Share

WANITA LAIN DI RUMAHKU
WANITA LAIN DI RUMAHKU
Penulis: vitafajar

1. PERAYAAN YANG MATI

Penulis: vitafajar
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-17 14:50:04

"Cuma gara-gara flu, Mas? Kamu serius?" Arini menatap kosong ke arah meja bundar di hadapannya.

Di sana, lilin-lilin aromaterapi yang dipesannya khusus sudah mulai meleleh, bentuknya tidak lagi cantik, persis seperti harapannya yang mulai luruh. Wangi manis yang seharusnya menenangkan itu mendadak terasa hambar, bahkan cenderung memuakkan bagi indra penciumannya yang sedang sensitif.

Arini telah menyiapkan semua ini selama berbulan-bulan dengan ketelitian seorang kurator museum yang sedang menjaga benda berharga. Ruang VIP restoran bintang lima ini bukan sekadar ruangan bagi Arini, ini adalah saksi bisu dari usahanya yang terakhir untuk mempertahankan martabat sebagai seorang istri.

Padahal ia sengaja memilih menu fine dining yang antreannya butuh waktu berbulan-bulan hanya untuk memastikan Adrian mendapatkan steak wagyu terbaiknya.

Malam itu, Arini tampak memukau dalam balutan dress merah marun yang dirancang khusus agar pas di tubuhnya yang mulai sedikit berisi. Bukan karena lemak, tetapi karena ada kehidupan baru yang sedang berdetak di rahimnya. Sebuah kejutan yang ia simpan rapat-rapat sebagai kado terindah.

Suara Adrian di seberang telepon terdengar sangat lelah, atau mungkin tepatnya, pria itu sudah muak menghadapi apa yang selalu ia sebut sebagai kecemburuan buta istrinya.

"Rin, tolonglah. Jangan mulai lagi. Aku capek kerja seharian, dan sekarang harus dengar kamu merengek soal makan malam?" Suara Adrian meninggi, menciptakan lubang baru di hati Arini yang sudah retak.

"Dewi sendirian di apartemen. Dia menggigil parah, suaranya habis, dan dia tidak punya siapa-siapa untuk dimintai tolong. Masa iya aku tega meninggalkan dia dalam kondisi begitu? Kamu ‘kan kuat, Rin. Kamu mandiri. Kamu bisa makan duluan, atau kalau tidak mau, kamu pulang saja. Kita bisa merayakan ini besok, kan?"

Arini tertawa. Bukan tawa bahagia, melainkan tawa miris yang keluar begitu saja dari kerongkongannya yang kering. Air matanya jatuh, satu tetes besar yang merusak riasan mata yang ia pakai dengan penuh kehati-hatian selama tiga jam di depan cermin.

"Besok?" Arini mengulang kata itu dengan nada getir yang tak bisa disembunyikan. "Besok bukan lagi hari jadi kita, Mas. Besok itu cuma hari biasa. Kenapa sih, setiap momen pentingku selalu diganggu sama dia? Apa flu-nya lebih berharga daripada harga diriku dan janji suci kita tiga tahun lalu?"

"Arin, jangan kekanak-kanakan!" bentak Adrian. Suaranya membelah kesunyian ruang VIP yang mewah itu. "Ini darurat! Dia bisa pingsan kalau sendirian!"

Tiba-tiba, di sela-sela bentakan kasar Adrian, Arini mendengar suara itu. Suara parasit yang selama tiga tahun ini perlahan menghisap habis kebahagiaan dalam rumah tangganya.

"Mas Adrian ... dingin ... pusing banget ... jangan pergi ...." Itu suara Dewi. Lirih, serak, dan terdengar sangat rapuh.

Namun entah kenapa, di telinga Arini, suara itu terdengar seperti sebuah pengumuman kemenangan yang megah. Arini bisa membayangkan Adrian di sana, sedang duduk di tepi ranjang Dewi, mungkin sedang membetulkan selimutnya atau mengusap dahi wanita itu dengan handuk basah.

"Iya, Wi, sebentar. Aku di sini. Jangan banyak gerak dulu, minum air hangatnya, ya," ucap Adrian di seberang sana.

Suara pria itu berubah total. Nada kasar dan membentak yang ia gunakan pada Arini sedetik lalu hilang tak berbekas, digantikan oleh kelembutan yang seharusnya hanya menjadi milik Arini. Kelembutan yang Arini rindukan selama berbulan-bulan ini, kini diberikan secara gratis kepada wanita lain.

Dada Arini rasanya seperti dihantam godam besar. Sesak dan panas.

"Kamu sudah di sana, Mas? Kamu sudah di apartemen dia bahkan sebelum kamu menelepon aku?" tanya Arini dengan suara bergetar.

"Aku baru sampai! Dia nyaris pingsan, Rin! Gila ya, kamu masih mau debat soal makanan dan perayaan tidak penting di saat orang lain sedang taruhan nyawa?"

"Nyawa? Dia cuma flu, Mas Adrian! Dia butuh parasetamol, bukan kamu!" teriak Arini, masa bodoh dengan dinding kedap suara ruang VIP itu. "Tiga tahun lalu kamu berjanji di depan almarhum papaku untuk menjagaku. Kamu bilang aku prioritasmu. Kamu bilang aku segalanya. Tapi mana? Setiap aku butuh, kamu selalu ada buat dia. Kamu lebih hafal jadwal obat Dewi daripada rasa kesepian istrimu sendiri!"

"Mas, maafin aku ... Mas pulang saja ke Arini, aku tidak apa-apa kok sendiri, biarkan saja aku pusing begini ... aku tidak mau jadi perusak rumah tangga kalian." Suara Dewi kembali terdengar di latar belakang, kali ini dibumbui isak tangis kecil yang terdengar sangat terencana.

"Dengar!" Adrian mendesis, seolah ingin mencengkeram leher Arini menembus sinyal telepon. "Dewi yang sakit saja masih punya hati menyuruhku pulang, sementara kamu cuma peduli ego dan gengsi di restoran mahal. Kamu egois, Arin. Aku tidak ada waktu buat drama tidak bermutu. Kita bicara kalau kamu sudah bisa pakai otak, bukan emosi."

Pip.

Sambungan diputus sepihak. Arini terpaku, dunianya runtuh seketika di atas taplak sutra putih yang mahal itu. Ia menunduk menatap tangannya yang bergetar hebat di bawah kedipan lilin yang seolah sedang menertawakan kebodohannya.

Di cermin besar yang menghias dinding, Arini melihat bayangan wanita asing. Gaun merah marun dan sanggul mutiara yang elegan itu tak mampu menutupi matanya yang kosong, seperti sumur tua yang sudah lama kering. Tiga tahun ia mencoba menjadi istri yang pengertian, menelan semua alasan basi Adrian seperti menelan duri setiap hari.

"Dewi itu rapuh."

"Dewi butuh dilindungi karena dia yatim piatu."

"Dewi tidak punya siapa-siapa selain aku sebagai sahabatnya."

Kalimat-kalimat itu ternyata racun yang melumpuhkan logika Arini, dan malam ini ia baru saja menelan dosis terakhirnya. Racun itu sudah sampai ke jantung, membunuh sisa rasa hormatnya pada pria yang ia sebut suami.

Dengan tangan bergetar, Arini mengeluarkan amplop putih berpita emas dari tasnya. Di dalamnya ada foto USG, sebuah titik kecil, denyut jantung baru, dan seluruh harapannya. Tadinya, ini akan menjadi kado penutup makan malam mereka, sebuah alasan agar Adrian berjanji bahwa mulai besok, keluarga adalah segalanya.

"Kita harus kuat, ya, Nak," bisik Arini sambil mengusap perut yang masih rata. "Papamu cuma lagi tersesat ... atau mungkin, dia memang tidak pernah benar-benar ingin ditemukan oleh kita."

Uap panas dari steak wagyu dan pasta truf di hadapannya masih mengepul, aromanya memenuhi ruangan. Semuanya sia-sia. Jutaan rupiah melayang hanya untuk membuktikan bahwa Arini tetap nomor sekian, jauh di bawah "flu" seorang Dewi.

Rasa sakit yang membara di dada Arini mendadak mendingin menjadi amarah pekat. Ia berhenti menangis. Ia sadar air mata tidak akan pernah memberi Adrian nurani.

Arini menghapus sisa air matanya dengan serbet, merusak eyeliner hingga tatapannya terlihat tajam dan kelam, seperti hantu dari bagian dirinya yang mati malam ini.

Ia menyambar kunci mobil, menyelipkan amplop USG ke dalam tas dengan kasar, lalu berdiri tegak. Arini tidak akan membiarkan staf restoran melihatnya hancur. Saat ia melangkah keluar, tatapan iba para pelayan menusuknya. Mereka tahu meja indah itu adalah monumen penantian yang gagal.

"Nyonya, makanannya ... apa ingin dibungkus?" tanya kepala pelayan hati-hati.

Arini melirik meja yang kini jadi monumen kegagalannya itu. "Kasih siapa saja yang lapar di jalanan. Saya sudah sangat kenyang," jawabnya dingin tanpa menoleh sedikit pun.

Arini berjalan cepat menembus lobi restoran yang megah, melewati pasangan-pasangan yang sedang bersulang penuh cinta. Di luar, langit seolah berkonspirasi dengan suasana hatinya; hujan tumpah deras disertai petir yang menyambar, seolah ikut mengamuk.

Di dalam mobil, Arini membanting pintu keras-keras. Amplop USG itu diletakkannya di kursi sebelah, lalu ia mencengkeram setir hingga buku-buku jarinya memutih.

"Kita pulang, Nak," bisiknya datar. "Ke tempat yang seharusnya tak pernah kita anggap rumah."

Mesin menyalak kencang. Dengan pandangan yang sedikit kabur oleh hantaman hujan di kaca depan, Arini menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobilnya melesat membelah jalanan kota yang dingin.

Ia tidak tahu bahwa ledakan emosi malam ini akan membawa perubahan permanen dalam hidupnya. Ia membawa hati yang hancur, nyawa yang belum sempat menyapa dunia, dan benih dendam yang mulai berakar kuat di atas puing-puing cintanya yang telah hangus.

Malam itu, pernikahan mereka resmi mati. Dan bersamanya, Arini yang lama pun ikut binasa.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   7. SANDIWARA DI MEJA MAKAN

    Ada jeda sejenak. Arini menahan napas."Ganti nama sertifikat itu nggak gampang, Wi. Harus ada persetujuan Arini kalau ini dianggap harta bersama," jelas Adrian."Kan, kamu bisa bikin alasan lain, Mas. Bilang aja buat jaminan pinjaman bank buat bisnis kamu yang baru. Arini pasti nurut kalau kamu yang minta. Dia ‘kan gampang dibohongi. Pokoknya demi keamanan aset kita, Mas. Aku nggak mau kita kehilangan rumah ini gara-gara emosi dia yang nggak jelas," desak Dewi lagi.Adrian terdengar menghela napas panjang. "Nanti aku pikirkan caranya, ya. Emang ada benernya sih, buat jaga-jaga kalau dia makin gila gara-gara kecelakaan kemarin."Kecelakaan kemarin.Hati Arini terasa seperti disayat sembilu saat mendengar suaminya menyebut kecelakaan yang menimpanya sebagai alasan ia menjadi gila. Tidak ada empati atau kekhawatiran dalam suara Adrian, hanya ada rasa terganggu.Arini melepas earpiecenya. Napasnya memburu. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, namun bukan karena sedih, m

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   6. PERANGKAP DI BALIK TIRAI

    Arini melangkah keluar dari gedung perkantoran mewah itu dengan kepala tegak, meski hatinya terasa seperti baru saja dihantam badai. Ia menggenggam tas tangannya dengan sangat erat, seolah-olah seluruh sisa kekuatannya tertumpu di sana.Di sampingnya, Maya berjalan dengan langkah cepat, mencoba menyamai ritme Arini yang tampak begitu terburu-buru.Udara Jakarta yang panas terasa menyesakkan, namun Arini tidak peduli. Pikirannya masih tertinggal di ruangan Alvaro, pada tatapan pria itu yang menjanjikan perlindungan dan pada sebuah kotak kecil berisi "senjata" yang kini tersembunyi di dalam tasnya."Rin, kamu beneran kuat ‘kan balik ke sana?" tanya Maya saat mereka sudah berada di dalam mobil. Suaranya penuh kekhawatiran yang tulus. "Aku bisa temani kamu kalau kamu ngerasa nggak sanggup ngeliat mukanya pelakor itu."Arini menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. "Aku nggak apa-apa, May. Justru aku harus balik sekarang. Kalau aku terlalu lama di luar, Adrian bakal c

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   5. SANG PEMBELA DARI MASA LALU

    Arini mematung menatap punggung Adrian yang sigap membimbing Dewi menaiki tangga. Suaminya itu tak menoleh lagi, apalagi peduli bagaimana istrinya bisa pulang sendiri setelah tiga hari menghilang.Sambil mencengkeram tasnya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih, Arini memantapkan tekad. Adrian baru saja memasukkan ular berbisa ke rumah mereka, tanpa sadar bahwa ular itulah yang kelak akan menghancurkannya.Arini berbalik dan melangkah keluar dengan kepala tegak. Di luar, Maya sudah menunggu di mobil dengan raut cemas. Begitu Arini masuk, Maya langsung menghujani dengan pertanyaan."Gimana, Rin? Kamu nggak apa-apa?" Maya menatap Arini lekat-lekat, menyadari mata sahabatnya itu merah karena menahan amarah yang luar biasa."Dia bawa Dewi ke rumah, May. Dia mau mereka tinggal satu atap sama aku," jawab Arini pelan. Suaranya bergetar hebat karena emosi yang tertahan di kerongkongan."Gila! Adrian bener-bener sudah nggak punya otak!" Maya memukul setir mobil dengan keras. "Terus kamu diem a

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   4. TAMU YANG TAK DIUNDANG

    Pukul sembilan pagi. Arini berdiri di depan cermin besar di dalam kamarnya, mematut diri dengan saksama. Ia memilih setelan blazer berwarna biru dongker yang memberikan kesan tegas dan profesional.Dengan jemari yang sedikit bergetar, ia memoles wajah pucatnya menggunakan riasan yang sedikit lebih tebal, sebuah topeng untuk menyembunyikan gurat duka dan kelelahan yang masih membekas jelas di matanya.Tubuh Arini sebenarnya masih terasa sangat nyeri. Setiap gerakan kecil yang ia buat rasanya seperti ditarik paksa oleh ribuan jarum tak kasatmata.Namun, amarah yang membara di dadanya bertindak sebagai obat bius yang jauh lebih kuat daripada morfin mana pun. Amarah itu adalah satu-satunya hal yang membuatnya mampu berdiri tegak hari ini.Ia baru saja hendak menyambar tas tangan di atas ranjang ketika suara deru mobil yang sangat ia kenali terdengar memasuki carport. Jantung Arini berdegup kencang. Bukan karena rindu yang membuncah, melainkan karena rasa jijik yang meluap hingga ke tenggo

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   3. RUMAH YANG ASING

    Tiga hari Arini berada di ruangan serba putih yang kini ia benci. Aroma antiseptik seolah meresap ke pori-porinya, mengunci memori tentang detik-detik paling kelam.Di sana, ia belajar satu pelajaran pahit, berhenti mengharapkan getar ponsel atau derap langkah kaki Adrian di lorong rumah sakit. Keheningan suaminya adalah jawaban paling jujur atas pernikahan mereka yang telah karam.Arini turun dari taksi dengan tubuh ringkih. Jahitan di perutnya berdenyut tajam, mengingatkan bahwa harapannya telah luruh bersama darah di atas aspal.Ia menolak bantuan medis apa pun, ia ingin masuk ke rumahnya sendiri dengan sisa kekuatan yang ada, demi melihat sejauh mana kehancuran ini akan membawanya. Ia butuh menyadari bahwa tempat yang dulu ia anggap aman kini hanyalah monumen kepalsuan.Rumah mewah itu berdiri kokoh, namun pagar hitamnya terbuka dengan iringan tatapan iba dari satpam komplek. Wajah Arini yang sepucat mayat dan matanya yang kosong sudah cukup menceritakan tragedi tanpa perlu kata-k

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   2. KEGELAPAN YANG NYATA

    Hujan tumpah dari langit Jakarta seperti air bah yang murka saat Arini menghidupkan mesin mobilnya. Pandangannya kabur, bukan hanya karena rintik air yang menghantam kaca depan dengan brutal, tetapi karena air mata yang terus mengalir deras, membakar pipinya yang pucat.Arini mengemudi dengan sisa tenaga yang hancur, sebuah raga yang dipaksa tegak oleh rasa sakit batin yang tak terperi. Tangan kanannya mencengkeram kemudi dengan kaku, sementara tangan kirinya meremas amplop USG itu di dada, mencoba melindungi satu-satunya harapan yang tersisa dari dunia yang seolah sedang berkonspirasi untuk menghancurkannya."Kenapa, Mas? Kenapa harus dia lagi?" teriak Arini di dalam kabin mobil yang kedap suara. Suaranya pecah, berharap semesta mendengar betapa hancurnya ia malam ini.Amarah itu benar-benar menutup logikanya. Arini memacu mobil menembus kegelapan hujan, hanya fokus pada jalanan di depan yang tampak buram.Ia terlalu hancur untuk menyadari bahwa sejak ia keluar dari parkiran restoran

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status