Home / Rumah Tangga / WANITA LAIN DI RUMAHKU / 2. KEGELAPAN YANG NYATA

Share

2. KEGELAPAN YANG NYATA

Author: vitafajar
last update Last Updated: 2026-01-17 15:14:26

Hujan tumpah dari langit Jakarta seperti air bah yang murka saat Arini menghidupkan mesin mobilnya. Pandangannya kabur, bukan hanya karena rintik air yang menghantam kaca depan dengan brutal, tetapi karena air mata yang terus mengalir deras, membakar pipinya yang pucat.

Arini mengemudi dengan sisa tenaga yang hancur, sebuah raga yang dipaksa tegak oleh rasa sakit batin yang tak terperi. Tangan kanannya mencengkeram kemudi dengan kaku, sementara tangan kirinya meremas amplop USG itu di dada, mencoba melindungi satu-satunya harapan yang tersisa dari dunia yang seolah sedang berkonspirasi untuk menghancurkannya.

"Kenapa, Mas? Kenapa harus dia lagi?" teriak Arini di dalam kabin mobil yang kedap suara. Suaranya pecah, berharap semesta mendengar betapa hancurnya ia malam ini.

Amarah itu benar-benar menutup logikanya. Arini memacu mobil menembus kegelapan hujan, hanya fokus pada jalanan di depan yang tampak buram.

Ia terlalu hancur untuk menyadari bahwa sejak ia keluar dari parkiran restoran, sebuah sedan hitam diam-diam mengintai di belakangnya. Mobil itu bergerak senyap, menjaga jarak di balik tirai hujan yang tebal, menunggunya sampai di jalanan yang lebih sepi.

Arini hanya ingin cepat sampai di rumah, mengunci pintu, dan mengubur diri dari kenyataan pahit ini.

Tiba-tiba, ponselnya yang terhubung ke dashboard mobil bergetar hebat. Nama Dewi muncul di layar. Arini tertegun, amarahnya memuncak hingga ke ubun-ubun, namun sebelum sempat ia menekan tombol tolak, sambungan itu terangkat otomatis secara misterius.

Hening sejenak. Lalu, Arini mendengar suara yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak. Mereka tidak sedang bicara padanya. Sepertinya, Dewi sengaja memencet nomor Arini tanpa sepengetahuan Adrian agar Arini mendengar setiap detail kemesraan mereka.

"Mas ... suapin lagi ... pusing banget kalau gerak sendiri," suara Dewi merintih. Itu adalah manja yang dibuat-buat, begitu dekat dengan mikrofon ponsel seolah sengaja dibisikkan ke telinga Arini.

"Iya, Wi. Pelan-pelan, ya. Kamu harus makan banyak biar cepat sembuh. Sini, senderan di bahu aku saja kalau masih pusing," suara Adrian menyahut. Suara itu begitu lembut, begitu hangat. Sebuah kehangatan yang tidak pernah lagi Arini dapatkan selama berbulan-bulan terakhir.

"Makasih ya, Mas. Untung ada Mas Adrian di sini. Kalau tidak, mungkin aku sudah pingsan sendirian. Mas jangan pulang, ya? Temani aku semalam ini saja ...."

"Aku tidak akan ke mana-mana, Wi. Aku di sini. Arini sudah aman di restoran, dia wanita kuat. Kamu yang lebih butuh aku sekarang."

Dunia Arini runtuh seketika. "Adrian ...," bisiknya parau dengan bibir bergetar, namun mereka tidak mendengarnya. Mereka hanyut dalam kemesraan yang dibalut kebohongan tentang rasa sakit yang picik.

Di tengah rasa sesak yang membunuhnya, sebuah silau lampu jauh dari spion tengah menghantam mata Arini. Tajam dan menyilaukan. Arini tersentak, mencoba menghindar ke lajur kiri, namun sedan hitam di belakangnya justru memacu kecepatan.

BRAKK!

Sudut belakang mobil Arini dihantam keras. Kendaraannya terpelanting, berputar tak terkendali di atas aspal yang licin karena hujan. Arini menjerit, mencoba menguasai kemudi, namun mobil hitam itu kembali datang.

Kali ini, ia tidak mengerem. Ia justru menghantam pintu pengemudi dengan kecepatan penuh, seolah-olah memang berniat melumat raga Arini di dalam sana.

Dunia berputar hebat bagi Arini. Kepalanya menghantam kaca jendela dengan keras. Suara pecahan kaca yang memekakkan telinga disusul dengan serpihan tajam yang merobek kulit halusnya.

Namun, rasa sakit di kepalanya tak ada apa-apanya dibanding sensasi panas dan nyeri yang luar biasa yang tiba-tiba menjalar dari perut bawahnya. Arini merasakan ada sesuatu yang luruh. Sesuatu yang sangat berharga.

"Anakku ...," gumamnya lirih dengan napas tersengal.

Pandangannya mulai menggelap. Arini melihat amplop putih berisi foto USG itu terlepas dari genggamannya, terjatuh di lantai mobil yang perlahan mulai digenangi cairan merah kental. Dari ponsel yang masih tersambung, Arini sayup-sayup masih bisa mendengar suara tawa kecil Dewi di sela rintihannya, sebelum akhirnya kegelapan benar-benar merenggut kesadarannya.

***

Aroma antiseptik yang tajam menyerang indra penciuman Arini sebelum ia sempat membuka mata sepenuhnya. Kepalanya terasa seperti dihantam ribuan jarum, berdenyut menyakitkan mengikuti detak jantung yang terdengar lewat suara ‘bip-bip’ monoton dari mesin monitor di samping ranjangnya. Cahaya lampu neon di langit-langit terasa menusuk matanya saat ia mencoba mengerjap.

Hening. Ruangan ini begitu sunyi, hanya ada Arini dan dingin yang menggigit tulang.

"Nyonya Arini? Anda sudah sadar?"

Seorang suster mendekat, wajahnya tampak lega namun guratan simpati di matanya membuat jantung Arini mencelos. Di belakangnya, seorang dokter paruh baya berdiri dengan papan jalan di tangan, menatap Arini dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Apa ... apa yang terjadi?" Suara Arini parau, tenggorokannya terasa seperti habis menelan pasir.

"Anda mengalami kecelakaan hebat, Nyonya. Mobil Anda ditabrak dari samping," dokter itu menjelaskan perlahan. Ia mengambil napas pendek sebelum melanjutkan, "Benturannya sangat keras di bagian perut. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi ... janin Anda tidak bisa diselamatkan. Anda mengalami keguguran."

Dunia Arini berhenti berputar. Tangannya yang gemetar spontan meraba perut bawahnya yang kini terbalut perban tebal. Kosong. Ruang hampa yang mengerikan itu seketika meluas, menyedot seluruh napas yang ia punya.

"Enggak ... enggak mungkin," isaknya pecah. Pikirannya langsung melayang pada amplop USG yang hancur bersimbah darah di lantai mobil. "Bayiku ... anakku ...,"

Rasa sedih itu dalam sekejap berubah menjadi kemarahan yang membakar. Kenapa ini terjadi padanya?

Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, ia justru kehilangan segalanya di atas aspal yang dingin. Arini meremas sprei rumah sakit sampai buku jarinya memutih, menahan jeritan yang menyesakkan dada.

Arini menoleh ke arah pintu yang tertutup rapat, berharap sosok tinggi Adrian muncul dari sana, memeluknya, dan memohon ampun.

"Mas Adrian, suami saya ... apa dia ada di luar?" tanyanya dengan sisa harapan yang hampir mati.

Suster itu saling berpandangan dengan dokter, keraguan tampak jelas di wajah mereka.

"Maaf, Nyonya," suster itu berkata lirih sambil menunduk. "Sejak Anda dibawa ke sini semalam, tidak ada satu pun anggota keluarga yang datang. Kami sudah berulang kali menghubungi nomor suami Anda, tapi tidak ada jawaban. Pihak rumah sakit juga sudah mencoba menghubungi kontak keluarga lainnya, namun tetap nihil."

Kata-kata itu menghantam Arini lebih telak daripada benturan mobil hitam malam itu. Ia sendirian. Di saat ia kehilangan darah, kehilangan nyawa di rahimnya, dan hampir kehilangan nyawanya sendiri, suaminya bahkan tidak bisa mengangkat telepon.

Arini tahu persis di mana Adrian berada. Pria itu pasti masih di sana, di apartemen itu, sibuk mengurus "flu" Dewi yang jauh lebih berharga daripada nyawa anak kandungnya sendiri.

Air mata Arini berhenti mengalir. Rasa hangat di pipinya berganti menjadi dingin yang mematikan. Adrian tidak datang. Suaminya memilih untuk tidak ada di saat dunianya hancur berkeping-keping.

"Cukup," bisiknya pelan. "Tolong jangan hubungi dia lagi."

Pada saat itu, sesuatu di dalam diri Arini ikut mati bersama bayinya. Bukan hanya rasa cinta, tapi juga rasa kasihannya pada Adrian. Arini menatap langit-langit rumah sakit yang putih bersih dengan mata yang kini sekaku porselen.

"Suster, dokter ... tolong tinggalkan saya sendiri," katanya dengan suara yang sangat tenang.

Arini tidak butuh Adrian untuk menangisinya. Ia tidak butuh pria itu untuk menemaninya di sini. Mulai detik ini, ia bukan lagi Arini yang malang dan penurut.

Ia adalah Arini yang akan memastikan bahwa setiap detik ketidakhadiran Adrian malam ini, akan pria itu bayar dengan harga yang sangat mahal. Dendam kini menjadi satu-satunya alasan jantungnya masih berdetak.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
terlalu cinta membuat kau terluka.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   133. MAKAN MALAM ROMANTIS

    Arini segera menarik napas panjang guna menenangkan degup jantungnya, lalu melangkah perlahan menuju pintu dan membukanya dengan gerakan yang anggun. Seketika itu juga, pemandangan di depan pintu apartemen mendadak membeku saat sosok Arini muncul dengan segala kemewahan yang ia pancarkan.Alvaro berdiri kaku dengan mulut yang sedikit terbuka, matanya tidak berkedip sedikit pun saat menyapu penampilan Arini dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pria yang biasanya sangat fasih bicara di depan hakim itu mendadak kehilangan seluruh kosakatanya, seolah lidahnya kelu karena pesona yang tidak terduga ini."Kak? Kenapa diam aja? Ada yang salah ya sama dandananku? Apa gaunnya nggak cocok?" tanya Arini sembari memiringkan kepalanya karena bingung melihat reaksi Alvaro.Alvaro berdeham berkali-kali guna menetralkan kegugupan yang mendadak menyerang sistem sarafnya dengan sangat hebat. Ia mengerjapkan matanya, mencoba kembali ke dunia nyata setelah sempat tersesat dalam kecantikan wanita yang kini

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   132. PERAYAAN KECIL

    "Aku ke sini bukan buat jenguk kamu kayak yang kamu bayangin, Mas. Aku cuma mau kasih 'hadiah' terakhir dariku," ujar Arini dengan nada datar.Adrian segera meraih map tersebut dan membukanya dengan tangan gemetar karena rasa takut yang masih tersisa di dalam benaknya. Matanya menyapu deretan kalimat di dalam draf tersebut hingga wajahnya berubah menjadi pucat pasi saat menyadari arti dari dokumen yang ia pegang."Rin, tolong jangan lakuin ini. Ini satu-satunya sisa hartaku buat bertahan hidup nanti pas keluar ... kenapa kamu sekejam ini sama aku?" rintih Adrian sembari menangis deras.Arini mendekatkan wajahnya ke arah kaca sembari menatap tepat ke dalam manik mata Adrian yang kini dipenuhi oleh keputusasaan yang sangat dalam. Ia merasakan luka lamanya berdenyut kembali, namun kali ini ia menjadikannya sebagai bahan bakar untuk memberikan pembalasan yang setimpal."Kejam? Kamu bicara soal kekejaman setelah apa yang kamu sama ibumu lakuin ke aku selama bertahun-tahun, dan perselingkuh

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   131. HADIAH TERAKHIR

    Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui jendela apartemen dan menyinari meja makan tempat Arini serta Alvaro sedang menikmati kopi mereka. Suasana yang tadinya tenang mendadak berubah sedikit tegang saat Arini meletakkan cangkirnya sembari menatap Alvaro dengan binar mata serius."Kak, hari ini aku mau pergi sebentar. Aku mau nemuin Mas Adrian di Lapas," ucap Arini dengan nada suara yang diusahakan terdengar kasual.Seketika itu juga, Alvaro yang sedang menyesap kopinya tersedak pelan hingga matanya membelalak lebar seolah Arini baru saja mengabarkan berita kiamat. Ia meletakkan cangkirnya dengan sedikit kasar ke atas meja, lalu melipat tangan di dada dengan bibir yang mendadak maju beberapa sentimeter."Mau apa lagi ketemu dia? Kan, semuanya udah selesai, Rin. Nggak ada alasan lagi buat kamu deket-deket sama orang itu!" cetus Alvaro dengan nada suara ketus.Arini mengerutkan kening sembari menahan senyum saat melihat ekspresi pengacara hebat di depannya yang kini just

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   130. PENYESALAN YANG TERLAMBAT

    "Laporannya sudah masuk, Pak. Pihak kepolisian sudah di lokasi buat pastiin semua aset keluar dari daftar kepemilikan Adrian Baskoro sore ini juga," ucap sekretaris itu sembari menyerahkan draf laporan final.Arini hanya mengangguk pelan menanggapi kabar tersebut tanpa ada keinginan sedikit pun untuk datang langsung ke lokasi penyitaan. Ia tidak lagi tertarik untuk melihat bagaimana rumah penuh kenangan buruk itu dikosongkan karena baginya tempat tersebut sudah mati sejak lama.Sama halnya dengan penyelesaian tugasnya, sekretaris itu kemudian merapikan berkas-berkas di tangannya dan memberikan senyum sopan ke arah Arini serta Alvaro. Ia menyadari bahwa suasana di ruangan itu sangat intim dan tenang sehingga ia tidak ingin berlama-lama mengganggu momen tersebut."Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak, Bu. Saya bakal koordinasikan sisa administrasi di meja depan biar Bapak sama Ibu nggak terganggu lagi," pamit sekretaris itu dengan santun.Tanpa menunggu balasan panjang, ia segera melang

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   129. BUANG SAMPAH DAPAT BERLIAN

    Sama halnya dengan ketakutan yang kian memuncak, Adrian hanya bisa menggeleng lemah dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Seluruh keangkuhannya sebagai bos besar seolah menguap tak bersisa dan digantikan oleh rasa ngeri yang sangat mendalam di relung hatinya.Ia menyadari bahwa di dunia barunya ini, uang triliunan serta nama besar Baskoro hanyalah sampah yang tidak akan bisa melindunginya. Tidak ada lagi asisten pribadi atau pengacara mahal yang bisa menghentikan kepalan tinju penghuni sel lainnya yang mulai merasa terganggu."Maaf ... saya ... saya janji bakal diam. Tolong jangan sakiti saya," bisik Adrian dengan suara yang nyaris hilang akibat rasa takut yang mencekik tenggorokannya.Napi di depannya hanya mendengus kasar sebelum mendorong tubuh Adrian kembali ke dipan semen yang dingin dengan sangat tidak berperasaan. Adrian jatuh terduduk sembari memeluk lututnya sendiri, meratapi nasibnya yang kini berada di titik terendah dalam sejarah hidupnya."Satu suara lagi keluar dari mulut

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   128. NASIB AKHIR ADRIAN & LASTRI

    Dinding ruang sidang yang kokoh seolah menjadi saksi bisu atas runtuhnya sebuah dinasti keangkuhan yang selama bertahun-tahun menindas harga diri seorang wanita. Adrian duduk di kursi terdakwa dengan bahu meluruh sembari menatap lantai marmer dengan tatapan kosong.Keringat dingin mulai membasahi dahi serta telapak tangannya saat menyadari bahwa ruang geraknya kini telah benar-benar terkunci oleh hukum. Di sampingnya, Lastri duduk dengan tubuh yang gemetar hebat sembari mencengkeram erat tepi meja guna mencari pegangan.Tidak ada lagi sisa keanggunan seorang sosialita yang biasanya ia pamerkan di depan kamera maupun di hadapan kolega elitnya. Yang tersisa hanyalah seorang wanita tua yang ketakutan menghadapi kenyataan pahit bahwa kekuasaan uangnya tidak lagi berlaku di sini."Berdasarkan bukti-bukti yang sah dan meyakinkan, terdakwa Adrian Baskoro terbukti secara hukum telah melakukan penelantaran istri dan penggelapan aset perusahaan secara sistematis," suara hakim ketua menggema.Ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status