LOGINKesia Dubicki penerjamah lisan (interperter) asal indonesia. Dengan kemampuan 50 bahasa berhasil menduduki peringkat pertama interpreter paling dicari sepanjang sejarah.Di usianya yang terbilang masih cukup muda untuk semua pencapaiannya, yaitu 28 tahun.
Bukan cuma karena kecantikkan dan ketangkasannya dalam menerjamahkan dua atau tiga bahasa sekaligus. Melainkan karena kemampuan bertarung Kesia yang diatas rata-rata kebanyakan petarung muda lainnya. Selain itu Kesia juga membuka jasa curhat pribadi khusus konglomerat/bangsawan dunia. Bukan cuma teman yang mengobrol yang mereka dapatkan. Bila mereka menyewa jasa curhat Kesia. Tapi juga saran atau tips yang lumayan cukup membantu para konglomerat tersebut mengatasi masalah mereka. Terutama masalah percintaan atau rumah tangga. Tidak hanya itu jasa curhat Kesia menawarkan jaminan 100% rahasia terjaga. Tidak akan ada informasi yang bocor sedikitpun. Oleh sebab itu banyak konglomerat yang mengejar-mengejar Kesia. Untuk menjadi penerjemah Lisan di acara mereka. Berkat jasa curhatnya juga Kesia memiliki banyak koneksi kejaringan-jaringan international. Menjadikan ia tidak kesulitan dalam mencari klien baru. Malam ini, Kesia sengaja dikirim oleh ayah angkatnya Tuan Vladimir Lachlan, ke club pertarungan makau milik sahabatnya. Guna menguji kemampuan bertarung Kesia. Setelah satu bulan penuh Kesia berlatih dibawa naungan Tuan Vladimir Callum, kakak angkatnya. Bukan tanpa alasan Tuan Lachlan menguji kemampuan bertarung putrinya di club petarung makau. Semua Tuan Lachlan lakukan dengan penuh perhitungan. Tuan Lachlan tidak ingin tragedi penculikkan Kesia tiga bulan lalu, terulang kembali. Jadi, ia ingin memastikan putri angkatnya memiliki kemampuan yang mumpuni untuk melindungi dirinya sendiri. Andai kemampuan putri angkatnya masih jauh dibawah. Tuan Lachlan akan mengirim pengawal rahasia langit miliknya. Untuk menjaga Kesia secara tersembunyi. Namun, ia tetap ingin memastikan putri angkatnya itu bisa melindungi dirinya sendiri. Tiga bulan yang lalu, setelah menyelamatkan Pangeran Gabriel of Brussels dari serangan snipers bayaran. Kesia langsung melarikan diri dari kota Brussels menuju kota Verona. Seusai mendapatkan bayaran penyelamatan nyawa senilai 10.000 €. Melalui perjalanan kereta api selama dua puluh satu jam empat puluh satu menit. Guna menghindari kejaran para snipers yang terlalu mencolok ataupun kejaran para wartawan pengejar berita. Malam itu, saat tiba dikota Verona Kesia masih sempat mengobrol dengan Tuan Lachlan melalui sambungan teleponnya. Sebelum ia melanjutkan perjalanannya ke kota cecilia melalui jalur udara. "Hi, Tuan Lachlan. Bagaimana kabarmu?" Sapa Kesia ceria membuka pembicaraannya, diseberang sana Tuan Lachlan tampak merekahkan senyumannya, mendengar suara milik Kesia yang begitu nyaring dan segar. "Aku baik-baik, saja. Bagaimana denganmu gadis muda? Apa kamu baik-baik saja disana?" Tanya Tuan Lachlan penuh kekhawatiran. Kesia mendorong kopernya menuju check-in counter. Menyerahkan tiket dan kopernya kepada petugas bandara. "Baik." Sahut Kesia singkat, memperhatikan boarding passnya. "Maafkan, ayah. Tadi malam ayah dan kakak tidak sempat menyelamatkanmu." Ucap Lachlan pelan, suara tercekat dileher seperti ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Entah mengapa setiap ia mengingat Kesia putri angkatnya, hati Lachlan terasa pedih seperti disayat-sayat oleh sembilu. Seolah ada sesuatu yang tak tertuliskan diantara ia dan Kesia. "Tidak masalah, Tuan. Bye, pewasatnya hampir berangkat." Kata Kesia singkat menutup panggilan singkatnya dengan Tuan Lachlan. "Bye." Tutur Tuan Lachlan getir. Tak rela sambungam teleponnya dengan sang putri angkat terputus. Panggilan telepon keduanya terputus. Tak terasa dua jam perjalanan dari kota Verona menuju cecilia, berlalu dengan cepat. Kini Kesia telah menginjakkan kakinya di tanah mafia paling kejam dunia "Our Thing". Tanpa keraguan sama sekali. Kesia mengayun kan kakinya menuju sebuah hotel bintang tiga bernama Hotel Bastione Spasimo. Berpikir bahwa liburan singkatnya akan berjalan lancar. Brukkk.... Kesia menghempaskan tubuhnya keatas kasur. Menatap langit-langit kamar lega. Akhirnya, setelah dihantui rasa khwatir yang melandanya. Kesia bisa beristirahat dengan tenang tanpa gangguan. Kringgg...... Kringggg...... Nada dering ponsel Kesia berbunyi. "Haduh siapa sih malam-malam begini nelpon?" Gerutu Kesia meraih ponselnya diatas kasur. Memeriksa siapa yang menelponnya tengah malam. "Tuannn....Davisss....." gumam Kesia pelan membaca siapa yang sedang melakukan panggilan ke nomornya. Swippp........ Dengan terpaksa Kesia menggeser logo hijau dilayar ponselnya. Melihat yang menelponnya bukanlah orang biasa. Lebih baik Kesia mengalah daripada karier interpreter internationalnya yang telah ia bangun selama bertahun-tahun, harus goyah karena ketidakpuasaan seorang Davis Gerald. Davis Gerald adalah salah satu menteri tertinggi di Amerika Serikat. Tentu setiap perkataannya dapat berpengaruh besar dalam karier seorang Kesia. Walaupun, kini Kesia menyandang gelar spesial sebagai putri angkat presiden negeri beruang merah. Kesia tidak dapat mengandalkan Tuan Lachlan untuk terus mendukung kariernya. Bagi Kesia tittle "putri angkat" yang disandangnya. Hanyalah bentuk balas budi Tuan Lachlan padanya. Karena Kesia telah menyelamatkan nyawanya lima tahun silam. "Hi, bagaimana kabarmu Tuan Davis? Sudah lama kita tidak bertemu?" Sapa Kesia lembut di balik teleponnya, bangkit dari rebahannya. Berjalan menuju lemari buffet, menuangkan segelas air. Sembari mendengarkan obrolan Tuan Davis. "Tentu saja, baik. Bagaimana denganmu nona?" Ucap Tuan Davis pelan menjeda sedikit kalimat nya, seakan memberikan isyarat kepada Kesia. "Seperti biasa, selalu baik." sahut Kesia santai meneguk airnya. "Bagaimana? Apa kamu sudah menemukan pria yang tepat?" Tanya Tuan Davis seenak hatinya. "Jika belum aku bisa menjadi pria itu. Aku tidak keberatan jika istriku mau bekerja setelah menikah" selorohnya lagi meyakinkan Kesia agar mau menerima lamarannya yang kesekian kalinya. "Maaf Tuan Gerald. Aku belum berminat menjalin hubungan yang serius akhir-akhir ini" jawab Kesia jujur apa adanya. "Apa ada masalah yang menimpahmu akhir-akhir ini?" Menjeda sebentar lalu kembali melanjutkan kalimatnya. "Andai iya katakan saja. Jika aku bisa memberimu saran atau sedikit bantuan. Aku tidak akan ragu-ragu membantu anda, meskipun kita cuma rekan bisnis biasa." Tutur Kesia mantap tanpa keraguan sedikitpun. "Kamu tahu akhir-akhir penembakan di sekolah -sekolah semakin meningkat" ceritanya singkat, mengutarakan kegundahan hatinya pada Kesia. "Mungkin kamu bisa mencoba menerapkan aturan batu, Tuan. Tapi aturan ini harus di diskusikan dengan petinggi lainnya. Setiap aturan tidak bisa dibuat secara sepihak kan!?" ujar Kesia menjeda kalimatnya sejenak. "Kamu bisa mencoba menerapkan undang-undang pelarangan perdagangan senjata api atau juga bahan peledak, secara bebas. Mungkin ini bisa menurunkan jumlah kasusnya walau tidak terlalu signifikan." jelas Kesia mantap kembali ke tempat tidurnya. Dorrrr.......... Dorrrrrr.......... Dorrr...... Suara tembakkan mengudara dilangit malam yang dingin. Menggagetkan Kesia yang sedang mengobrol dengan Tuan Davis melalui telepon nya. Secepat kilat Kesia berbalik mengambil pistolnya di atas nakas. Membuka pintu kamarnya lalu menembak semua pria berjas hitam, yang saling menembak di lorong hotel. Menghabisi nyawa mereka dalam sekedipan mata. Tanpa tahu bahaya berikutnya baru akan datang ketika ia berbalik kembali ke kamarnya. Tekkkk....... Seseorang memukul tengkuk Kesia dari belakang. Ponselnya jatuh ke lantai menimbulkan suara dentingan kecil. Menyebab kan lawan bicaranya diseberang sana panik. Tubuhnya limbung ke belakang jatuh ke dalam pelukkan orang asing itu. Bersamaan dengan Glock Meyer 22 nya yang jatuh ke lantai. Ingatan itu memudar seiring keramaian klub petarung makau kembali dengan pertandingan yang baru, mencari sang monster berikutnya."Kylie masih terlihat... fungsional untuk usianya," Viktor berkata dengan nada yang sangat kurang ajar, menatap tubuh Kylie yang gemetar. "Daripada menangisi mayat hidup seperti Nathan, kenapa Ayah tidak membawanya saja ke tempat tidur? Buatkan dia satu atau dua bayi baru di usia senjanya ini. Biarkan dia punya kesibukan baru untuk menggantikan posisi Nathan dihati kecilnya, siapa tahu bayi yang lahir lebih berguna kali ini?"Tawa Leonid pecah mendengar saran anak angkatnya. Ia kini menatap istrinya dengan pandangan penuh nafsu kekuasaan yang rendah. "Kau benar, Viktor. Kita pria Slavia, pria Rusia, punya daya tahan dan kekuatan yang berbeda. Usia hanyalah angka bagi kita. Jika pabrik lamanya masih bisa menghasilkan sesuatu yang tidak cacat moral seperti Nathan, mungkin itu ide yang bagus."Kylie membelalak, wajahnya pucat pasi mendengar percakapan itu. "Leonid... apa yang kau katakan? Kalian gila! Kalian binatang!""Binatang?" Viktor tertawa terbahak-bahak, tawanya melengking taj
Pintu kayu mahoni yang berat itu terbanting terbuka dengan suara dentuman yang memecah keheningan perayaan dingin antara ayah dan anak angkat tersebut. Kylie Wilson muncul di ambang pintu, namun ia tidak berdiri tegak sebagai nyonya besar mansion ini. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini kusut masai, gaun tidurnya yang mahal ternoda debu dan air mata.Tanpa mempedulikan martabatnya, Kylie menjatuhkan diri ke lantai marmer yang dingin. Ia merangkak, benar-benar merangkak di atas lututnya, mendekati kursi besar tempat Leonid duduk dengan gelas wiski di tangan."Leonid... aku mohon... hiks... ampunilah Nathan," ratapnya, suaranya pecah oleh isak tangis yang menyesakkan dada. Jemarinya yang gemetar mencoba meraih ujung sepatu kulit suaminya. "Dia membusuk di sana, Leonid! Luka-lukanya meradang, dia kesakitan! Dia putra kandungmu, darah dagingmu sendiri! Bagaimana bisa kau merayakan kemenangan di atas penderitaan anakmu?"Leonid Wilson bahkan tidak menunduk untuk menatap istrinya.
Sel gelap di sudut terdalam penjara Butyrka terasa seperti peti mati yang lembap. Aroma busuk dari sisa makanan yang basi, pesing, dan keringat dingin yang menguap di udara yang pengap menciptakan atmosfer yang mampu membunuh kewarasan siapa pun. Di sana, di atas lantai beton yang retak dan berlumut, Nathan Wilson terbaring seperti onggokan sampah yang dibuang.Tubuhnya tak lagi menyerupai putra bangsawan Moskow yang dulu angkuh. Luka-luka akibat cambukan besi dan hantaman stik golf Leonid beberapa waktu lalu tidak pernah diobati dengan layak. Luka itu kini mulai meradang beberapa di antaranya membusuk, mengeluarkan aroma amis yang menarik perhatian kecoak-kecoak penjara untuk berpesta di atas kulitnya yang dulu mulus.Cairan kuning kehijauan merembes dari perban kotor yang melilit kakinya, namun Nathan masih memiliki sisa-sisa kesombongan yang menjijikkan di matanya yang cekung."Kalian semua... akan merangkak di kakiku saat Ayah menjemputku!" serak Nathan, suaranya pecah dan pa
Kaka memutar kepalanya 180 derajat, menatap Lachlan dengan mata bulatnya yang cerdik. "Kami melakukan ini demi kebaikan keluarga Vladimir, Tuan! Pikirkan tentang rekening Callum! Jika kami terus-menerus meminta logistik kelas atas dari dapur pusat, biaya operasional Kremlin akan membengkak. Tuan Bryer ini adalah donatur sukarela. Kami hanya membantu menghemat anggaran negara!""Penghematan?" sindir Lachlan, kini berdiri tepat di depan Bryer. "Menghemat anggaran dengan cara menjual informasi kepada putra presiden Amerika? Aku tidak tahu sejak kapan burung-burungku belajar tentang ekonomi makro dan pengkhianatan dalam satu suapan yang sama."Luna, si kakatua pemakan segala yang biasanya paling pendiam dan hanya genit dengan orang baru, ikut angkat bicara dengan suara parau. "Jangan menyalahkan kami jika lidah kami mulai bosan dengan rasa daging Ivan Li yang hambar dan penuh dosa itu, Tuan. Sesekali, kami butuh sesuatu yang manis untuk menetralisir rasa pahit dari rahasia-rahasia yang
Pagi di Kremlin tidak pernah benar-benar hangat, meskipun pemanas ruangan di kamar tamu mewah milik Davis Gerald bekerja maksimal dan ini masih hari kelima musim panas. Di balkon yang menghadap ke arah Lapangan Merah, Bryer duduk santai, menyilangkan kaki panjangnya di atas kursi beludru. Di hadapannya, Stewart dan Thane Vladimir berdiri dengan rahang mengeras, menatap pemandangan yang sama sekali tidak masuk akal bagi martabat keluarga mereka."Ini Tuan—pizza hangat di pagi hari yang indah, dikirim dengan logistik tercepat Kremlin—hahahahaa!" Tawa melengking itu pecah dari Kaka, kakatua macaw merah yang tampak sangat bangga dengan hasil jarahannya. Ia mendarat dengan dentuman kecil di bahu kursi Bryer, melepaskan pita di ujung kukunya yang tadinya mengikat kotak pizza dari toko pizza di ujung jalan."Heiii... hati-hati Kaka! Sayap kami hampir patah karena kamu menurunkan kotaknya terburu-buru!" Protes Luna dengan suara melengkingnya. Burung kakatua itu mendarat di sandaran kurs
"Nona, Bagaimana dengan berita migrasi burung-burung pemakai bangkai yang menyerang Kremlin?" Zayn membuka mulutnya, menatap penuh tanda tanya ke arah punggung nona mudanya, Nona Berry. "Apa kita akan menulis kebenarannya? Menyibak fakta dibalik tembok Kremlin yang dingin? Atau__?" Menjeda kalimatnya sejenak. "Besar-besarkan! Buat berita penyerangan burung-burung pemakai bangkai itu menjadi nyata!" Suaranya dingin, tangannya meremas kuntum mawar di jemarinya, menghamburkan kelopak-kelopak mawar itu ke samudra lepas. "Tapi__" "Lakukan saja sesuai perintahku, Zayn!" Nadanya naik satu oktaf menggerang marah. Menoleh cepat, menatap mata asistennya tajam. "Mereka mulai mengejarku, Zayn. Buat mereka percaya seolah aku berada dipihak jantung dunia," "Baik, Nona." Angin laut yang kencang menghantam dek kapal pesiar The Grand Odyssey, membawa aroma garam yang kontras dengan keharuman mawar yang baru saja dihancurkan oleh jemari Nona Berry. Di tengah samudra yang memisahkan daratan Ru