LOGINIngatannya kembali ke masa lima belas tahun silam. Dimana ia mengusir putra sulungnya dari Northumberland. Bukan tanpa alasan ia mengusir putranya dan melepaskan haknya sebagai pewaris gelar Duke of Northumberland.
Ia tak ingin putranya tersesat dengan wanita yang salah. Dulu saat putranya memasuki usia dewasa awal. Putranya jatuh cinta kepada seorang gadis desa. "Ayah aku mohon restui kami. Dia benar-benar mencintaiku,yah. Dia berbeda dari gadis lain nya. Dia mencintaiku tanpa melihat gelarmu sebagai Duke of Northumberland. Dia tidak melihat kekayaan keluarga kita, yah!" Bentak pria muda berusia 20 tahun itu, pada ayahnya Duke of Northumberland. "Tidak!" Tegas Duke of Northumberland. "Ayahhhhhhh.......!!" Sentak pria muda itu menaikkan nada bicaranya, dua oktaf. "Baiklah!! Jika dia benar-benar mencintaimu apa adanya!? Keluar dari kediaman keluarga Percy sekarang!! Dan jangan pernah kembali lagi Ke Alnwick Castle! Kamu bukan lagi pewaris Northumberland!" Bentaknya mengayunkan tangannya kesamping, kearah pintu utama Alnwick Castle. Mengusir putranya dari kediamannya. "Baiklah" suaranya getir, menatap nanar sang ayah, melangkahkan kakinya keluar Castle. Kenangan itu menghilang dalam sekejap mata. Ketika para pengunjung berteriak kecewa, mendapati Kesia mundur dari permainannya. Padahal mereka menginginkan permainan yang lebih menantang dan menguras harta. "Dia berbeda dari gadis lainnya" nadanya datar membuka kembali pembicaraannya dengan sang putra, setelah lima belas tahun tidak pernah bertatap muka. "Hhhh......" tersenyum tipis meremehkan perkataan sang daddy. Ia sungguh tak bisa percaya jika ayahnya akan mendukungnya menikahi gadis desa dimeja judi tersebut. Ia tak pernah lupa alasan kenapa ayahnya mengusir dirinya dahulu. "Dia bukan wanita biasa. Dia bisa membantumu menjaga kekuasaan keluarga kita di Northumberland. Dia berbeda dari wanita lainnya, nak. Dia punya ambisi dan kekuasaan muthlak dibawa kaki dan tangannya." Ujar pria setengah baya dibalik kegelapan lantai dua itu mantap meyakinkan putranya. "Hina sekali nalar ayah" celah pria dewasa berusia 35 tahunan itu, pada ayahnya. "Hhhkkkk....jangan kamu pikir aku tidak tahu! Kekasih yang kamu bangga-banggakan itu meninggalkanmu! Setelah satu hari kamu meninggalkan keluarga PERCY!" Tuturnya mencibir sang putra, menekan nama keluarga mereka diakhir. Sang putra diam membisu ia sudah kalah telak oleh ayahnya. Masa lalu kelam yang membuat nya masih melajang diusianya. Tidak bisa dipungkiri sama sekali. Perkataan sang ayah seratus persen benar. Gadis desa yang ia kira polos dan tidak matrealistis. Ternyata mencampakkan dirinya setelah ia diusir oleh ayahnya. Padahal saat itu sudah memiliki pekerjaan tetap dengan gaji yang lumayan besar. Andai hanya ingin tinggal dirumah sederhana seluas 300 m². Ia masih bisa membelinya sendiri meski harus menabung selama satu atau dua tahun. Tapi gadis itu malah mencampakkanya begitu saja. "Aku tidak menyukainya" dingin, membalikkan badan, melangkahkan kakinya berniat meninggalkan sang ayah. "Jangan bohong!" Cetus Duke of Northumberland. "Aku tahu kamu menyukainya sejak pandangan pertama. Kamu tidak berhenti menatapnya sejak berada club petarung tadi." Katanya mencegah kepergian sang putra. "Kamu mungkin bisa membohongi dirimu dan orang lain. Tapi kamu tidak bisa membohongi ayahmu ini!" Sambungnya mencegah kepergian sang putra, rasa bersalahnya mengusir sang putra masih ada. Tapi egonya jauh lebih besar dari kekuasaannya atas Northumberland. Ia tidak akan mengatakan permintaan maafnya. Terkecuali sang putra yang mengutarakannya terlebih dulu. "Aku bisa melakukannya sendiri" nadanya datar, tanpa rasa. "Dia memang bukan wanita matrealistis atau wanita yang gila akan kekuasaan," pujinya pada gadis desa asal nusantara itu, menyilangkan kakinya, menyenderkan kedua sikutnya pada besi pembatas. "Jika dia penggila harta dan kekuasaan. Dia sudah menikah dari dulu," lanjut nya pelan. "Dengan pekerjaanmu sebagai konsultan bisnis di perusahaan kecil, milikmu itu. Mungkin cukup untuk membiaya hidup kalian berdua nanti. Orang tuanya yang berasal dari desa juga mungkin akan mudah memberikan restu pada kalian," tuturnya panjang." Tapi bagaimana dengan para bangsawan dan elit global yang menginginkannya? Mereka tidak akan melepas kan kalian!" Sarkasnya, mengingatkan sang putra pada satu kenyataan pahit di dunia ini. Persaingan antar keluarga bangsawan tidaklah mudah diselesaikan. Terlebih lagi bila itu adalah persoalan cinta dan kekuasaan. Mereka yang tidak punya naungan dari keluarga yang kuat, akan kalah dalam persaingan. "Jangan menekanku, ayah!" Hardiknya tak setuju dengan perkataan sang ayah. "Aku tidak sedang menekanmu. Aku hanya mengingatkan satu kenyataan pahit di dunia ini. Tanpa perlindungan keluarga Percy! Kamu hanyalah cangkang tanpa telur!" Kelakarnya. "........." diam tak bergeming. Mengakui ucapan sang ayah ada benarnya. "James Viscount Severn juga mendambakan gadis itu," melirik sekilas kearah sang gadis yang telah menjauh, menuju pintu keluar kasino. Krrrrkkkk...... Ia meremas jari-jarinya kuat. Mendengar sepupunya juga menginginkan wanita yang sama dengannya. "Kamu bisa memikirkannya terlebih dahulu. Sebelum kamu benar-benar kembali ke castle Northumberland. Bukan cuma James yang mendambakannya. Gabriel of brussels juga mendambakannya baru-baru ini. Kepala Inspektur pasti sudah memberitahumu soal ini, tadi. Jika kamu mendukung william dalam suksesi tahkta. Paman kakekmu tidak akan sungkan membantumu melamarnya ke istana kremlin. Kamu pasti tahu sudah mendengar rumor para bangsawan dan elit global baru-baru ini?" Tukasnya, pelan berjalan melewati sang putra perlahan menuruni anak tangga. "Sejak dulu aku tidak pernah berencana meneruskan tahktaku, pada Alex. Dan sedari dulu juga ia tidak pernah menginginkan gelar Duke of Northumberland. Dia hanya ingin hidup dalam ketenangan dan kedamaian. Bersama istri dan anak-anaknya," ia menimpali perkataan nya sendiri, sebelum benar-benar menjauh dari putranya. Mendengus pelan melihat putranya yang begitu keras kepala. Sementara hubungan dingin ayah dan anak itu berakhir. Kesia menyusuri lorong bangunan hotel mewah itu bersama Callum, cepat. Mengayun mantap menuju lobby hotel. Memandangi selembar check senilai 150 juta dollar ditangannya, sumringah. Menipu gadis konglomerat dengan ego tinggi memang mudah. "Bagaimana? Mau langsung pulang ke moskow atau mau tarik tunai dulu?" Callum menarik check senilai 150 juta dari tangan Kesia. Memastikan check itu asli atau tidak, jangan sampai mereka dibohongi oleh Nayla Wilson. "Tentu saja, tarik tunai dulu!!" Merebut kembali checknya dari tangan Callum. "Jangan sampai dia berubah pikiran lalu membatalkan check nya!" Seru Kesia menggerakkan tangannya memutar di udara, memamerkan check senilai 150 juta, di depan wajah sang kakak. "Dasar mata duitan," cibir Callum mengangkat sudut bibirnya, menyeringai. Jujur ia masih tak percaya gadis kecil disampingnya bisa menguras harta putri keluarga Wilson begitu banyak. "Bantu aku mencairkannya! Lalu kita bagi 75-75 " tutur Kesia membuka penawaran awal. "Benarkah?" "Tentu saja!" Mantap. "Kamu benar-benar murah hati" ledek Callum pada adiknya, tidak biasanya ia mau membagi uangnya. Yang ada gadis kecil itu akan memeras rekeningnya habis-habisan. "Tentu saja," mengulang kalimat yang sama. "Jika bukan karenamu Tuan muda, Tuan besar tidak akan memberikan 10 juta dollar untuk kita pergi bersenang-senang diluar," memainkan check ditangannya, membalikkan tubuhnya sambil berjalan mundur. Menatap Callum lekat penuh ketertarikan tersembunyi.Kesia terdiam sejenak di balkon apartemennya saat mendengar suara Theo yang terbata-bata menyampaikan pesan penuh ancaman dari Thom. Alih-alih merasa takut atau tegang, Kesia justru memejamkan matanya, menghela napas panjang, dan sebuah senyum tipis yang tak tertahankan muncul di sudut bibirnya. "Resep sup borsch dan katalog furnitur bekas?" Kesia mengulangi kata-kata Theo dengan nada datar yang menyimpan tawa tersembunyi. "Iya, Kesia! Thom sangat marah. Dia merasa harga dirinya diinjak-injak karena masa lalunya di panti asuhan diungkit melalui sampah itu. Dia pikir Eavi sedang mengejeknya!" seru Theo di seberang telepon. Kesia menyandarkan punggungnya ke pintu kaca. "Theo, katakan pada Thom untuk mendinginkan kepalanya. Eavi Li memang ular yang licik, tapi dia tidak sebodoh itu. Dia terlalu elegan untuk melakukan lelucon sekasar itu. Hanya ada dua makhluk di seluruh Kremlin yang punya selera humor seburuk itu dan cukup berani untuk menyentuh dokumen diplomatik." "Maksudmu
Luna, si kakatua hitam yang jauh lebih tenang namun memiliki kecerdasan yang jauh lebih sistematis daripada suaminya yang berisik, sudah lama mengamati tingkah Bara dari kejauhan. Dengan jambul yang melengkung anggun, ia hinggap di dahan yang sama, menatap Bara yang sedang asyik tertawa jahat sendiri. "Ngik!" Luna mengeluarkan suara pendek, sebuah teguran halus yang membuat Bara nyaris terjungkal dari dahan karena kaget. "Luna! Kau mengejutkanku! Kau ingin mencuri tiket emas biji labuku, ya?" pekik Bara sambil menyembunyikan map itu di balik sayapnya. Luna tidak menjawab dengan kata-kata—ia bukan burung yang suka banyak bicara. Namun, matanya yang hitam legam menatap map yang robek itu dengan pandangan menghakimi. Jika dokumen itu hilang begitu saja, Eavi akan segera sadar ada pengkhianat di dalam mansion dan akan memperketat penjagaan. Rencana Bara terlalu kasar, terlalu "Bara". Dengan gerakan yang sangat halus, Luna terbang kembali ke arah balkon ruang kerja Eavi. Tak lama k
Emilia melemparkan sebuah vas porselen mahal ke arah dinding marmer kamarnya. Suara pecahannya berdenting nyaring, namun itu tidak cukup untuk meredam amarah yang membakar dadanya. "Dia selalu mendapatkan apa yang diinginkannya!" teriak Emilia pada bayangannya di cermin. "Lachlan, kasih sayang para pengawal, bahkan burung-burung sialan milik Lachlan itu lebih suka menyebut namanya daripada namaku!" Eavi Li masuk ke kamar putrinya dengan langkah tenang, seolah suara pecahan porselen itu hanyalah musik latar yang biasa. Ia melihat Emilia yang napasnya tersengal-sengal. "Berhentilah bersikap seperti anak kecil, Emilia," ujar Eavi dingin. "Kemarahanmu hanya menunjukkan betapa lemahnya kau di depan Kesia." "Lemah?" Emilia menoleh dengan mata merah. "Mama, dia sekarang di Nusantara, mendekati keluarga Soertja! Dia mendekati Thomas Percy! Jika dia tahu bahwa Thomas adalah anak kandung Malacy yang dulu selamat dari kebakaran itu, dan jika dia berhasil mengambil hati Opa Mingzhe... pos
Lachlan terdiam sejenak. Matanya melirik ke arah laci meja yang dimaksud Bara. Itu adalah benih biji labu yang sebenarnya ingin ditanam Lachlan di kebun rahasianya—sebuah hobi kecil yang ia lakukan untuk menenangkan sarafnya yang tegang. Namun, setiap kali ia mencoba menanamnya, hasilnya selalu nihil. "Kau tidak boleh mengambilnya, Bara," keluh Lachlan, suaranya terdengar sangat lelah, hampir seperti rengekan seorang pria yang kehilangan otoritas di rumahnya sendiri. "Aku sudah mencoba menanam benih itu tiga kali bulan ini. Tapi apa hasilnya? Gagal total! Semuanya hilang sebelum sempat tumbuh." Kesia, yang mendengar percakapan itu lewat telepon, tidak tahan untuk tidak menyela. "Tunggu, Lachlan. Kau mencoba berkebun lagi? Bukankah terakhir kali tanaman tomatmu juga ludes?" "Ini lebih parah, Kesia," keluh Lachlan pada putrinya. "Setiap kali aku menaruh biji itu di tanah, atau bahkan baru saja membukanya di teras, Kaka atau Kiki pasti muncul dari langit. Mereka itu kakatua Maca
Kesia menyandarkan kepalanya di sofa beludru apartemennya di Plaza Imperium Puri. Dari ketinggian ini, kerlap-kerlip lampu Jakarta Barat terlihat seperti permata yang berserakan, kontras dengan kegelapan Waduk Jatiluhur yang baru saja ia tinggalkan. Di tangannya, sebuah gelas berisi teh hangat mengepulkan uap tipis. Ponselnya yang tergeletak di meja kopi bergetar. Sebuah nama muncul di layar, membuat detak jantung Kesia sedikit melambat: Lachlan Vladimir. Kesia menggeser layar dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. "Kesia..." Suara berat dan serak itu terdengar di seberang sana. Ada nada kerinduan yang sangat dalam, tipe suara yang hanya dikeluarkan sang Iblis Rusia ketika ia berbicara dengan "putrinya". "Bagaimana keadaanmu di Nusantara? Aku baru saja melihat laporan cuaca di sana... sangat panas. Apa kau baik-baik saja?" "Aku baik, Otets (Ayah)," jawab Kesia lembut, matanya menatap pantulan dirinya di kaca jendela. "Jangan khawatir. Nusantara adalah rumahku, aku tahu
Kesia melangkah masuk ke dalam koridor, langkah kakinya nyaris tak bersuara di atas lantai marmer. Ia menangkap sisa-sisa percakapan telepon Theo yang baru saja terputus. Dengan gerakan santai, ia bersandar di pilar besar, melipat tangannya di dada, dan menatap Theo dengan tatapan yang sangat meremehkan. "Sudah selesai sesi pengaduannya, Theo?" suara Kesia memecah keheningan, membuat Theo tersentak dan nyaris menjatuhkan ponselnya. Kesia melangkah mendekat, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang menusuk. "Kau menyebutku monster di depan Thom? Menarik. Sepertinya ingatanmu sangat pendek jika menyangkut dosamu sendiri." Theo mencoba membalas tatapannya, namun matanya bergetar. "Itu... itu berbeda. Aku melakukannya karena terpaksa!" "Terpaksa?" Kesia terkekeh dingin. "Baru sebulan yang lalu, Theo. Di Blenheim Palace. Ingat? Sebelum aku sempat tiba untuk mengamankan lokasi, kau sudah lebih dulu mengotori tanganmu. Berapa orang yang kau habisi di lorong belakang i
Suasana di halaman belakang Kremlin yang masih menyisakan bau anyir samar mendadak mendingin oleh ketegangan baru. Kehadiran Bryer Trump di tanah Rusia, tepat setelah eksekusi brutal Ivan Li, adalah sebuah anomali politik yang berbahaya.Lachlan meremas tangan Bryer, cengkeramannya begitu kuat hin
Lampu-lampu kristal di koridor bawah tanah Kremlin bergoyang pelan, memantulkan bayangan jeruji besi yang dingin. Di sebuah ruangan kedap suara yang berbau anyir logam dan keringat dingin, Ivan Li tampak hancur. Stewart dan Thane telah mengerahkan seluruh teknik interogasi militer mereka, namun m
Suhu masih hangat, sekitar 10-15°, langit dipenuhi cahaya kelap-kelip bintang-bintang. Ribuan lampu kristal menerangi setiap sudut Kremlin, membuat seakan malam itu adalah sebuah simfoni kemewahan yang abadi. Namun, bagi Emilia Vladimir, kemilau itu terasa seperti pedang yang siap jatuh membelah l
Ia sudah tahu soal Carl Rodin sejak lama, namun membiarkan burung-burungnya yang menyampaikan adalah cara paling elegan untuk menghancurkan dominasi Eavi Li tanpa harus mengotori tangannya sendiri."Cukup, Bara, Luna. Makan kacang kalian," perintah Kesia tenang, mengeluarkan segenggam kacang dari







