Home / Rumah Tangga / WANITA LAIN DI RUMAHKU / 5. SANG PEMBELA DARI MASA LALU

Share

5. SANG PEMBELA DARI MASA LALU

Author: vitafajar
last update publish date: 2026-01-19 11:07:55

Arini mematung menatap punggung Adrian yang sigap membimbing Dewi menaiki tangga. Suaminya itu tak menoleh lagi, apalagi peduli bagaimana istrinya bisa pulang sendiri setelah tiga hari menghilang.

Sambil mencengkeram tasnya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih, Arini memantapkan tekad. Adrian baru saja memasukkan ular berbisa ke rumah mereka, tanpa sadar bahwa ular itulah yang kelak akan menghancurkannya.

Arini berbalik dan melangkah keluar dengan kepala tegak. Di luar, Maya sudah menunggu di mobil dengan raut cemas. Begitu Arini masuk, Maya langsung menghujani dengan pertanyaan.

"Gimana, Rin? Kamu nggak apa-apa?" Maya menatap Arini lekat-lekat, menyadari mata sahabatnya itu merah karena menahan amarah yang luar biasa.

"Dia bawa Dewi ke rumah, May. Dia mau mereka tinggal satu atap sama aku," jawab Arini pelan. Suaranya bergetar hebat karena emosi yang tertahan di kerongkongan.

"Gila! Adrian bener-bener sudah nggak punya otak!" Maya memukul setir mobil dengan keras. "Terus kamu diem aja digituin?"

"Aku diem karena aku nggak punya bukti, May. Aku baru sadar selama ini aku terlalu bodoh karena nggak pernah nyimpen satu pun bukti perselingkuhan mereka. Kalau aku ribut sekarang tanpa senjata, aku yang bakal kelihatan gila di depan hakim."

Arini menoleh ke arah Maya dengan tatapan yang sangat dingin dan tajam. "Sekarang, anterin aku ketemu pengacara itu. Aku mau tahu cara paling efisien buat bikin mereka berdua membusuk. Aku mau mereka jatuh ke jalanan tanpa harta sepeser pun."

Maya mengangguk mantap, lalu mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah yang kini terasa seperti neraka bagi Arini. "Bagus, Rin. Itu baru Arini yang aku kenal. Kamu tenang aja, pengacara ini langganan keluarga saudara aku. Katanya, dia pinter banget nyari celah, bahkan di tempat yang kelihatannya nggak ada bukti sama sekali. Kita bakal bikin Adrian nyesel seumur hidup karena sudah ngeremehin kamu."

Selama perjalanan, Arini bersandar sambil menatap jalanan basah sisa hujan semalam. Di kepalanya, strategi mulai tersusun rapi. Adrian ingin merawat Dewi di rumah mereka? Silakan. Arini akan membiarkan mereka merasa nyaman dan lengah. Saat mereka merasa berada di puncak kebahagiaan, saat itulah ia akan menarik tanah di bawah kaki mereka hingga terperosok ke jurang terdalam.

Hari ini, Arini yang sabar telah resmi lenyap. Badai sesungguhnya baru saja dimulai.

Maya menghentikan mobilnya di depan sebuah gedung perkantoran elit di pusat Jakarta. "Rin, kita sudah sampai. Kamu harus tarik napas dulu. Penampilan kamu sudah oke, tinggal mental kamu yang harus baja," ucap Maya sambil menggenggam tangan Arini sebentar untuk menguatkan.

Arini mengangguk, mencoba meredam gemuruh di dadanya. Mereka melangkah menuju lantai tertinggi gedung itu, tempat sebuah firma hukum ternama berada. Sesampainya di depan ruang pertemuan privat, seorang asisten membukakan pintu.

"Silakan masuk, Pak Alvaro sudah menunggu."

Aroma kayu cendana dan kopi mahal menyambut Arini saat pintu terbuka. Di balik meja jati besar, seorang pria berkemeja putih dengan lengan tergulung sedang menatap berkas. Ia mendongak, gerakannya terhenti, lalu berdiri dengan senyum yang perlahan mengembang.

Pria tinggi berahang tegas itu memiliki tatapan mata yang dalam. Wajahnya sangat familier bagi Arini.

"Arini? Maya?" Suara baritonnya terdengar rendah dan hangat.

"Kak Alvaro?" Maya membelalak tak percaya. "Gue tahu Alvaro Wijaya itu pengacara legendaris, tapi gue nggak nyangka kalau itu lo, Ketua OSIS kita dulu!"

Alvaro tertawa kecil, senyumnya masih setenang sepuluh tahun lalu. Pandangannya mengunci mata Arini dengan tatapan yang sulit diartikan, ada binar pengakuan yang dalam, namun seketika berubah menjadi sorot keprihatinan saat ia menyadari betapa pucatnya wajah Arini.

"Sudah lama sekali, Arini," ucap Alvaro lembut sambil melangkah mendekat. "Terakhir kita bicara saat kelulusan, kan? Kamu masih suka baca buku di pojok perpustakaan?"

Memori masa SMA melintas, Alvaro adalah kakak kelas yang dulu diam-diam sering menaruh kotak susu cokelat di meja perpustakaan Arini. Ia selalu menjaga Arini dari jauh saat Arini masih menjadi gadis pemalu.

"Kak Alvaro, apa kabar?" Suara Arini sedikit bergetar, merasa ironis bertemu kembali dalam kondisi sehancur ini.

"Kabarku baik, tapi sepertinya kabarmu tidak, Arin," ujarnya tulus sambil menarikkan kursi untuk Arini.

Sebelum masuk ke urusan hukum, Alvaro meminta asistennya membawakan teh kamomil hangat. "Minumlah. Aku ingat kamu benci bau antiseptik, teh ini akan membantu menenangkan sarafmu dan menghilangkan sisa aroma rumah sakit."

Arini tertegun, Alvaro masih mengingat detail kecil tentangnya. Kehangatan itu sempat melenakan, namun segera memudar saat Arini teringat tujuannya. Ia meletakkan cangkir tehnya, lalu menatap Alvaro dengan sorot mata yang mengeras.

"Kak Alvaro, aku ke sini untuk bercerai," katanya tajam. "Aku ingin dia keluar dari rumah tanpa membawa sepeser pun harta, dan merasakan penderitaan yang sama denganku."

Senyum Alvaro menghilang, digantikan ekspresi profesional yang dingin. Ia kembali ke kursinya dan menyatukan jemari di atas meja. "Sebutkan namanya."

"Adrian Baskoro."

Alvaro mengangguk pelan, seolah nama itu sudah masuk dalam daftar targetnya. "Maya bilang ini darurat. Tapi aku ingin dengar langsung darimu, Arin. Apa yang dia lakukan sampai membuatmu datang ke sini dengan mata seperti itu?"

Arini menarik napas panjang, mengepal tinjunya di bawah meja. Ia menceritakan semuanya, tentang malam ulang tahun pernikahan yang hancur, kecelakaan yang merenggut bayinya, pembiaran Adrian selama tiga hari, hingga puncaknya, saat Adrian membawa Dewi masuk ke dalam rumah mereka pagi ini.

TAK!

Pena emas di tangan Alvaro menghantam meja dengan keras. Arini melihat rahang pria itu mengeras dan buku jarinya memutih. Ada kilat kemarahan di mata Alvaro, kemarahan yang terasa sangat personal.

"Dia membawa wanita lain ke rumah kalian? Di depan matamu?" Alvaro mengulang kalimat itu dengan nada rendah yang berbahaya.

"Iya. Dan dia menyalahkanku karena aku dianggap nggak punya empati pada wanita itu," jawab Arini getir.

Alvaro menatap Arini dalam-dalam. Sorot matanya melembut sesaat sebelum kembali tajam dan fokus. "Arin, memasukkan wanita lain ke rumah di depan istri sah adalah kesalahan fatal bagi seorang pria. Itu bukan cuma soal perselingkuhan, tapi penghinaan terhadap harga diri istri dan bisa masuk ke ranah KDRT psikis."

Alvaro mencondongkan tubuhnya ke arah Arini. "Kamu bilang kamu tidak punya bukti perselingkuhan yang kuat? Jangan khawatir. Sekarang ulatnya sudah masuk ke dalam kandangmu sendiri. Itu justru memudahkan kita untuk menjebak mereka."

"Apa yang harus aku lakukan, Kak?" tanyu Arini penuh tekad.

Alvaro menatap Arini dengan tatapan yang sangat dalam dan protektif. "Aku akan membantumu, Arini. Bukan cuma karena aku pengacaramu, tapi karena aku pernah berjanji pada diriku sendiri sepuluh tahun lalu, bahwa aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi."

Kalimat terakhir itu membuat jantung Arini berdesir, namun ia segera menepis perasaan itu. Fokusnya sekarang adalah pembalasan dendam.

"Mari kita buat mereka membayar semuanya, Kak," ucap Arini dingin.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   187. PAGI SETELAH PEPERANGAN

    Alvaro, dengan ketelatenan yang luar biasa, membasuh sisa-sisa busa di bahu istrinya untuk terakhir kalinya. Gerakannya sangat lembut dan penuh perasaan. Ia tidak membiarkan Arini melakukan apa pun sendiri, ia benar-benar memanjakan wanita itu hingga ke titik di mana Arini merasa seluruh beban berat di pundaknya luruh bersama air.Alvaro bangkit berdiri perlahan, meraih handuk putih tebal yang sudah ia siapkan di atas rak pemanas. Dengan gerakan yang sangat protektif, ia membantu Arini berdiri dan melilitkan handuk itu ke tubuh mungil istrinya, membungkusnya dengan rapat seolah ingin melindungi Arini dari udara dingin yang mungkin menyerang.Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, namun tatapan mata Alvaro yang dalam sudah cukup mewakili ribuan kalimat cinta.Ia kembali mengangkat tubuh Arini dalam gendongannya dengan sangat sigap. Tubuh Arini terasa begitu ringan di tangannya, atau mungkin kekuatan Alvaro yang sedang berada di puncaknya karena dorongan keinginan untuk m

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   186. MEMBASUH LUKANYA

    Cukup lama mereka terdiam dalam posisi itu. Keheningan yang tercipta seolah menjadi ruang bagi Alvaro untuk meredam sisa-sisa amarahnya. Alvaro akhirnya menoleh pada Kael. Asisten setianya itu masih berdiri mematung setelah menyaksikan badai pertengkaran hebat antara majikannya dengan sang ayah.“Siapkan mobil, kita pulang ke apartemen sekarang,” perintah Alvaro. Suaranya tidak lagi menggelegar, namun ada ketegasan yang tidak bisa dibantah di sana.Arini mendongak, menatap suaminya dengan sorot mata tak percaya. “Masih ada masalah yang harus aku selesaikan di sini, Kak. Kita nggak bisa pulang begitu saja,” protes Arini pelan. Pikirannya masih tertinggal pada tumpukan berkas dan kekacauan di ruang rapat tadi.Namun, Alvaro hanya menggelengkan kepala sambil menyunggingkan senyum tipis yang menenangkan. “Kita pulang. Kamu percayakan saja urusan perusahaan sama aku, hmm?”Alvaro mengusap puncak kepala Arini, mencoba menyalurkan keyakinan. Arini masih terlihat tidak rela, bibirnya terkatup

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   185. PELINDUNG DI BALIK LUKA

    Kegembiraan yang baru saja membuncah di dada Arini seolah ditarik paksa oleh gravitasi, menyisakan rasa sesak yang mendinginkan ujung jemarinya. Di ruang rapat yang masih menyisakan aroma parfum para direksi yang baru saja terusir itu, Arini berdiri terpaku. Gema suara Kael tentang kondisi Darma dan ancaman kedatangan Rudi Wijaya berputar di kepalanya seperti badai.Alvaro yang sedetik lalu tersenyum bangga, kini menegang hebat. Rahangnya mengeras, menciptakan garis tajam yang mempertegas gurat kecemasan di wajah tampannya. Arini bisa merasakan aura pelindung itu berubah menjadi aura peperangan yang pekat dan menyesakkan."Kak ...," bisik Arini, suaranya bergetar. Ia melangkah mendekat, mencoba menggapai lengan Alvaro yang kini terasa kaku seperti beton.Alvaro menoleh, tatapannya yang tajam perlahan melunak saat bertemu dengan manik mata Arini. "Jangan takut, Rin. Aku nggak akan biarin siapa pun mengacaukan kemenangan kita hari ini. Bahkan ayahku sekalipun," ucapnya dengan nada prote

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   184. SINGGASANA BERDARAH

    Keheningan yang dingin menyergap Arini saat langkah kakinya menggema di lorong menuju ruang rapat utama Mahardika Group. Di sampingnya, Alvaro berjalan dengan langkah yang tetap tenang meski wajahnya masih memancarkan kepucatan yang nyata. Penyangga bahu di balik jas hitamnya seolah menjadi pengingat bisu tentang pengorbanan yang baru saja terjadi di lobi.Kael berjalan di belakang mereka, membawa beberapa map hitam yang nampak seperti dokumen biasa, namun Arini tahu bahwa di dalam sana terdapat "bom" yang siap meratakan kesombongan orang-orang di dalam ruangan itu."Siap, Rin?" bisik Alvaro sesaat sebelum pintu kayu ek raksasa itu terbuka secara otomatis.Arini menarik napas panjang, memperbaiki posisi kerah blazer putihnya, dan menatap lurus ke depan dengan binar mata yang tajam. "Sangat siap, Kak. Mereka pikir aku mangsa empuk cuma karena aku perempuan, tapi mereka lupa kalau di pembuluh darahku mengalir darah seorang pendiri."Begitu pintu terbuka, aroma kopi pahit menyeruak kelua

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   183. PERISAI SANG KAISAR

    Sofia Wijaya mematung di tengah ruangan, wajahnya yang semula sembap karena air mata palsu kini berubah menjadi merah padam karena murka yang mencapai ubun-ubun. Matanya melotot, menatap Arini dengan kebencian yang begitu pekat seolah ingin membakar wanita di depannya itu menjadi abu.Kata-kata Arini yang memintanya keluar bukan hanya sekadar usiran bagi Sofia, itu adalah penghinaan besar terhadap harga diri klan Wijaya yang selama puluhan tahun ia agungkan. Baginya, Arini hanyalah penghalang yang harus segera disingkirkan dari kehidupan putra mahkotanya."Kamu ... kamu bener-bener lancang!" suara Sofia bergetar hebat karena amarah yang meledak. "Dasar janda nggak tahu diri! Kamu pikir siapa kamu bisa bicara kayak gitu padaku di depan putraku sendiri?!"Dalam satu gerakan yang sangat cepat, Sofia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Ia tidak lagi memedulikan citra ningratnya sebagai nyonya besar keluarga Wijaya. Yang ia inginkan saat ini hanyalah mendaratkan tamparan keras di wajah Ari

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   182. SINGA YANG TERLUKA

    Arini masih mematung di sisi sofa, jemarinya mencengkeram ponsel dengan tenaga yang membuat buku-buku jarinya memutih. Matanya tak lepas dari barisan kalimat yang dikirimkan oleh Rudi Wijaya, sebuah pesan yang dirancang sebagai racun untuk melumpuhkan mentalnya di saat titik terlemah.Rudi, pria yang seharusnya menjadi pelindung bagi Alvaro, justru menggunakan luka putranya sendiri sebagai senjata untuk menyudutkan Arini. Kata-kata 'pembawa sial' seolah berdengung di telinga Arini, mencoba mengoyak pertahanan batin yang baru saja ia bangun dengan susah payah.Selama beberapa detik, rasa bersalah itu mencoba merangkak naik. Namun, saat ia melirik ke arah Alvaro yang sedang bersandar lemah dengan bahu terbebat perban, rasa sedih itu mendadak menguap, digantikan oleh kobaran amarah yang murni dan sangat dingin."Ada apa, Rin?" suara Alvaro memecah keheningan. Meski wajahnya masih pucat, tatapannya tetap tajam mengawasi setiap perubahan ekspresi di wajah istrinya.Arini tidak menjawab den

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   164. SEBUAH IKRAR BARU

    Sinar matahari pagi yang menembus kaca mobil terasa hangat, namun tidak cukup hangat untuk mencairkan rasa penasaran yang sejak tadi menyelimuti benak Arini. Alvaro duduk di balik kemudi dengan ekspresi yang sangat sulit dibaca, jemarinya mengetuk-ngetuk setir dengan irama yang tidak beraturan, seo

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   148. PERISAI HUKUM

    Keheningan di dalam ruangan itu terasa jauh lebih hangat setelah Arini menumpahkan seluruh kegundahan yang menghimpit dadanya. Alvaro masih berdiri di hadapan Arini, menatap dalam ke netra wanita itu yang masih basah, namun kini memancarkan kejujuran yang luar biasa.Alvaro tersenyum tipis, sebuah s

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   147. HARGA DIRI YANG TERSISA

    Bukan dukungan semacam ini yang sebenarnya Arini inginkan di tengah situasi yang kian menjepit posisi tawarnya sebagai seorang pemimpin perusahaan. Meskipun ia sangat menghargai niat tulus Alvaro, namun di dalam hatinya yang paling dalam, ada penolakan yang sangat kuat untuk kembali menjadi pihak y

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   146. DUKUNGAN ALVARO WIJAYA

    "Jangan, Kak! Itu cuma berkas internal kantor!" seru Arini sembari mencoba menahan lengan Alvaro, namun pria itu sudah lebih dulu meraih map merah tersebut.Alvaro mengabaikan protes Arini, ia membuka map itu dengan satu sentakan tangan yang tegas, seolah ia sudah tahu persis apa yang ada di dalamn

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status