แชร์

Bagian 5: Datangnya Sang Gadis Suci

ผู้เขียน: Hibischu
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-08 13:59:13

Keesokan paginya, kediaman keluarga Count Andreas menjadi jauh lebih ramai dari biasanya.

Para pelayan berlarian dari satu tempat ke tempat lain.

Suara langkah kaki terdengar hampir di setiap sudut lorong. Bahkan halaman depan pun dipenuhi oleh beberapa kereta kuda yang dipersiapkan untuk menyambut kedatangan seseorang.

Elya berdiri di balik jendela kamarnya sambil memandang semua keributan itu.

Hari ini.

Akhirnya hari itu tiba.

Hari ketika tokoh utama dalam novel yang telah ia baca akan memasuki kediaman keluarga Count Andreas.

Sarah.

Sang gadis suci.

Elya menyandarkan dagunya pada telapak tangan.

Kalau mengikuti alur novel, setelah Sarah datang, kehidupan Elyra akan mulai berubah.

Perlahan tapi pasti, semua perhatian akan tertuju kepada gadis itu.

Ayah akan menyayanginya.

Para bangsawan akan memujinya.

Para pria yang sebelumnya berada di sekitar Elyra akan mulai mendekatinya.

Dan pada akhirnya...

Elyra akan kehilangan semuanya.

Elya tersenyum puas.

Bagus.

Sangat bagus.

Ia tak keberatan sama sekali.

Semakin cepat semua itu terjadi, semakin cepat pula ia bisa keluar dari lingkup keluarga bangsawan yang menyesakkan.

Ia tidak akan mengganggu Sarah.

Tidak akan mencari masalah dengan para pria yang menyukainya.

Tidak akan memperebutkan perhatian siapa pun.

Ia bahkan rela menyerahkan seluruh panggung kepadanya.

Yang penting jangan libatkan dirinya.

“Nona Elyra.”

Suara seorang pelayan terdengar dari balik pintu.

Elya menoleh.

“Ya?”

“Count meminta Anda turun ke aula.”

Elya menghela napas.

Tentu saja.

Ia sudah hampir melupakan satu hal.

Sebagai putri keluarga Count, dia tidak mungkin bersembunyi di kamar ketika calon anggota keluarga baru datang.

“Baik. Aku akan segera turun.”

Elya merapikan pakaiannya sekali lagi sebelum meninggalkan kamar.

Sepanjang perjalanan menuju aula, ia terus mengingat kembali isi novel.

Bagian pertemuan pertama Elyra dan Sarah.

Elyra bersikap angkuh.

Sarah bersikap rendah hati.

Count Andreas langsung merasa iba kepada Sarah.

Dan dari situlah semuanya bermula.

Sederhana.

Elya hanya perlu melakukan kebalikan dari Elyra.

Jangan bersikap kasar.

Jangan mencari masalah.

Jangan membuat Sarah membencinya.

Dan yang paling penting...

Jangan menarik perhatian.

Barangkali ia hanya akan berdiri di sana dan berusaha tidak terlihat. Bicara seperlunya, dan tetap diam jika tak diajak bicara.

Sesampainya di aula, Elya langsung melihat ayahnya berdiri di dekat pintu utama.

Raphael juga sudah berada di sana.

Elya menghampiri sang adik.

“Kenapa semuanya terlihat begitu serius?”

Raphael menoleh.

“Kau belum tahu?”

“Tahu apa?”

“Rombongan mereka sudah hampir tiba.”

Elya mengangguk.

“Aku tahu.”

Raphael memandang kakaknya dari atas ke bawah.

“Kau tidak gugup?”

“Untuk apa?”

Raphael mengangkat bahu.

“Entahlah. Kau biasanya mudah marah jika ada sesuatu yang tidak sesuai keinginanmu.”

Elya mendengus.

“Mulai hari ini aku akan menjadi orang yang sangat sabar.”

Raphael menatapnya curiga.

“Itu justru lebih mengkhawatirkan.”

Elya hendak membalas, tetapi suara derap kaki kuda terdengar dari luar.

Percakapan di dalam aula langsung terhenti.

Satu per satu kepala yang ada di ruangan tersebut menoleh ke arah pintu.

Kereta yang membawa sang gadis suci akhirnya tiba.

Elya menarik napas panjang.

Baiklah.

Pertunjukan akhirnya dimulai.

Namun ketika pintu kereta terbuka dan seorang gadis turun dari dalamnya, Elya hanya bisa terdiam.

...

Itu bukan Sarah yang ia ingat.

Sarah dalam novel selalu digambarkan sebagai gadis yang lemah lembut, anggun, dan nyaris sempurna.

Tetapi gadis di hadapannya justru terlihat...

kelelahan.

Rambutnya memang pirang berkilau seperti digambarkan dalam novel. Namun, terlihat cukup kering dan sedikit berantakan.

Gaunnya sederhana.

Sangat sederhana.

Elya juga bisa melihat lingkar warna hitam di bagian bawah matanya.

Dan sebelum siapa pun sempat menyambutnya, gadis itu justru menoleh ke arah kusir.

“Terima kasih sudah mengantarku.”

Kusir itu tampak terkejut.

“Tidak perlu, Nona.”

Sarah tersenyum kecil.

Kemudian ia berbalik.

Tatapannya bertemu dengan Elya.

Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling memandang.

Elya segera mengalihkan pandangan. Ia tak ingin menarik perhatian Sarah karena mereka saling tatap.

Beberapa detik kemudian, derap langkah beberapa kuda kembali terdengar. Di sanalah para tokoh pria dalam novel datang.

Di depan sendiri, sang putra mahkota menggunakan pakaian biru formal. Lalu Evander dan Elias sang penyihir menyusul di belakangnya.

"Hormat kami pada putra mahkota Alistair."

Andreas memimpin hormat, disusul dengan Raphael, Elya, dan para pelayan di belakangnya.

Tatapan mata Elya sempat bertemu sesaat dengan Evander yang berdiri di belakang putra mahkota. Elya segera memalingkan wajah. Ia memilih untuk sebisa mungkin menghindari kontak dengan sang duke.

lagi pula sebentar lagi Evander akan sibuk dengan urusan gadis suci dan penetralan kutukan bersama dengan Alistair dan Elias.

Menghindar mulai dari sekarang adalah pilihan paling bijak menurutnya.

"Count Andreas, ucapan terima kasih saja kurasa tak cukup untuk jasamu. Terima kasih karena telah menerima sang gadis suci sebagai anggota keluarga barumu. Untuk itu, kukirim beberapa hadiah di kerera kuda paling belakang."

Putra mahkota menjabat tangan count Andreas sembari tersenyum teduh.

"Justru sang gadis suci adalah sebuah keajaiban tuhan yang dikirimkan pada kekuarga kami, yang mulia."

Elya sudah hafal dengan dialog ini. Bukan karena menyukainya, tapi karena muak.

Biasanya, hal yang paling tidak disukai justru akan melekat selamanya.

Itulah yang sedang Elya alami.

Di tengah lamunannya, Raphael tiba-tiba saja menyenggol tangannya.

Elya menoleh, Raphael memberi isyarat dengan dagunya, menunjuk ke arah Evander yang sejak tadi ternyata diam-diam menatap Elya dalam diam.

Elya mengernyit ke arah Raphael.

Elya membuka mulutnya, tanpa suara ia berkata: 'biarkan saja.'

Ia tahu Raphael mampu membaca gerakan bibir seseorang.

"Kalau begitu, biarkan keluarga kami menyambut kalian dengan makan siang sederhana."

Suara count Andreas kembali masuk ke dalam telinga Elya.

Mereka akhirnya berjalan beriringan ke arah ruang makan.

Sarah masih saja diam.

Sejauh ini semua sesuai dengan novel yang ia baca.

Sarah akan mulai bicara dan menarik perhatian semua orang saat berada di meja makan.

Elya berjalan mendekat ke arah Raphael. Di dalam novel, Elyra bersikap kuranf ajar dan mengambil tempat tepat di sebelah putra mahkota bahkan sebelum sang gadis suci sempat bersiap untuk duduk. Disanalah perdebatan sempat terjadi.

Namun kini, ia berencana untuk duduk di dekat Raphael. Untuk saat ini, Elya merasa hanya Raphaellah satu-satunya sekutu di sini.

"Kau tidak duduk dekat yang mulia duke?"

Raphael berbisik pelan di telinga Elya.

Namun, belum sempat Elya menjawab, kursi di sisinya yang lain sudah ditarik kasar oleh Evander.

Elya menelan ludah. Dari gerak-gerik sang duke, kelihatannya dia sedang marah.

Elya hendak berdiri dan mengambil tempat duduk yang lain, namun di bawah meja tangan kokoh Evander sudah menggenggam pergelangan tangan Elya, mencegahnya untuk pergi dari tempat duduknya.

Elya menoleh ke arah Raphael yang sepertinya menyadari apa yang terjadi.

Mulut Elya kembalu terbuka dan berkata tanpa suara ke arah Raphael: 'matilah aku'

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Villain yang Menolak Takdirnya   Bagian 5: Datangnya Sang Gadis Suci

    Keesokan paginya, kediaman keluarga Count Andreas menjadi jauh lebih ramai dari biasanya. Para pelayan berlarian dari satu tempat ke tempat lain. Suara langkah kaki terdengar hampir di setiap sudut lorong. Bahkan halaman depan pun dipenuhi oleh beberapa kereta kuda yang dipersiapkan untuk menyambut kedatangan seseorang. Elya berdiri di balik jendela kamarnya sambil memandang semua keributan itu. Hari ini. Akhirnya hari itu tiba. Hari ketika tokoh utama dalam novel yang telah ia baca akan memasuki kediaman keluarga Count Andreas. Sarah. Sang gadis suci. Elya menyandarkan dagunya pada telapak tangan. Kalau mengikuti alur novel, setelah Sarah datang, kehidupan Elyra akan mulai berubah. Perlahan tapi pasti, semua perhatian akan tertuju kepada gadis itu. Ayah akan menyayanginya. Para bangsawan akan memujinya. Para pria yang sebelumnya berada di sekitar Elyra akan mulai mendekatinya. Dan pada akhirnya... Elyra akan kehilangan semuanya. Elya tersenyum puas.

  • Villain yang Menolak Takdirnya   Bagian 4: Cerita yang Tak Lengkap(2)

    "Aku sudah tak lagi menyukainya." "Benarkah?" "Benar." Raphael memiringkan kepala. "Sejak kapan?" Elya terdiam. Sial. Pertanyaan macam apa itu? "Sejak... tadi." "Tadi?" "Ya." "Karena dia pergi?" Elya menghela napas. "Dia tidak pergi. Aku yang mengusirnya." Raphael mengangguk. "Apa dia mengganggumu?" "Tidak juga." Raphael semakin menyipitkan mata. "Kakak bertengkar dengannya?" "Tidak." "Dia melakukan sesuatu?" Elya terdiam lagi. Bagaimana caranya dia menjelaskan bahwa dia bahkan baru mengenal pria itu hari ini? "Raphael." "Hm?" "Evander biasanya datang ke kamarku untuk apa?" Raphael menatap kakaknya dengan kebingungan. "Bukankah itu seharusnya aku yang bertanya?" "Kenapa?" "Kakak tidak terlihat kaget sama sekali saat aku menanyakan tentang duke." Elya mematung. Jadi harusnya Raphael tidak tahu? "Sejak kapan kau tahu?" Raphael tersenyum. "Entah kapan pastinya. Yang jelas aku memergoki yang mulia duke melompat ke dalam j

  • Villain yang Menolak Takdirnya   Bagian 3: Cerita yang Lengkap

    Elya mengunci pintu kamarnya dan duduk di atas sofa lebar dengan kesal. Ia memang baru pertama kali ini bertemu dengan Evander. Namun, entah mengapa wajah itu membuatnya sebal. Diantara semua tokoh laki-laki, Evander bisa dibilang adalah yang paling menyebalkan. Memang benar dijelaskan bahwa perasaan Elyra terhadap Evander bertepuk sebelah tangan, namun sepanjang cerita, Evander tak pernah benar-benar menolak Elyra. Tak seperti putra mahkota yang tegas, Evander justru bersikap membingungkan. Ia tak pernah mengusir Elyra yang menempel padanya, tak pernah menyusir Elyra yang bertamu ke kediamannya, tak pernah juga menepis setiap sentuhan Elyra. Namun, sang duke juga tak pernah menyambut perasaan Elyra. Bahkan di akhir cerita, Evander masih beberapa kali mengunjungi Elyra di penjara sebelum kemudian dieksekusi. menurut Elya, pemikiran Evander adalah yang paling rumit diantara tokoh lainnya. Cerita itu juga tak pernah berganti sudut pandang sama sekali, sehingga yang ia

  • Villain yang Menolak Takdirnya   Bagian 2: Bertemu Sang Duke

    Elya memandang Raphael dengan kagum. Di dalam buku 'Kelahiran Sang Gadis Suci' memang berkali-kali dijelaskan bahwa Raphael, bahkan diusia remajanya, adalah seorang anak ajaib. Ahli pedang. Ahi strategi. Dan murid akademi militer paling potensial di kerajaan. Namun, melihatnya sendiri rasanya sangat berbeda. Anak 16 tahun itu terlihat berkali-kali lebih keren saat mengayunkan pedang. "Sayang sekali kami saudara kandung," gumam Elya. Tiba-tiba, sesuatu terlintas di otaknya. Ia mulai berdiri dan mendekat ke arah Raphael. Raphael yang menyadari kehadiran Elya hanya menatap dengan bingung. "Ajari aku berpedang." Raphael tercengang. "Apa?" Elya menyambar pedang kayu yang sejak tadi dipakai oleh adiknya. "Ajari aku cara berpedang." Elya mengulangi lagi perkataannya. Raphael semakin terlihat bingung. "Kenapa tiba-tiba?" ujarnya sambil merebut kembali pedang kayu dari tangan Elya. "Memang kenapa? Tidak boleh?" Raphael berjalan ke tepi lapangan. Elya mengikutinya dari belaka

  • Villain yang Menolak Takdirnya   Bagian 1: Kelahiran Sang Gadis Suci

    Brakk Elya membanting buku novel setebal 500 halaman itu ke atas meja. Alisnya mengerut kesal. "Novel sampah!" ujarnya marah. "Sekarang tuh emang lagi laku-lakunya tokoh utama menye-menye deh. Gak jelas banget perasaannya ke siapa. Bisanya cuma mewek. Ini kalau dilihat juga masih bagusan si tokoh villain!" Elya berjalan ke dapur. Ia mengambil segelas jus jeruk dari dalam lemari pendingin dan menenggaknya dalam sekali minum. "Sayang banget villainnya mati di pertengahan cerita. Tapi meskipun begitu.., kalau bisa masuk ke dalamnya, aku tetep pengen jadi Elyria sih, dari pada si cengeng Sarah." Elya melirik jam dinding. Sudah hampir tengah malam. Dengan tenang ia berjalan menaiki tangga, ke arah kamar tidurnya. Satu langkah.. Dua langkah.. Tiga langkah.. Lalu entah pada langkah keberapa, Elya terpeleset bungkus plastik yang mungkin lupa ia buang. Jantungnya berdetak kencang, namun tangannya tak sempat menggenggam pinggiran tangga. Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Dunia be

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status