ANMELDENElya tak menyangka bahwa dirinya bertransmigrasi ke dalam novel yang ia baca, Kelahiran sang Gadis Suci. Masalahnya adalah ia masuk ke dalam tubuh Villain utama yang berakhir tragis di akhir cerita. Namun, terlahir sebagai bangsawan kaya, tentu Elya tak akan membuang hidupnya begitu saja. Biarlah para pria itu memperebutkan sang gadis suci, sedangkan Elya menikmati harta keluarganya.
Mehr anzeigenBrakk
Elya membanting buku novel setebal 500 halaman itu ke atas meja. Alisnya mengerut kesal. "Novel sampah!" ujarnya marah. "Sekarang tuh emang lagi laku-lakunya tokoh utama menye-menye deh. Gak jelas banget perasaannya ke siapa. Bisanya cuma mewek. Ini kalau dilihat juga masih bagusan si tokoh villain!" Elya berjalan ke dapur. Ia mengambil segelas jus jeruk dari dalam lemari pendingin dan menenggaknya dalam sekali minum. "Sayang banget villainnya mati di pertengahan cerita. Tapi meskipun begitu.., kalau bisa masuk ke dalamnya, aku tetep pengen jadi Elyria sih, dari pada si cengeng Sarah." Elya melirik jam dinding. Sudah hampir tengah malam. Dengan tenang ia berjalan menaiki tangga, ke arah kamar tidurnya. Satu langkah.. Dua langkah.. Tiga langkah.. Lalu entah pada langkah keberapa, Elya terpeleset bungkus plastik yang mungkin lupa ia buang. Jantungnya berdetak kencang, namun tangannya tak sempat menggenggam pinggiran tangga. Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Dunia berputar. Anak tangga yang tadi terlihat biasa kini berubah menjadi deretan batu yang terasa tak ada habisnya. Ia memejamkan mata. Hal terakhir yang ia ingat adalah suara gedebug keras dan rasa sakit di tulang belakangnya. Lalu... Semuanya gelap. ... "..ra." "Elyra.." Dadanya terasa sesak. Jemarinya tanpa sadar mencengkeram taplak meja. Ini... bukan rumahku. Bau lilin. Peralatan makan dari perak. Orang-orang berpakaian seperti bangsawan. Jangan panik. Jangan panik dulu. "Kau baik-baik saja nak?" Seorang pria tua menatapnya dengan khawatir. "Kak Lyra, kau baik-baik saja?" Seorang bocah laki-laki yang duduk di sampingnya mengelus pergelangan tangannya. Elya masih mencerna apa yang terjadi. "Elyra, jika memang tidak enak badan, kau bisa beristirahat di kamarmu." Pria tua itu kembali bicara. Elya menegang mendengarnya. Bukan karena apa yang disampaikan pria itu, melainkan nama yang disebutkannya. Elyra? Villain dalam novel 'Kelahiran Sang Gadis Suci' yang ia baca sebelumnya. Apa ia masuk ke dalam novel tersebut? Ia mengalami perjalanan spiritual yang biasanya hanya ia dengar dari cerita-cerita fiksi? Elya dengan secepat mungkin berusaha beradaptasi dengan keadaan sekitar. "Tidak, ayah. Aku hanya melamun sejenak tadi." Elya yakin pria tua itu adalah Count Andreas, ayah Elyra. Semua orang menghela napas lega. "Kalau begitu biar ayah ulangi." Dari hidangan yang ada di atas meja, Elya tahu adegan ini adalah bab awal novel. Bab tempat Elyra diperkenalkan. "Kita akan kedatangan anggota keluarga baru. Ayah akan mengadopsi sang gadis suci." Semua orang diruangan kaget. Persis seperti dalam novel. Namun Elya yang sudah tahu akan hal itu hanya diam sambil terus melanjutkan makannya. Makanan di sini terasa hambar, tapi kualitas bahan masakannya membuat makanan ini menjadi punya rasa khas yang masih bisa dinikmati. Begitulah batin Elya. Ia benar-benar mengabaikan interaksi apa pun di atas meja makan. "Bagaimana menurutmu, Elyra?" Elyra mengangkat pandangan dari piring. Ia menatap ibunya. "Keputusan ayah bukanlah hal yang patut kutentang. Lagi pula, rumah ini akan diberkahi jika menampung seorang gadis suci di dalamnya." Bukan. Ini bukan kalimat yang diucapkan Elyra di dalam novel. Elyra hanya akan mendengus dan pergi dari meja ini. Namun... Elya enggan mencari musuh. Ia sudah memutuskan. Ia akan hidup enak dan menghamburkan harta keluarga. Menjauhi pria-pria milik Sarah, dan menemukan orang biasa untuk dinikahi. Berurusan dengan bangsawan bukanlah hal yang menyenangkan. Lagi pula, semua bangsawan seharusnya memang akan tertarik pada si gadis suci nanti. Selama tidak mengganggu jalan hidup Sarah, Elyra seharusnya bisa hidup damai sampai tua. Setidaknya... itulah rencananya. "Ayah harap kalian bisa berteman baik." Elya mengangguk. Tentu tidak akan. Ia akan menghindari Sarah sebisa mungkin. Yang tidak ia sadari adalah, keputusan untuk menjaga jarak justru menjadi awal dari semua kekacauan. ... Elya berputar di depan kaca. Sebelumnya, ia memang bukan golongan orang yang tak mampu. Namun, yang dikenakan Elya di tubuh Elyra jelas bukan sekedar pakaian orang kaya. "Bangsawan memang luar biasa," gumam Elya sambil menyentuh kalung mutiara di lehernya. Ia ingat betul adegan setelah sarapan tadi. Setelah ini, salah satu tokoh utama laki-laki akan datang ke kediaman count, duke Evander Arden. Seingat Elya, sang duke akan datang untuk memberi tahu rencana penjemputan sang gadis suci. Sejak kecil, duke dan Elya berteman baik. Elya diam-diam menyimpan perasaan pada sang duke. "Seharusnya dia keluar dan mulai mengikuti duke Evander dan marah-marah karena diabaikan." Elya merenung di depan kaca. Sebelum mengembangkan senyum dan menghempaskan tubuhnya ke ranjang empuk di kamarnya. "Masa bodoh dengan duke kaya itu. Aku lebih tertarik pada kasur yang jauh lebih nyaman dari pada di tempat asalku." Di sisi lain, saat Evander turun dari kereta, ia mengernyit bingung karena tak menemukan Elyra yang bisanya menyambut." "Selamat datang, duke. Mari saya antar ke ruangan count." Kepala pelayan menyapanya dengan sopan dan memimpin jalan ke arah ruang kerja sang count. Mata Evander menyapu seluruh rumah, mencari keberadaan gadis berisik yang biasa mengekorinya. "Dimana Elyra?" tanyanya kepada kepala pelayan. "Nona ELyra langsung masuk ke kamarnya begitu selesai sarapan tadi, tuan." "Apa dia tahu aku akan datang?" Evander memastikan. Sang kepala pelayan mengangguk. "Benar. Count telah mengumumkannya kemarin malam." "Aneh. Tidak seperti dia biasanya," gumam Evander. "Ya?" Evander menggeleng. "Bukan apa-apa." ... Raphael mengetuk pintu sekali dan membukanya begitu diizinkan oleh sang kakak. Ia mengintip sedikit dan mendapati Elyra sedang tidur tengkurap dengan sebuah buku tepat di hadapannya. "Apa yang kau butuhkan?" tanya Elyra. Anak kecil itu adalah Raphael Wintermere, adik satu-satunya Elyra. Di novel yang ia baca, hubungan antara Raphael dan Elyra mendingin saat Sarah datang ke kediaman mereka. Namun kali ini Elya akan mengubahnya. Setidaknya, jika rencananya menjauhi Sarah tak dapat mengubah takdirnya, maka Raphael harus ada di pihaknya. Adiknya harus menjdi sekutu. "Boleh aku masuk?" Elyra mengangguk dan mengubah posisinya menjadi duduk di atas ranjang. "Sekarang katakan kenapa kau mencariku?" Raphael menatap Elyra dengan ragu-ragu. "Hari ini jadwalku berlatih pedang. Namun, pelatihku tidak bisa datang karena sedang sakit. Bisakah kakak menemaniku?" Ya. Ini pun ada di dalam novel. Elya ingat bahwa permintaan itu ditolak hanya karena Elyra ingin berada di dekat Evander ketika ia berkunjung. "Kau tahu kan aku tak bisa menjadi pelatih pedangmu?" Raphael mengangguk. "Hanya temani aku saja. Aku tidak suka sendirian." Elya mengangguk. "Tapi tunggu sebentar, biar aku berganti baju terlebih dahulu." Mata Raphael bersinar cerah. Senang dengan permintaannya yang diterima. "Kalau begitu aku akan tunggu di halaman belakang," ujarnya riang. Elyra mengangguk. "Aku akan datang secepatnya." Tepat setelah Raphael berlari pergi, Elya langsung memanggil para pelayan untuk membantunya berganti pakaian. "Tidak biasanya nona berkenan menemani tuan muda." Elya tersenyum. "Entahlah. Mungkin aku hanya ingin mencoba sesuatu yang... baru?"Keesokan paginya, kediaman keluarga Count Andreas menjadi jauh lebih ramai dari biasanya. Para pelayan berlarian dari satu tempat ke tempat lain. Suara langkah kaki terdengar hampir di setiap sudut lorong. Bahkan halaman depan pun dipenuhi oleh beberapa kereta kuda yang dipersiapkan untuk menyambut kedatangan seseorang. Elya berdiri di balik jendela kamarnya sambil memandang semua keributan itu. Hari ini. Akhirnya hari itu tiba. Hari ketika tokoh utama dalam novel yang telah ia baca akan memasuki kediaman keluarga Count Andreas. Sarah. Sang gadis suci. Elya menyandarkan dagunya pada telapak tangan. Kalau mengikuti alur novel, setelah Sarah datang, kehidupan Elyra akan mulai berubah. Perlahan tapi pasti, semua perhatian akan tertuju kepada gadis itu. Ayah akan menyayanginya. Para bangsawan akan memujinya. Para pria yang sebelumnya berada di sekitar Elyra akan mulai mendekatinya. Dan pada akhirnya... Elyra akan kehilangan semuanya. Elya tersenyum puas.
"Aku sudah tak lagi menyukainya." "Benarkah?" "Benar." Raphael memiringkan kepala. "Sejak kapan?" Elya terdiam. Sial. Pertanyaan macam apa itu? "Sejak... tadi." "Tadi?" "Ya." "Karena dia pergi?" Elya menghela napas. "Dia tidak pergi. Aku yang mengusirnya." Raphael mengangguk. "Apa dia mengganggumu?" "Tidak juga." Raphael semakin menyipitkan mata. "Kakak bertengkar dengannya?" "Tidak." "Dia melakukan sesuatu?" Elya terdiam lagi. Bagaimana caranya dia menjelaskan bahwa dia bahkan baru mengenal pria itu hari ini? "Raphael." "Hm?" "Evander biasanya datang ke kamarku untuk apa?" Raphael menatap kakaknya dengan kebingungan. "Bukankah itu seharusnya aku yang bertanya?" "Kenapa?" "Kakak tidak terlihat kaget sama sekali saat aku menanyakan tentang duke." Elya mematung. Jadi harusnya Raphael tidak tahu? "Sejak kapan kau tahu?" Raphael tersenyum. "Entah kapan pastinya. Yang jelas aku memergoki yang mulia duke melompat ke dalam j
Elya mengunci pintu kamarnya dan duduk di atas sofa lebar dengan kesal. Ia memang baru pertama kali ini bertemu dengan Evander. Namun, entah mengapa wajah itu membuatnya sebal. Diantara semua tokoh laki-laki, Evander bisa dibilang adalah yang paling menyebalkan. Memang benar dijelaskan bahwa perasaan Elyra terhadap Evander bertepuk sebelah tangan, namun sepanjang cerita, Evander tak pernah benar-benar menolak Elyra. Tak seperti putra mahkota yang tegas, Evander justru bersikap membingungkan. Ia tak pernah mengusir Elyra yang menempel padanya, tak pernah menyusir Elyra yang bertamu ke kediamannya, tak pernah juga menepis setiap sentuhan Elyra. Namun, sang duke juga tak pernah menyambut perasaan Elyra. Bahkan di akhir cerita, Evander masih beberapa kali mengunjungi Elyra di penjara sebelum kemudian dieksekusi. menurut Elya, pemikiran Evander adalah yang paling rumit diantara tokoh lainnya. Cerita itu juga tak pernah berganti sudut pandang sama sekali, sehingga yang ia
Elya memandang Raphael dengan kagum. Di dalam buku 'Kelahiran Sang Gadis Suci' memang berkali-kali dijelaskan bahwa Raphael, bahkan diusia remajanya, adalah seorang anak ajaib. Ahli pedang. Ahi strategi. Dan murid akademi militer paling potensial di kerajaan. Namun, melihatnya sendiri rasanya sangat berbeda. Anak 16 tahun itu terlihat berkali-kali lebih keren saat mengayunkan pedang. "Sayang sekali kami saudara kandung," gumam Elya. Tiba-tiba, sesuatu terlintas di otaknya. Ia mulai berdiri dan mendekat ke arah Raphael. Raphael yang menyadari kehadiran Elya hanya menatap dengan bingung. "Ajari aku berpedang." Raphael tercengang. "Apa?" Elya menyambar pedang kayu yang sejak tadi dipakai oleh adiknya. "Ajari aku cara berpedang." Elya mengulangi lagi perkataannya. Raphael semakin terlihat bingung. "Kenapa tiba-tiba?" ujarnya sambil merebut kembali pedang kayu dari tangan Elya. "Memang kenapa? Tidak boleh?" Raphael berjalan ke tepi lapangan. Elya mengikutinya dari belaka
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.