Share

2. Duka

Penulis: Cerita Tina
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-06 17:09:30

Langit di pusat kota menyambutnya dengan kelembaban dan bau tanah yang baru diguyur hujan.

Langkah Varen pelan keluar dari pintu bandara dengan koper ditangannya. Pandangannya buram bukan karena cuaca, tapi karena tubuhnya belum sepenuhnya percaya bahwa kali ini dia kembali untuk sebuah kehilangan.

Begitu sampai didepan rumahnya, seorang kerabat menyambutnya di pintu. Varen masuk dan melihat ibunya duduk lemas disudut dinding rumah dengan tatapan kosong.

Melihat Varen datang, tangis ibunya kembali pecah. Mereka berpelukan seolah saling memberi kekuatan satu sama lain.

Salah seorang kerabat berkata pelan dan lirih, "Sudah mulai Ren, kita langsung kesana ya."

Varen hanya menganguk. Perjalanan ke pemakaman itu seperti mimpi buruk. Suasana hening, dari dalam mobil hanya terdengar suara ban di aspal dan sesekali hembusan nafas panjang dari sopir.

Varen tak berkata apa-apa. Ia hanya menatap jendela, melihat wajah asing orang-orang dijalanan yang menjalani hidup seperti biasa. Sementara dunianya sedang remuk dalam diam.

Ketika mobil berhenti, langkahnya terasa berat. Tanah basah menyambutnya. Tercium bau bunga dengan penampakan payung-payung hitam yang berjejer pelan diantara pelayat.

Ia berjalan di tengah kerumunan yang tak ia kenal satu persatu, tapi semua orang memandang iba padanya.

Dan disanalah dia, Theo, keponakannya. Dia berdiri dekat liang lahat, mengenakan baju setelan abu dengan rambut yang sedikit basah.

Bocah itu diam tanpa tangis. Hanya matanya yang bulat menatap ke arah tanah galian kuburan, seolah tak mengerti mengapa tubuh ibu dan ayahnya tak kunjung bangun.

Varen melangkah melambat kearahnya. Dadanya terasa sesak. Ia ingin lari atau berteriak. Tapi tubuhnya hanya bisa berdiri diam.

Theo menoleh, mata mereka bertemu. Tidak ada pelukan. Hanya sepasang mata anak kecil yang kehilangan segalanya dan sepasang mata lelaki muda yang baru sadar bahwa dirinya tak bisa lagi hidup hanya untuk dirinya sendiri.

Setelah pemakaman, ketika semua orang berangsur pergi, Varen tetap duduk dekat batu nisan. Theo duduk di sampingnya, memeluk lutut.

Sesaat hening, lalu suara kecil Theo akhirnya memecah kesunyian di antara mereka, “Mami tidur ya?”

Butuh waktu sesaat sebelum Varen bisa menjawab. Dan ketika ia bicara, suaranya terdengar seperti pecahan kaca yang berusaha dirangkai ulang.

“Iya Theo, tapi mami masih di sini...”

Tangannya menunjuk dada Theo. “Di sini tempat Mami tinggal sekarang.”

Theo tidak menjawab. Tapi pelan-pelan, ia menyandarkan kepalanya ke lengan Varen. Varen dengan satu tangannya yang lain mengelus rambut Theo untuk menenangkannya.

Langit sudah menunjukkan tanda-tanda senja, Varen menuntun Theo untuk pulang kerumah.

Varen membuka pintu pelan-pelan. Theo digendongnya, tertidur setelah menangis sepanjang jalan pulang.

Ibunya menunggu di ruang tamu. Tubuhnya lebih kurus dari terakhir kali Varen pulang. Ia tidak banyak bicara, hanya menatap Theo yang dibaringkan di kamarnya, dia mengusap pipi cucunya dengan punggung tangan yang gemetar.

Theo tertidur dengan wajah penuh jejak air mata. Dalam tidurnya, ia sesekali bergumam memanggil “Mami…” dengan suara kecil.

Sang nenek mengusap lembut rambut cucunya, menatap wajah polos itu dengan hati yang berkecamuk. Ia berbisik pelan doa yang ditujukan untuk anak perempuannya yang telah tiada,

“Than… tenanglah di sana, ya. kami akan jaga anakmu dengan baik.”

***

Keesokan harinya, Theo duduk di lantai dengan mainannya, wajah polosnya kebingungan. Bocah itu baru tiga tahun, belum mengerti benar arti kematian.

Yang ia tahu hanya satu, “Mami mana?” pertanyaan yang berulang-ulang menusuk dada siapa pun yang mendengarnya.

Varen berjongkok di hadapan Theo. Suaranya tercekat, tapi ia mencoba tegar.

“Theo sayang, Mami sekarang lagi tidur panjang. Mami dan sama Papi sekarang udah di surga.”

Theo mengernyit. “Tapi Theo mau Mami bangun."

Kalimat sederhana itu merobek hati Varen. Ia tak sanggup menahan, ia hanya memeluk Theo erat. Bahunya bergetar, meski ia berusaha keras agar bocah itu tidak melihat air matanya.

Di dapur, terdengar isak pelan ibunya, wanita yang sudah kehilangan seorang anak dan menantunya itu kini harus menatap cucunya yang tumbuh tanpa ibu dan ayahnya.

Varen tahu, ibunya rapuh, tapi tetap berusaha kuat di hadapan Theo. Ia sendiri juga begitu, ia berusaha tersenyum, membelai kepala keponakannya, padahal dadanya remuk.

Varen menarik napas panjang. Dia benar-benar merasa semua ini seperti mimpi buruk. Ia tak menyangka, dalam sekejap keadaan bisa berubah begitu saja.

"Ya Tuhan... hamba-Mu ini harus bagaimana sekarang?" lirihnya dengan mata basah.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Vonis Cinta Sang Hakim   148. Akhir

    Beberapa waktu kemudian, Lino naik jabatan sebagai jaksa senior. Jabatan itu datang bersama tanggung jawab yang lebih besar. Tak lama setelah itu, Lino mendatangi Bahri sebagai pengganti ayahnya Tari yang sudah tiada. Ia melamar Tari secara langsung, dengan cara sederhana dan tegas. “Saya serius. Saya ingin menikahinya dan menjaganya,” ucap Lino. Bahri menatapnya lama, lalu mengangguk. “Baiklah, Aku percayakan Tari padamu.” Pernikahan mereka dilaksanakan segera. Keluarga dan sahabat hadir. Bahkan Rio juga datang memberi selamat. Setelah prosesi, Rio menghampiri Lino lebih dulu. Ia menjabat tangannya. “Selamat,” ucapnya singkat. Lino merangkul pundaknya. “Terimakasih, bro.” Rio lalu berdiri di depan Tari. “Aku tunggu jandamu.” Pasangan itu terkejut sejenak. Rio langsung terkekeh. “Tenang. Aku tidak akan bilang begitu. Buatku kata-kata itu tidak keren sama sekali." Ia menatap mereka bergantian. “Aku di sini buat mendukung kalian. Berbahagialah.” Tari mengangguk. “T

  • Vonis Cinta Sang Hakim   147. Kita Berhasil

    Dua hari kemudian, Viona dan kedua bayinya dinyatakan stabil dan diperbolehkan pulang dari rumah sakit. "Selamat datang di rumah kita, anakku sayang,” ucap Varen pada kedua bayinya. Rumah kembali terasa hidup. Masing-masing nenek mengurus satu bayi. Theo tetap menempel pada maminya. Viona sengaja membiarkannya, ia tak ingin Theo merasa tersisih sedikit pun. Rio sudah pulang ke rumah, ia ingin melepas beban sejenak. Sudah lama ia tak berkumpul dengan teman-teman dan geng motornya. Namun sebelum itu, ia merasa bangga karena sudah ikut andil dalam memperjuangkan hukum yang adil. Tari pun pulang ke kosannya. Lino yang mengantarnya langsung. Ia juga membantu Tari membersihkan kos Tari yang sudah kacau balau sejak ditinggalkan beberapa waktu lalu. Mayang yang sudah mendarat dari tugasnya, langsung mampir kerumah Viona. Mayang sudah tak sabar ingin melihat keponakan kembarnya itu. "Hai, sayang, Auntie datang." ujarnya begitu datang dengan penuh percaya diri. Viona menepis tangan

  • Vonis Cinta Sang Hakim   146. Janji Telah Usai

    “Bajingan,” desis Rukmana saat melewati Bahri. Dadanya meradang saat mengetahui orang yang paling ia percaya justru yang menusuknya paling dalam. Ia bisa memahami Varen. Dendam karena kematian kakaknya adalah sesuatu yang masuk akal. Tapi tidak pada Bahri. Rukmana membuka rahasia, menitipkan jaringan, bahkan mempercayakan aliran kekayaan dan jalur gelap yang selama ini tak tersentuh hukum kepadanya. Semua diserahkan, namun bukan menolong, ia malah menyerahkan semuanya menjadi bukti yang memperberat dan menghancurkannya di akhir sidang. Kini tak ada lagi senyum tenang atau tatapan meremehkan. Tangan Rukmana terborgol, tubuhnya ditarik kasar oleh petugas. Tidak ada negosiasi yang bisa menawar keputusan yang diberikan oleh hukum. Ia digiring menuju penjara khusus untuk penjahat kelas kakap, tempat kekuasaan tak lagi berarti apa pun. Di sana, bukan soal melarikan diri. Untuk bertahan hidup saja, seseorang harus memiliki mental kuat. Dan untuk pertama kalinya, Rukmana sadar, p

  • Vonis Cinta Sang Hakim   145. Berbelok

    Majelis hakim masih berunding Semua orang menunggu termasuk Varen. Ia duduk tegak, namun pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana.Sejak ancaman itu terucap pagi tadi, separuh jiwanya tertinggal di ruang bersalin bersama Viona. Di setiap detik yang berlalu, dadanya seperti diperas oleh kemungkinan terburuk.Ia membuka ponselnya. Pesan dari Radit tertera,“Ren, Viona aman.”Jantungnya berhenti sesaat. Pesan kedua menyusul. Varen menunduk, jari-jarinya gemetar saat menyentuh layar ponselnya."Kedua bayimu telah lahir, mereka baik-baik saja."Dunia seperti berhenti bergerak. Varen menarik napas dalam, seolah baru sekarang paru-parunya benar-benar terisi udara. Bahunya yang sejak pagi menegang, perlahan turun. Ia memejamkan mata, dan merasa sangat bersyukur kepada Tuhan yang sudah memberinya istri yang kuat.Nafasnya keluar panjang, seolah beban yang menindih dada sejak subuh akhirnya diangkat perlahan.Sidang sempat diskors singkat. Para hakim berdiskusi dengan wajah tegang. Seorang

  • Vonis Cinta Sang Hakim   144. Di Ujung Nafas

    Rumah sakit itu telah berubah menjadi kacau. Tari melangkah cepat memasuki gedung, wajahnya tegang. Di belakangnya, beberapa prajurit berseragam bergerak sigap, menyebar sesuai aba-aba singkat. Mereka berada di bawah komando pamannya “Titik sasaran lantai empat rawat bersalin,” ujar salah satu prajurit singkat. Tari mengangguk dan mempercepat langkah. Begitu keluar dari pintu lift darurat, matanya menangkap pemandangan yang membuat jantungnya hampir berhenti. Radit sudah setengah terdorong keluar balkon lantai empat. Seorang pria berusaha menjatuhkannya. Radit meronta dengan napasnya tersengal dan wajahnya pucat. Tangannya mengenggam baju pria itu untuk bertahan supaya tidak terjatuh. Tanpa berpikir panjang, Tari menyambar kursi kayu di dekat ruang tunggu. Buk! Kursi itu menghantam punggung pria penyerang dengan keras. Pria itu terhuyung, cengkeramannya terlepas. Tari menghantam sekali lagi hingga pria itu tersungkur tak bergerak. “Kau apakan adik iparku?!” b

  • Vonis Cinta Sang Hakim   143. Ancaman.

    Radit berlari masuk kerumah sakit, matanya menangkap pemandangan yang membuat darahnya mendidih. Di hadapannya ada Rio yang sedang dihadang oleh empat pria berbadan besar. Tak ada satu pun sekuriti yang terlihat disana. Terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Rio pun sudah paham situasinya. Tanpa banyak pikir, ia melayangkan pukulan pertama. Rahang salah satu pria itu menghantam dinding. Tiga lainnya menyusul. Di sela perkelahian, Rio menoleh cepat ke arah Radit dan memberi isyarat tegas dengan dagunya untuk menyuruh Radit pergi. Radit tak membantah. Ia berlari ke dalam, menyusuri lorong menuju kamar Viona. Namun mereka sudah menyebar. Tiga orang muncul dari tikungan. Radit menghajar satu dengan siku, satu lagi tersungkur setelah tinju mendarat tepat di hidung dan satu lagi dengan tendangan ke arah ke arah selangkangan, titik lemah utama. Nafasnya terengah, langkahnya tak melambat. Ini bukan soal berani lagi, ini soal waktu. Rio yang sudah menyelesaikan di luar langsung men

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status