Home / Mafia / Velvet Bloodline / Part 04 : Gambling

Share

Part 04 : Gambling

Author: Cloudberry
last update publish date: 2025-11-05 18:31:44

Kesia tersenyum sinis melewati kerumunan orang-orang. Klub petarung ini benar-benar luar biasa.

Ia tidak habis pikir mereka (club petarung makau) ternyata menyewa satu sayap sendiri, menyulapnya menjadi arena pertarungan, menyatu dengan jaringan kasino besar.

Pintu masuknya bahkan berada di antara keramaian orang-orang berjudi. Tidak semua orang bisa melewati pintu masuknya. Orang yang melintas akan menganggapnya sebagai ruangan khusus penjudi kelas atas, bukan level mereka.

Jika bukan Callum yang mengantarnya ia tidak akan pernah bisa masuk kedalamnya. Sungguh sebuah supremasi club petarungan yang luar biasa.

Kesia tahu kebanyakan club petarung akan berada di sebuah bangunan hotel mewah atau club beach. Tapi ia tidak pernah menyangka jika ada tempat seperti ini, di makau.

Kesia kerap kali menginjakkan kakinya ke tanah bekas kekuasaan portugis itu. Memenuhi permintaan kliennya untuk menerjemahkan bahasa.

Namun, ini adalah kali pertamanya menapakkan kakinya di sebuah club petarungan. Biasanya Kesia hanya berlatih di club tinju/Tai Chi/Karate biasa di waktu senggangnya.

Hari ini Tuan Lachlan dan putra keempatnya, membuat sesi latihan seorang Kesia sedikit berbeda.

"Hai...cantikk...kemarilah..." sapa salah satu pengunjung yang berada di meja taruhan.

Kesia mengayunkan kakinya menghampiri meja taruhan. Bukan karena pria asing tersebut memanggilnya. Tapi karena Tuan Callum ada disana. Kesia berdiri disebelahnya mengambil ahli chip taruhan milik Callum.

"Heiii...gadis muda? Apa kamu bisa bermain?" Seloroh pria asing tersebut melihat Kesia menarik semua chip milik rekannya.

"Gadis desa seperti dia mana tahu cara bermain. Atau jangan-jangan bahkan ia tidak pernah memegang kartu?" Celetuk seorang wanita diseberang sana, Kesia meliriknya sekilas.

"Bagaimana kalau kita lihat saja?" Kesia menjeda kalimatnya mengangkat sudut bibirnya pelan, tersenyum sinis. "Kita lihat siapa yang sebenarnya tidak bisa bermain!?" Suara pelan, tapi harmoni yang ia keluarkan setajam silet.

"Maksudmu apa?!" Nadanya naik satu oktaf, menatap sengit Kesia. "Dasar wanita kampung!" Cibir perempuan asing yang tampak tidak asing bagi Kesia.

Perempuan diseberang sana adalah Nayla Wilson sahabat dekat Emilia Vladimir putri sah Tuan Vladimiri Lachlan dengan sang istri Nyonya Eavi Li.

"Bagaimana jika bermain saja? Buktikan siapa yang sebenarnya tidak bisa bermain sama sekali?!" Mengetuk-ngetuk meja dengan buku- buku jarinya, menantang lawannya. Menunjuk kan seolah dialah pemain terhebat.

"Siapa takut?! Bermain dengan gadis desa sepertimu, bukanlah apa-apa. " tepat seperti keinginan Kesia, Nayla mulai menaikkan egonya sedikit demi sedikit.

"Heyy...apa kamu benar-benar bisa bermain, girl?" Callum berbisik ditelinga adik angkatnya, menyikut lengannya pelan.

"Berapa taruhannya?" Tanya Kesia dengan suara yang hampir tidak terdengar sama sekali.

"10 juta dollar" bisik Callum singkat.

"Malam ini kita akan bawa pulang 100 juta dollar" bisik Kesia pelan mulai meletakkan chip nya diarena. "100 ribu dollar" Kesia menyebut angka pertamanya. "Jangan bercanda dengan ku, nona." Tutur Callum didekat telinga adiknya.

"Siapa yang bercanda, Tuan? Kamu lihat saja nanti" seulas senyum singgah disudut bibirnya sejenak.

"Baiklah" Nayla meletakkan chipnya, dan dealer mulai mengocok dadu. Meletakkan wadah dadu manual itu ke atas meja. Semua orang menatapnya tajam menebak berapa kombinasi angka di dalamnya.

"3-2-1" ucap Kesia mantap. Membuat Callum terperanjat kaget mendengar tebakkan sang adik.

Jika tidak bisa bermain jangan dipaksakan. Callum tidak masalah jika Kesia tidak bisa bermain dadu atau kartu. Toh, permainan ini cuma hiburan semata untuk melepaskan penat.

Bukannya sebagai pekerjaan utama yang digunakan mengumpulkan pundi-pundi kekayaan. So, tidak bisa bermain kartu atau mahjong dikalangan elit bukan masalah. Tapi setidaknya jangan sampai mempermalukan diri sendiri.

"4-5-6" teriak penuh seruan disusul oleh teriak- teriakkan, para penjudi lain yang menyaksikan petandingan antara Kesia dengan Nayla.

Semua bertepuk tangan memberikan semua dukungannya kepada idola mereka Nayla. Tiga ronde. Nayla memenangkan tiga permainan pertama.

"Lihatlah, Nona. Kamu sudah kalah tiga ronde. Lebih baik serahkan permainannya kepada Callum saja. Setidaknya dia masih bisa memenangkan beberapa ronde." Ujar pria asing yang tak lain adalah James Cart teman dekat Callum.

"Biarkan aku yang bermain" Callum berbisik pelan, menarik singlet tinju yang dikenakan oleh adiknya.

"Tenanglah. Ini baru permulaan" gumam Kesia pelan, menyeringai dibalik wajah polosnya.

"Gadis desa memang tidak tahu cara bermain. Tapi dia tidak mau mengakui jika dia itu bodoh." Ejek Nayla pada Kesia, bangga pada tiga kemenangannya berturut-turut.

"1 juta dollar"

Semua orang terkejut mendengar angka taruhan yang disebutkan Kesia.

Beberapa orang berbisik-bisik.

Ada yang mengkhawatirkan dan ada pula yang mengejeknya dari belakang. Tapi, menit-menit berikutnya mengubah persepsi mereka terhadapnya.

"9 juta dollar"

Angka yang telah dimenangkan Kesia malam ini. Orang-orang menatapnya kagum. Gadis desa yang pertama kali menginjakkan kakinya ke kasino. Ternyata bisa menang begitu banyak.

Tampaknya tiga permainan awal tadi cuma trik yang ia mainkan, untuk menarik lawannya agar terus mau bermain. Menguras pundi-pundi kekayaannya diatas meja judi.

"Bagaimana nona? Apa kamu masih mau bermain? Jika tidak?" Kesia menggantung kalimatnya, sengaja. Menciptakan rasa penasaran diantara kerumunan penonton. "Jika tidak aku akan pergi ke meja lain? Mencari pemain yang setara!?" Ujar Kesia pelan tapi sinis.

"Kurang ngajar! Berani-beraninya kamu meremehkanku wanita sialan! Jangan berbangga diri! Kemenangan ini hanyalah keberuntunganmu saja!" Bentak Nayla menggeprak meja taruhan, tak terima dengan penghinaan tersirat Kesia. "10 juta dollar" Nayla melemparkan semua chipnya ke arena taruhan.

Berharap Kesia takut dan mundur dari arena, tapi siapa yang tahu apa yang dipikirkan oleh gadis cantik asal nusantara tersebut? Pikiran nya tak terduga sama seperti kebanyakan warga nusantara. Mindblowing.

"Baiklah" Kesia menyambut ajakkan Nayla, mendorong semuanya chipnya ketengah.

Akhirnya yang Kesia tunggu-tunggu datang juga. Malam ini Kesia pastikan bahwa ia akan merampas semua tabungan seorang Nayla Wilson. Ia tidak akan menyisahkan sepeserpun untuknya.

"20 juta dollar"

"30 juta dollar"

"40 juta dollar"

"50 juta dollar"

Perlahan taruhan antara keduanya naik sampai 50 juta dollar. Dimana setiap permainan di menangkan oleh Kesia "sih gadis desa". Sorak kan pengunjung kasino makin terdengar lantang. Mengudara di langit-langit kasino.

Pengunjung dari meja lain pun mendekat ke meja mereka. Turut menyaksikan kekalahan putri bangsawan wilson di meja judi. Mereka benar-benar tidak menyangka akan ada yang berani membabat habis seorang Nayla.

Setidaknya, walau Nayla kalah dimeja judi. Lawannya akan tetap memberinya wajah. Tidak maksudnya memberi wajah kepada keluarga Wilson.

"Huuuuuuuu.........."

"Lagiiii......lagiiiiiiii......"

"100 juta dollar......."

Berbagai teriakkan dilontarkan dan dilayangkan para pengunjung yang mengerumuni meja judi mereka. Tak sabar menyaksikan pertandingan selanjutnya, yang akan jauh lebih menegang kan.

"Jika kamu menginginkannya kembalilah ke Northumberland. Bagaimanapun anak seorang selir tidak bisa mewarisi tahkta." Nadanya berat suara tercekat ditenggorokkannya, menghela napas berat, menyilangkan tangannya didada.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Velvet Bloodline   Part 110 : Iblis Bersayap

    Kesia terdiam sejenak di balkon apartemennya saat mendengar suara Theo yang terbata-bata menyampaikan pesan penuh ancaman dari Thom. Alih-alih merasa takut atau tegang, Kesia justru memejamkan matanya, menghela napas panjang, dan sebuah senyum tipis yang tak tertahankan muncul di sudut bibirnya. ​"Resep sup borsch dan katalog furnitur bekas?" Kesia mengulangi kata-kata Theo dengan nada datar yang menyimpan tawa tersembunyi. ​"Iya, Kesia! Thom sangat marah. Dia merasa harga dirinya diinjak-injak karena masa lalunya di panti asuhan diungkit melalui sampah itu. Dia pikir Eavi sedang mengejeknya!" seru Theo di seberang telepon. ​Kesia menyandarkan punggungnya ke pintu kaca. "Theo, katakan pada Thom untuk mendinginkan kepalanya. Eavi Li memang ular yang licik, tapi dia tidak sebodoh itu. Dia terlalu elegan untuk melakukan lelucon sekasar itu. Hanya ada dua makhluk di seluruh Kremlin yang punya selera humor seburuk itu dan cukup berani untuk menyentuh dokumen diplomatik." ​"Maksudmu

  • Velvet Bloodline   Part 109 : Soup

    Luna, si kakatua hitam yang jauh lebih tenang namun memiliki kecerdasan yang jauh lebih sistematis daripada suaminya yang berisik, sudah lama mengamati tingkah Bara dari kejauhan. Dengan jambul yang melengkung anggun, ia hinggap di dahan yang sama, menatap Bara yang sedang asyik tertawa jahat sendiri. ​"Ngik!" Luna mengeluarkan suara pendek, sebuah teguran halus yang membuat Bara nyaris terjungkal dari dahan karena kaget. ​"Luna! Kau mengejutkanku! Kau ingin mencuri tiket emas biji labuku, ya?" pekik Bara sambil menyembunyikan map itu di balik sayapnya. ​Luna tidak menjawab dengan kata-kata—ia bukan burung yang suka banyak bicara. Namun, matanya yang hitam legam menatap map yang robek itu dengan pandangan menghakimi. Jika dokumen itu hilang begitu saja, Eavi akan segera sadar ada pengkhianat di dalam mansion dan akan memperketat penjagaan. Rencana Bara terlalu kasar, terlalu "Bara". ​Dengan gerakan yang sangat halus, Luna terbang kembali ke arah balkon ruang kerja Eavi. Tak lama k

  • Velvet Bloodline   Part 108 : Terhasut

    Emilia melemparkan sebuah vas porselen mahal ke arah dinding marmer kamarnya. Suara pecahannya berdenting nyaring, namun itu tidak cukup untuk meredam amarah yang membakar dadanya. ​"Dia selalu mendapatkan apa yang diinginkannya!" teriak Emilia pada bayangannya di cermin. "Lachlan, kasih sayang para pengawal, bahkan burung-burung sialan milik Lachlan itu lebih suka menyebut namanya daripada namaku!" ​Eavi Li masuk ke kamar putrinya dengan langkah tenang, seolah suara pecahan porselen itu hanyalah musik latar yang biasa. Ia melihat Emilia yang napasnya tersengal-sengal. ​"Berhentilah bersikap seperti anak kecil, Emilia," ujar Eavi dingin. "Kemarahanmu hanya menunjukkan betapa lemahnya kau di depan Kesia." ​"Lemah?" Emilia menoleh dengan mata merah. "Mama, dia sekarang di Nusantara, mendekati keluarga Soertja! Dia mendekati Thomas Percy! Jika dia tahu bahwa Thomas adalah anak kandung Malacy yang dulu selamat dari kebakaran itu, dan jika dia berhasil mengambil hati Opa Mingzhe... pos

  • Velvet Bloodline   Part 107 : Perampok Bersayap

    Lachlan terdiam sejenak. Matanya melirik ke arah laci meja yang dimaksud Bara. Itu adalah benih biji labu yang sebenarnya ingin ditanam Lachlan di kebun rahasianya—sebuah hobi kecil yang ia lakukan untuk menenangkan sarafnya yang tegang. Namun, setiap kali ia mencoba menanamnya, hasilnya selalu nihil. ​"Kau tidak boleh mengambilnya, Bara," keluh Lachlan, suaranya terdengar sangat lelah, hampir seperti rengekan seorang pria yang kehilangan otoritas di rumahnya sendiri. "Aku sudah mencoba menanam benih itu tiga kali bulan ini. Tapi apa hasilnya? Gagal total! Semuanya hilang sebelum sempat tumbuh." ​Kesia, yang mendengar percakapan itu lewat telepon, tidak tahan untuk tidak menyela. "Tunggu, Lachlan. Kau mencoba berkebun lagi? Bukankah terakhir kali tanaman tomatmu juga ludes?" ​"Ini lebih parah, Kesia," keluh Lachlan pada putrinya. "Setiap kali aku menaruh biji itu di tanah, atau bahkan baru saja membukanya di teras, Kaka atau Kiki pasti muncul dari langit. Mereka itu kakatua Maca

  • Velvet Bloodline   Part 106

    Kesia menyandarkan kepalanya di sofa beludru apartemennya di Plaza Imperium Puri. Dari ketinggian ini, kerlap-kerlip lampu Jakarta Barat terlihat seperti permata yang berserakan, kontras dengan kegelapan Waduk Jatiluhur yang baru saja ia tinggalkan. Di tangannya, sebuah gelas berisi teh hangat mengepulkan uap tipis. ​Ponselnya yang tergeletak di meja kopi bergetar. Sebuah nama muncul di layar, membuat detak jantung Kesia sedikit melambat: Lachlan Vladimir. ​Kesia menggeser layar dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. ​"Kesia..." Suara berat dan serak itu terdengar di seberang sana. Ada nada kerinduan yang sangat dalam, tipe suara yang hanya dikeluarkan sang Iblis Rusia ketika ia berbicara dengan "putrinya". "Bagaimana keadaanmu di Nusantara? Aku baru saja melihat laporan cuaca di sana... sangat panas. Apa kau baik-baik saja?" ​"Aku baik, Otets (Ayah)," jawab Kesia lembut, matanya menatap pantulan dirinya di kaca jendela. "Jangan khawatir. Nusantara adalah rumahku, aku tahu

  • Velvet Bloodline   Part 105

    Kesia melangkah masuk ke dalam koridor, langkah kakinya nyaris tak bersuara di atas lantai marmer. Ia menangkap sisa-sisa percakapan telepon Theo yang baru saja terputus. Dengan gerakan santai, ia bersandar di pilar besar, melipat tangannya di dada, dan menatap Theo dengan tatapan yang sangat meremehkan. ​"Sudah selesai sesi pengaduannya, Theo?" suara Kesia memecah keheningan, membuat Theo tersentak dan nyaris menjatuhkan ponselnya. ​Kesia melangkah mendekat, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang menusuk. "Kau menyebutku monster di depan Thom? Menarik. Sepertinya ingatanmu sangat pendek jika menyangkut dosamu sendiri." ​Theo mencoba membalas tatapannya, namun matanya bergetar. "Itu... itu berbeda. Aku melakukannya karena terpaksa!" ​"Terpaksa?" Kesia terkekeh dingin. "Baru sebulan yang lalu, Theo. Di Blenheim Palace. Ingat? Sebelum aku sempat tiba untuk mengamankan lokasi, kau sudah lebih dulu mengotori tanganmu. Berapa orang yang kau habisi di lorong belakang i

  • Velvet Bloodline   Part 27 : Penyesalan?

    Sangat gila. Dua kata yang dapat menggambarkan dunia pers saat ini. Musim semi baru berakhir kemarin hari. Skandal besar menyebar dimana-mana. Jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Skandal besar baru akan naik di akhir tahun. Ini sungguh tidak masuk akal. Jika hal ini terus berlangsung tanpa

  • Velvet Bloodline   Part 25 : Aneh?

    Pukul 18:00 Kesia berdiri di tepih jalanan kota Oxfordshire, Inggris. Menunggu supir dari Blenheim Palace menjemput dirinya. "Nona Kesia," sebuah mobil merek terkenal menepih. Supir menurunkan kaca. Melirik Kesia sekilas. Memastikan. "Iya" Kesia mengangguk pelan. Pintu mobil terbuka otomatis. K

  • Velvet Bloodline   Part 23 : Tessen

    Tingg____ Peluru yang harusnya menembus kepala Theodor Percy. Berbalik. Terlempar menjauh jatuh ke danau di halaman depan Blenheim Palace. Brukkkkk____ Seorang pria berpakaian serba hitam jatuh dari lantai atas Blenheim Palace ke lantai dasar. Mengejutkan para pelayan yang telah tertidur lelap.

  • Velvet Bloodline   Part 22 : Pewaris Bayangan

    Waw! Satu kata yang berhasil Theo ucapkan saat helikopter tipe Airbus H225 Super Puma tiba di Blenheim Palace Castle. Kekaguman, hanya itu yang bisa di gambarkan dari wajah Theo saat ini. Kemarin malam ia telah terpesona oleh indah dan megahnya Castle of Edinburgh.Hari ini ia dibuat terperangah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status