Home / Rumah Tangga / WANITA LAIN DI RUMAHKU / 174. PEMBALASAN DENDAM YANG MANIS

Share

174. PEMBALASAN DENDAM YANG MANIS

Author: vitafajar
last update publish date: 2026-04-08 23:28:44

Alvaro masih mematung di ambang pintu walk-in closet, tangannya masih menggenggam gagang pintu geser yang baru saja ia buka. Matanya sama sekali tidak berkedip, seolah-olah jika ia bernapas sedikit saja, pemandangan indah di depannya akan menghilang bak fatamorgana.

Ia sudah sering melihat Arini dalam berbagai keadaan, anggun dengan gaun pesta, formal dengan setelan kantor, bahkan berantakan saat menangis. Namun, Arini yang berdiri di hadapannya saat ini adalah sebuah definisi godaan yang belum
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   178. SISA BADAI SEMALAM

    Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden blackout yang tidak tertutup sempurna, menciptakan garis cahaya keemasan yang jatuh tepat di atas kelopak mata Arini. Wanita itu mengerang pelan, mencoba menghalau silau yang mengganggu tidurnya yang sangat berharga.Namun, begitu ia mencoba menggerakkan tubuhnya untuk sekadar berbalik posisi, sebuah rasa nyeri yang tumpul menjalar dari pinggang hingga ke seluruh ujung kakinya. Sensasi pegal yang luar biasa itu seolah mengunci pergerakannya di atas kasur."Aduh ...," rintih Arini pelan sembari meringis menahan perih.Ia membuka matanya perlahan, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya ruangan yang sudah terang. Hal pertama yang ia rasakan adalah hawa dingin yang menyentuh kulit bahunya yang polos di balik selimut sutra yang berantakan.Arini menoleh ke sisi ranjang di sebelahnya, berharap menemukan sosok pria yang menjadi alasan seluruh tubuhnya terasa seperti habis dihantam ombak besar. Namun, s

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   177. PUNCAK LEDAKAN CINTA

    Dinding-dinding walk-in closet yang elegan itu seolah tidak lagi mampu menampung energi panas yang meledak di antara keduanya. Di bawah temaram cahaya lampu yang kuning keemasan, Alvaro masih menggendong Arini dalam posisi yang sangat intim dan menuntut kekuatan fisik yang luar biasa.Keringat mulai bercucuran dari pelipis Alvaro, mengalir turun melewati leher dan membasahi kemeja putihnya yang kini sudah tidak lagi rapi. Namun, kekuatan otot lengannya seolah tidak memiliki batas, ia tetap menopang berat tubuh Arini sembari terus melakukan gerakan memaju-mundurkan pinggulnya dengan tenaga yang kian liar."Nngghhh ... Kak ... pelan-pelan ... ahh! Kita mau ke mana sih?" rintih Arini di sela-sela desahannya yang tersengal hebat.Kepalanya terkulai lemas di bahu kokoh Alvaro, namun kedua tangan Arini masih meremas kain kemeja suaminya dengan sangat erat. Alvaro tidak menjawab dengan kata-kata, fokusnya sepenuhnya tercurah pada rasa nikmat yang menghantam setiap sel tubuhnya saat ini.Deng

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   176. PUNCAK YANG TERTAHAN

    Suasana di dalam walk-in closet yang mewah itu semakin memanas, oksigen seolah menipis tertutup oleh kabut gairah yang begitu pekat. Alvaro tidak lagi memberikan celah bagi Arini untuk sekadar menarik napas panjang. Dengan kedua tangan yang mencengkeram kuat pinggul Arini, ia semakin memaju-mundurkan pinggulnya dengan ritme yang kian kencang dan bertenaga.Bunyi gesekan kulit dan deru napas yang memburu menjadi satu-satunya melodi yang memenuhi ruangan kedap suara itu."Nngghhh ... Kak ... ahh! Kak Alvaro!" desahan Arini pecah, suaranya bergetar hebat saat ia merasakan setiap dorongan Alvaro yang semakin dalam dan menuntut.Mata Alvaro yang gelap dan tajam tetap terkunci pada pantulan tubuh mereka di cermin besar di depan mereka. Ia ingin melihat setiap reaksi Arini, ingin merekam bagaimana wanita itu menyerah sepenuhnya di bawah kendalinya.Dengan gerakan yang kasar namun penuh damba, Alvaro menurunkan tali lingerie sutra merah di bahu kanan Arini. Kain tipis itu meluncur jatuh, memb

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   175. PENYATUAN DI DEPAN CERMIN

    Hening yang menyesakkan di dalam walk-in closet itu seketika pecah oleh deru napas yang memburu, saling bersahutan di antara rak-rak pakaian mewah dan jejeran koleksi jam tangan. Alvaro, yang selama beberapa menit tadi hanya mampu mematung, kini bergerak dengan dorongan insting yang tak lagi bisa ia bendung.Setiap langkah kakinya yang berat di atas lantai kayu oak terdengar seperti dentum genderang perang yang menuntut penyerahan diri mutlak. Tanpa sepatah kata pun, Alvaro sampai di hadapan Arini. Ia tidak menunggu instruksi lebih lanjut, gairah di matanya sudah cukup menjadi perintah.Dengan gerakan yang sangat tangkas, Alvaro menyusupkan kedua tangan besarnya di bawah ketiak Arini, mengangkat tubuh mungil istrinya seolah wanita itu hanyalah sehelai bulu yang tak berbobot. Ia memindahkan Arini dengan satu sentakan dominan yang penuh tenaga."Kak ... Aaakhh!" desis Arini tertahan saat ia merasakan tubuhnya melayang di udara sebelum akhirnya didudukkan dengan tegas di atas meja rias m

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   174. PEMBALASAN DENDAM YANG MANIS

    Alvaro masih mematung di ambang pintu walk-in closet, tangannya masih menggenggam gagang pintu geser yang baru saja ia buka. Matanya sama sekali tidak berkedip, seolah-olah jika ia bernapas sedikit saja, pemandangan indah di depannya akan menghilang bak fatamorgana.Ia sudah sering melihat Arini dalam berbagai keadaan, anggun dengan gaun pesta, formal dengan setelan kantor, bahkan berantakan saat menangis. Namun, Arini yang berdiri di hadapannya saat ini adalah sebuah definisi godaan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya di dalam benaknya.Warna merah dari lingerie sutra itu tampak begitu kontras, hampir seperti api yang membakar kulit putih bersih istrinya yang bercahaya. Renda hitam yang tipis membingkai lekuk dadanya yang montok dengan sangat provokatif, sementara potongan tinggi di bagian paha memamerkan kaki jenjang yang indah.Namun, yang paling membuat pertahanan Alvaro runtuh adalah bibir Arini yang kini berwarna merah pekat, memberikan kesan berani, liar, dan sangat berku

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   173. MERAH YANG MEMBARA

    Keheningan di dalam kamar utama apartemen pribadi Alvaro terasa begitu pekat, namun sekaligus memberikan ketenangan yang menghanyutkan. Cahaya remang dari lampu tidur di sudut ruangan menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di atas dinding marmer yang dingin.Di atas ranjang luas itu, Alvaro dan Arini saling mengunci tatapan mata dengan intensitas yang sangat dalam. Tidak ada lagi suara bising wartawan, tidak ada lagi bayang-bayang intimidasi dari Tuan Besar Wijaya ataupun Sofia Wijaya, yang ada hanyalah deru napas yang saling bersahutan dalam irama yang sama.Alvaro perlahan mencondongkan tubuhnya, menelusuri garis rahang Arini dengan ujung jemarinya yang terasa sangat hangat. Ia menarik napas dalam, menghirup aroma sisa parfum Arini yang kini bercampur dengan wangi maskulin miliknya, menciptakan sebuah simfoni aroma yang memabukkan.Tanpa sepatah kata pun, Alvaro menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang sangat lembut dan penuh perasaan. Ciuman itu tidak dilakukan denga

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   168. RETAKAN DI AMBANG PINTU

    Arini tetap terdiam membisu, ia sama sekali tidak memiliki niat sedikit pun untuk menjawab ucapan penenang yang dilontarkan oleh Alvaro. Rasa malu yang menghimpit dadanya, terasa jauh lebih menyesakkan daripada dinginnya air es yang baru saja membasahi kulitnya.Ia masih mengingat jelas bagaimana t

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   167. SIRAMAN AIR DI HARI PERTAMA

    Suasana di restoran yang tadinya panas mendadak mendingin oleh kehadiran Alvaro. Clarissa yang tadinya tampak seperti singa betina yang siap mencabik, seketika berubah. Ekspresi wajah yang ia tunjukkan pada Arini tadi berubah 180 derajat begitu matanya bertumbukan dengan manik mata tajam Alvaro.Cla

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   166. RACUN DARI MASA LALU

    Air dingin yang bercampur dengan bongkahan es kecil itu menetes perlahan dari ujung rambut Arini, membasahi blus sutranya yang kini melekat dingin di kulit. Arini terkesiap hebat, napasnya sempat tertahan sejenak karena syok yang menghujam sarafnya secara mendadak di tengah ruang publik.Di balik t

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   165. PERCIKAN BADAI DI TENGAH SUKA

    Langkah kaki Arini terhenti seketika di undakan tangga kantor catatan sipil yang nampak lengang pagi itu. Jantungnya sempat mencelos hebat, membayangkan sosok Sofia atau Tuan Besar Wijaya sudah berdiri di sana dan menghancurkan momen bahagianya.Namun, sosok yang berdiri tepat di samping mobil hita

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status