Share

Bab 7. Tempus Fugit

Penulis: Geesandrj
last update Terakhir Diperbarui: 2023-05-18 11:26:08

Dua malam lalu.

Kelab malam itu agak terpencil di lingkungan kelas atas yang nyaman, menyamar dengan pintu rahasia. Lokasinya sudah begitu dihapal seorang teman karena pekerjaan dan kebutuhan saat ini. Mereka tiba di sebuah pintu yang tertutup rapat tanpa seorang penjaga.

“Tempus fugit ....” 

Pandangan tajam seorang pria mengarang pada pintu berpelat jam pasir dengan sepasang sayap kupu-kupu yang cantik berwarna keemasan. Adrian Laksana, seorang pria yang akan selalu memperhitungkan segala hal termasuk wanita dan tempat yang ia datangi. Wajah tegasnya mengangguk perlahan, mengakui kelab ini cukup filosofis.

“Bukankah itu—menandakan waktu akan terbang ... berlalu dengan indah?”

Temannya—seorang pria yang tampilannya begitu kontras merangkul pundaknya. “Mau membuktikannya?”

Adrian berdecih. Ia melirik pria berambut biru pirus seleher di sampingnya. Sejujurnya, bukanlah kebiasaan baginya untuk membeli kesenangan; kebanyakan wanita dengan senang hati akan melebarkan kaki mereka lebar-lebar untuk dia rayu. Bukan malah memburu mereka seperti ini. Lelaki bodoh mana yang mau merelakan uang mereka dengan segala peraturan menyewa wanita daripada mendatangi mereka di tempat dan waktu yang bebas.

Temannya lantas membawanya masuk dengan menekan sandi di pintu. Adrian mengakui bahwa tempat ini cukup berkelas saat memasukinya.

“Gue yakin banget lo bakal suka tempat ini. Di sini banyak cewek cantik,” kekeh temannya.

Adrian memutar bola matanya, lalu berhenti sambil menenggelamkan satu tangan ke saku pantalon. “Kalau lo mau cari cewek cantik, di kelab-kelab yang kita sering datangi banyak, Boy.”

“Ini beda, Ian.” Pria berambut biru pirus itu mendesis sambil mendorong tubuh temannya untuk kembali berjalan.

“Memesan di sini ada tesnya,” ia bicara lagi.

“Ini kelab atau kantor apa, sih? Gue datang bukan untuk melamar kerja.” Bibir Andrian mencibir penuh decakan.

“Itu—“ Telunjuk Boy mengarah pada hidungnya. “Justru itu. Kita ibaratnya sedang melamar wanita yang akan menemani kita. Mereka yang akan menemani kita bukan sembarang orang. Mereka di sini dididik dan punya keterampilan khusus. Bahkan salah satunya bakal bikin lo nggak akan bisa bernapas dan di kemudian hari ... lo akan datang lagi dan lagi padanya.”

“Bukannya lo bilang gue tadi nggak akan bisa bernapas? Kenapa gue mesti datang lagi?”

Boy menghela napas pendek. “Tunggu sampai lo ketemu kandidat yang gue rekomendasikan buat project kita.”

Mereka kembali berjalan menelusuri koridor dengan pencahayaan rendah. Melewatkan dekor dinding yang penuh kupu-kupu.

“Lo lihat dulu gimana Miss A. Apakah dia cocok buat kita?”

Adrian mengernyit usai mendengar nama asing tercetus dari bibir Boy.

“Jadi ... namanya Miss A?”

Boy mengedikkan bahunya. “Itu cuma nama samaran.”

Mereka pun tiba pada wanita tinggi berpakaian serba hitam khas kantoran yang rapi dan rapat. Riasannya tipis. Wajahnya tegas, begitu pun suaranya.

“Hai, Venus! Kali ini gue datang bukan bawa gaun, melainkan teman.”

Venus mengeluarkan tabletnya. “Selamat datang di Tempus Fugit. Apakah Anda sudah mendaftarkan diri?” Pandangan Venus mengarah pada Adrian. Karena pria itu terlihat asing di matanya.

“Sudah,” jawab Boy.

Adrian menoleh dengan tatapan terkejut pada pria itu.

“Hei.”

“Tenang aja, Bos,” goda Boy, memijat-mijat kedua pundaknya.

Tak beberapa lama Boy membuka akun miliknya dan Adrian. Ponsel mereka terarah ke barcode

Scan barcode success.

“Lo bilang akan ada tes?” bisik Adrian, sesaat memasukkan kembali ponselnya ke saku jas.

“Gue udah ambil hasil tes kesehatan lo bulan lalu dari si Mata Empat.” Boy tersenyum, merujuk pada asisten temannya.

Adrian kembali berdecak. Seketika itu, Venus meminta mereka mengikuti dirinya.

“Percaya sama gue, Ian. Kali ini kita bisa sukses buat project itu. Model yang gue rekomendasikan nggak akan ngecewain lo,” bisik Boy di sela-sela langkah mereka.

“Gue, sih, klop banget, selama gue mengobrol dengan dia, gue lihat gestur dan cara dia berjalan dan bersikap juga tentu aja rancangan gue selalu pas di tubuhnya. Meskipun cewek yang lainnya memakai desain yang hampir serupa, tapi entah kenapa Miss A selalu punya klik sendiri buat setiap rancangan gue. Tapi ... ya, masalahnya ada adalah ... kita nggak bisa sembarangan mendapatkan Miss A.”

Adrian tak mau dengar dulu. Ia harus bertemu dan bicara dengan Miss A. Itu lebih penting. 

“Dan ...,” Boy berbisik lagi, “lo juga bisa booking dia buat ... ehem, tapi ... dia bukan tipe yang gampang dirayu apalagi ditaklukkan.”

Pandangan Adrian bergerak nakal. “Lo pernah nyoba?”

Boy memasang cengirannya, “Pengin, tapi ... kayaknya bakalan awkward.”

Adrian memelotot.

“Sinting,” desisnya.

“Lo lebih sinting. Lo kira gue nggak tahu beberapa model sempat ada main sama lo?”

Bibir Adrian menyeringai kecil. Ia tak membantah atau mengakuinya. Nyatanya, mereka dengan senang hati menyerahkan diri. 

Bersambung ....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Wanita Kelas Atas Milik sang CEO   Bab 42. Cahaya yang Tak Menyerah

    Studio masih dipenuhi sisa suara tawa, kru bersiap membereskan peralatan setelah wawancara eksklusif dengan MOST Live. Lampu sorot masih menyala, membiaskan bayangan lembut di wajah Ayunda yang duduk di kursi tengah. Nafasnya pelan, tapi jantungnya belum berhenti berdebar.Wawancara itu berjalan mulus—setidaknya sampai segmen terakhir. Sang host, dengan nada hangat namun penuh rasa ingin tahu, menanyakan hal yang selama ini tak pernah benar-benar Ayunda ceritakan pada publik.“Ayunda, kamu tampil luar biasa di dunia modeling. Tapi banyak orang penasaran, kamu berasal dari mana? Sepertinya kamu bukan dari latar belakang fashion?”Pertanyaan itu sederhana, tapi menusuk. Untuk sesaat, Ayunda menelan ludah. Pandangannya sempat mencari arah, tapi tak ada tempat untuk bersembunyi. Kamera menyorot wajahnya, menunggu.“Aku… bukan dari dunia modeling,” ujarnya akhirnya, suara tenang tapi jujur. “Aku dulu kerja apa saja yang bisa aku lakukan. Mulai dari jaga toko, jadi cleaning service, bahkan

  • Wanita Kelas Atas Milik sang CEO   Bab 41. Yang Diam-diam Kita Tahu

    “Jadi mereka berdua masih di studio?” tanya Boy sambil menyeruput minumannya.Amanda mengangguk sambil menggigit croissant setengah hati. “Masih. Katanya tinggal beresin properti. Tapi itu udah satu jam lalu.”Mereka duduk di lounge kecil lantai enam, tempat favorit staf untuk kabur dari tekanan kantor. Dari tempat duduk mereka, jendela kaca menghadap ke arah studio yang sudah sepi, tapi lampunya masih menyala samar.Boy meletakkan gelasnya. “Aman nggak kalau gue bilang… kayaknya mereka akhirnya mulai nggak jaim satu sama lain?”Amanda menyeringai. “Lo baru sadar sekarang?”“Bukan. Gue baru mengakui sekarang.” Boy memutar bola matanya dramatis. “Dan gue cukup dewasa buat bilang… mereka cocok. Tapi juga cukup realistis buat bilang, ini bakal ribet banget.”Amanda tertawa pelan. “Setidaknya, Adrian kelihatan lebih hidup sekarang. Dan Ayunda… dia kayak versi dirinya yang dulu, tapi lebih kuat.”Boy menyandarkan tubuhnya ke sofa. “Gue sempat mikir, Ayunda nggak akan pernah buka hati lagi.

  • Wanita Kelas Atas Milik sang CEO   Bab 40. Diam yang Tak Lagi Asing

    Studio sudah sepi. Kru dan tim kreatif sudah pulang lebih dulu. Bahkan Amanda dan Boy yang biasanya paling betah lembur sudah pamit satu jam lalu, dengan senyum menggoda yang tidak bisa Ayunda lupakan.Tinggal Adrian dan Ayunda.Lampu utama sudah dipadamkan. Hanya pencahayaan lembut dari pojok ruangan yang menyala, cukup untuk menerangi sisa-sisa properti yang belum dibereskan.Adrian sedang berdiri di dekat rak bahan kain, tangannya menyentuh sampel tekstur yang digunakan untuk gaun kampanye. Ayunda berdiri beberapa meter darinya, masih mengenakan blouse satin putih dan celana linen berpotongan tinggi.“Kamu nggak pulang?” tanya Ayunda pelan, mencoba memecah hening.Adrian menoleh, suaranya tenang. “Aku bisa tanya hal yang sama ke kamu.”Ayunda tersenyum tipis. “Aku cuma … belum pengen pulang.”Adrian menatapnya sejenak. “Karena kamu takut merasa sendiri lagi, kan?”Ayunda terdiam.Jawaban itu terlalu tepat. Terlalu dalam.Dia ingin menyangkal, tapi tidak ada gunanya. Jadi dia hanya

  • Wanita Kelas Atas Milik sang CEO   Bab 39. Sorot yang Terlalu Terang

    Sejak kemunculan majalah MOST edisi eksklusif dengan wajah Ayunda di sampul depannya, dunia seakan mulai berputar lebih cepat. Undangan wawancara datang hampir setiap hari—dari stasiun TV nasional hingga kanal YouTube independen yang naik daun. Semua ingin tahu siapa wanita yang bisa mengguncang industri fashion dalam semalam.Amanda sibuk memilah-milah permintaan yang masuk. Boy sibuk memilih outfit mana yang layak untuk sesi live berikutnya. Ayunda… sibuk mengatur napasnya.“Aku masih merasa ini semua mimpi,” kata Ayunda sambil duduk di sofa ruang tunggu, memandangi layar ponsel yang dipenuhi notifikasi.Amanda menoleh dari mejanya. “Kamu harus mulai percaya. Kamu ada di MOST, Yun. Itu salah satu fashion bible paling elit di Asia Tenggara.”“Dan mereka bilang ini belum puncaknya,” tambah Boy, masuk dengan secangkir kopi yang ditaruhnya di hadapan Ayunda. “Kamu belum lihat video dokumenter pendek yang mereka tayangkan tadi pagi, kan?”Ayunda menggeleng pelan. “Belum. Aku belum berani

  • Wanita Kelas Atas Milik sang CEO   Bab 38. Perasaan yang Perlahan Luruh

    Mereka tidak langsung bicara lagi setelah itu. Hanya ada denting sendok di gelas anggur, suara-suara samar dari meja lain, dan jazz Nina Simone yang seperti menyelinap masuk ke dada.Ayunda menarik napas pelan, lalu memainkan lipatan serbet di pangkuannya.“Kamu tahu nggak,” ujarnya akhirnya, suaranya nyaris seperti bisikan, “waktu kamu bilang kamu suka aku dulu … aku ngerasa takut.”Adrian menoleh, keningnya berkerut lembut. “Takut?”Ayunda mengangguk pelan. “Karena aku pikir, kalau aku percaya kamu, aku bisa kalah. Dan aku benci kalah. Apalagi … kalah sama perasaan sendiri.”Adrian tersenyum miring. “Padahal kamu udah sering bikin aku kalah dalam debat, hukuman, dan kecurian tempat parkir.”“Lagian,” lanjut Ayunda tanpa menggubris lelucon itu, “kamu terlalu bebas. Terlalu … acak. Aku nggak tahu harus naruh kepercayaan itu di mana.”“Sekarang kamu tahu?”Ayunda menatapnya. Wajah Adrian masih sama seperti dulu—t

  • Wanita Kelas Atas Milik sang CEO   Bab 37: Pengakuan yang Tertunda

    Restoran itu tersembunyi di lantai atas sebuah gedung tua yang telah disulap menjadi ruang makan bergaya art deco, dengan pencahayaan temaram dan musik jazz lembut yang mengalun pelan. Bukan tempat yang biasa dikunjungi oleh publik figur untuk makan malam bisnis—dan mungkin itu alasan Adrian memilihnya.Ayunda datang tepat waktu, mengenakan dress hitam sederhana yang membingkai tubuhnya dengan anggun. Wajahnya hanya dipoles tipis, tapi sorot matanya tampak lebih hidup malam itu. Ada gemetar di tangannya ketika ia membuka pintu kaca.Adrian sudah menunggunya di dalam, duduk santai dengan jas abu dan kemeja putih yang digulung di lengan. Ia berdiri ketika melihat Ayunda datang, lalu tersenyum kecil.“Pakaiannya bukan buat wawancara, kan?” seloroh Ayunda, mencoba meredakan ketegangan.“Dan kamu bukan lagi model kampanye yang harus aku evaluasi,” balas Adrian dengan nada yang sama ringan.Mereka duduk. Sesaat hanya suara pisau dan garpu dari

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status