Share

Part 97: Chloroform

Author: Titi Chu
last update publish date: 2026-01-01 18:36:22

"Mama udah nggak tinggal di sini, Om."

Om Genta menyugar kepala, dia tidak memiliki rambut, jadi ganti mengusap wajahnya. Penampilannya sekilas tampak sehat, bugar, dan baik-baik saja.

Setelah menipu kami, mengambil seluruh uang tabungan Mama sekaligus mobil, bahkan biaya rumah sakit Gumi, jujur aku merasa ingin muntah saat melihatnya.

"Om harusnya hubungi Mama."

"Yah itulah masalahnya." Beliau mendesah, kembali mengusap wajahnya kasar. "Om baru aja telepon
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
L_54n954
begini amat nasib Marsha.. Kaaak... ya ampuun
goodnovel comment avatar
Kia
aku bersabar 2 hari sengaja ga baca.. malah dikasih akhir yg bikin aq ngereog jungkir balik di bab ini.
goodnovel comment avatar
Tati S
aduh othor kok marsha semakin terpuruk itu si genta tau marsha disana dari siapa? jgn sampe kejadian moga ada yg nolongin
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 122: Titik Awal

    "Apa hal terbaik yang bisa kamu bagikan untuk orang lain sebagai pelajaran dari pernikahan kalian?" Itu adalah pertanyaan yang pernah diajakun oleh salah seorang podcaster ketika Bas hadir untuk wawancara di sebuah podcast. Bas tidak membutuhkan waktu lama untuk menjawab percaya diri. "Menerima ketidaktahuan dan saling memafkan." Alih-alih kekurangan, dia justru menggunakan kata ketidaktahuan untuk merujuk pada kekurangan-kekurangan yang tanpa sadar kami lakukan. Bagaimana aku tidak semakin mengangumi suamiku? Kami sering bertengkar, bahkan karena masalah sepele seperti kontrol suhu AC. Karena Bas sukanya dingin-dingin biar bisa peluk-peluk, sedangkan aku risi, merasa gerah kalau tidur harus pelukan terus. Atau masalah yang paling krusial seperti ketika dia diam-diam membeli mobil baru tanpa sepengetahuanku sama sekali. Banyak hal yang kami sesuaikan, adaptasi, kadang aku yang mengalah, walaupun lebih banyak Bas yang mengalah. Tapi kalau sedang mesra, tidak perlu ditanya,

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 121: Copy Paste

    "Sepengetahuan aku, dari ceramah yang aku dengar, ari-ari harusnya dicuci bersih dan diurus sama Mama mertua, kalau aku bilang begini sama Mama Bas, menurut kamu dia bakal tersinggung nggak?" Aku meringis dengan penurutan Gumi. "Nggak usah dipikirin itu Gum, Bas yang udah mengurus semuanya." "Oh ya bagus deh, Alhamdulillah. Dia memang cekatan, sih." Beberapa hari sebelum melahirkan, Gumi memang ngotot ingin menemaniku di rumah, khawatir hal-hal seperti ini akan terjadi, tapi karena tidak mungkin kami tinggal serumah bertiga, jadi dia memerhatikan dari jarak jauh. Ketika datang dari luar kota, dialah yang paling heboh dengan Nathan dan tidak berhenti menimang sambil memuji. "Gembul banget sih, asi Mamanya pasti gacor banget ini, calon-calon roti sobek di lengannya ada empat. Mana wangi lagiiii, bau surga banget kamu." Anakku mere

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 120: Arse & Ipul

    Sembilan bulan menuju HPL.Kami baru pulang dari lokasi syuting karena jadwal Bas makin hethic ketika tiba-tiba Noah datang ke rumah.Saat itu aku dan Bas sedang mendengarkan demo dari single yang akan dirilis berjudul Dua Dalam Satu. Sebuah lirik yang menceritakan perjalanan pria yang menemukan belahan hatinya.Jadi kami tidak mendengar Noah datang, dia langsung masuk melewati asisten kami di depan, bahkan sampai ke ruang musik Bas, aku lebih dulu melihat kehadirannya dan menyapa."Noah?"Wajah Noah keras, tanpa aba-aba, dia menyambar lengan adiknya, Bas tampak terkejut, sebelum dia mampu beraksi, sebuah bogeman mentah sudah lebih dulu mendarat ke wajahnya dan membuat suamiku tersungkur di lantai.Aku menjerit kaget."Kamu kenapa?!" seruku panik.Bas mengerang, wajahnya kelihatan antara shock, bingung, dan sedikit marah.Noah mengabaikanku, dan membentak. "Bajingan, selama ini lo pura-pura polos, berti

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 119: Kepala Bocor

    Anak kami laki-laki.Hal ini kami ketahui setelah usia kandunganku tiga bulan. Tidak perlu ditanya hebohnya Bas. Dia seperti CR7 ketika melakukan siu. Bahkan saking gembiranya satu obgyn diberikan hadiah.Aku ikut bahagia untuknya, walau sampai trisemester kedua aku mengalami perubahan yang berat, terlebih aku sempat merasakan baby blues. Bedanya, si dede belum lahir, tapi aku tidak merasakan perasaan antusias, semangat, cinta atau apapun. Rasanya flat, hambar.Beruntung aku punya banyak orang di sekelilingku yang mendukung, ada Gumi, yang siap menjadi tante rempong, Mona si tante bawel, Rigen om pelawak, Goz om royal, dan Noah om perhatian."Kalau gitu aku udah bisa bantu dekor-dekor kamarnya dong?" Gumi sampai excited dengan kehadiran si bocil. Tiap weekend, dia akan berkunjung untuk mengajakku belanja atau makan enak, yang semuanya untuk si baby.Dia banyak sekali berubah, kurasa pengalaman yang tidak pernah ia ceritakan selama koma i

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 118: Sekali Tembak

    Noah sudah bangun pagi-pagi sekali, beruntung dia tidak ada jadwal operasi, sebagai dokter spesialis jantung, akhir-akhir ini kabar yang dia berikan selalu sukses bikin jantungan. "Nggak jadi datang?" tanyanya menerima uluran jahe hangat dariku, meminimalisir rasa pusing akibat mabuk semalam. "Mungkin dia repot kalau harus bolak-balik," kataku merujuk ke informasi soal Ruka semalam. Wajah Noah suram, tapi ada kilatan berharap di matanya. "Dia nggak ada hubungin apa-apa sih." Noah mengecek ponselnya sejenak. "Tolong bilangin Bas, kabar ini jangan bocor ke mana-mana dulu, aku nggak pengin Ruka masuk berita gosip." "Kalau udah terlanjur gimana?" "Siapa yang bisikin?" tanya Noah balik. "Sejauh ini baru keluarga yang tahu. Ruka udah cukup sibuk, aku nggak mau dia semakin repot karena masalah ini." Luar biasa peduli, aku menggumamkan persetujuan lalu memintanya sarapan yang segera ditolak, Noah ingin

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 117: Tengah Malam

    "Hadiah untuk kepulangan kamu." Sebuah kalung dilingkarkan di leherku, rasanya dingin. Aku menunduk, menatap benda berkilauan itu dengan mata berbinar."Cantik banget Bas."Dia membungkuk, lalu mencuri satu ciuman di pipiku, aku terkekeh lembut.Dari pantulan cermin, kalung dengan bandul super mini yang berbentuk seperti tetesan air hujan itu kelihatan sangat elegan. Bas mulai mengerti dengan seleraku, jadi alih-alih sesuatu yang mencolok, dia memberikan sesuatu yang terasa ringan saat dikenakan.Aku berbalik, meraih rahangnya untuk gantian memberikan ciuman di bibir, memangutnya manis. "Makasih Kak.""Suka? Are you happy?""Happy!" Hidungku mengerut saat justru dibombardir dengan ciuman basah.Aku cekikikan menggeliat berusaha melepaskan diri. Kami ada acara dinner dengan keluarga Bas, sekadar acara rutin, mungkin sekaligus menyambut kepulangan kami ke Jakarta.Jadi berbekal gaun elevated dress bernuansa nude d

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 80: Pink Salem

    Acara akad diadakan di bibir pantai dengan dekorasi berupa gazebo bernuansa full putih. Suasana dari pagi sudah khidmat dan syahdu. Aku agak shock ketika membuka kaca jendela dari kamar, dan mendapati tamu-tamu serta keluarga besar dari kedua belah pihak sudah berkumpul. Tiba-tiba saja villa jad

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 79: Poligami

    "Nggak ada pernikahan sampai kamu sah ketuk palu dengan Gumi. Mama nggak setuju poligami, Bas." Suara Mama terdengar berbisik tertahan saat Bas menyampaikan niat baik kami. Aku meringis di balik tembok. Menghela napas berat mendengar mereka. Ketika selesai makan mala

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 78: Si Ular

    "Di sini banyak yang bisa dilihat." Tiba-tiba Bas terdengar seperti juru kunci. Kepalaku mendongak. Sebelum hilang keberanian, aku menyembur. "Bas kayaknya ada yang salah sama koper—woah apa itu?" jeritku kaget dengan sesuatu yang bergerak di bawah kaki kami. Bas tangkas meraih pin

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 77: Cleptomania

    "Kenapa lo pakai baju rombeng-rombeng?" Mulutnya Mona memang yang paling dahsyat. Aku terkekeh geli dengan pemilihan katanya, lalu menarik napas panjang. Tidak tahu harus menangis atau malah tertawa dengan situasi ini. "Sakit? Muka lo pucet lagi." Ini

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status