Masuk"Langsung dibawa masuk semua Kak?" tanya Bianca saat di parkiran.
"Langsung ke lantai dua," sahut Gumi, matanya berbinar-binar, menatapku cerah. "Kalau nggak keberatan aku bisa sekamar sama Marsha.""Nggak usah sih, di sini banyak kamar, kenapa kita harus sekamar?" tanyaku agak sewot. Membiarkan para asistennya menggotong berkoper-koper pakaian untuk dipindahkan dari mobil ke dorm.Aku tidak tahu dari mana dia memiliki barang sebanyak itu. Karena rumah kami sudah dijual, dan saat di rumah sakit, tidak ada barangnya yang dibawa. Tapi kini, bahkan selain koper, Gumi memiliki banyak sekali gitar dan barang pribadi.Mungkin itu barang-barang yang dia simpan di apartemen pemberian Pj, kemudian dia pindahkan ke sini.Mama bilang kondisi kesehatannya memburuk tapi kembaranku bisa mengenakan heels tanpa goyah. Mereka selalu kompak dalam membohongi aku.Ghozali mengebul di sebelahku, entah sudah berapa banyak rokok yang dia hisap selagi mSegala hal terasa sulit.Berhari-hari aku hidup dalam insomnia, menyelidiki satu per satu keterlibatan Mas Pj, walaupun sangat sulit, dan akhirnya setelah penyelidikan yang terjal, Jerikho menemukan bukit bahwa Om Genta sudah membuntutiku semenjak aku masih tinggal di dorm The Blues."Dia masih nggak bisa dimintai keterangan." Begitulah kata advokat Bas. Karena keadaan Om Genta baru melewati masa kritis, belum sepenuhnya sadar. Sesuai dugaan, keluarga pelaku tidak terima, dan malah mengajukan tuntutan, meskipun niat mereka lebih seperti ingin viral, dan nama baik Bas tengkurap.Media meledak.Sampai-sampai aku nyaris menjatuhkan ponsel saat Jihan menghubungi. "Gimana keadaan kamu?" Dia bertanya, suaranya masih sama. Lembut dan sopan. Setelah kabar tentang Ghozali kuberikan. Aku sangat bersyukur, Jihan tidak menganggapku sebagai saingan."Aku lihat di berita," tambahnya, takut aku bingung. "Kamu kena musibah, orang tolo
"Bas!" Matanya kelihatan melebar terkejut ketika aku menyongsongnya dalam pelukan. Dia bergeming sementara aku merangkul lehernya, merasakan detak jantungnya yang menggila di dadaku. Selama beberapa saat dia tidak merespon, lalu kurasakan lengannya merangkul tubuhku erat, bibirnya menghirup ceruk leherku, bernapas berat di sana. "Kenapa kamu di sini?" Dia berkata bingung. Aku memang berlari duluan keluar dari mobil sementara Ghozali masih sibuk mencari tempat parkir. "Sama siapa kamu ke sini?" ulangnya, nada suaranya tajam. Namun dia menekan punggungku, hingga aku makin membusur, mendekapnya lebih erat, seakan kami belum cukup rapat, seakan dia belum cukup yakin aku berada bersamanya. "Marsha..." Astaga. Aku merindukannya! Aku merindukan suaranya yang memanggilku dengan manja. Aku rindu bagaimana caranya menyebutkan namaku seakan dia sangat memujaku. Aku rindu den
"Nggak mungkin kamu ke sana, kamu masih dalam proses pemulihan." Ghozali langsung menyanggah niatku.Terbiasa dibantah, diabaikan, aku justru semakin keras kepala. Lanjut berdiri, melipat selimut rumah sakit dengan rapi. Ghozali mendengkus pelan."Lagian Bas bukan anak kecil, dia tahu apa yang dia lakukan, dan dia tahu gimana caranya membela diri. Marsha..." Dia menyentuh lenganku karena aku memilih bungkam. "Tolong perhatiin diri kamu sendiri. Kondisi kamu lebih penting.""Aku harus kasih kesaksian, Goz.""Kamu nggak sadar.""Ya nggak pa-pa, aku pasti bermanfaat buat Bas di sana." Kulepas tangannya lembut. "Dia udah bantuin aku, nggak mungkin aku biarin dia sendirian. Bas nggak pantas ditahan, dia nggak salah. Harusnya polisi fokus ke penyelidikan kenapa Om Genta tahu aku ada di rumah itu dan apa motif kejahatannya.""Pasti." Ghozali mengangguk muram. "Polisi pasti akan sampai ke sana Marsha. Tapi sekarang masih dalam penyidikan
Sungguh mengejutkan yang muncul adalah Gumi, dia menghambur masuk ketika melihatku sudah duduk tegak."You awake?" serunya girang.Aku tersentak saat dia menyerbu. Dipeluk erat, baru menyadari kalau tubuh Gumi benar-benar seperti tulang belulang.Dia kurus sekali."Aku tahu kamu bloon, tapi ternyata kamu lebih bloon dari yang aku bayangin."Ghozali meringis. "Gum.""Yah, sorry my word." Ketika mengurai pelukan matanya memburam, dia mengusap pipinya secara kasar. "Kalau mau kabur dari rumah minimal ke tempat yang penjagaannya ketat, kamu itu masih nggak sadar kalau udah terkenal? Atau memang nggak mau peduli aja?"Kutelan ludah susah payah. "Kenapa jadi aku yang dimarahin?""Harus, mau marahin siapa lagi? Nggak ada yang akan bertanggung jawab sama diri kita selain diri kita sendiri, Sa. Kamu bikin semua orang kelabakan." Meski sok galak, tapi nadanya terdengar serak. Dia tidak bisa membendung air mata dan justru
Kesadaranku hilang timbul.Pertama kali membuka mata badanku sakit semua seperti remuk, lalu wajah seorang wanita kelihatan kabur. Dia berteriak memanggil-manggil namaku, tapi tidak ada reaksi yang bisa kuberikan.Wajahnya tampak asing tapi kilatan khawatir kelihatan jelas di matanya."Dia belum merespon." Itulah kata-katanya yang berhasil kudengar sebelum kembali tenggelam dalam kegelapan.Kedua kalinya tersadar, aku berusaha membuka mata, yang terlihat adalah wajah seorang laki-laki, rahang brewok, sudut tajam. Bisa kurasakan tekanan kuat tangannya yang menggenggam tanganku, lalu bibirnya yang berbisik lirih.Mataku mengerjap.Bas?"Aku di sini."Tidak, tapi semuanya terasa kabur, adegan-adegan itu seperti terpotong, dan ketika perlahan menjadi satu di ingatanku, tentang Om Genta, apa yang dia lakukan, malam tahun baru yang meriah.Aku langsung panik, napasku dengan cepat berubah pendek-pendek.
"Mama udah nggak tinggal di sini, Om."Om Genta menyugar kepala, dia tidak memiliki rambut, jadi ganti mengusap wajahnya. Penampilannya sekilas tampak sehat, bugar, dan baik-baik saja.Setelah menipu kami, mengambil seluruh uang tabungan Mama sekaligus mobil, bahkan biaya rumah sakit Gumi, jujur aku merasa ingin muntah saat melihatnya."Om harusnya hubungi Mama.""Yah itulah masalahnya." Beliau mendesah, kembali mengusap wajahnya kasar. "Om baru aja telepon Mama kamu...""Masalah kalian udah kelar?"Dia kelihatan tersiksa, mundur hingga beberapa langkah menjauhi pintu.Aku menelan ludah, oke ini bukan urusanku, tapi karena dia juga hidupku jadi merana, bahkan Mama memaksa aku untuk tidur dengan Bas!"Om benar-benar minta maaf, Sa. Belakangan ini, Om udah berusaha hubungi Mama kamu, membicarakan masalah saat di Malaysia. Untuk sekarang Om belum bisa mengganti semua uang yang Om bawa, tapi Om juga sedang berusaha







