Share

Part 87: Banyak Bacot

Auteur: Titi Chu
last update Dernière mise à jour: 2025-12-28 18:00:33

"Banyak bacot. Ina-ini-ono. Intinya bilang aja dia mau Gumi kembali ke band, banyak alasan sampai nyalahin buzzer Pj segala. Padahal dia yang mau Gumi di sini."

Rigen mendumel ketika kami keluar dari ruangan tersebut. Pintunya masih terbuka jadi kuyakin Pak Galih mendengar.

Agak mengejutkan, kupikir di antara semua orang Rigen yang paling santai, tapi kali ini dia ikut menyembur.

"Kenapa nggak to the point dari awal. Gue bukan nggak suka sama Gumi, tapi capek kalau harus bongkar pasang terus." Rigen menyergah kasar kemudian melenggang pergi bersama Jefri dan Lio.

Suara Bas dan Pak Galih yang masih cekcok di ruangan terdengar ke luar.

"Apa yang kamu lakukan ke Pj sebenarnya sampai dia dendam begini, Bas?"

"Saya hanya menunjukkan ke istrinya tentang perselingkuhan dia. Itu saja."

"Ya pantas kalau Pj mengamuk, dia langsung diceraikan. Harusnya kamu lebih bijaksana menyikapi hal seperti ini, Pj juga berkontribusi besar buat
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 101: Awak Media

    "Bas!" Matanya kelihatan melebar terkejut ketika aku menyongsongnya dalam pelukan. Dia bergeming sementara aku merangkul lehernya, merasakan detak jantungnya yang menggila di dadaku. Selama beberapa saat dia tidak merespon, lalu kurasakan lengannya merangkul tubuhku erat, bibirnya menghirup ceruk leherku, bernapas berat di sana. "Kenapa kamu di sini?" Dia berkata bingung. Aku memang berlari duluan keluar dari mobil sementara Ghozali masih sibuk mencari tempat parkir. "Sama siapa kamu ke sini?" ulangnya, nada suaranya tajam. Namun dia menekan punggungku, hingga aku makin membusur, mendekapnya lebih erat, seakan kami belum cukup rapat, seakan dia belum cukup yakin aku berada bersamanya. "Marsha..." Astaga. Aku merindukannya! Aku merindukan suaranya yang memanggilku dengan manja. Aku rindu bagaimana caranya menyebutkan namaku seakan dia sangat memujaku. Aku rindu den

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 100: Egois

    "Nggak mungkin kamu ke sana, kamu masih dalam proses pemulihan." Ghozali langsung menyanggah niatku.Terbiasa dibantah, diabaikan, aku justru semakin keras kepala. Lanjut berdiri, melipat selimut rumah sakit dengan rapi. Ghozali mendengkus pelan."Lagian Bas bukan anak kecil, dia tahu apa yang dia lakukan, dan dia tahu gimana caranya membela diri. Marsha..." Dia menyentuh lenganku karena aku memilih bungkam. "Tolong perhatiin diri kamu sendiri. Kondisi kamu lebih penting.""Aku harus kasih kesaksian, Goz.""Kamu nggak sadar.""Ya nggak pa-pa, aku pasti bermanfaat buat Bas di sana." Kulepas tangannya lembut. "Dia udah bantuin aku, nggak mungkin aku biarin dia sendirian. Bas nggak pantas ditahan, dia nggak salah. Harusnya polisi fokus ke penyelidikan kenapa Om Genta tahu aku ada di rumah itu dan apa motif kejahatannya.""Pasti." Ghozali mengangguk muram. "Polisi pasti akan sampai ke sana Marsha. Tapi sekarang masih dalam penyidikan

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 99: Tulang Belulang

    Sungguh mengejutkan yang muncul adalah Gumi, dia menghambur masuk ketika melihatku sudah duduk tegak."You awake?" serunya girang.Aku tersentak saat dia menyerbu. Dipeluk erat, baru menyadari kalau tubuh Gumi benar-benar seperti tulang belulang.Dia kurus sekali."Aku tahu kamu bloon, tapi ternyata kamu lebih bloon dari yang aku bayangin."Ghozali meringis. "Gum.""Yah, sorry my word." Ketika mengurai pelukan matanya memburam, dia mengusap pipinya secara kasar. "Kalau mau kabur dari rumah minimal ke tempat yang penjagaannya ketat, kamu itu masih nggak sadar kalau udah terkenal? Atau memang nggak mau peduli aja?"Kutelan ludah susah payah. "Kenapa jadi aku yang dimarahin?""Harus, mau marahin siapa lagi? Nggak ada yang akan bertanggung jawab sama diri kita selain diri kita sendiri, Sa. Kamu bikin semua orang kelabakan." Meski sok galak, tapi nadanya terdengar serak. Dia tidak bisa membendung air mata dan justru

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 98: Muntah, Mual, Pusing

    Kesadaranku hilang timbul.Pertama kali membuka mata badanku sakit semua seperti remuk, lalu wajah seorang wanita kelihatan kabur. Dia berteriak memanggil-manggil namaku, tapi tidak ada reaksi yang bisa kuberikan.Wajahnya tampak asing tapi kilatan khawatir kelihatan jelas di matanya."Dia belum merespon." Itulah kata-katanya yang berhasil kudengar sebelum kembali tenggelam dalam kegelapan.Kedua kalinya tersadar, aku berusaha membuka mata, yang terlihat adalah wajah seorang laki-laki, rahang brewok, sudut tajam. Bisa kurasakan tekanan kuat tangannya yang menggenggam tanganku, lalu bibirnya yang berbisik lirih.Mataku mengerjap.Bas?"Aku di sini."Tidak, tapi semuanya terasa kabur, adegan-adegan itu seperti terpotong, dan ketika perlahan menjadi satu di ingatanku, tentang Om Genta, apa yang dia lakukan, malam tahun baru yang meriah.Aku langsung panik, napasku dengan cepat berubah pendek-pendek.

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 97: Chloroform

    "Mama udah nggak tinggal di sini, Om."Om Genta menyugar kepala, dia tidak memiliki rambut, jadi ganti mengusap wajahnya. Penampilannya sekilas tampak sehat, bugar, dan baik-baik saja.Setelah menipu kami, mengambil seluruh uang tabungan Mama sekaligus mobil, bahkan biaya rumah sakit Gumi, jujur aku merasa ingin muntah saat melihatnya."Om harusnya hubungi Mama.""Yah itulah masalahnya." Beliau mendesah, kembali mengusap wajahnya kasar. "Om baru aja telepon Mama kamu...""Masalah kalian udah kelar?"Dia kelihatan tersiksa, mundur hingga beberapa langkah menjauhi pintu.Aku menelan ludah, oke ini bukan urusanku, tapi karena dia juga hidupku jadi merana, bahkan Mama memaksa aku untuk tidur dengan Bas!"Om benar-benar minta maaf, Sa. Belakangan ini, Om udah berusaha hubungi Mama kamu, membicarakan masalah saat di Malaysia. Untuk sekarang Om belum bisa mengganti semua uang yang Om bawa, tapi Om juga sedang berusaha

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 96: Freckles

    Bunda pastilah memberitahu Ghozali di mana aku berada. Sejujurnya aku tuh tidak ingin membuat khawatir, tapi karena mendadak menjadi gelandangan, wajar kalau aku sempat bingung, sebelum akhirnya memilih ke tempat ini. Aku tidak mungkin tinggal di kontrakan bersama Mama karena beliau pasti akan mencak-mencak tantrum dan di saat seperti ini omelan beliau adalah hal terakhir yang ingin kudengar. Ghozali membawa bulgogi, chicken, bahkan salad sayur untuk dinner. Kupikir dia akan membawa makanan khas Bunda seperti di lokasi syuting, ternyata tidak sebab dia takut aku merasa bosan. "Mana mungkin ada yang bisa bosan sama makanan enak, Goz." Saat itu aku langsung membantah. "Kecuali kalau disuruh bayar, pasti beda rasanya." Dia tertawa. "Ini gratis." "Makasih banyak." Aku agak terkejut saat dia ikut berdiri, membantu bebersih di westafal. Jaketnya sudah dilepas, menyisakan polo shirt. Mungkin karena

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status