Inicio / Rumah Tangga / WANITA LAIN DI RUMAHKU / 6. PERANGKAP DI BALIK TIRAI

Compartir

6. PERANGKAP DI BALIK TIRAI

Autor: vitafajar
last update Última actualización: 2026-01-27 17:45:55

Arini melangkah keluar dari gedung perkantoran mewah itu dengan kepala tegak, meski hatinya terasa seperti baru saja dihantam badai. Ia menggenggam tas tangannya dengan sangat erat, seolah-olah seluruh sisa kekuatannya tertumpu di sana.

Di sampingnya, Maya berjalan dengan langkah cepat, mencoba menyamai ritme Arini yang tampak begitu terburu-buru.

Udara Jakarta yang panas terasa menyesakkan, namun Arini tidak peduli. Pikirannya masih tertinggal di ruangan Alvaro, pada tatapan pria itu yang menjanjikan perlindungan dan pada sebuah kotak kecil berisi "senjata" yang kini tersembunyi di dalam tasnya.

"Rin, kamu beneran kuat ‘kan balik ke sana?" tanya Maya saat mereka sudah berada di dalam mobil. Suaranya penuh kekhawatiran yang tulus. "Aku bisa temani kamu kalau kamu ngerasa nggak sanggup ngeliat mukanya pelakor itu."

Arini menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. "Aku nggak apa-apa, May. Justru aku harus balik sekarang. Kalau aku terlalu lama di luar, Adrian bakal curiga. Aku perlu mereka merasa kalau aku sudah menyerah."

"Tapi janji, ya, kalau ada apa-apa, kalau si brengsek itu sampai main tangan, kamu langsung telepon aku atau Kak Alvaro," tegas Maya sambil mulai menjalankan mobil.

"Iya, May. Aku janji. Sekarang antar aku pulang. Dua manusia nggak tau diri itu harus aku hadapi sendiri supaya aku tahu kapan waktunya buat nendang mereka tanpa dari rumahku," jawab Arini dingin.

Setibanya di depan rumah, Arini sempat terdiam sejenak di dalam mobil. Rumah mewah itu, yang dulu ia bangun dengan cinta dan harapan, kini tampak seperti penjara yang dipenuhi kabut hitam. Ia turun dari mobil setelah berpamitan pada Maya, mencoba mengatur raut wajahnya agar terlihat selemah mungkin.

Begitu pintu depan terbuka, aroma teh melati yang sangat ia kenali menguar. Namun, ada yang salah. Aroma itu bukan berasal dari dapur tempat Mbak Sumi biasa menyeduh, melainkan dari ruang makan utama.

Arini melangkah pelan, sengaja menyeret kakinya agar terdengar seperti orang yang kelelahan. Pemandangan di ruang makan sukses membuat perutnya mual seketika. Di sana, duduk di kursi kebesaran yang biasanya diduduki Arini, Dewi sedang bersantai menyesap teh dari cangkir porselen favorit Arini.

Wanita itu mengenakan daster sutra tipis miliknya yang tertinggal di lemari luar. Ia tampak sangat nyaman, seolah ia adalah ratu yang baru saja memenangkan takhta.

"Eh, Arini? Baru balik, ya?" sapa Dewi dengan nada yang dibuat-buat ramah. Ia tidak beranjak dari kursi itu. "Tadi aku pusing banget, terus Mas Adrian suruh aku minum teh di sini supaya kena angin jendela. Kamu jangan marah ya aku pakai kursi ini."

Arini menatapnya dengan tatapan kosong, aktingnya dimulai sekarang. Ia memegangi pegangan tangga dengan tangan yang terlihat gemetar. "Nggak apa-apa, Wi. Pakai aja. Aku ... aku mau istirahat di kamar."

"Duh, mukamu pucat banget, Rin. Mas Adrian lagi di ruang kerjanya tuh, baru selesai telepon klien. Mau aku panggilin buat bantu kamu naik?" tanya Dewi dengan nada meremehkan yang terselubung empati palsu.

"Nggak usah. Aku bisa sendiri," jawab Arini pendek. Ia segera menaiki tangga tanpa menoleh lagi, meski ia bisa merasakan tatapan kemenangan Dewi yang menusuk punggungnya.

Begitu sampai di dalam kamar dan mengunci pintu, Arini langsung menyandarkan tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang bukan karena takut, melainkan karena amarah yang nyaris meledak. Ia membuka tasnya, mengeluarkan kotak kecil pemberian Alvaro.

Ada tiga alat penyadap suara sekecil kancing dan dua kamera mikro yang sangat canggih. Arini tahu ia harus bergerak cepat. Adrian sedang di ruang kerja, dan Dewi masih di bawah. Ini kesempatannya.

Ia keluar kamar dengan langkah tanpa suara. Ia menuju ke kamar tamu, tempat yang sekarang ditempati oleh Dewi. Dengan gerakan cepat dan teliti, Arini menempelkan satu kamera mikro di balik bingkai foto pemandangan di atas nakas, dan satu penyadap di bawah tempat tidur.

‘Nikmati waktumu, Dewi. Karena setiap napas yang kamu ambil di sini akan jadi bukti kehancuranmu,’ bisik Arini dalam hati.

Setelah itu, Arini menuju ruang kerja Adrian yang letaknya tidak jauh dari sana. Ia mendengar suara Adrian yang sedang bicara di telepon, nadanya terdengar sangat ceria. Arini menunggu di balik pilar sampai ia melihat suaminya itu keluar menuju dapur untuk mengambil minum.

Cepat seperti kilat, Arini menyelinap masuk ke ruang kerja suaminya. Ruangan itu berbau cerutu mahal. Ia menempelkan penyadap tepat di bawah meja jati besar milik Adrian, tersembunyi dengan sempurna di balik sambungan kayu. Ia juga memasang satu kamera di antara deretan buku-buku hukum yang jarang disentuh Adrian.

Arini berhasil keluar tepat sebelum Adrian kembali ke ruangan itu. Ia langsung masuk ke kamarnya sendiri, mengunci pintu, dan duduk di lantai sambil memasang earpiece yang terhubung ke ponsel rahasianya.

Satu jam berlalu dalam keheningan yang menyiksa, sampai akhirnya Arini mendengar suara pintu terbuka melalui penyadap di ruang kerja. Itu suara langkah kaki Dewi.

"Mas, sibuk banget, ya?" tanya Dewi. Suaranya berubah, tidak lagi merintih sakit seperti tadi, melainkan manja dan menggoda.

"Lagi cek berkas dikit, Wi. Kamu kok malah turun? Katanya pusing," sahut Adrian. Suaranya terdengar jauh lebih lembut daripada saat ia bicara pada Arini.

"Tadi udah mendingan setelah minum teh. Mas, aku mau ngomong serius," ujar Dewi. Arini bisa mendengar suara gesekan kursi, sepertinya Dewi duduk di pangkuan atau di dekat Adrian.

"Ngomong apa, Sayang?"

Arini  membelalak, Adrian sudah memanggil Dewi dengan sebutan ‘Sayang’. Begitu lancar, begitu terbiasa, seolah kata itu memang sudah menjadi hak milik wanita lain, bukan lagi miliknya.

Tangan Arini bergetar hebat saat ia masih menempelkan earpiece itu ke telinganya. Di dalam kamar yang sunyi, suara suaminya terdengar begitu jernih, mengkhianati setiap kenangan manis yang pernah mereka bangun di ranjang yang kini terasa dingin ini.

"Tadi aku lihat Arini balik. Mukanya makin nggak enak dilihat, Mas. Judes banget ke aku. Aku jadi kepikiran, gimana kalau dia tiba-tiba nekat?"

"Nekat gimana maksudnya?" tanya Adrian heran.

"Ya ... kita nggak tahu kan isi hati orang. Dia ‘kan lagi nggak stabil. Mas, aku takut soal aset rumah ini. Kalau misalnya Arini tiba-tiba minta cerai terus minta harta gono-gini, rumah ini bakal kena juga, kan? Ini ‘kan rumah paling mahal yang Mas punya," suara Dewi terdengar menghasut, pelan namun tajam.

Arini mencengkeram ponselnya. ‘Ular ini mulai beraksi,’ batinnya.

"Ya, secara hukum sih begitu, Wi. Tapi Arini nggak mungkin minta cerai. Dia itu cinta mati sama aku. Dia nggak punya siapa-siapa lagi," jawab Adrian dengan nada sombong yang membuat Arini ingin meludah.

"Kita nggak boleh anggap remeh, Mas. Buat jaga-jaga aja, gimana kalau nama di sertifikat rumah ini diganti sekarang? Atas nama kamu sendiri atau ... atau nama aku juga boleh, sebagai jaminan kalau aku bakal nemenin kamu terus. Kamu bilang kamu mau kasih aku keamanan, kan?"

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   7. SANDIWARA DI MEJA MAKAN

    Ada jeda sejenak. Arini menahan napas."Ganti nama sertifikat itu nggak gampang, Wi. Harus ada persetujuan Arini kalau ini dianggap harta bersama," jelas Adrian."Kan, kamu bisa bikin alasan lain, Mas. Bilang aja buat jaminan pinjaman bank buat bisnis kamu yang baru. Arini pasti nurut kalau kamu yang minta. Dia ‘kan gampang dibohongi. Pokoknya demi keamanan aset kita, Mas. Aku nggak mau kita kehilangan rumah ini gara-gara emosi dia yang nggak jelas," desak Dewi lagi.Adrian terdengar menghela napas panjang. "Nanti aku pikirkan caranya, ya. Emang ada benernya sih, buat jaga-jaga kalau dia makin gila gara-gara kecelakaan kemarin."Kecelakaan kemarin.Hati Arini terasa seperti disayat sembilu saat mendengar suaminya menyebut kecelakaan yang menimpanya sebagai alasan ia menjadi gila. Tidak ada empati atau kekhawatiran dalam suara Adrian, hanya ada rasa terganggu.Arini melepas earpiecenya. Napasnya memburu. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, namun bukan karena sedih, m

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   6. PERANGKAP DI BALIK TIRAI

    Arini melangkah keluar dari gedung perkantoran mewah itu dengan kepala tegak, meski hatinya terasa seperti baru saja dihantam badai. Ia menggenggam tas tangannya dengan sangat erat, seolah-olah seluruh sisa kekuatannya tertumpu di sana.Di sampingnya, Maya berjalan dengan langkah cepat, mencoba menyamai ritme Arini yang tampak begitu terburu-buru.Udara Jakarta yang panas terasa menyesakkan, namun Arini tidak peduli. Pikirannya masih tertinggal di ruangan Alvaro, pada tatapan pria itu yang menjanjikan perlindungan dan pada sebuah kotak kecil berisi "senjata" yang kini tersembunyi di dalam tasnya."Rin, kamu beneran kuat ‘kan balik ke sana?" tanya Maya saat mereka sudah berada di dalam mobil. Suaranya penuh kekhawatiran yang tulus. "Aku bisa temani kamu kalau kamu ngerasa nggak sanggup ngeliat mukanya pelakor itu."Arini menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. "Aku nggak apa-apa, May. Justru aku harus balik sekarang. Kalau aku terlalu lama di luar, Adrian bakal c

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   5. SANG PEMBELA DARI MASA LALU

    Arini mematung menatap punggung Adrian yang sigap membimbing Dewi menaiki tangga. Suaminya itu tak menoleh lagi, apalagi peduli bagaimana istrinya bisa pulang sendiri setelah tiga hari menghilang.Sambil mencengkeram tasnya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih, Arini memantapkan tekad. Adrian baru saja memasukkan ular berbisa ke rumah mereka, tanpa sadar bahwa ular itulah yang kelak akan menghancurkannya.Arini berbalik dan melangkah keluar dengan kepala tegak. Di luar, Maya sudah menunggu di mobil dengan raut cemas. Begitu Arini masuk, Maya langsung menghujani dengan pertanyaan."Gimana, Rin? Kamu nggak apa-apa?" Maya menatap Arini lekat-lekat, menyadari mata sahabatnya itu merah karena menahan amarah yang luar biasa."Dia bawa Dewi ke rumah, May. Dia mau mereka tinggal satu atap sama aku," jawab Arini pelan. Suaranya bergetar hebat karena emosi yang tertahan di kerongkongan."Gila! Adrian bener-bener sudah nggak punya otak!" Maya memukul setir mobil dengan keras. "Terus kamu diem a

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   4. TAMU YANG TAK DIUNDANG

    Pukul sembilan pagi. Arini berdiri di depan cermin besar di dalam kamarnya, mematut diri dengan saksama. Ia memilih setelan blazer berwarna biru dongker yang memberikan kesan tegas dan profesional.Dengan jemari yang sedikit bergetar, ia memoles wajah pucatnya menggunakan riasan yang sedikit lebih tebal, sebuah topeng untuk menyembunyikan gurat duka dan kelelahan yang masih membekas jelas di matanya.Tubuh Arini sebenarnya masih terasa sangat nyeri. Setiap gerakan kecil yang ia buat rasanya seperti ditarik paksa oleh ribuan jarum tak kasatmata.Namun, amarah yang membara di dadanya bertindak sebagai obat bius yang jauh lebih kuat daripada morfin mana pun. Amarah itu adalah satu-satunya hal yang membuatnya mampu berdiri tegak hari ini.Ia baru saja hendak menyambar tas tangan di atas ranjang ketika suara deru mobil yang sangat ia kenali terdengar memasuki carport. Jantung Arini berdegup kencang. Bukan karena rindu yang membuncah, melainkan karena rasa jijik yang meluap hingga ke tenggo

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   3. RUMAH YANG ASING

    Tiga hari Arini berada di ruangan serba putih yang kini ia benci. Aroma antiseptik seolah meresap ke pori-porinya, mengunci memori tentang detik-detik paling kelam.Di sana, ia belajar satu pelajaran pahit, berhenti mengharapkan getar ponsel atau derap langkah kaki Adrian di lorong rumah sakit. Keheningan suaminya adalah jawaban paling jujur atas pernikahan mereka yang telah karam.Arini turun dari taksi dengan tubuh ringkih. Jahitan di perutnya berdenyut tajam, mengingatkan bahwa harapannya telah luruh bersama darah di atas aspal.Ia menolak bantuan medis apa pun, ia ingin masuk ke rumahnya sendiri dengan sisa kekuatan yang ada, demi melihat sejauh mana kehancuran ini akan membawanya. Ia butuh menyadari bahwa tempat yang dulu ia anggap aman kini hanyalah monumen kepalsuan.Rumah mewah itu berdiri kokoh, namun pagar hitamnya terbuka dengan iringan tatapan iba dari satpam komplek. Wajah Arini yang sepucat mayat dan matanya yang kosong sudah cukup menceritakan tragedi tanpa perlu kata-k

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   2. KEGELAPAN YANG NYATA

    Hujan tumpah dari langit Jakarta seperti air bah yang murka saat Arini menghidupkan mesin mobilnya. Pandangannya kabur, bukan hanya karena rintik air yang menghantam kaca depan dengan brutal, tetapi karena air mata yang terus mengalir deras, membakar pipinya yang pucat.Arini mengemudi dengan sisa tenaga yang hancur, sebuah raga yang dipaksa tegak oleh rasa sakit batin yang tak terperi. Tangan kanannya mencengkeram kemudi dengan kaku, sementara tangan kirinya meremas amplop USG itu di dada, mencoba melindungi satu-satunya harapan yang tersisa dari dunia yang seolah sedang berkonspirasi untuk menghancurkannya."Kenapa, Mas? Kenapa harus dia lagi?" teriak Arini di dalam kabin mobil yang kedap suara. Suaranya pecah, berharap semesta mendengar betapa hancurnya ia malam ini.Amarah itu benar-benar menutup logikanya. Arini memacu mobil menembus kegelapan hujan, hanya fokus pada jalanan di depan yang tampak buram.Ia terlalu hancur untuk menyadari bahwa sejak ia keluar dari parkiran restoran

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status