Beranda / Historical / Villain yang Menolak Takdirnya / Bagian 2: Bertemu Sang Duke

Share

Bagian 2: Bertemu Sang Duke

Penulis: Hibischu
last update Tanggal publikasi: 2026-09-06 14:53:47

Elya memandang Raphael dengan kagum. Di dalam buku 'Kelahiran Sang Gadis Suci' memang berkali-kali dijelaskan bahwa Raphael, bahkan diusia remajanya, adalah seorang anak ajaib.

Ahli pedang.

Ahi strategi.

Dan murid akademi militer paling potensial di kerajaan.

Namun, melihatnya sendiri rasanya sangat berbeda.

Anak 16 tahun itu terlihat berkali-kali lebih keren saat mengayunkan pedang.

"Sayang sekali kami saudara kandung," gumam Elya.

Tiba-tiba, sesuatu terlintas di otaknya.

Ia mulai berdiri dan mendekat ke arah Raphael.

Raphael yang menyadari kehadiran Elya hanya menatap dengan bingung.

"Ajari aku berpedang."

Raphael tercengang.

"Apa?"

Elya menyambar pedang kayu yang sejak tadi dipakai oleh adiknya.

"Ajari aku cara berpedang."

Elya mengulangi lagi perkataannya.

Raphael semakin terlihat bingung.

"Kenapa tiba-tiba?" ujarnya sambil merebut kembali pedang kayu dari tangan Elya.

"Memang kenapa? Tidak boleh?"

Raphael berjalan ke tepi lapangan. Elya mengikutinya dari belakang.

"Bukan tidak boleh.."

Raphael kembali menoleh, menatap kakaknya.

"Tapi tidak normal."

Elya memutar bola matanya.

Ia hampir lupa bahwa masyrakat di kerajaan ini masih belum sepenuhnya menerima perempuan yang aktif dalam hal apa pun.

Kecuali sang gadis suci tentunya.

Namun Elya tidak berniat belajar pedang untuk pamer.

Ini hanya untuk berjaga-jaga kedepannya.

Bagaimana pun, ia adalah villain dalam cerita ini.

Sebaik apa pun ia mencoba menghindar, pasti kesialan akan datang juga.

"Aku tidak melakukannya untuk pamer! Aku hanya mau menjaga diri."

Raphael mengelap keringat di dahinya menggunakan kain yang sudah disiapkan pelayan sebelumnya.

"Kau tak butuh kak. Kita punya banyak pengawal."

Elya kesal.

Raphael tak tahu saja bahwa semua orang nantinya akan menjadi musuh Elya.

"Ayolah adikk.. Kita bisa jadikan ini rahasia hanya di antara kita."

Elya menurunkan egonya.

Ia memohon pada Raphael.

Cara ini pasti berhasil.

Di dalam novel, Raphael memang suka ketika seseorang memohon padanya.

Itulah mengapa ia bisa luluh pada sang gadis suci.

Raphael menghela napas.

Entah mengapa, Elya merasa bahwa adiknya ini tak terasa seperti remaja dalam keadaan seperti ini.

"Hanya jika kau berjanji tak menunjukkan ini di depan umum."

Elya hampir melonjat di tempatnya.

"Ya! Ya! Kau bisa pegang kata-kataku."

Raphael memberikan pedang kayu itu kepada Elya.

Elya memegangnya dengan erat.

Raphael menggeleng.

"Pegang dengan dua tangan, tapi jangan terlalu erat. Jangan terlalu dekat ke pangkal juga."

Raphael membenarkan cara Elya memegang gagang pedang itu.

"Lalu lemaskan bahumu."

Satu pukulan ringan mendarat di kedua bahu Elya.

"Seperti ini?" tanya Elya setelah mempraktikkan semua ucapan Raphael.

Raphael mengangguk dengan bangga. Ia tak menyangka kakaknya adalah pembelajar yang cepat.

"Sekarang apa yang harus kulakukan?"

Raphael tersenyum licik.

"Ayunkan ke atas dan kebawah. Pertahankan posisi itu."

Elya dengan semangat langsung melakukannya.

"Aku harus berhenti di hitungan keberapa?"

Elya melirik Raphael yang duduk dengan nyaman sambil menyandarkan punggungnya.

"Sampai aku bilang berhenti."

Elya merengut.

"Apa-apaan ini? Kau mengerjaiku?"

Kalimat itu terlontar dengan sangat ketus, namun Elya sama sekali tak menghentikan gerakannya.

"Tidak."

Raphael menguap.

"Beginilah caraku latihan dulu."

Elya mendengus.

Ia tahu.

Itulah mengapa Elya tak berhenti mengayunkan pedang kayu itu.

"Kau orang pertama yang akan kuajak duel saat sudah mahir nanti."

Raphael terkekeh.

"Seorang murid tak akan pernah bisa mengalahkan gurunya."

Kedua bersaudara itu terus saling ejek tanpa menyadari sepasang mata tajam terus mengamati dari jauh.

"Sejak kapan Elyra belajar berpedang?"

Sang duke lah pelakunya.

Ia sedang dalam perjalanan menemui Raphael. Namun, begitu melihat Elyra mengayunkan pedang dengan semangat berapi-api, Evander langsung menghentikan langkahnya.

Ia terdiam di sana cukup lama, sampai mata Raphael menemukannya.

Bocah laki-laki itu melambai dengan senang. Sementara Elyra terlihat tetap fokus pada kegiatannya.

Evander berjalan mendekat.

"Apa yang sedang kau lakukan?"

Evander duduk tepat di samping Raphael.

"Kakakku tiba-tiba mengatakan ingin belajar berpedang."

"Kau mengajarinya?"

Raphael mengangguk.

"Ya. Tidak ada salahnya juga."

Evander mengangguk.

"Apa yang anda lakukan di sini?"

Evander masih menatap Elyra yang sepertinya masih tak sadar dengan kehadirannya di sana.

"Bertemu ayahmu. Kami membicarakan tentang penjemputan gadis suci."

Raphael mengangguk.

"Seperti apa dia?"

Evander menggeleng.

"Entahlah, hanya putra mahkota yang pernah bertemu dengannya."

Raphael mengangguk paham.

"Bagaimana pendapatmu?"

Raphael menoleh bingung.

"Tentang apa?"

Evander berusaha memilih kata yang tepat.

"Tentang sang gadis suci. Dia akan masuk ke rumah ini kan?"

Evander menatap Raphael. Raut wajah remaja itu tak berubah sedikit pun.

"Apa aku harus memberi pendapat?"

Evander berkedip bingung.

"Rumah ini dari awal juga sudah penuh dengan pelayan. Kurasa... tak akan ada perbedaan yang signifikan."

Evander terkejut.

Raphael memang terkenal akan sikapnya yang blak-blakan dan tak acuh pada sekitar.

"Gadis suci berbeda dengan kebanyakan orang."

Raphael mengernyit.

"Lihat."

Ia menunjuk ke arah Elyra.

"Kakakku juga berbeda dari kebanyakan orang. Dia belajar pedang. Seorang wanita loh.."

Evander juga dibuat bingung.

Ini bukan sikap yang bisanya akan diambil Elyra.

"Intinya..."

Raphael berdiri.

"Kurasa tak akan banyak yang berbeda. Sekali pun dia gadis suci, tak membuat dirinya spesial di mataku."

Lalu ia berjalan mendekat ke Elyra.

"Bahumu kaku lagi."

Ia memukul kedua bahu Elya.

"Apa sudah waktunya berhenti?" Elya bertanya sambil memijat bahu kanannya.

"Kau sudah menyerah?"

Elya langsung berdiri tegak.

"Tidak!"

Lalu tepat saat itu, Elya melihat sesosok lelaki lain bergabung dengan mereka.

Ia memperhatikan dengan seksama.

Rambut gelap, mata tajam.

Dan satu-satunya tamu yang datang hari ini adalah...

Duke Evander.

Sial.

"Sejak kapan dia duduk di sana?" bisik Elya.

Raphael melirik Evander yang sama sekali tak menunjukkan niat untuk pergi.

"Dua puluh menit yang lalu."

Elya memejamkan mata.

"Kenapa kau tak memberitahuku?"

Raphael mengernyit bingung.

"Kenapa? Kukira kau malah senang karena bisa pamer padanya."

Ya.

Barangkali itulah yang dipikirkan Elyra yang asli.

"Lupakan saja. Aku mau pergi."

Raphael semakin kebingungan melihat Elya yang berjalan cepat meninggalkannya.

"Mau kemana?!" teriak Raphael dari tempatnya.

"Mandi! Keringatmu menempel padaku!"

Raphael mendengus.

"Apa-apaan itu," gumamnya sebelum berjalan kembali ke kursi di dekat Evander.

"Kakakmu pergi?"

"Begitulah."

Evander masih memperhatikan punggung Elyra yang semakin menjauh.

"Dia terlihat agak aneh ya?"

"Ya."

Raphael setuju.

"Tapi siapa peduli. Kupikir dia lebih mudah didekati hari ini."

Evander tersenyum.

"Itu kabar baik kan?"

Raphael tersenyum miring.

"Ya untukku."

Ia menatao Evander dengan jahil.

"Tapi dia terlihat menjauhimu kan?"

Evander memalingkan wajah.

"Padahal biasanya kalian lengket seperti sepasang suami istri."

Evander menoleh dengan kaget.

"Dialah yang terus mengikutiku."

Raphael tertawa puas.

"Jangan bohong. Kau pikir aku tak tahu kau sering masuk ke kamarnya lewat jendala di tengah malam?"

Evander terdiam.

Lehernya perlahan memerah.

Perubahan itu disadari Raphael.

Tawa menggelegar semakin keras keluar dari mulutnya.

"Kuharap kau bisa jaga rahasia," gumam Evander.

"Aku tak tertarik membocorkan kehidupan cinta seseorang."

Evander kehabisan kata-kata.

Setidaknya ia belajar untuk tak menyepelekan anak kecil ini.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Villain yang Menolak Takdirnya   Bagian 5: Datangnya Sang Gadis Suci

    Keesokan paginya, kediaman keluarga Count Andreas menjadi jauh lebih ramai dari biasanya. Para pelayan berlarian dari satu tempat ke tempat lain. Suara langkah kaki terdengar hampir di setiap sudut lorong. Bahkan halaman depan pun dipenuhi oleh beberapa kereta kuda yang dipersiapkan untuk menyambut kedatangan seseorang. Elya berdiri di balik jendela kamarnya sambil memandang semua keributan itu. Hari ini. Akhirnya hari itu tiba. Hari ketika tokoh utama dalam novel yang telah ia baca akan memasuki kediaman keluarga Count Andreas. Sarah. Sang gadis suci. Elya menyandarkan dagunya pada telapak tangan. Kalau mengikuti alur novel, setelah Sarah datang, kehidupan Elyra akan mulai berubah. Perlahan tapi pasti, semua perhatian akan tertuju kepada gadis itu. Ayah akan menyayanginya. Para bangsawan akan memujinya. Para pria yang sebelumnya berada di sekitar Elyra akan mulai mendekatinya. Dan pada akhirnya... Elyra akan kehilangan semuanya. Elya tersenyum puas.

  • Villain yang Menolak Takdirnya   Bagian 4: Cerita yang Tak Lengkap(2)

    "Aku sudah tak lagi menyukainya." "Benarkah?" "Benar." Raphael memiringkan kepala. "Sejak kapan?" Elya terdiam. Sial. Pertanyaan macam apa itu? "Sejak... tadi." "Tadi?" "Ya." "Karena dia pergi?" Elya menghela napas. "Dia tidak pergi. Aku yang mengusirnya." Raphael mengangguk. "Apa dia mengganggumu?" "Tidak juga." Raphael semakin menyipitkan mata. "Kakak bertengkar dengannya?" "Tidak." "Dia melakukan sesuatu?" Elya terdiam lagi. Bagaimana caranya dia menjelaskan bahwa dia bahkan baru mengenal pria itu hari ini? "Raphael." "Hm?" "Evander biasanya datang ke kamarku untuk apa?" Raphael menatap kakaknya dengan kebingungan. "Bukankah itu seharusnya aku yang bertanya?" "Kenapa?" "Kakak tidak terlihat kaget sama sekali saat aku menanyakan tentang duke." Elya mematung. Jadi harusnya Raphael tidak tahu? "Sejak kapan kau tahu?" Raphael tersenyum. "Entah kapan pastinya. Yang jelas aku memergoki yang mulia duke melompat ke dalam j

  • Villain yang Menolak Takdirnya   Bagian 3: Cerita yang Lengkap

    Elya mengunci pintu kamarnya dan duduk di atas sofa lebar dengan kesal. Ia memang baru pertama kali ini bertemu dengan Evander. Namun, entah mengapa wajah itu membuatnya sebal. Diantara semua tokoh laki-laki, Evander bisa dibilang adalah yang paling menyebalkan. Memang benar dijelaskan bahwa perasaan Elyra terhadap Evander bertepuk sebelah tangan, namun sepanjang cerita, Evander tak pernah benar-benar menolak Elyra. Tak seperti putra mahkota yang tegas, Evander justru bersikap membingungkan. Ia tak pernah mengusir Elyra yang menempel padanya, tak pernah menyusir Elyra yang bertamu ke kediamannya, tak pernah juga menepis setiap sentuhan Elyra. Namun, sang duke juga tak pernah menyambut perasaan Elyra. Bahkan di akhir cerita, Evander masih beberapa kali mengunjungi Elyra di penjara sebelum kemudian dieksekusi. menurut Elya, pemikiran Evander adalah yang paling rumit diantara tokoh lainnya. Cerita itu juga tak pernah berganti sudut pandang sama sekali, sehingga yang ia

  • Villain yang Menolak Takdirnya   Bagian 2: Bertemu Sang Duke

    Elya memandang Raphael dengan kagum. Di dalam buku 'Kelahiran Sang Gadis Suci' memang berkali-kali dijelaskan bahwa Raphael, bahkan diusia remajanya, adalah seorang anak ajaib. Ahli pedang. Ahi strategi. Dan murid akademi militer paling potensial di kerajaan. Namun, melihatnya sendiri rasanya sangat berbeda. Anak 16 tahun itu terlihat berkali-kali lebih keren saat mengayunkan pedang. "Sayang sekali kami saudara kandung," gumam Elya. Tiba-tiba, sesuatu terlintas di otaknya. Ia mulai berdiri dan mendekat ke arah Raphael. Raphael yang menyadari kehadiran Elya hanya menatap dengan bingung. "Ajari aku berpedang." Raphael tercengang. "Apa?" Elya menyambar pedang kayu yang sejak tadi dipakai oleh adiknya. "Ajari aku cara berpedang." Elya mengulangi lagi perkataannya. Raphael semakin terlihat bingung. "Kenapa tiba-tiba?" ujarnya sambil merebut kembali pedang kayu dari tangan Elya. "Memang kenapa? Tidak boleh?" Raphael berjalan ke tepi lapangan. Elya mengikutinya dari belaka

  • Villain yang Menolak Takdirnya   Bagian 1: Kelahiran Sang Gadis Suci

    Brakk Elya membanting buku novel setebal 500 halaman itu ke atas meja. Alisnya mengerut kesal. "Novel sampah!" ujarnya marah. "Sekarang tuh emang lagi laku-lakunya tokoh utama menye-menye deh. Gak jelas banget perasaannya ke siapa. Bisanya cuma mewek. Ini kalau dilihat juga masih bagusan si tokoh villain!" Elya berjalan ke dapur. Ia mengambil segelas jus jeruk dari dalam lemari pendingin dan menenggaknya dalam sekali minum. "Sayang banget villainnya mati di pertengahan cerita. Tapi meskipun begitu.., kalau bisa masuk ke dalamnya, aku tetep pengen jadi Elyria sih, dari pada si cengeng Sarah." Elya melirik jam dinding. Sudah hampir tengah malam. Dengan tenang ia berjalan menaiki tangga, ke arah kamar tidurnya. Satu langkah.. Dua langkah.. Tiga langkah.. Lalu entah pada langkah keberapa, Elya terpeleset bungkus plastik yang mungkin lupa ia buang. Jantungnya berdetak kencang, namun tangannya tak sempat menggenggam pinggiran tangga. Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Dunia be

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status