Compartir

3. RUMAH YANG ASING

Autor: vitafajar
last update Última actualización: 2026-01-18 13:39:38

Tiga hari Arini berada di ruangan serba putih yang kini ia benci. Aroma antiseptik seolah meresap ke pori-porinya, mengunci memori tentang detik-detik paling kelam.

Di sana, ia belajar satu pelajaran pahit, berhenti mengharapkan getar ponsel atau derap langkah kaki Adrian di lorong rumah sakit. Keheningan suaminya adalah jawaban paling jujur atas pernikahan mereka yang telah karam.

Arini turun dari taksi dengan tubuh ringkih. Jahitan di perutnya berdenyut tajam, mengingatkan bahwa harapannya telah luruh bersama darah di atas aspal.

Ia menolak bantuan medis apa pun, ia ingin masuk ke rumahnya sendiri dengan sisa kekuatan yang ada, demi melihat sejauh mana kehancuran ini akan membawanya. Ia butuh menyadari bahwa tempat yang dulu ia anggap aman kini hanyalah monumen kepalsuan.

Rumah mewah itu berdiri kokoh, namun pagar hitamnya terbuka dengan iringan tatapan iba dari satpam komplek. Wajah Arini yang sepucat mayat dan matanya yang kosong sudah cukup menceritakan tragedi tanpa perlu kata-kata.

Langkah kakinya terasa berat saat memasuki ruang tamu yang sunyi. Tak ada aroma kopi atau suara televisi. Hanya ada keheningan menyesakkan, jenis sunyi yang biasanya hanya menghuni rumah-rumah kosong yang telah lama mati.

"Non Arini?"

Mbak Sumi, asisten rumah tangga yang telah mengabdi sejak awal pernikahan Arini, berlari kecil dari dapur. Wajahnya seketika pias dan matanya membelalak melihat perban yang mengintip dari balik lengan baju Arini. Ia tampak terguncang melihat majikannya berjalan tertatih seolah sedang menopang beban dunia di pundaknya.

"Ya Allah, Non! Kenapa lukanya sampai begini? Mana Bapak?" Mbak Sumi memegangi lengan Arini dengan mata berkaca-kaca, dikuasai panik dan sedih.

Arini memaksakan senyum tipis yang tak mencapai matanya. "Aku kecelakaan, Mbak. Tiga hari yang lalu."

Mbak Sumi terperanjat hebat hingga bahunya gemetar. "Astaga... kok Bapak tidak bilang apa-apa? Apa sekarang Bapak masih di rumah sakit mengurus administrasi?"

Pertanyaan itu terasa seperti garam yang ditaburkan di atas luka menganga. Arini menarik napas panjang, berjuang menjaga suaranya tetap stabil meski dadanya terasa sesak luar biasa.

"Itu yang mau aku tanya, Mbak. Mas Adrian ke mana? Dia nggak ada di rumah?"

Mbak Sumi menunduk gelisah sambil meremas ujung dasternya. "Anu, Non ... Bapak juga sudah tiga hari tidak pulang," ucapnya pelan dan ragu.

"Malam itu Bapak pulang sebentar sekali hanya untuk mengambil baju ganti dan tas kantor, lalu pergi terburu-buru. Katanya ada urusan darurat. Sampai sekarang Bapak tidak ada kabar, bahkan tidak menelepon ke rumah sama sekali."

Tiga hari tidak pulang.

Logika Arini bekerja dengan dingin. Jadi, sementara ia bertaruh nyawa di bawah lampu operasi dan menangisi bayinya yang mati sebelum sempat menghirup napas pertama, Adrian sedang sibuk menjaga Dewi yang hanya "flu".

"Oh, begitu," jawab Arini singkat. Ia tidak menangis, air matanya sudah mengering, berganti menjadi kristal es yang membeku di dalam hati. "Ya sudah, Mbak. Aku mau ke kamar. Tolong bawakan teh hangat ke atas."

"Baik, Non. Biar saya bantu jalannya."

"Nggak usah, Mbak. Aku bisa sendiri."

Arini menaiki tangga satu per satu dengan susah payah. Setiap anak tangga terasa seperti puncak gunung yang harus ia daki dengan paru-paru yang kehabisan oksigen.

Di kamar utama, aroma parfum Adrian yang tertinggal di bantal membuat Arini muak. Ia menyambar bantal itu dan menghempaskannya ke lantai dengan kasar, ia membenci segala hal yang mengingatkannya pada sang pengkhianat.

Sambil merebahkan tubuh, ia menatap langit-langit kamar yang tinggi. Di sana, memori tentang rencana masa depan dan tawa saat membahas nama calon bayi kini terasa seperti sampah. Ternyata, semua itu hanyalah dongeng pengantar tidur yang dirancang oleh pembohong ulung untuk menipu wanita bodoh sepertinya.

Ting.

Ponsel Arini yang layarnya retak seribu akibat benturan kecelakaan itu bergetar di atas kasur. Sebuah pesan masuk dari Maya, sahabat baiknya sejak masa SMA.

Maya adalah satu-satunya orang yang benar-benar tahu betapa beracunnya hubungan Arini dan Adrian, meskipun selama ini Arini selalu mencoba menutup-nutupinya demi menjaga martabat pernikahan mereka.

‘Rin, kamu udah pulang dari RS? Aku baru dapet kabar kamu kecelakaan. Sumpah, aku gemeteran baca beritanya. Tapi Rin, ada yang lebih penting. Kamu harus liat ini. Aku nggak kuat kalau nggak ngasih tahu kamu sekarang.’

Di bawah pesan itu, terdapat sebuah tangkapan layar unggahan Dewi yang diprivat. Maya berhasil menembusnya lewat akun palsu.

Foto itu menampilkan tangan lentik Dewi yang mengenakan cincin berlian mewah. Sebagai latar belakang, tampak meja nakas berisi botol obat dan segelas air, sebuah penegasan manipulatif bahwa ia sedang sakit dan dirawat dengan penuh kasih sayang.

Caption-nya tertulis, "Terima kasih hadiahnya, Mas A... dan terima kasih sudah merawatku dengan sabar selama 3 hari ini. Aku nggak tahu apa jadinya kalau nggak ada kamu. Love you (emoticon hati merah)."

Darah Arini mendidih. Kenyataan vulgar itu menghantamnya telak. Cincin berlian itu adalah model yang sama dengan yang pernah ia inginkan enam bulan lalu, namun ditolak Adrian dengan alasan terlalu mahal.

Ternyata, harga itu menjadi murah jika diperuntukkan bagi Dewi, sebuah upah karena telah berhasil "sakit" di waktu yang tepat untuk menghancurkan Arini.

Selama tiga hari Arini bertaruh nyawa dan meratapi duka di rumah sakit, suaminya justru sibuk menyuapi wanita lain dan menghujaninya dengan kemewahan yang seharusnya menjadi hak sang istri sah.

Adrian tidak tahu Arini kecelakaan? Bohong besar!

Pihak rumah sakit sudah mengonfirmasi bahwa mereka menghubungi nomor Adrian berkali-kali. Pria itu hanya memilih untuk mengabaikan setiap panggillan yang masuk demi menjaga perasaan wanita parasit itu agar tidak terganggu.

Tangan Arini bergetar hebat saat menekan tombol telepon di kontak Maya. Hanya butuh dua nada sambung sampai Maya mengangkatnya dengan suara panik.

"Halo, Rin? Kamu nggak apa-apa? Rin, kamu denger aku, kan?"

"May," suara Arini terdengar sangat dingin, bahkan ia sendiri hampir tidak mengenali suaranya yang kini terdengar seperti denting es yang pecah. "Kamu kenal pengacara perceraian yang paling bagus, kan? Yang paling kejam kalau soal urusan harta dan hak istri?"

Maya terdiam sejenak di seberang sana. "Rin ... kamu serius? Akhirnya kamu sadar?"

"Aku udah lebih dari sadar, May. Anak aku meninggal gara-gara mereka. Aku nggak akan biarin mereka bahagia di atas darah dan nyawa anak aku." Arini mencengkeram sprei ranjang dengan sisa tenaga yang ia punya. "Buatin janji sama pengacara itu. Besok. Aku nggak mau nunggu lebih lama lagi. Aku mau habisin Adrian sampai dia nggak punya apa-apa lagi selain Dewi dan flu sialannya itu."

"Oke, Rin. Aku atur semuanya. Besok jam sepuluh aku jemput kamu. Kamu istirahat dulu, ya?"

"Aku nggak mikirin istirahat, May. Aku lagi mikirin gimana caranya aku hancurin hidup mereka seakar-akarnya."

Arini menutup telepon. Di luar, hujan kembali mengguyur, memutar ulang memori tentang mobil hitam yang sengaja menghancurkan hidupnya, mobil yang ia tahu milik orang-orang di sekitar Dewi.

Sambil menyentuh perutnya yang kini hampa, rasa perih itu bermutasi menjadi kekuatan baru. Adrian dan Dewi mungkin merasa telah menang, mengira Arini akan meratapi nasib di pojokan rumah. Mereka salah besar. Arini yang penurut telah mati di atas aspal malam itu.

Kini, ia hanya butuh keadilan. Selembar kertas gugatan akan menjadi awal runtuhnya dunia yang mereka bangun di atas penderitaannya. Arini memejamkan mata, membiarkan kemarahan membakar tubuhnya yang lemah. Besok, badai akan dimulai, dan dialah pusatnya.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   7. SANDIWARA DI MEJA MAKAN

    Ada jeda sejenak. Arini menahan napas."Ganti nama sertifikat itu nggak gampang, Wi. Harus ada persetujuan Arini kalau ini dianggap harta bersama," jelas Adrian."Kan, kamu bisa bikin alasan lain, Mas. Bilang aja buat jaminan pinjaman bank buat bisnis kamu yang baru. Arini pasti nurut kalau kamu yang minta. Dia ‘kan gampang dibohongi. Pokoknya demi keamanan aset kita, Mas. Aku nggak mau kita kehilangan rumah ini gara-gara emosi dia yang nggak jelas," desak Dewi lagi.Adrian terdengar menghela napas panjang. "Nanti aku pikirkan caranya, ya. Emang ada benernya sih, buat jaga-jaga kalau dia makin gila gara-gara kecelakaan kemarin."Kecelakaan kemarin.Hati Arini terasa seperti disayat sembilu saat mendengar suaminya menyebut kecelakaan yang menimpanya sebagai alasan ia menjadi gila. Tidak ada empati atau kekhawatiran dalam suara Adrian, hanya ada rasa terganggu.Arini melepas earpiecenya. Napasnya memburu. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, namun bukan karena sedih, m

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   6. PERANGKAP DI BALIK TIRAI

    Arini melangkah keluar dari gedung perkantoran mewah itu dengan kepala tegak, meski hatinya terasa seperti baru saja dihantam badai. Ia menggenggam tas tangannya dengan sangat erat, seolah-olah seluruh sisa kekuatannya tertumpu di sana.Di sampingnya, Maya berjalan dengan langkah cepat, mencoba menyamai ritme Arini yang tampak begitu terburu-buru.Udara Jakarta yang panas terasa menyesakkan, namun Arini tidak peduli. Pikirannya masih tertinggal di ruangan Alvaro, pada tatapan pria itu yang menjanjikan perlindungan dan pada sebuah kotak kecil berisi "senjata" yang kini tersembunyi di dalam tasnya."Rin, kamu beneran kuat ‘kan balik ke sana?" tanya Maya saat mereka sudah berada di dalam mobil. Suaranya penuh kekhawatiran yang tulus. "Aku bisa temani kamu kalau kamu ngerasa nggak sanggup ngeliat mukanya pelakor itu."Arini menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. "Aku nggak apa-apa, May. Justru aku harus balik sekarang. Kalau aku terlalu lama di luar, Adrian bakal c

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   5. SANG PEMBELA DARI MASA LALU

    Arini mematung menatap punggung Adrian yang sigap membimbing Dewi menaiki tangga. Suaminya itu tak menoleh lagi, apalagi peduli bagaimana istrinya bisa pulang sendiri setelah tiga hari menghilang.Sambil mencengkeram tasnya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih, Arini memantapkan tekad. Adrian baru saja memasukkan ular berbisa ke rumah mereka, tanpa sadar bahwa ular itulah yang kelak akan menghancurkannya.Arini berbalik dan melangkah keluar dengan kepala tegak. Di luar, Maya sudah menunggu di mobil dengan raut cemas. Begitu Arini masuk, Maya langsung menghujani dengan pertanyaan."Gimana, Rin? Kamu nggak apa-apa?" Maya menatap Arini lekat-lekat, menyadari mata sahabatnya itu merah karena menahan amarah yang luar biasa."Dia bawa Dewi ke rumah, May. Dia mau mereka tinggal satu atap sama aku," jawab Arini pelan. Suaranya bergetar hebat karena emosi yang tertahan di kerongkongan."Gila! Adrian bener-bener sudah nggak punya otak!" Maya memukul setir mobil dengan keras. "Terus kamu diem a

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   4. TAMU YANG TAK DIUNDANG

    Pukul sembilan pagi. Arini berdiri di depan cermin besar di dalam kamarnya, mematut diri dengan saksama. Ia memilih setelan blazer berwarna biru dongker yang memberikan kesan tegas dan profesional.Dengan jemari yang sedikit bergetar, ia memoles wajah pucatnya menggunakan riasan yang sedikit lebih tebal, sebuah topeng untuk menyembunyikan gurat duka dan kelelahan yang masih membekas jelas di matanya.Tubuh Arini sebenarnya masih terasa sangat nyeri. Setiap gerakan kecil yang ia buat rasanya seperti ditarik paksa oleh ribuan jarum tak kasatmata.Namun, amarah yang membara di dadanya bertindak sebagai obat bius yang jauh lebih kuat daripada morfin mana pun. Amarah itu adalah satu-satunya hal yang membuatnya mampu berdiri tegak hari ini.Ia baru saja hendak menyambar tas tangan di atas ranjang ketika suara deru mobil yang sangat ia kenali terdengar memasuki carport. Jantung Arini berdegup kencang. Bukan karena rindu yang membuncah, melainkan karena rasa jijik yang meluap hingga ke tenggo

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   3. RUMAH YANG ASING

    Tiga hari Arini berada di ruangan serba putih yang kini ia benci. Aroma antiseptik seolah meresap ke pori-porinya, mengunci memori tentang detik-detik paling kelam.Di sana, ia belajar satu pelajaran pahit, berhenti mengharapkan getar ponsel atau derap langkah kaki Adrian di lorong rumah sakit. Keheningan suaminya adalah jawaban paling jujur atas pernikahan mereka yang telah karam.Arini turun dari taksi dengan tubuh ringkih. Jahitan di perutnya berdenyut tajam, mengingatkan bahwa harapannya telah luruh bersama darah di atas aspal.Ia menolak bantuan medis apa pun, ia ingin masuk ke rumahnya sendiri dengan sisa kekuatan yang ada, demi melihat sejauh mana kehancuran ini akan membawanya. Ia butuh menyadari bahwa tempat yang dulu ia anggap aman kini hanyalah monumen kepalsuan.Rumah mewah itu berdiri kokoh, namun pagar hitamnya terbuka dengan iringan tatapan iba dari satpam komplek. Wajah Arini yang sepucat mayat dan matanya yang kosong sudah cukup menceritakan tragedi tanpa perlu kata-k

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   2. KEGELAPAN YANG NYATA

    Hujan tumpah dari langit Jakarta seperti air bah yang murka saat Arini menghidupkan mesin mobilnya. Pandangannya kabur, bukan hanya karena rintik air yang menghantam kaca depan dengan brutal, tetapi karena air mata yang terus mengalir deras, membakar pipinya yang pucat.Arini mengemudi dengan sisa tenaga yang hancur, sebuah raga yang dipaksa tegak oleh rasa sakit batin yang tak terperi. Tangan kanannya mencengkeram kemudi dengan kaku, sementara tangan kirinya meremas amplop USG itu di dada, mencoba melindungi satu-satunya harapan yang tersisa dari dunia yang seolah sedang berkonspirasi untuk menghancurkannya."Kenapa, Mas? Kenapa harus dia lagi?" teriak Arini di dalam kabin mobil yang kedap suara. Suaranya pecah, berharap semesta mendengar betapa hancurnya ia malam ini.Amarah itu benar-benar menutup logikanya. Arini memacu mobil menembus kegelapan hujan, hanya fokus pada jalanan di depan yang tampak buram.Ia terlalu hancur untuk menyadari bahwa sejak ia keluar dari parkiran restoran

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status