Mag-log in
"Cuma gara-gara flu, Mas? Kamu serius?" Arini menatap kosong ke arah meja bundar di hadapannya.
Di sana, lilin-lilin aromaterapi yang dipesannya khusus sudah mulai meleleh, bentuknya tidak lagi cantik, persis seperti harapannya yang mulai luruh. Wangi manis yang seharusnya menenangkan itu mendadak terasa hambar, bahkan cenderung memuakkan bagi indra penciumannya yang sedang sensitif.
Arini telah menyiapkan semua ini selama berbulan-bulan dengan ketelitian seorang kurator museum yang sedang menjaga benda berharga. Ruang VIP restoran bintang lima ini bukan sekadar ruangan bagi Arini, ini adalah saksi bisu dari usahanya yang terakhir untuk mempertahankan martabat sebagai seorang istri.
Padahal ia sengaja memilih menu fine dining yang antreannya butuh waktu berbulan-bulan hanya untuk memastikan Adrian mendapatkan steak wagyu terbaiknya.
Malam itu, Arini tampak memukau dalam balutan dress merah marun yang dirancang khusus agar pas di tubuhnya yang mulai sedikit berisi. Bukan karena lemak, tetapi karena ada kehidupan baru yang sedang berdetak di rahimnya. Sebuah kejutan yang ia simpan rapat-rapat sebagai kado terindah.
Suara Adrian di seberang telepon terdengar sangat lelah, atau mungkin tepatnya, pria itu sudah muak menghadapi apa yang selalu ia sebut sebagai kecemburuan buta istrinya.
"Rin, tolonglah. Jangan mulai lagi. Aku capek kerja seharian, dan sekarang harus dengar kamu merengek soal makan malam?" Suara Adrian meninggi, menciptakan lubang baru di hati Arini yang sudah retak.
"Dewi sendirian di apartemen. Dia menggigil parah, suaranya habis, dan dia tidak punya siapa-siapa untuk dimintai tolong. Masa iya aku tega meninggalkan dia dalam kondisi begitu? Kamu ‘kan kuat, Rin. Kamu mandiri. Kamu bisa makan duluan, atau kalau tidak mau, kamu pulang saja. Kita bisa merayakan ini besok, kan?"
Arini tertawa. Bukan tawa bahagia, melainkan tawa miris yang keluar begitu saja dari kerongkongannya yang kering. Air matanya jatuh, satu tetes besar yang merusak riasan mata yang ia pakai dengan penuh kehati-hatian selama tiga jam di depan cermin.
"Besok?" Arini mengulang kata itu dengan nada getir yang tak bisa disembunyikan. "Besok bukan lagi hari jadi kita, Mas. Besok itu cuma hari biasa. Kenapa sih, setiap momen pentingku selalu diganggu sama dia? Apa flu-nya lebih berharga daripada harga diriku dan janji suci kita tiga tahun lalu?"
"Arin, jangan kekanak-kanakan!" bentak Adrian. Suaranya membelah kesunyian ruang VIP yang mewah itu. "Ini darurat! Dia bisa pingsan kalau sendirian!"
Tiba-tiba, di sela-sela bentakan kasar Adrian, Arini mendengar suara itu. Suara parasit yang selama tiga tahun ini perlahan menghisap habis kebahagiaan dalam rumah tangganya.
"Mas Adrian ... dingin ... pusing banget ... jangan pergi ...." Itu suara Dewi. Lirih, serak, dan terdengar sangat rapuh.
Namun entah kenapa, di telinga Arini, suara itu terdengar seperti sebuah pengumuman kemenangan yang megah. Arini bisa membayangkan Adrian di sana, sedang duduk di tepi ranjang Dewi, mungkin sedang membetulkan selimutnya atau mengusap dahi wanita itu dengan handuk basah.
"Iya, Wi, sebentar. Aku di sini. Jangan banyak gerak dulu, minum air hangatnya, ya," ucap Adrian di seberang sana.
Suara pria itu berubah total. Nada kasar dan membentak yang ia gunakan pada Arini sedetik lalu hilang tak berbekas, digantikan oleh kelembutan yang seharusnya hanya menjadi milik Arini. Kelembutan yang Arini rindukan selama berbulan-bulan ini, kini diberikan secara gratis kepada wanita lain.
Dada Arini rasanya seperti dihantam godam besar. Sesak dan panas.
"Kamu sudah di sana, Mas? Kamu sudah di apartemen dia bahkan sebelum kamu menelepon aku?" tanya Arini dengan suara bergetar.
"Aku baru sampai! Dia nyaris pingsan, Rin! Gila ya, kamu masih mau debat soal makanan dan perayaan tidak penting di saat orang lain sedang taruhan nyawa?"
"Nyawa? Dia cuma flu, Mas Adrian! Dia butuh parasetamol, bukan kamu!" teriak Arini, masa bodoh dengan dinding kedap suara ruang VIP itu. "Tiga tahun lalu kamu berjanji di depan almarhum papaku untuk menjagaku. Kamu bilang aku prioritasmu. Kamu bilang aku segalanya. Tapi mana? Setiap aku butuh, kamu selalu ada buat dia. Kamu lebih hafal jadwal obat Dewi daripada rasa kesepian istrimu sendiri!"
"Mas, maafin aku ... Mas pulang saja ke Arini, aku tidak apa-apa kok sendiri, biarkan saja aku pusing begini ... aku tidak mau jadi perusak rumah tangga kalian." Suara Dewi kembali terdengar di latar belakang, kali ini dibumbui isak tangis kecil yang terdengar sangat terencana.
"Dengar!" Adrian mendesis, seolah ingin mencengkeram leher Arini menembus sinyal telepon. "Dewi yang sakit saja masih punya hati menyuruhku pulang, sementara kamu cuma peduli ego dan gengsi di restoran mahal. Kamu egois, Arin. Aku tidak ada waktu buat drama tidak bermutu. Kita bicara kalau kamu sudah bisa pakai otak, bukan emosi."
Pip.
Sambungan diputus sepihak. Arini terpaku, dunianya runtuh seketika di atas taplak sutra putih yang mahal itu. Ia menunduk menatap tangannya yang bergetar hebat di bawah kedipan lilin yang seolah sedang menertawakan kebodohannya.
Di cermin besar yang menghias dinding, Arini melihat bayangan wanita asing. Gaun merah marun dan sanggul mutiara yang elegan itu tak mampu menutupi matanya yang kosong, seperti sumur tua yang sudah lama kering. Tiga tahun ia mencoba menjadi istri yang pengertian, menelan semua alasan basi Adrian seperti menelan duri setiap hari.
"Dewi itu rapuh."
"Dewi butuh dilindungi karena dia yatim piatu."
"Dewi tidak punya siapa-siapa selain aku sebagai sahabatnya."
Kalimat-kalimat itu ternyata racun yang melumpuhkan logika Arini, dan malam ini ia baru saja menelan dosis terakhirnya. Racun itu sudah sampai ke jantung, membunuh sisa rasa hormatnya pada pria yang ia sebut suami.
Dengan tangan bergetar, Arini mengeluarkan amplop putih berpita emas dari tasnya. Di dalamnya ada foto USG, sebuah titik kecil, denyut jantung baru, dan seluruh harapannya. Tadinya, ini akan menjadi kado penutup makan malam mereka, sebuah alasan agar Adrian berjanji bahwa mulai besok, keluarga adalah segalanya.
"Kita harus kuat, ya, Nak," bisik Arini sambil mengusap perut yang masih rata. "Papamu cuma lagi tersesat ... atau mungkin, dia memang tidak pernah benar-benar ingin ditemukan oleh kita."
Uap panas dari steak wagyu dan pasta truf di hadapannya masih mengepul, aromanya memenuhi ruangan. Semuanya sia-sia. Jutaan rupiah melayang hanya untuk membuktikan bahwa Arini tetap nomor sekian, jauh di bawah "flu" seorang Dewi.
Rasa sakit yang membara di dada Arini mendadak mendingin menjadi amarah pekat. Ia berhenti menangis. Ia sadar air mata tidak akan pernah memberi Adrian nurani.
Arini menghapus sisa air matanya dengan serbet, merusak eyeliner hingga tatapannya terlihat tajam dan kelam, seperti hantu dari bagian dirinya yang mati malam ini.
Ia menyambar kunci mobil, menyelipkan amplop USG ke dalam tas dengan kasar, lalu berdiri tegak. Arini tidak akan membiarkan staf restoran melihatnya hancur. Saat ia melangkah keluar, tatapan iba para pelayan menusuknya. Mereka tahu meja indah itu adalah monumen penantian yang gagal.
"Nyonya, makanannya ... apa ingin dibungkus?" tanya kepala pelayan hati-hati.
Arini melirik meja yang kini jadi monumen kegagalannya itu. "Kasih siapa saja yang lapar di jalanan. Saya sudah sangat kenyang," jawabnya dingin tanpa menoleh sedikit pun.
Arini berjalan cepat menembus lobi restoran yang megah, melewati pasangan-pasangan yang sedang bersulang penuh cinta. Di luar, langit seolah berkonspirasi dengan suasana hatinya; hujan tumpah deras disertai petir yang menyambar, seolah ikut mengamuk.
Di dalam mobil, Arini membanting pintu keras-keras. Amplop USG itu diletakkannya di kursi sebelah, lalu ia mencengkeram setir hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kita pulang, Nak," bisiknya datar. "Ke tempat yang seharusnya tak pernah kita anggap rumah."
Mesin menyalak kencang. Dengan pandangan yang sedikit kabur oleh hantaman hujan di kaca depan, Arini menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobilnya melesat membelah jalanan kota yang dingin.
Ia tidak tahu bahwa ledakan emosi malam ini akan membawa perubahan permanen dalam hidupnya. Ia membawa hati yang hancur, nyawa yang belum sempat menyapa dunia, dan benih dendam yang mulai berakar kuat di atas puing-puing cintanya yang telah hangus.
Malam itu, pernikahan mereka resmi mati. Dan bersamanya, Arini yang lama pun ikut binasa.
Arini segera menarik napas panjang guna menenangkan degup jantungnya, lalu melangkah perlahan menuju pintu dan membukanya dengan gerakan yang anggun. Seketika itu juga, pemandangan di depan pintu apartemen mendadak membeku saat sosok Arini muncul dengan segala kemewahan yang ia pancarkan.Alvaro berdiri kaku dengan mulut yang sedikit terbuka, matanya tidak berkedip sedikit pun saat menyapu penampilan Arini dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pria yang biasanya sangat fasih bicara di depan hakim itu mendadak kehilangan seluruh kosakatanya, seolah lidahnya kelu karena pesona yang tidak terduga ini."Kak? Kenapa diam aja? Ada yang salah ya sama dandananku? Apa gaunnya nggak cocok?" tanya Arini sembari memiringkan kepalanya karena bingung melihat reaksi Alvaro.Alvaro berdeham berkali-kali guna menetralkan kegugupan yang mendadak menyerang sistem sarafnya dengan sangat hebat. Ia mengerjapkan matanya, mencoba kembali ke dunia nyata setelah sempat tersesat dalam kecantikan wanita yang kini
"Aku ke sini bukan buat jenguk kamu kayak yang kamu bayangin, Mas. Aku cuma mau kasih 'hadiah' terakhir dariku," ujar Arini dengan nada datar.Adrian segera meraih map tersebut dan membukanya dengan tangan gemetar karena rasa takut yang masih tersisa di dalam benaknya. Matanya menyapu deretan kalimat di dalam draf tersebut hingga wajahnya berubah menjadi pucat pasi saat menyadari arti dari dokumen yang ia pegang."Rin, tolong jangan lakuin ini. Ini satu-satunya sisa hartaku buat bertahan hidup nanti pas keluar ... kenapa kamu sekejam ini sama aku?" rintih Adrian sembari menangis deras.Arini mendekatkan wajahnya ke arah kaca sembari menatap tepat ke dalam manik mata Adrian yang kini dipenuhi oleh keputusasaan yang sangat dalam. Ia merasakan luka lamanya berdenyut kembali, namun kali ini ia menjadikannya sebagai bahan bakar untuk memberikan pembalasan yang setimpal."Kejam? Kamu bicara soal kekejaman setelah apa yang kamu sama ibumu lakuin ke aku selama bertahun-tahun, dan perselingkuh
Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui jendela apartemen dan menyinari meja makan tempat Arini serta Alvaro sedang menikmati kopi mereka. Suasana yang tadinya tenang mendadak berubah sedikit tegang saat Arini meletakkan cangkirnya sembari menatap Alvaro dengan binar mata serius."Kak, hari ini aku mau pergi sebentar. Aku mau nemuin Mas Adrian di Lapas," ucap Arini dengan nada suara yang diusahakan terdengar kasual.Seketika itu juga, Alvaro yang sedang menyesap kopinya tersedak pelan hingga matanya membelalak lebar seolah Arini baru saja mengabarkan berita kiamat. Ia meletakkan cangkirnya dengan sedikit kasar ke atas meja, lalu melipat tangan di dada dengan bibir yang mendadak maju beberapa sentimeter."Mau apa lagi ketemu dia? Kan, semuanya udah selesai, Rin. Nggak ada alasan lagi buat kamu deket-deket sama orang itu!" cetus Alvaro dengan nada suara ketus.Arini mengerutkan kening sembari menahan senyum saat melihat ekspresi pengacara hebat di depannya yang kini just
"Laporannya sudah masuk, Pak. Pihak kepolisian sudah di lokasi buat pastiin semua aset keluar dari daftar kepemilikan Adrian Baskoro sore ini juga," ucap sekretaris itu sembari menyerahkan draf laporan final.Arini hanya mengangguk pelan menanggapi kabar tersebut tanpa ada keinginan sedikit pun untuk datang langsung ke lokasi penyitaan. Ia tidak lagi tertarik untuk melihat bagaimana rumah penuh kenangan buruk itu dikosongkan karena baginya tempat tersebut sudah mati sejak lama.Sama halnya dengan penyelesaian tugasnya, sekretaris itu kemudian merapikan berkas-berkas di tangannya dan memberikan senyum sopan ke arah Arini serta Alvaro. Ia menyadari bahwa suasana di ruangan itu sangat intim dan tenang sehingga ia tidak ingin berlama-lama mengganggu momen tersebut."Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak, Bu. Saya bakal koordinasikan sisa administrasi di meja depan biar Bapak sama Ibu nggak terganggu lagi," pamit sekretaris itu dengan santun.Tanpa menunggu balasan panjang, ia segera melang
Sama halnya dengan ketakutan yang kian memuncak, Adrian hanya bisa menggeleng lemah dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Seluruh keangkuhannya sebagai bos besar seolah menguap tak bersisa dan digantikan oleh rasa ngeri yang sangat mendalam di relung hatinya.Ia menyadari bahwa di dunia barunya ini, uang triliunan serta nama besar Baskoro hanyalah sampah yang tidak akan bisa melindunginya. Tidak ada lagi asisten pribadi atau pengacara mahal yang bisa menghentikan kepalan tinju penghuni sel lainnya yang mulai merasa terganggu."Maaf ... saya ... saya janji bakal diam. Tolong jangan sakiti saya," bisik Adrian dengan suara yang nyaris hilang akibat rasa takut yang mencekik tenggorokannya.Napi di depannya hanya mendengus kasar sebelum mendorong tubuh Adrian kembali ke dipan semen yang dingin dengan sangat tidak berperasaan. Adrian jatuh terduduk sembari memeluk lututnya sendiri, meratapi nasibnya yang kini berada di titik terendah dalam sejarah hidupnya."Satu suara lagi keluar dari mulut
Dinding ruang sidang yang kokoh seolah menjadi saksi bisu atas runtuhnya sebuah dinasti keangkuhan yang selama bertahun-tahun menindas harga diri seorang wanita. Adrian duduk di kursi terdakwa dengan bahu meluruh sembari menatap lantai marmer dengan tatapan kosong.Keringat dingin mulai membasahi dahi serta telapak tangannya saat menyadari bahwa ruang geraknya kini telah benar-benar terkunci oleh hukum. Di sampingnya, Lastri duduk dengan tubuh yang gemetar hebat sembari mencengkeram erat tepi meja guna mencari pegangan.Tidak ada lagi sisa keanggunan seorang sosialita yang biasanya ia pamerkan di depan kamera maupun di hadapan kolega elitnya. Yang tersisa hanyalah seorang wanita tua yang ketakutan menghadapi kenyataan pahit bahwa kekuasaan uangnya tidak lagi berlaku di sini."Berdasarkan bukti-bukti yang sah dan meyakinkan, terdakwa Adrian Baskoro terbukti secara hukum telah melakukan penelantaran istri dan penggelapan aset perusahaan secara sistematis," suara hakim ketua menggema.Ka







