INICIAR SESIÓNArini melangkah keluar dari gedung perkantoran mewah itu dengan kepala tegak, meski hatinya terasa seperti baru saja dihantam badai. Ia menggenggam tas tangannya dengan sangat erat, seolah-olah seluruh sisa kekuatannya tertumpu di sana.
Di sampingnya, Maya berjalan dengan langkah cepat, mencoba menyamai ritme Arini yang tampak begitu terburu-buru.
Udara Jakarta yang panas terasa menyesakkan, namun Arini tidak peduli. Pikirannya masih tertinggal di ruangan Alvaro, pada tatapan pria itu yang menjanjikan perlindungan dan pada sebuah kotak kecil berisi "senjata" yang kini tersembunyi di dalam tasnya.
"Rin, kamu beneran kuat ‘kan balik ke sana?" tanya Maya saat mereka sudah berada di dalam mobil. Suaranya penuh kekhawatiran yang tulus. "Aku bisa temani kamu kalau kamu ngerasa nggak sanggup ngeliat mukanya pelakor itu."
Arini menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. "Aku nggak apa-apa, May. Justru aku harus balik sekarang. Kalau aku terlalu lama di luar, Adrian bakal curiga. Aku perlu mereka merasa kalau aku sudah menyerah."
"Tapi janji, ya, kalau ada apa-apa, kalau si brengsek itu sampai main tangan, kamu langsung telepon aku atau Kak Alvaro," tegas Maya sambil mulai menjalankan mobil.
"Iya, May. Aku janji. Sekarang antar aku pulang. Dua manusia nggak tau diri itu harus aku hadapi sendiri supaya aku tahu kapan waktunya buat nendang mereka tanpa dari rumahku," jawab Arini dingin.
Setibanya di depan rumah, Arini sempat terdiam sejenak di dalam mobil. Rumah mewah itu, yang dulu ia bangun dengan cinta dan harapan, kini tampak seperti penjara yang dipenuhi kabut hitam. Ia turun dari mobil setelah berpamitan pada Maya, mencoba mengatur raut wajahnya agar terlihat selemah mungkin.
Begitu pintu depan terbuka, aroma teh melati yang sangat ia kenali menguar. Namun, ada yang salah. Aroma itu bukan berasal dari dapur tempat Mbak Sumi biasa menyeduh, melainkan dari ruang makan utama.
Arini melangkah pelan, sengaja menyeret kakinya agar terdengar seperti orang yang kelelahan. Pemandangan di ruang makan sukses membuat perutnya mual seketika. Di sana, duduk di kursi kebesaran yang biasanya diduduki Arini, Dewi sedang bersantai menyesap teh dari cangkir porselen favorit Arini.
Wanita itu mengenakan daster sutra tipis miliknya yang tertinggal di lemari luar. Ia tampak sangat nyaman, seolah ia adalah ratu yang baru saja memenangkan takhta.
"Eh, Arini? Baru balik, ya?" sapa Dewi dengan nada yang dibuat-buat ramah. Ia tidak beranjak dari kursi itu. "Tadi aku pusing banget, terus Mas Adrian suruh aku minum teh di sini supaya kena angin jendela. Kamu jangan marah ya aku pakai kursi ini."
Arini menatapnya dengan tatapan kosong, aktingnya dimulai sekarang. Ia memegangi pegangan tangga dengan tangan yang terlihat gemetar. "Nggak apa-apa, Wi. Pakai aja. Aku ... aku mau istirahat di kamar."
"Duh, mukamu pucat banget, Rin. Mas Adrian lagi di ruang kerjanya tuh, baru selesai telepon klien. Mau aku panggilin buat bantu kamu naik?" tanya Dewi dengan nada meremehkan yang terselubung empati palsu.
"Nggak usah. Aku bisa sendiri," jawab Arini pendek. Ia segera menaiki tangga tanpa menoleh lagi, meski ia bisa merasakan tatapan kemenangan Dewi yang menusuk punggungnya.
Begitu sampai di dalam kamar dan mengunci pintu, Arini langsung menyandarkan tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang bukan karena takut, melainkan karena amarah yang nyaris meledak. Ia membuka tasnya, mengeluarkan kotak kecil pemberian Alvaro.
Ada tiga alat penyadap suara sekecil kancing dan dua kamera mikro yang sangat canggih. Arini tahu ia harus bergerak cepat. Adrian sedang di ruang kerja, dan Dewi masih di bawah. Ini kesempatannya.
Ia keluar kamar dengan langkah tanpa suara. Ia menuju ke kamar tamu, tempat yang sekarang ditempati oleh Dewi. Dengan gerakan cepat dan teliti, Arini menempelkan satu kamera mikro di balik bingkai foto pemandangan di atas nakas, dan satu penyadap di bawah tempat tidur.
‘Nikmati waktumu, Dewi. Karena setiap napas yang kamu ambil di sini akan jadi bukti kehancuranmu,’ bisik Arini dalam hati.
Setelah itu, Arini menuju ruang kerja Adrian yang letaknya tidak jauh dari sana. Ia mendengar suara Adrian yang sedang bicara di telepon, nadanya terdengar sangat ceria. Arini menunggu di balik pilar sampai ia melihat suaminya itu keluar menuju dapur untuk mengambil minum.
Cepat seperti kilat, Arini menyelinap masuk ke ruang kerja suaminya. Ruangan itu berbau cerutu mahal. Ia menempelkan penyadap tepat di bawah meja jati besar milik Adrian, tersembunyi dengan sempurna di balik sambungan kayu. Ia juga memasang satu kamera di antara deretan buku-buku hukum yang jarang disentuh Adrian.
Arini berhasil keluar tepat sebelum Adrian kembali ke ruangan itu. Ia langsung masuk ke kamarnya sendiri, mengunci pintu, dan duduk di lantai sambil memasang earpiece yang terhubung ke ponsel rahasianya.
Satu jam berlalu dalam keheningan yang menyiksa, sampai akhirnya Arini mendengar suara pintu terbuka melalui penyadap di ruang kerja. Itu suara langkah kaki Dewi.
"Mas, sibuk banget, ya?" tanya Dewi. Suaranya berubah, tidak lagi merintih sakit seperti tadi, melainkan manja dan menggoda.
"Lagi cek berkas dikit, Wi. Kamu kok malah turun? Katanya pusing," sahut Adrian. Suaranya terdengar jauh lebih lembut daripada saat ia bicara pada Arini.
"Tadi udah mendingan setelah minum teh. Mas, aku mau ngomong serius," ujar Dewi. Arini bisa mendengar suara gesekan kursi, sepertinya Dewi duduk di pangkuan atau di dekat Adrian.
"Ngomong apa, Sayang?"
Arini membelalak, Adrian sudah memanggil Dewi dengan sebutan ‘Sayang’. Begitu lancar, begitu terbiasa, seolah kata itu memang sudah menjadi hak milik wanita lain, bukan lagi miliknya.
Tangan Arini bergetar hebat saat ia masih menempelkan earpiece itu ke telinganya. Di dalam kamar yang sunyi, suara suaminya terdengar begitu jernih, mengkhianati setiap kenangan manis yang pernah mereka bangun di ranjang yang kini terasa dingin ini.
"Tadi aku lihat Arini balik. Mukanya makin nggak enak dilihat, Mas. Judes banget ke aku. Aku jadi kepikiran, gimana kalau dia tiba-tiba nekat?"
"Nekat gimana maksudnya?" tanya Adrian heran.
"Ya ... kita nggak tahu kan isi hati orang. Dia ‘kan lagi nggak stabil. Mas, aku takut soal aset rumah ini. Kalau misalnya Arini tiba-tiba minta cerai terus minta harta gono-gini, rumah ini bakal kena juga, kan? Ini ‘kan rumah paling mahal yang Mas punya," suara Dewi terdengar menghasut, pelan namun tajam.
Arini mencengkeram ponselnya. ‘Ular ini mulai beraksi,’ batinnya.
"Ya, secara hukum sih begitu, Wi. Tapi Arini nggak mungkin minta cerai. Dia itu cinta mati sama aku. Dia nggak punya siapa-siapa lagi," jawab Adrian dengan nada sombong yang membuat Arini ingin meludah.
"Kita nggak boleh anggap remeh, Mas. Buat jaga-jaga aja, gimana kalau nama di sertifikat rumah ini diganti sekarang? Atas nama kamu sendiri atau ... atau nama aku juga boleh, sebagai jaminan kalau aku bakal nemenin kamu terus. Kamu bilang kamu mau kasih aku keamanan, kan?"
Alvaro, dengan ketelatenan yang luar biasa, membasuh sisa-sisa busa di bahu istrinya untuk terakhir kalinya. Gerakannya sangat lembut dan penuh perasaan. Ia tidak membiarkan Arini melakukan apa pun sendiri, ia benar-benar memanjakan wanita itu hingga ke titik di mana Arini merasa seluruh beban berat di pundaknya luruh bersama air.Alvaro bangkit berdiri perlahan, meraih handuk putih tebal yang sudah ia siapkan di atas rak pemanas. Dengan gerakan yang sangat protektif, ia membantu Arini berdiri dan melilitkan handuk itu ke tubuh mungil istrinya, membungkusnya dengan rapat seolah ingin melindungi Arini dari udara dingin yang mungkin menyerang.Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, namun tatapan mata Alvaro yang dalam sudah cukup mewakili ribuan kalimat cinta.Ia kembali mengangkat tubuh Arini dalam gendongannya dengan sangat sigap. Tubuh Arini terasa begitu ringan di tangannya, atau mungkin kekuatan Alvaro yang sedang berada di puncaknya karena dorongan keinginan untuk m
Cukup lama mereka terdiam dalam posisi itu. Keheningan yang tercipta seolah menjadi ruang bagi Alvaro untuk meredam sisa-sisa amarahnya. Alvaro akhirnya menoleh pada Kael. Asisten setianya itu masih berdiri mematung setelah menyaksikan badai pertengkaran hebat antara majikannya dengan sang ayah.“Siapkan mobil, kita pulang ke apartemen sekarang,” perintah Alvaro. Suaranya tidak lagi menggelegar, namun ada ketegasan yang tidak bisa dibantah di sana.Arini mendongak, menatap suaminya dengan sorot mata tak percaya. “Masih ada masalah yang harus aku selesaikan di sini, Kak. Kita nggak bisa pulang begitu saja,” protes Arini pelan. Pikirannya masih tertinggal pada tumpukan berkas dan kekacauan di ruang rapat tadi.Namun, Alvaro hanya menggelengkan kepala sambil menyunggingkan senyum tipis yang menenangkan. “Kita pulang. Kamu percayakan saja urusan perusahaan sama aku, hmm?”Alvaro mengusap puncak kepala Arini, mencoba menyalurkan keyakinan. Arini masih terlihat tidak rela, bibirnya terkatup
Kegembiraan yang baru saja membuncah di dada Arini seolah ditarik paksa oleh gravitasi, menyisakan rasa sesak yang mendinginkan ujung jemarinya. Di ruang rapat yang masih menyisakan aroma parfum para direksi yang baru saja terusir itu, Arini berdiri terpaku. Gema suara Kael tentang kondisi Darma dan ancaman kedatangan Rudi Wijaya berputar di kepalanya seperti badai.Alvaro yang sedetik lalu tersenyum bangga, kini menegang hebat. Rahangnya mengeras, menciptakan garis tajam yang mempertegas gurat kecemasan di wajah tampannya. Arini bisa merasakan aura pelindung itu berubah menjadi aura peperangan yang pekat dan menyesakkan."Kak ...," bisik Arini, suaranya bergetar. Ia melangkah mendekat, mencoba menggapai lengan Alvaro yang kini terasa kaku seperti beton.Alvaro menoleh, tatapannya yang tajam perlahan melunak saat bertemu dengan manik mata Arini. "Jangan takut, Rin. Aku nggak akan biarin siapa pun mengacaukan kemenangan kita hari ini. Bahkan ayahku sekalipun," ucapnya dengan nada prote
Keheningan yang dingin menyergap Arini saat langkah kakinya menggema di lorong menuju ruang rapat utama Mahardika Group. Di sampingnya, Alvaro berjalan dengan langkah yang tetap tenang meski wajahnya masih memancarkan kepucatan yang nyata. Penyangga bahu di balik jas hitamnya seolah menjadi pengingat bisu tentang pengorbanan yang baru saja terjadi di lobi.Kael berjalan di belakang mereka, membawa beberapa map hitam yang nampak seperti dokumen biasa, namun Arini tahu bahwa di dalam sana terdapat "bom" yang siap meratakan kesombongan orang-orang di dalam ruangan itu."Siap, Rin?" bisik Alvaro sesaat sebelum pintu kayu ek raksasa itu terbuka secara otomatis.Arini menarik napas panjang, memperbaiki posisi kerah blazer putihnya, dan menatap lurus ke depan dengan binar mata yang tajam. "Sangat siap, Kak. Mereka pikir aku mangsa empuk cuma karena aku perempuan, tapi mereka lupa kalau di pembuluh darahku mengalir darah seorang pendiri."Begitu pintu terbuka, aroma kopi pahit menyeruak kelua
Sofia Wijaya mematung di tengah ruangan, wajahnya yang semula sembap karena air mata palsu kini berubah menjadi merah padam karena murka yang mencapai ubun-ubun. Matanya melotot, menatap Arini dengan kebencian yang begitu pekat seolah ingin membakar wanita di depannya itu menjadi abu.Kata-kata Arini yang memintanya keluar bukan hanya sekadar usiran bagi Sofia, itu adalah penghinaan besar terhadap harga diri klan Wijaya yang selama puluhan tahun ia agungkan. Baginya, Arini hanyalah penghalang yang harus segera disingkirkan dari kehidupan putra mahkotanya."Kamu ... kamu bener-bener lancang!" suara Sofia bergetar hebat karena amarah yang meledak. "Dasar janda nggak tahu diri! Kamu pikir siapa kamu bisa bicara kayak gitu padaku di depan putraku sendiri?!"Dalam satu gerakan yang sangat cepat, Sofia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Ia tidak lagi memedulikan citra ningratnya sebagai nyonya besar keluarga Wijaya. Yang ia inginkan saat ini hanyalah mendaratkan tamparan keras di wajah Ari
Arini masih mematung di sisi sofa, jemarinya mencengkeram ponsel dengan tenaga yang membuat buku-buku jarinya memutih. Matanya tak lepas dari barisan kalimat yang dikirimkan oleh Rudi Wijaya, sebuah pesan yang dirancang sebagai racun untuk melumpuhkan mentalnya di saat titik terlemah.Rudi, pria yang seharusnya menjadi pelindung bagi Alvaro, justru menggunakan luka putranya sendiri sebagai senjata untuk menyudutkan Arini. Kata-kata 'pembawa sial' seolah berdengung di telinga Arini, mencoba mengoyak pertahanan batin yang baru saja ia bangun dengan susah payah.Selama beberapa detik, rasa bersalah itu mencoba merangkak naik. Namun, saat ia melirik ke arah Alvaro yang sedang bersandar lemah dengan bahu terbebat perban, rasa sedih itu mendadak menguap, digantikan oleh kobaran amarah yang murni dan sangat dingin."Ada apa, Rin?" suara Alvaro memecah keheningan. Meski wajahnya masih pucat, tatapannya tetap tajam mengawasi setiap perubahan ekspresi di wajah istrinya.Arini tidak menjawab den
"Tolong panggil Pak Budi dari tim finansial dan Bu Sarah dari legal. Sekarang juga," perintahnya dengan nada bicara yang diusahakan tetap stabil.Tak lama kemudian, kedua orang kepercayaan itu masuk dengan wajah yang sama pucatnya, seolah mereka sudah mencium aroma badai yang dibawa oleh pria-pria
Tanpa berkata apa-apa lagi, Arini akhirnya meraih map merah tersebut dan mulai membuka isinya lembar demi lembar dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Setiap tarikan kertas di tangannya menimbulkan bunyi gesekan yang tajam, seolah sedang menyayat kesunyian yang mencekam di dalam ruang kerja
Setelah merasa puas melakukan inspeksi singkat yang membuat Arini merasa kian kecil, pria tua itu akhirnya duduk di sofa tunggal dengan posisi tubuh yang sangat tegak. Ia menolak untuk bersandar sedikit pun, menunjukkan s
Keheningan apartemen yang biasanya terasa menenangkan dan menjadi tempat pelarian paling aman, kini telah berubah total menjadi ruang hampa yang menyesakkan paru-paru Arini. Ia duduk termenung sendirian di tepi tempat tidur yang masih berantakan, menatap kosong ke arah bantal yang beberapa jam la







