Home / Rumah Tangga / WANITA LAIN DI RUMAHKU / 7. SANDIWARA DI MEJA MAKAN

Share

7. SANDIWARA DI MEJA MAKAN

Author: vitafajar
last update publish date: 2026-01-27 17:46:23

Ada jeda sejenak. Arini menahan napas.

"Ganti nama sertifikat itu nggak gampang, Wi. Harus ada persetujuan Arini kalau ini dianggap harta bersama," jelas Adrian.

"Kan, kamu bisa bikin alasan lain, Mas. Bilang aja buat jaminan pinjaman bank buat bisnis kamu yang baru. Arini pasti nurut kalau kamu yang minta. Dia ‘kan gampang dibohongi. Pokoknya demi keamanan aset kita, Mas. Aku nggak mau kita kehilangan rumah ini gara-gara emosi dia yang nggak jelas," desak Dewi lagi.

Adrian terdengar menghela napas panjang. "Nanti aku pikirkan caranya, ya. Emang ada benernya sih, buat jaga-jaga kalau dia makin gila gara-gara kecelakaan kemarin."

Kecelakaan kemarin.

Hati Arini terasa seperti disayat sembilu saat mendengar suaminya menyebut kecelakaan yang menimpanya sebagai alasan ia menjadi gila. Tidak ada empati atau kekhawatiran dalam suara Adrian, hanya ada rasa terganggu.

Arini melepas earpiecenya. Napasnya memburu. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, namun bukan karena sedih, melainkan karena kebencian yang sudah mencapai puncaknya.

Ia berdiri dan menatap cermin. Di balik wajahnya yang pucat dan mata yang sembap, tersimpan kekuatan yang baru saja bangkit.

"Kalian mau sertifikat rumah ini?" gumam Arini pada bayangannya sendiri. "Akan aku berikan. Aku akan berikan jalan menuju neraka yang sudah kalian gali sendiri."

Arini mengambil ponsel utamanya, lalu mengirimkan pesan singkat kepada Alvaro.

‘Kak, mereka sudah mulai bahas soal aset rumah. Sepertinya rencana Kakak untuk membiarkan mereka lengah mulai membuahkan hasil. Apa langkah selanjutnya?’

Tak sampai satu menit, sebuah balasan masuk.

‘Biarkan mereka merasa menang, Arin. Kalau Adrian minta tanda tangan apa pun, jangan langsung setuju, tapi jangan menolak keras. Berikan syarat yang bikin dia merasa berkuasa. Aku akan siapkan dokumen tandingan. Tetap tenang, aku menjagamu.’

Arini menutup ponselnya. Ia tahu malam ini akan menjadi malam yang panjang, namun untuk pertama kalinya setelah kecelakaan itu, ia merasa memiliki kendali. Ia tidak lagi hanya seorang korban. Ia adalah pemburu yang sedang menunggu mangsanya masuk lebih dalam ke dalam jaring.

Dari bawah, terdengar suara tawa Adrian dan Dewi yang samar. Arini tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak akan pernah ingin dilihat oleh Adrian seumur hidupnya.

Suara tawa dari lantai bawah itu berangsur meredup, namun gema kepahitannya masih tertinggal di telinga Arini. Ia berdiri di kegelapan kamar, menatap pantulan dirinya di cermin yang hanya dibiaskan cahaya lampu jalan dari balik jendela.

Senyuman tipis yang tadi menghiasi bibirnya perlahan memudar, berganti dengan rahang yang mengeras. Ia tidak boleh goyah. Malam ini adalah batas terakhir ia menangisi pengkhianatan ini. Esok, hanya akan ada Arini sang pelakon.

Arini meletakkan ponsel rahasianya di balik tumpukan kain di laci terdalam, lalu berbaring di atas ranjang yang terasa asing. Sepanjang malam, ia terjaga.

Setiap kali matanya terpejam, bayangan Adrian yang memanggil Dewi dengan sebutan ‘Sayang’ dan rencana busuk mereka soal sertifikat rumah terus berputar seperti kaset rusak. Namun, alih-alih hancur, setiap bayangan itu justru memperkuat fondasi kebenciannya.

Malam itu, suasana rumah terasa jauh lebih mencekam daripada siang tadi. Cahaya lampu gantung di ruang makan yang biasanya memberikan kesan hangat, kini terasa seperti lampu sorot di sebuah panggung interogasi.

Arini menuruni tangga dengan langkah perlahan. Tubuhnya masih nyeri, namun ia telah membungkus kerapuhannya dengan blazer biru dongker yang sama, pakaian yang ia gunakan saat bertemu Alvaro tadi siang.

Di ujung meja, Adrian sudah duduk dengan wajah yang tertekuk masam. Dan di sana, tepat di kursi yang biasa diduduki Arini, Dewi duduk dengan anggun.

Wanita itu sudah melepas syal dan jaket tebalnya, mengenakan gaun rumah yang tampak pas di tubuhnya. Di atas meja, berbagai hidangan sudah tersaji rapi, menebarkan aroma yang menggugah selera jika saja suasananya tidak seberacun ini.

"Duduk, Rin," perintah Adrian dingin tanpa menoleh. "Kita makan malam bareng. Dewi sudah capek-capek masak buat kita sebagai tanda terima kasih karena sudah boleh tinggal di sini."

Arini menarik kursi di hadapan mereka. Ia menatap deretan makanan itu, lalu beralih menatap Dewi yang sedang memegang sendok besar dengan senyum simpul.

"Wah, hebat ya," ucap Arini dengan nada datar namun menusuk. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Dewi tepat di bola matanya. "Sudah sehat kamu, Wi? Tadi siang kayaknya pusing banget sampai mau pingsan dan harus digendong Mas Adrian masuk rumah. Sekarang sudah bisa masak sebanyak ini? Cepat banget, ya, pemulihannya. Pakai obat apa?"

Gerakan tangan Dewi yang hendak menyendok nasi seketika terhenti. Wajahnya yang tadinya cerah mendadak berubah pias, matanya mulai berkaca-kaca dengan sangat cepat, sebuah transisi akting yang luar biasa.

"Arin! Bisa nggak sih mulut kamu itu dijaga?" bentak Adrian sambil menggebrak meja. Suaranya menggelegar di ruang makan yang sunyi. "Dewi itu memaksakan diri buat masak karena dia nggak enak hati sama kamu! Dia mau membalas budi sebagai tamu, tapi kamu malah bicara sarkas begitu? Mana empati kamu sebagai perempuan?"

Dewi langsung menunduk, bahunya sedikit gemetar seolah sedang menahan tangis. Namun, di balik tundukan kepalanya, Arini sempat menangkap kilat kemenangan di mata wanita itu saat melihat Adrian meledak. Dewi tersenyum tipis, sangat singkat, sebelum ia kembali memasang wajah sebagai korban.

"Mas ... sudah, Mas ... jangan marahin Arini," sela Dewi dengan suara yang bergetar lembut.

Ia mengulurkan tangannya, menyentuh lengan Adrian seolah mencoba menenangkan pria itu. "Arini benar kok, aku memang harusnya istirahat. Aku yang salah karena terlalu memaksakan diri. Jangan berantem gara-gara aku, ya?"

Dewi kemudian menatap Arini dengan tatapan penuh kebaikan yang palsu. "Maaf ya, Rin. Aku cuma mau bantu. Aku nggak bermaksud pamer atau apa pun. Kalau kamu nggak suka masakan aku, nggak apa-apa kok. Nanti biar aku minta Mbak Sumi masakin yang lain buat kamu."

"Nggak perlu!" potong Adrian kasar. Ia menatap Arini dengan kebencian yang nyata. "Kamu makan apa yang ada di sini, Rin. Jangan jadi istri yang nggak tahu diuntung. Kamu itu sudah nggak bisa ngurus rumah sejak kecelakaan, sekarang ada orang mau bantu malah kamu sinisin!"

Arini menarik napas panjang. Inilah saatnya. Ia harus menjatuhkan diri agar Adrian merasa menang. Ia harus terlihat kalah total agar mereka lengah.

Perlahan, mata Arini mulai berkaca-kaca. Bahunya merosot, dan tangannya yang berada di atas meja mulai gemetar. Ia meletakkan sendoknya dengan bunyi denting yang lemah.

"Maaf ... maafkan aku, Mas," isak Arini pecah. Ia menunduk dalam, membiarkan air matanya jatuh membasahi punggung tangannya. "Aku ... aku cuma iri. Aku iri lihat Dewi bisa sehat secepat itu, sementara aku ... aku bahkan buat berdiri saja masih sakit. Aku merasa gagal jadi istri."

Tangisan Arini yang tiba-tiba membuat Adrian terdiam sesaat. Emosinya yang tadi meluap seolah menemukan jalan buntu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   185. PELINDUNG DI BALIK LUKA

    Kegembiraan yang baru saja membuncah di dada Arini seolah ditarik paksa oleh gravitasi, menyisakan rasa sesak yang mendinginkan ujung jemarinya. Di ruang rapat yang masih menyisakan aroma parfum para direksi yang baru saja terusir itu, Arini berdiri terpaku. Gema suara Kael tentang kondisi Darma dan ancaman kedatangan Rudi Wijaya berputar di kepalanya seperti badai.Alvaro yang sedetik lalu tersenyum bangga, kini menegang hebat. Rahangnya mengeras, menciptakan garis tajam yang mempertegas gurat kecemasan di wajah tampannya. Arini bisa merasakan aura pelindung itu berubah menjadi aura peperangan yang pekat dan menyesakkan."Kak ...," bisik Arini, suaranya bergetar. Ia melangkah mendekat, mencoba menggapai lengan Alvaro yang kini terasa kaku seperti beton.Alvaro menoleh, tatapannya yang tajam perlahan melunak saat bertemu dengan manik mata Arini. "Jangan takut, Rin. Aku nggak akan biarin siapa pun mengacaukan kemenangan kita hari ini. Bahkan ayahku sekalipun," ucapnya dengan nada prote

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   184. SINGGASANA BERDARAH

    Keheningan yang dingin menyergap Arini saat langkah kakinya menggema di lorong menuju ruang rapat utama Mahardika Group. Di sampingnya, Alvaro berjalan dengan langkah yang tetap tenang meski wajahnya masih memancarkan kepucatan yang nyata. Penyangga bahu di balik jas hitamnya seolah menjadi pengingat bisu tentang pengorbanan yang baru saja terjadi di lobi.Kael berjalan di belakang mereka, membawa beberapa map hitam yang nampak seperti dokumen biasa, namun Arini tahu bahwa di dalam sana terdapat "bom" yang siap meratakan kesombongan orang-orang di dalam ruangan itu."Siap, Rin?" bisik Alvaro sesaat sebelum pintu kayu ek raksasa itu terbuka secara otomatis.Arini menarik napas panjang, memperbaiki posisi kerah blazer putihnya, dan menatap lurus ke depan dengan binar mata yang tajam. "Sangat siap, Kak. Mereka pikir aku mangsa empuk cuma karena aku perempuan, tapi mereka lupa kalau di pembuluh darahku mengalir darah seorang pendiri."Begitu pintu terbuka, aroma kopi pahit menyeruak kelua

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   183. PERISAI SANG KAISAR

    Sofia Wijaya mematung di tengah ruangan, wajahnya yang semula sembap karena air mata palsu kini berubah menjadi merah padam karena murka yang mencapai ubun-ubun. Matanya melotot, menatap Arini dengan kebencian yang begitu pekat seolah ingin membakar wanita di depannya itu menjadi abu.Kata-kata Arini yang memintanya keluar bukan hanya sekadar usiran bagi Sofia, itu adalah penghinaan besar terhadap harga diri klan Wijaya yang selama puluhan tahun ia agungkan. Baginya, Arini hanyalah penghalang yang harus segera disingkirkan dari kehidupan putra mahkotanya."Kamu ... kamu bener-bener lancang!" suara Sofia bergetar hebat karena amarah yang meledak. "Dasar janda nggak tahu diri! Kamu pikir siapa kamu bisa bicara kayak gitu padaku di depan putraku sendiri?!"Dalam satu gerakan yang sangat cepat, Sofia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Ia tidak lagi memedulikan citra ningratnya sebagai nyonya besar keluarga Wijaya. Yang ia inginkan saat ini hanyalah mendaratkan tamparan keras di wajah Ari

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   182. SINGA YANG TERLUKA

    Arini masih mematung di sisi sofa, jemarinya mencengkeram ponsel dengan tenaga yang membuat buku-buku jarinya memutih. Matanya tak lepas dari barisan kalimat yang dikirimkan oleh Rudi Wijaya, sebuah pesan yang dirancang sebagai racun untuk melumpuhkan mentalnya di saat titik terlemah.Rudi, pria yang seharusnya menjadi pelindung bagi Alvaro, justru menggunakan luka putranya sendiri sebagai senjata untuk menyudutkan Arini. Kata-kata 'pembawa sial' seolah berdengung di telinga Arini, mencoba mengoyak pertahanan batin yang baru saja ia bangun dengan susah payah.Selama beberapa detik, rasa bersalah itu mencoba merangkak naik. Namun, saat ia melirik ke arah Alvaro yang sedang bersandar lemah dengan bahu terbebat perban, rasa sedih itu mendadak menguap, digantikan oleh kobaran amarah yang murni dan sangat dingin."Ada apa, Rin?" suara Alvaro memecah keheningan. Meski wajahnya masih pucat, tatapannya tetap tajam mengawasi setiap perubahan ekspresi di wajah istrinya.Arini tidak menjawab den

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   181. SERANGAN TAK TERDUGA

    "Arini! Kamu nggak apa-apa? Ada yang luka nggak?" suara Alvaro terdengar parau, sarat akan kepanikan yang jarang sekali ia tunjukkan pada dunia luar.Dekapannya begitu erat, seolah ia ingin menyembunyikan seluruh tubuh Arini di balik dadanya yang bidang.Arini bisa merasakan deru napas Alvaro yang memburu di puncak kepalanya. Getaran hebat yang merambat dari tubuh pria itu akibat lonjakan adrenalin yang luar biasa juga bisa ia rasakan.Wanita itu mengerjap perlahan, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang sempat terbang tersapu angin ketakutan. Bau tanah basah dan aroma khas keramik pecah menyeruak masuk ke indra penciumannya, mengingatkannya pada bahaya yang baru saja melintas.Ia mendongak perlahan, menatap wajah Alvaro yang kini berada tepat di depan matanya. Wajah yang biasanya tenang dan terkendali itu kini tampak pucat, dengan rahang yang terkatup rapat menahan sesuatu yang Arini yakini adalah rasa sakit yang sangat hebat."A-aku ... aku nggak apa-apa, Kak," bisik Arini dengan su

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   180. SISI LAIN DARI SANG KAISAR

    Mobil mewah itu meluncur membelah kemacetan Jakarta dengan keanggunan yang mengintimidasi setiap pasang mata yang melihatnya. Di dalam kabin yang kedap suara, ketegangan masih terasa sangat pekat, seolah oksigen di sana ikut menegang mengikuti suasana hati penumpangnya.Arini duduk dengan punggung tegak, jemarinya bertautan erat di atas pangkuan untuk menahan gemetar halus yang sesekali muncul. Blazer putih tulang yang ia kenakan memberikan kesan bersih dan berwibawa, namun di balik itu, ia masih merasakan sisa-sisa pegal yang luar biasa dari malam panjang mereka.Alvaro duduk di sampingnya, tatapannya lurus ke depan dengan rahang yang mengeras sempurna. Aura predator yang terpancar dari suaminya masih sangat kuat, sisa dari perang yang baru saja ia deklarasikan terhadap klan Wijaya di jalanan tadi.Keheningan itu pecah ketika ponsel Alvaro yang diletakkan di antara mereka bergetar hebat. Sebuah nama muncul di layar. Aditya Wijaya.Alvaro terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangkat pa

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   80. SEGEL KOMITMEN

    Alvaro mengangguk setuju, ia menghampiri Arini dan berdiri di sampingnya dengan posisi yang tetap menjaga batasan profesional namun memberikan kehangatan.Arini menatap Alvaro yang kini sedang berbicara dengan tim IT mengenai langkah blokade akun-akun tersebut agar penyebaran fitnah tidak semakin m

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   79. BUKTI DI BALIK LAYAR

    Alvaro muncul seperti bayangan yang sangat sigap dan langsung berdiri tegak di antara Arini dan Lastri yang sedang histeris. Ia tidak menyentuh Lastri sedikit pun, namun posisi tubuhnya yang tinggi besar secara efektif memblokade lensa kamera ponsel Lastri yang sedari tadi membidik wajah Arini."Ib

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   78. PROVOKASI LASTRI

    Arini memilih untuk tidak membalas tatapan penuh kebencian dari Lastri dan tetap memfokuskan pandangannya pada gerak-gerik petugas administrasi di balik kaca. Ia mengatur napasnya agar tetap stabil meskipun ia bisa merasakan kehadiran fisik Lastri yang kini hanya berjarak beberapa jengkal dari sisi

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   77. BERTEMU DENGAN (MANTAN) MERTUA

    "Jangan liat ke belakang lagi, Arin. Sekarang yang penting kita harus sampai ke kantor dengan aman tanpa ada yang ngikutin," balas Alvaro sambil melirik kaca spion tengah.Alvaro terus memacu kendaraan di tengah kemacetan pagi Jakarta, sesekali berpindah jalur dengan sangat taktis untuk memastikan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status