LOGINTiga hari Arini berada di ruangan serba putih yang kini ia benci. Aroma antiseptik seolah meresap ke pori-porinya, mengunci memori tentang detik-detik paling kelam.
Di sana, ia belajar satu pelajaran pahit, berhenti mengharapkan getar ponsel atau derap langkah kaki Adrian di lorong rumah sakit. Keheningan suaminya adalah jawaban paling jujur atas pernikahan mereka yang telah karam.
Arini turun dari taksi dengan tubuh ringkih. Jahitan di perutnya berdenyut tajam, mengingatkan bahwa harapannya telah luruh bersama darah di atas aspal.
Ia menolak bantuan medis apa pun, ia ingin masuk ke rumahnya sendiri dengan sisa kekuatan yang ada, demi melihat sejauh mana kehancuran ini akan membawanya. Ia butuh menyadari bahwa tempat yang dulu ia anggap aman kini hanyalah monumen kepalsuan.
Rumah mewah itu berdiri kokoh, namun pagar hitamnya terbuka dengan iringan tatapan iba dari satpam komplek. Wajah Arini yang sepucat mayat dan matanya yang kosong sudah cukup menceritakan tragedi tanpa perlu kata-kata.
Langkah kakinya terasa berat saat memasuki ruang tamu yang sunyi. Tak ada aroma kopi atau suara televisi. Hanya ada keheningan menyesakkan, jenis sunyi yang biasanya hanya menghuni rumah-rumah kosong yang telah lama mati.
"Non Arini?"
Mbak Sumi, asisten rumah tangga yang telah mengabdi sejak awal pernikahan Arini, berlari kecil dari dapur. Wajahnya seketika pias dan matanya membelalak melihat perban yang mengintip dari balik lengan baju Arini. Ia tampak terguncang melihat majikannya berjalan tertatih seolah sedang menopang beban dunia di pundaknya.
"Ya Allah, Non! Kenapa lukanya sampai begini? Mana Bapak?" Mbak Sumi memegangi lengan Arini dengan mata berkaca-kaca, dikuasai panik dan sedih.
Arini memaksakan senyum tipis yang tak mencapai matanya. "Aku kecelakaan, Mbak. Tiga hari yang lalu."
Mbak Sumi terperanjat hebat hingga bahunya gemetar. "Astaga... kok Bapak tidak bilang apa-apa? Apa sekarang Bapak masih di rumah sakit mengurus administrasi?"
Pertanyaan itu terasa seperti garam yang ditaburkan di atas luka menganga. Arini menarik napas panjang, berjuang menjaga suaranya tetap stabil meski dadanya terasa sesak luar biasa.
"Itu yang mau aku tanya, Mbak. Mas Adrian ke mana? Dia nggak ada di rumah?"
Mbak Sumi menunduk gelisah sambil meremas ujung dasternya. "Anu, Non ... Bapak juga sudah tiga hari tidak pulang," ucapnya pelan dan ragu.
"Malam itu Bapak pulang sebentar sekali hanya untuk mengambil baju ganti dan tas kantor, lalu pergi terburu-buru. Katanya ada urusan darurat. Sampai sekarang Bapak tidak ada kabar, bahkan tidak menelepon ke rumah sama sekali."
Tiga hari tidak pulang.
Logika Arini bekerja dengan dingin. Jadi, sementara ia bertaruh nyawa di bawah lampu operasi dan menangisi bayinya yang mati sebelum sempat menghirup napas pertama, Adrian sedang sibuk menjaga Dewi yang hanya "flu".
"Oh, begitu," jawab Arini singkat. Ia tidak menangis, air matanya sudah mengering, berganti menjadi kristal es yang membeku di dalam hati. "Ya sudah, Mbak. Aku mau ke kamar. Tolong bawakan teh hangat ke atas."
"Baik, Non. Biar saya bantu jalannya."
"Nggak usah, Mbak. Aku bisa sendiri."
Arini menaiki tangga satu per satu dengan susah payah. Setiap anak tangga terasa seperti puncak gunung yang harus ia daki dengan paru-paru yang kehabisan oksigen.
Di kamar utama, aroma parfum Adrian yang tertinggal di bantal membuat Arini muak. Ia menyambar bantal itu dan menghempaskannya ke lantai dengan kasar, ia membenci segala hal yang mengingatkannya pada sang pengkhianat.
Sambil merebahkan tubuh, ia menatap langit-langit kamar yang tinggi. Di sana, memori tentang rencana masa depan dan tawa saat membahas nama calon bayi kini terasa seperti sampah. Ternyata, semua itu hanyalah dongeng pengantar tidur yang dirancang oleh pembohong ulung untuk menipu wanita bodoh sepertinya.
Ting.
Ponsel Arini yang layarnya retak seribu akibat benturan kecelakaan itu bergetar di atas kasur. Sebuah pesan masuk dari Maya, sahabat baiknya sejak masa SMA.
Maya adalah satu-satunya orang yang benar-benar tahu betapa beracunnya hubungan Arini dan Adrian, meskipun selama ini Arini selalu mencoba menutup-nutupinya demi menjaga martabat pernikahan mereka.
‘Rin, kamu udah pulang dari RS? Aku baru dapet kabar kamu kecelakaan. Sumpah, aku gemeteran baca beritanya. Tapi Rin, ada yang lebih penting. Kamu harus liat ini. Aku nggak kuat kalau nggak ngasih tahu kamu sekarang.’
Di bawah pesan itu, terdapat sebuah tangkapan layar unggahan Dewi yang diprivat. Maya berhasil menembusnya lewat akun palsu.
Foto itu menampilkan tangan lentik Dewi yang mengenakan cincin berlian mewah. Sebagai latar belakang, tampak meja nakas berisi botol obat dan segelas air, sebuah penegasan manipulatif bahwa ia sedang sakit dan dirawat dengan penuh kasih sayang.
Caption-nya tertulis, "Terima kasih hadiahnya, Mas A... dan terima kasih sudah merawatku dengan sabar selama 3 hari ini. Aku nggak tahu apa jadinya kalau nggak ada kamu. Love you (emoticon hati merah)."
Darah Arini mendidih. Kenyataan vulgar itu menghantamnya telak. Cincin berlian itu adalah model yang sama dengan yang pernah ia inginkan enam bulan lalu, namun ditolak Adrian dengan alasan terlalu mahal.
Ternyata, harga itu menjadi murah jika diperuntukkan bagi Dewi, sebuah upah karena telah berhasil "sakit" di waktu yang tepat untuk menghancurkan Arini.
Selama tiga hari Arini bertaruh nyawa dan meratapi duka di rumah sakit, suaminya justru sibuk menyuapi wanita lain dan menghujaninya dengan kemewahan yang seharusnya menjadi hak sang istri sah.
Adrian tidak tahu Arini kecelakaan? Bohong besar!
Pihak rumah sakit sudah mengonfirmasi bahwa mereka menghubungi nomor Adrian berkali-kali. Pria itu hanya memilih untuk mengabaikan setiap panggillan yang masuk demi menjaga perasaan wanita parasit itu agar tidak terganggu.
Tangan Arini bergetar hebat saat menekan tombol telepon di kontak Maya. Hanya butuh dua nada sambung sampai Maya mengangkatnya dengan suara panik.
"Halo, Rin? Kamu nggak apa-apa? Rin, kamu denger aku, kan?"
"May," suara Arini terdengar sangat dingin, bahkan ia sendiri hampir tidak mengenali suaranya yang kini terdengar seperti denting es yang pecah. "Kamu kenal pengacara perceraian yang paling bagus, kan? Yang paling kejam kalau soal urusan harta dan hak istri?"
Maya terdiam sejenak di seberang sana. "Rin ... kamu serius? Akhirnya kamu sadar?"
"Aku udah lebih dari sadar, May. Anak aku meninggal gara-gara mereka. Aku nggak akan biarin mereka bahagia di atas darah dan nyawa anak aku." Arini mencengkeram sprei ranjang dengan sisa tenaga yang ia punya. "Buatin janji sama pengacara itu. Besok. Aku nggak mau nunggu lebih lama lagi. Aku mau habisin Adrian sampai dia nggak punya apa-apa lagi selain Dewi dan flu sialannya itu."
"Oke, Rin. Aku atur semuanya. Besok jam sepuluh aku jemput kamu. Kamu istirahat dulu, ya?"
"Aku nggak mikirin istirahat, May. Aku lagi mikirin gimana caranya aku hancurin hidup mereka seakar-akarnya."
Arini menutup telepon. Di luar, hujan kembali mengguyur, memutar ulang memori tentang mobil hitam yang sengaja menghancurkan hidupnya, mobil yang ia tahu milik orang-orang di sekitar Dewi.
Sambil menyentuh perutnya yang kini hampa, rasa perih itu bermutasi menjadi kekuatan baru. Adrian dan Dewi mungkin merasa telah menang, mengira Arini akan meratapi nasib di pojokan rumah. Mereka salah besar. Arini yang penurut telah mati di atas aspal malam itu.
Kini, ia hanya butuh keadilan. Selembar kertas gugatan akan menjadi awal runtuhnya dunia yang mereka bangun di atas penderitaannya. Arini memejamkan mata, membiarkan kemarahan membakar tubuhnya yang lemah. Besok, badai akan dimulai, dan dialah pusatnya.
Arini segera menarik napas panjang guna menenangkan degup jantungnya, lalu melangkah perlahan menuju pintu dan membukanya dengan gerakan yang anggun. Seketika itu juga, pemandangan di depan pintu apartemen mendadak membeku saat sosok Arini muncul dengan segala kemewahan yang ia pancarkan.Alvaro berdiri kaku dengan mulut yang sedikit terbuka, matanya tidak berkedip sedikit pun saat menyapu penampilan Arini dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pria yang biasanya sangat fasih bicara di depan hakim itu mendadak kehilangan seluruh kosakatanya, seolah lidahnya kelu karena pesona yang tidak terduga ini."Kak? Kenapa diam aja? Ada yang salah ya sama dandananku? Apa gaunnya nggak cocok?" tanya Arini sembari memiringkan kepalanya karena bingung melihat reaksi Alvaro.Alvaro berdeham berkali-kali guna menetralkan kegugupan yang mendadak menyerang sistem sarafnya dengan sangat hebat. Ia mengerjapkan matanya, mencoba kembali ke dunia nyata setelah sempat tersesat dalam kecantikan wanita yang kini
"Aku ke sini bukan buat jenguk kamu kayak yang kamu bayangin, Mas. Aku cuma mau kasih 'hadiah' terakhir dariku," ujar Arini dengan nada datar.Adrian segera meraih map tersebut dan membukanya dengan tangan gemetar karena rasa takut yang masih tersisa di dalam benaknya. Matanya menyapu deretan kalimat di dalam draf tersebut hingga wajahnya berubah menjadi pucat pasi saat menyadari arti dari dokumen yang ia pegang."Rin, tolong jangan lakuin ini. Ini satu-satunya sisa hartaku buat bertahan hidup nanti pas keluar ... kenapa kamu sekejam ini sama aku?" rintih Adrian sembari menangis deras.Arini mendekatkan wajahnya ke arah kaca sembari menatap tepat ke dalam manik mata Adrian yang kini dipenuhi oleh keputusasaan yang sangat dalam. Ia merasakan luka lamanya berdenyut kembali, namun kali ini ia menjadikannya sebagai bahan bakar untuk memberikan pembalasan yang setimpal."Kejam? Kamu bicara soal kekejaman setelah apa yang kamu sama ibumu lakuin ke aku selama bertahun-tahun, dan perselingkuh
Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui jendela apartemen dan menyinari meja makan tempat Arini serta Alvaro sedang menikmati kopi mereka. Suasana yang tadinya tenang mendadak berubah sedikit tegang saat Arini meletakkan cangkirnya sembari menatap Alvaro dengan binar mata serius."Kak, hari ini aku mau pergi sebentar. Aku mau nemuin Mas Adrian di Lapas," ucap Arini dengan nada suara yang diusahakan terdengar kasual.Seketika itu juga, Alvaro yang sedang menyesap kopinya tersedak pelan hingga matanya membelalak lebar seolah Arini baru saja mengabarkan berita kiamat. Ia meletakkan cangkirnya dengan sedikit kasar ke atas meja, lalu melipat tangan di dada dengan bibir yang mendadak maju beberapa sentimeter."Mau apa lagi ketemu dia? Kan, semuanya udah selesai, Rin. Nggak ada alasan lagi buat kamu deket-deket sama orang itu!" cetus Alvaro dengan nada suara ketus.Arini mengerutkan kening sembari menahan senyum saat melihat ekspresi pengacara hebat di depannya yang kini just
"Laporannya sudah masuk, Pak. Pihak kepolisian sudah di lokasi buat pastiin semua aset keluar dari daftar kepemilikan Adrian Baskoro sore ini juga," ucap sekretaris itu sembari menyerahkan draf laporan final.Arini hanya mengangguk pelan menanggapi kabar tersebut tanpa ada keinginan sedikit pun untuk datang langsung ke lokasi penyitaan. Ia tidak lagi tertarik untuk melihat bagaimana rumah penuh kenangan buruk itu dikosongkan karena baginya tempat tersebut sudah mati sejak lama.Sama halnya dengan penyelesaian tugasnya, sekretaris itu kemudian merapikan berkas-berkas di tangannya dan memberikan senyum sopan ke arah Arini serta Alvaro. Ia menyadari bahwa suasana di ruangan itu sangat intim dan tenang sehingga ia tidak ingin berlama-lama mengganggu momen tersebut."Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak, Bu. Saya bakal koordinasikan sisa administrasi di meja depan biar Bapak sama Ibu nggak terganggu lagi," pamit sekretaris itu dengan santun.Tanpa menunggu balasan panjang, ia segera melang
Sama halnya dengan ketakutan yang kian memuncak, Adrian hanya bisa menggeleng lemah dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Seluruh keangkuhannya sebagai bos besar seolah menguap tak bersisa dan digantikan oleh rasa ngeri yang sangat mendalam di relung hatinya.Ia menyadari bahwa di dunia barunya ini, uang triliunan serta nama besar Baskoro hanyalah sampah yang tidak akan bisa melindunginya. Tidak ada lagi asisten pribadi atau pengacara mahal yang bisa menghentikan kepalan tinju penghuni sel lainnya yang mulai merasa terganggu."Maaf ... saya ... saya janji bakal diam. Tolong jangan sakiti saya," bisik Adrian dengan suara yang nyaris hilang akibat rasa takut yang mencekik tenggorokannya.Napi di depannya hanya mendengus kasar sebelum mendorong tubuh Adrian kembali ke dipan semen yang dingin dengan sangat tidak berperasaan. Adrian jatuh terduduk sembari memeluk lututnya sendiri, meratapi nasibnya yang kini berada di titik terendah dalam sejarah hidupnya."Satu suara lagi keluar dari mulut
Dinding ruang sidang yang kokoh seolah menjadi saksi bisu atas runtuhnya sebuah dinasti keangkuhan yang selama bertahun-tahun menindas harga diri seorang wanita. Adrian duduk di kursi terdakwa dengan bahu meluruh sembari menatap lantai marmer dengan tatapan kosong.Keringat dingin mulai membasahi dahi serta telapak tangannya saat menyadari bahwa ruang geraknya kini telah benar-benar terkunci oleh hukum. Di sampingnya, Lastri duduk dengan tubuh yang gemetar hebat sembari mencengkeram erat tepi meja guna mencari pegangan.Tidak ada lagi sisa keanggunan seorang sosialita yang biasanya ia pamerkan di depan kamera maupun di hadapan kolega elitnya. Yang tersisa hanyalah seorang wanita tua yang ketakutan menghadapi kenyataan pahit bahwa kekuasaan uangnya tidak lagi berlaku di sini."Berdasarkan bukti-bukti yang sah dan meyakinkan, terdakwa Adrian Baskoro terbukti secara hukum telah melakukan penelantaran istri dan penggelapan aset perusahaan secara sistematis," suara hakim ketua menggema.Ka







