup, niatnya pamer mencari alasan belum beli mobil baru, justru patah total oleh kemapanan Aditya yang tanpa beban menambah mobil keluarga tanpa perlu menjual mobil sport-nya.Anwar, suami Nenden, hanya bisa menunduk dalam-dalam di kursinya.
Di kediaman Galih dan Hanum ini, sama sekali tidak ada aktivitas atau kegiatan yang heboh layaknya rumah yang akan menggelar pesta besar. Suasana rumah terasa tenang dan lengang dari riuh kepanikan, sebab seluruh rangkaian acara resepsi sepenuhnya akan dilangsungkan di hotel, mulai dari dekorasi, katering, hingga urusan tata rias.Kesibukan yang ada di dalam rumah sore itu murni hanya seputar persiapan menyambut kedatangan keluarga besar yang berjanji akan berkumpul nanti malam. Bau harum cairan pembersih lantai beraroma lavender menguar lembut ke seluruh penjuru ruangan, bercampur dengan embusan angin sore yang sejuk dari jendela-jendela besar yang sengaja dibuka lebar. Di dapur, hanya ada bunyi denting pelan dari cangkir-cangkir teh yang sedang dicuci dan ditata rapi di atas nampan kayu oleh asisten rumah tangga, disiapkan untuk menyambut obrolan hangat keluarga nanti malam.Tidak ada tenda yang terpasang di halaman, tidak ada tumpukan piring sewaan, pun tidak ada hilir mudik teta
"Dia sengaja mengundangku?! Dari mana dia dapat alamatku ini?!" pekik Rahma histeris. Tangannya gemetar hebat saat memegang selembar undangan fisik yang baru saja diantarkan ke rumahnya.Itu adalah undangan resepsi pernikahan Aditya dan Nadia yang akan diselenggarakan sepuluh hari lagi di sebuah hotel bintang lima paling bergengsi. Dari model undangannya saja sudah terlihat jelas bahwa itu adalah pernikahan super mewah. Desainnya begitu elegan, menggunakan material premium yang tebal dengan sentuhan tinta emas timbul, satu lembar biaya cetak undangan itu saja pastilah sangat mahal, mungkin setara dengan jatah belanja makannya berhari-hari.Pikiran Rahma langsung berputar liar penuh ketakutan. ‘Jadi, bukan hanya nomor ponselku saja yang selalu bocor entah ke siapa sampai aku terus-menerus diteror pesan sindiran, bahkan Nadia juga tahu keberadaan rumah kumuhku ini?’Rahma terduduk lemas di lantai, seluruh badannya gemetaran. Sungguh, dia sama
Aditya meletakkan cangkir kopinya ke atas meja dengan ketukan yang pelan namun tegas. Dia membetulkan posisi duduknya, lalu menatap ayah, ibu dan keempat eyangnya satu per satu dengan sorot mata yang luar biasa tajam dan berwibawa."Ibu dan ayah, juga Eyang semua, saya minta dengan sangat, ini adalah pertama dan terakhir kalinya pertanyaan seperti itu terdengar di keluarga kita," ucap Aditya, memotong jalur pembicaraan dengan intonasi yang begitu dingin dan serius.Byan, ayahnya, sempat terkejut melihat reaksi putranya. "Maksudmu bagaimana, Dit? Ibu kan cuma tanya wajar,""Tidak ada yang wajar jika itu berpotensi membedakan anak-anak saya, Yah," potong Aditya cepat tanpa berniat tidak sopan, namun dia harus mengunci komitmen ini sejak dini."Bagi saya, Anya dan Angga adalah anak kandung saya. Sejak saya menjatuhkan pilihan pada Nadia, detik itu juga saya sudah mengambil tanggung jawab penuh atas kedua anak itu di hadapan Allah. Mereka darah daging s
"Tapi, penyesalan memang selalu datang di akhir. Kalau datang di awal, pendaftaran namanya," Nayaka terus mendesis sendiri, menertawakan pepatah kuno yang kini terasa begitu nyata dan kejam menghancurkan hidupnya.Pria itu benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa dirinya yang berpendidikan tinggi lulusan S2 London bisa terperosok sangat dalam ke dalam lubang kehancuran.Logikanya dulu benar-benar buta, sampai-sampai ia dengan tega mengabaikan perasaan Nadia, perempuan yang sekarang baru dia sadari sangat dia cintai, namun tak akan pernah bisa dia miliki lagi selamanya.Semua celah sudah tertutup rapat. Ikhsan, papanya sendiri, yang waktu itu turun tangan mengatur proses perceraiannya dengan Nadia hingga jatuh talak tiga. Secara hukum agama, selama Nadia belum menikah lagi dengan pria lain lalu bercerai secara sah tanpa rekayasa, maka Nayaka dan Nadia tidak akan pernah bisa rujuk atau menikah kembali.‘Tunggu, belum menikah lagi lalu b
‘Bagaimana kabar pelacvrdan anakmu? Bahagiakah kamu dengan kehidupanmu bersama keluargamu? Eh, anakmu dengan Rahma bagaimana? Apa kamu bisa bahagia seperti Nadia yang telah menikah lagi dengan seorang pemuda bujangan, yang tiga tahun berturut-turut menjadi arsitek teladan nasional dan arsitek terbaik Asean. Apa peran pendidikan S2-mu di London terhadap pola pikirmu?’Nayaka hanya bisa pasrah membaca rentetan pesan tajam yang masuk ke nomor ponselnya. Tidak ada niat, pun tidak ada sisa energi untuk membalas atau sekadar memblokir nomor-nomor yang kerap mengirimkan sindiran serupa.Di titik ini, Nayaka sungguh tidak memiliki harapan lagi untuk bangkit. Semangat hidupnya telah padam. Kadang, sempat terlintas di benaknya untuk bergerak mencari uang yang banyak. Dia tahu betul, jika ada kemauan dan kerja keras, penghasilan dari menarik taksi onlinesebenarnya sangat besar dan menjanjikan.Namun, setiap
“Apaaaaaa?” “Apakah itu benar?” Yaka kaget saat mendengar info, minggu lalu Nadia baru saja melaksanakan aqiqah, dan kedua orangtuanya hadir. Secara berkala memang Yaka terus mencari info keberadaan Nadia di rumah orang tuanya mau pun di rumah mertuanya. Alasan Yaka terus mencari di rumah orang t
Kembali dari kebingungan, Yaka memilih kembali ke rumah, ingin istirahat sambil memikirkan langkah apa yang akan dia tempuh, dan melempar lamaran kemana setelah ini.“Mengapa rumah kosong seperti ini?” Yaka kaget ketika masuk ke rumahnya semua furniture sudah tidak ada.Tidak ada sofa tidak ada nak
“Silakan masuk,” Soraya Caraka, mama Rahma mempersilakan Fitriyani sahabatnya semenjak SMA, sekaligus mama Yaka untuk masuk ke rumahnya.“Tak perlu, suruh saja Yaka keluar sebentar,” Ikhsan Caturangga, papa Yaka bersuara sangat keras, sehingga Yaka yang ada di ruang makan mendengar itu. Dan past
“Ada apa?” tanya Fitriyani Bramantyo atau Fitri, mama Yaka kepada Hanum Suryawijaya bunda Nadia, besannya. Tumben siang, jam kantor besannya menghubungi. Dia tahu besannya sebagai suster punya jam kantor, beda dengan dirinya yang tak punya jam kantor, sebab dia hanya mengelola rumah kost.“Aku tak







