FAZER LOGINHujan tumpah dari langit Jakarta seperti air bah yang murka saat Arini menghidupkan mesin mobilnya. Pandangannya kabur, bukan hanya karena rintik air yang menghantam kaca depan dengan brutal, tetapi karena air mata yang terus mengalir deras, membakar pipinya yang pucat.
Arini mengemudi dengan sisa tenaga yang hancur, sebuah raga yang dipaksa tegak oleh rasa sakit batin yang tak terperi. Tangan kanannya mencengkeram kemudi dengan kaku, sementara tangan kirinya meremas amplop USG itu di dada, mencoba melindungi satu-satunya harapan yang tersisa dari dunia yang seolah sedang berkonspirasi untuk menghancurkannya.
"Kenapa, Mas? Kenapa harus dia lagi?" teriak Arini di dalam kabin mobil yang kedap suara. Suaranya pecah, berharap semesta mendengar betapa hancurnya ia malam ini.
Amarah itu benar-benar menutup logikanya. Arini memacu mobil menembus kegelapan hujan, hanya fokus pada jalanan di depan yang tampak buram.
Ia terlalu hancur untuk menyadari bahwa sejak ia keluar dari parkiran restoran, sebuah sedan hitam diam-diam mengintai di belakangnya. Mobil itu bergerak senyap, menjaga jarak di balik tirai hujan yang tebal, menunggunya sampai di jalanan yang lebih sepi.
Arini hanya ingin cepat sampai di rumah, mengunci pintu, dan mengubur diri dari kenyataan pahit ini.
Tiba-tiba, ponselnya yang terhubung ke dashboard mobil bergetar hebat. Nama Dewi muncul di layar. Arini tertegun, amarahnya memuncak hingga ke ubun-ubun, namun sebelum sempat ia menekan tombol tolak, sambungan itu terangkat otomatis secara misterius.
Hening sejenak. Lalu, Arini mendengar suara yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak. Mereka tidak sedang bicara padanya. Sepertinya, Dewi sengaja memencet nomor Arini tanpa sepengetahuan Adrian agar Arini mendengar setiap detail kemesraan mereka.
"Mas ... suapin lagi ... pusing banget kalau gerak sendiri," suara Dewi merintih. Itu adalah manja yang dibuat-buat, begitu dekat dengan mikrofon ponsel seolah sengaja dibisikkan ke telinga Arini.
"Iya, Wi. Pelan-pelan, ya. Kamu harus makan banyak biar cepat sembuh. Sini, senderan di bahu aku saja kalau masih pusing," suara Adrian menyahut. Suara itu begitu lembut, begitu hangat. Sebuah kehangatan yang tidak pernah lagi Arini dapatkan selama berbulan-bulan terakhir.
"Makasih ya, Mas. Untung ada Mas Adrian di sini. Kalau tidak, mungkin aku sudah pingsan sendirian. Mas jangan pulang, ya? Temani aku semalam ini saja ...."
"Aku tidak akan ke mana-mana, Wi. Aku di sini. Arini sudah aman di restoran, dia wanita kuat. Kamu yang lebih butuh aku sekarang."
Dunia Arini runtuh seketika. "Adrian ...," bisiknya parau dengan bibir bergetar, namun mereka tidak mendengarnya. Mereka hanyut dalam kemesraan yang dibalut kebohongan tentang rasa sakit yang picik.
Di tengah rasa sesak yang membunuhnya, sebuah silau lampu jauh dari spion tengah menghantam mata Arini. Tajam dan menyilaukan. Arini tersentak, mencoba menghindar ke lajur kiri, namun sedan hitam di belakangnya justru memacu kecepatan.
BRAKK!
Sudut belakang mobil Arini dihantam keras. Kendaraannya terpelanting, berputar tak terkendali di atas aspal yang licin karena hujan. Arini menjerit, mencoba menguasai kemudi, namun mobil hitam itu kembali datang.
Kali ini, ia tidak mengerem. Ia justru menghantam pintu pengemudi dengan kecepatan penuh, seolah-olah memang berniat melumat raga Arini di dalam sana.
Dunia berputar hebat bagi Arini. Kepalanya menghantam kaca jendela dengan keras. Suara pecahan kaca yang memekakkan telinga disusul dengan serpihan tajam yang merobek kulit halusnya.
Namun, rasa sakit di kepalanya tak ada apa-apanya dibanding sensasi panas dan nyeri yang luar biasa yang tiba-tiba menjalar dari perut bawahnya. Arini merasakan ada sesuatu yang luruh. Sesuatu yang sangat berharga.
"Anakku ...," gumamnya lirih dengan napas tersengal.
Pandangannya mulai menggelap. Arini melihat amplop putih berisi foto USG itu terlepas dari genggamannya, terjatuh di lantai mobil yang perlahan mulai digenangi cairan merah kental. Dari ponsel yang masih tersambung, Arini sayup-sayup masih bisa mendengar suara tawa kecil Dewi di sela rintihannya, sebelum akhirnya kegelapan benar-benar merenggut kesadarannya.
***
Aroma antiseptik yang tajam menyerang indra penciuman Arini sebelum ia sempat membuka mata sepenuhnya. Kepalanya terasa seperti dihantam ribuan jarum, berdenyut menyakitkan mengikuti detak jantung yang terdengar lewat suara ‘bip-bip’ monoton dari mesin monitor di samping ranjangnya. Cahaya lampu neon di langit-langit terasa menusuk matanya saat ia mencoba mengerjap.
Hening. Ruangan ini begitu sunyi, hanya ada Arini dan dingin yang menggigit tulang.
"Nyonya Arini? Anda sudah sadar?"
Seorang suster mendekat, wajahnya tampak lega namun guratan simpati di matanya membuat jantung Arini mencelos. Di belakangnya, seorang dokter paruh baya berdiri dengan papan jalan di tangan, menatap Arini dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Apa ... apa yang terjadi?" Suara Arini parau, tenggorokannya terasa seperti habis menelan pasir.
"Anda mengalami kecelakaan hebat, Nyonya. Mobil Anda ditabrak dari samping," dokter itu menjelaskan perlahan. Ia mengambil napas pendek sebelum melanjutkan, "Benturannya sangat keras di bagian perut. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi ... janin Anda tidak bisa diselamatkan. Anda mengalami keguguran."
Dunia Arini berhenti berputar. Tangannya yang gemetar spontan meraba perut bawahnya yang kini terbalut perban tebal. Kosong. Ruang hampa yang mengerikan itu seketika meluas, menyedot seluruh napas yang ia punya.
"Enggak ... enggak mungkin," isaknya pecah. Pikirannya langsung melayang pada amplop USG yang hancur bersimbah darah di lantai mobil. "Bayiku ... anakku ...,"
Rasa sedih itu dalam sekejap berubah menjadi kemarahan yang membakar. Kenapa ini terjadi padanya?
Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, ia justru kehilangan segalanya di atas aspal yang dingin. Arini meremas sprei rumah sakit sampai buku jarinya memutih, menahan jeritan yang menyesakkan dada.
Arini menoleh ke arah pintu yang tertutup rapat, berharap sosok tinggi Adrian muncul dari sana, memeluknya, dan memohon ampun.
"Mas Adrian, suami saya ... apa dia ada di luar?" tanyanya dengan sisa harapan yang hampir mati.
Suster itu saling berpandangan dengan dokter, keraguan tampak jelas di wajah mereka.
"Maaf, Nyonya," suster itu berkata lirih sambil menunduk. "Sejak Anda dibawa ke sini semalam, tidak ada satu pun anggota keluarga yang datang. Kami sudah berulang kali menghubungi nomor suami Anda, tapi tidak ada jawaban. Pihak rumah sakit juga sudah mencoba menghubungi kontak keluarga lainnya, namun tetap nihil."
Kata-kata itu menghantam Arini lebih telak daripada benturan mobil hitam malam itu. Ia sendirian. Di saat ia kehilangan darah, kehilangan nyawa di rahimnya, dan hampir kehilangan nyawanya sendiri, suaminya bahkan tidak bisa mengangkat telepon.
Arini tahu persis di mana Adrian berada. Pria itu pasti masih di sana, di apartemen itu, sibuk mengurus "flu" Dewi yang jauh lebih berharga daripada nyawa anak kandungnya sendiri.
Air mata Arini berhenti mengalir. Rasa hangat di pipinya berganti menjadi dingin yang mematikan. Adrian tidak datang. Suaminya memilih untuk tidak ada di saat dunianya hancur berkeping-keping.
"Cukup," bisiknya pelan. "Tolong jangan hubungi dia lagi."
Pada saat itu, sesuatu di dalam diri Arini ikut mati bersama bayinya. Bukan hanya rasa cinta, tapi juga rasa kasihannya pada Adrian. Arini menatap langit-langit rumah sakit yang putih bersih dengan mata yang kini sekaku porselen.
"Suster, dokter ... tolong tinggalkan saya sendiri," katanya dengan suara yang sangat tenang.
Arini tidak butuh Adrian untuk menangisinya. Ia tidak butuh pria itu untuk menemaninya di sini. Mulai detik ini, ia bukan lagi Arini yang malang dan penurut.
Ia adalah Arini yang akan memastikan bahwa setiap detik ketidakhadiran Adrian malam ini, akan pria itu bayar dengan harga yang sangat mahal. Dendam kini menjadi satu-satunya alasan jantungnya masih berdetak.
Alvaro, dengan ketelatenan yang luar biasa, membasuh sisa-sisa busa di bahu istrinya untuk terakhir kalinya. Gerakannya sangat lembut dan penuh perasaan. Ia tidak membiarkan Arini melakukan apa pun sendiri, ia benar-benar memanjakan wanita itu hingga ke titik di mana Arini merasa seluruh beban berat di pundaknya luruh bersama air.Alvaro bangkit berdiri perlahan, meraih handuk putih tebal yang sudah ia siapkan di atas rak pemanas. Dengan gerakan yang sangat protektif, ia membantu Arini berdiri dan melilitkan handuk itu ke tubuh mungil istrinya, membungkusnya dengan rapat seolah ingin melindungi Arini dari udara dingin yang mungkin menyerang.Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, namun tatapan mata Alvaro yang dalam sudah cukup mewakili ribuan kalimat cinta.Ia kembali mengangkat tubuh Arini dalam gendongannya dengan sangat sigap. Tubuh Arini terasa begitu ringan di tangannya, atau mungkin kekuatan Alvaro yang sedang berada di puncaknya karena dorongan keinginan untuk m
Cukup lama mereka terdiam dalam posisi itu. Keheningan yang tercipta seolah menjadi ruang bagi Alvaro untuk meredam sisa-sisa amarahnya. Alvaro akhirnya menoleh pada Kael. Asisten setianya itu masih berdiri mematung setelah menyaksikan badai pertengkaran hebat antara majikannya dengan sang ayah.“Siapkan mobil, kita pulang ke apartemen sekarang,” perintah Alvaro. Suaranya tidak lagi menggelegar, namun ada ketegasan yang tidak bisa dibantah di sana.Arini mendongak, menatap suaminya dengan sorot mata tak percaya. “Masih ada masalah yang harus aku selesaikan di sini, Kak. Kita nggak bisa pulang begitu saja,” protes Arini pelan. Pikirannya masih tertinggal pada tumpukan berkas dan kekacauan di ruang rapat tadi.Namun, Alvaro hanya menggelengkan kepala sambil menyunggingkan senyum tipis yang menenangkan. “Kita pulang. Kamu percayakan saja urusan perusahaan sama aku, hmm?”Alvaro mengusap puncak kepala Arini, mencoba menyalurkan keyakinan. Arini masih terlihat tidak rela, bibirnya terkatup
Kegembiraan yang baru saja membuncah di dada Arini seolah ditarik paksa oleh gravitasi, menyisakan rasa sesak yang mendinginkan ujung jemarinya. Di ruang rapat yang masih menyisakan aroma parfum para direksi yang baru saja terusir itu, Arini berdiri terpaku. Gema suara Kael tentang kondisi Darma dan ancaman kedatangan Rudi Wijaya berputar di kepalanya seperti badai.Alvaro yang sedetik lalu tersenyum bangga, kini menegang hebat. Rahangnya mengeras, menciptakan garis tajam yang mempertegas gurat kecemasan di wajah tampannya. Arini bisa merasakan aura pelindung itu berubah menjadi aura peperangan yang pekat dan menyesakkan."Kak ...," bisik Arini, suaranya bergetar. Ia melangkah mendekat, mencoba menggapai lengan Alvaro yang kini terasa kaku seperti beton.Alvaro menoleh, tatapannya yang tajam perlahan melunak saat bertemu dengan manik mata Arini. "Jangan takut, Rin. Aku nggak akan biarin siapa pun mengacaukan kemenangan kita hari ini. Bahkan ayahku sekalipun," ucapnya dengan nada prote
Keheningan yang dingin menyergap Arini saat langkah kakinya menggema di lorong menuju ruang rapat utama Mahardika Group. Di sampingnya, Alvaro berjalan dengan langkah yang tetap tenang meski wajahnya masih memancarkan kepucatan yang nyata. Penyangga bahu di balik jas hitamnya seolah menjadi pengingat bisu tentang pengorbanan yang baru saja terjadi di lobi.Kael berjalan di belakang mereka, membawa beberapa map hitam yang nampak seperti dokumen biasa, namun Arini tahu bahwa di dalam sana terdapat "bom" yang siap meratakan kesombongan orang-orang di dalam ruangan itu."Siap, Rin?" bisik Alvaro sesaat sebelum pintu kayu ek raksasa itu terbuka secara otomatis.Arini menarik napas panjang, memperbaiki posisi kerah blazer putihnya, dan menatap lurus ke depan dengan binar mata yang tajam. "Sangat siap, Kak. Mereka pikir aku mangsa empuk cuma karena aku perempuan, tapi mereka lupa kalau di pembuluh darahku mengalir darah seorang pendiri."Begitu pintu terbuka, aroma kopi pahit menyeruak kelua
Sofia Wijaya mematung di tengah ruangan, wajahnya yang semula sembap karena air mata palsu kini berubah menjadi merah padam karena murka yang mencapai ubun-ubun. Matanya melotot, menatap Arini dengan kebencian yang begitu pekat seolah ingin membakar wanita di depannya itu menjadi abu.Kata-kata Arini yang memintanya keluar bukan hanya sekadar usiran bagi Sofia, itu adalah penghinaan besar terhadap harga diri klan Wijaya yang selama puluhan tahun ia agungkan. Baginya, Arini hanyalah penghalang yang harus segera disingkirkan dari kehidupan putra mahkotanya."Kamu ... kamu bener-bener lancang!" suara Sofia bergetar hebat karena amarah yang meledak. "Dasar janda nggak tahu diri! Kamu pikir siapa kamu bisa bicara kayak gitu padaku di depan putraku sendiri?!"Dalam satu gerakan yang sangat cepat, Sofia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Ia tidak lagi memedulikan citra ningratnya sebagai nyonya besar keluarga Wijaya. Yang ia inginkan saat ini hanyalah mendaratkan tamparan keras di wajah Ari
Arini masih mematung di sisi sofa, jemarinya mencengkeram ponsel dengan tenaga yang membuat buku-buku jarinya memutih. Matanya tak lepas dari barisan kalimat yang dikirimkan oleh Rudi Wijaya, sebuah pesan yang dirancang sebagai racun untuk melumpuhkan mentalnya di saat titik terlemah.Rudi, pria yang seharusnya menjadi pelindung bagi Alvaro, justru menggunakan luka putranya sendiri sebagai senjata untuk menyudutkan Arini. Kata-kata 'pembawa sial' seolah berdengung di telinga Arini, mencoba mengoyak pertahanan batin yang baru saja ia bangun dengan susah payah.Selama beberapa detik, rasa bersalah itu mencoba merangkak naik. Namun, saat ia melirik ke arah Alvaro yang sedang bersandar lemah dengan bahu terbebat perban, rasa sedih itu mendadak menguap, digantikan oleh kobaran amarah yang murni dan sangat dingin."Ada apa, Rin?" suara Alvaro memecah keheningan. Meski wajahnya masih pucat, tatapannya tetap tajam mengawasi setiap perubahan ekspresi di wajah istrinya.Arini tidak menjawab den
Sama halnya dengan rasa lemas yang kian menjalar, Arini meremas pinggiran meja jatinya. "Jadi ... ini alasan kenapa Alvaro nggak pernah pakai nama keluarganya di firma hukumnya sendiri?""Mungkin," balas Maya di seberang telepon. "Dari yang aku dengar, Kak Alvaro itu nggak mau berhubungan dengan se
"Tolong panggil Pak Budi dari tim finansial dan Bu Sarah dari legal. Sekarang juga," perintahnya dengan nada bicara yang diusahakan tetap stabil.Tak lama kemudian, kedua orang kepercayaan itu masuk dengan wajah yang sama pucatnya, seolah mereka sudah mencium aroma badai yang dibawa oleh pria-pria
Tanpa berkata apa-apa lagi, Arini akhirnya meraih map merah tersebut dan mulai membuka isinya lembar demi lembar dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Setiap tarikan kertas di tangannya menimbulkan bunyi gesekan yang tajam, seolah sedang menyayat kesunyian yang mencekam di dalam ruang kerja
Setelah merasa puas melakukan inspeksi singkat yang membuat Arini merasa kian kecil, pria tua itu akhirnya duduk di sofa tunggal dengan posisi tubuh yang sangat tegak. Ia menolak untuk bersandar sedikit pun, menunjukkan s







