Share

Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti
Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti
Author: Namaku Malaja

BAB 1

Author: Namaku Malaja
last update publish date: 2025-05-17 20:40:16

Aryana mengikuti langkah Albert menuju kamar pengantin mereka yang ada di hotel tempat mereka mengadakan pernikahan. Aryana berjalan sedikit kesusahan karena gaunnya yang berat dan roknya yang besar. Sementara Albert terus berjalan tanpa sedikit pun memedulikan Aryana yang berjalan sambil menyingsing gaun pengantinnya.

“Akhirnya!” Albert merebahkan tubuh di tempat tidur yang penuh dengan kelopak bunga mawar yang dibentuk love dengan mata terpejam. Kedua tangannya direntangkan. Sementara kedua kakinya menjuntai di pinggir ranjang.

Aryana menghela napas lega setelah memasuki kamar. Dia menurunkan gaunnya dan berjalan dengan pelan ke meja rias. Aryana menatap Albert dari kaca meja rias, sorot matanya sayu. Dia ingin Albert membantunya melepaskan hiasan di kepalanya, tapi tampaknya pria itu kelelahan, karena itu Aryana melepasnya sendiri dengan perlahan satu per satu.

Dering ponsel Albert menggema di kamar hotel yang sepi. Albert bangkit dari baringnya dan meraih ponselnya di saku jas pengantin.

“Halo, Sayang,” sapa Albert setelah menggeser tanda panggilan masuk di layar ponselnya.

Gerakan Aryana yang melepas aksesoris di rambutnya seketika terhenti. Dia menatap Albert dari kaca meja rias. Ekspresi pria itu tampak bahagia. Senyum lebar menghiasi wajahnya.

‘Sayang? Siapa yang menelepon Mas Albert? Kenapa raut wajahnya begitu kelihatan bahagia?’ pikir Aryana, dadanya seketika sakit mendengar suaminya memanggil sayang dengan lawan bicaranya di telepon.

Akan tetapi, Aryana segera mengenyahkan pikiran buruknya. Dia menatap Albert yang kini sudah selesai menelepon. Pria itu berdiri sambil memasukkan ponsel ke saku jasnya.

“Mas, kamu mau ke mana?” tanya Aryana buru-buru saat Albert melangkah meninggalkan tempat tidur menuju pintu.

“Bukan urusanmu!” Albert berkata tanpa menghentikan langkah dan berbalik. Namun, saat berdiri di ambang pintu, Albert menghentikan langkah, masih tanpa menoleh, dia melanjutkan, “Jangan bilang hal ini pada kakekku. Kalau tidak, kamu akan tahu akibatnya.”

Setelah mengatakan itu, Albert meninggalkan kamar.

Aryana menatap pintu yang tertutup kembali dengan tatapan sayu. Dia tidak mengerti kenapa malam pernikahan yang menyenangkan untuk mereka harus berakhir seperti ini.

Aryana menghela napas berat. Dia kembali melanjutkan kegiatannya melepas semua hiasan rambut dan gaunnya. Lalu berganti dengan baju tidur yang sudah dibawakan oleh saudara-saudaranya.

Aryana menatap tempat tidur dengan tatapan nanar. Seharusnya malam ini mereka menikmati malam indah yang selalu dinanti oleh pasangan yang baru menikah, tapi Albert justru meninggalkannya seorang diri di malam pengantin. Entah ke mana perginya suaminya itu. Aryana hendak menelepon, tapi sadar ternyata Aryana tidak memiliki nomor ponsel Albert.

Aryana menghela napas pelan. “Kenapa aku bisa lupa meminta nomor Mas Albert? Bagaimana aku bisa menghubunginya untuk menanyakan di mana Mas Albert sekarang?”

Aryana menatap jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi Albert masih belum kembali. Aryana yang merasa lapar karena belum makan malam, memutuskan untuk keluar kamar hotel. Dengan mengenakan jaket, dia mencari rumah makan yang buka 24 jam yang dekat dengan hotel.

“Aryana?” suara seorang pria terdengar ragu-ragu memanggil Aryana yang sedang menunggu pesanannya datang.

Aryana menoleh ke belakang, dia terkejut melihat Argandara berdiri di belakangnya.

“Arga!” seru Aryana pelan.

“Kupikir tadi aku salah melihat, tapi ternyata memang benar kamu. Kamu sedang apa di sini sendirian?” tanya Argandara yang masih berdiri, keningnya berkerut dalam saat tidak melihat sosok Albert bersama Aryana.

“Aku lupa belum makan malam, jadi aku ke sini untuk makan malam. Kamu sendiri? Mau makan malam juga?”

“Iya. Ngomong-ngomong, di mana Kak Albert?”

“Dia sudah tidur. Sepertinya dia sangat kelelahan. Makanya aku pergi cari makan sendiri.”

Aryana terpaksa berbohong. Dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kepada Argandara. Selain takut dengan ancaman Albert, ini juga termasuk aib bagi Aryana. Dia tidak ingin orang-orang tahu kalau dia telah ditinggalkan suaminya di malam pernikahan mereka.

Argandara mengangguk kecil. “Ya sudah, kalau begitu selamat menikmati makan malamnya.”

Setelah mengatakan itu, Argandara berlalu, tapi Aryana segera membuka mulut menawarkan Argandara untuk makan bersamanya. Aryana pikir tidak masalah kalau dia makan bersama Argandara, lagi pula Argandara adalah adik angkat Albert. Jadi, Aryana yakin tidak akan ada rumor buruk tentang mereka.

Argandara tidak menolak ajakan Aryana. Lagi pula sekarang mereka adalah saudara.

Mereka makan malam yang sudah terlambat itu dengan bercengkerama ringan. Setelah makan, mereka langsung kembali ke kamar masing-masing.

Sepanjang malam Aryana menunggu Albert, tapi Albert tidak kunjung pulang. Entah jam berapa Aryana tertidur, saat dia membuka mata, waktu menunjukkan pukul lima pagi.

“Mas Albert masih belum pulang juga?” gumam Aryana saat mengedarkan pandangan ke seluruh kamar, tapi tidak menemukan sosok Albert. Nada bicaranya pun terdengar lesu.

Karena tertidur di sofa sepanjang malam, seluruh tubuh Aryana pun pegal-pegal. Dia melakukan perenggangan sebentar sebelum pergi ke kamar mandi. Sebelum Aryana memasuki kamar mandi, pintu kamar terbuka. Sosok Albert masuk dengan langkah cepat.

“Mas, akhirnya kamu pulang juga,” ucap Aryana, nadanya terdengar senang karena Albert akhirnya pulang.

Albert menatap tajam Aryana, yang seketika membuat Aryana tertegun.

‘Kenapa Mas Albert terlihat marah?’ pikir Aryana tidak mengerti dengan reaksi Albert saat melihat dirinya.

“Kenapa kamu keluar kamar dan pergi bersama Arga? Apa kamu ingin membuat masalah dan mempermalukan aku karena aku meninggalkanmu? Iya?!” bentak Albert yang membuat Aryana terkejut.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 45

    Apartemen Narana.“Ada apa, Al?” tanya Narana ketika mendengar Albert memaki setelah menerima telepon sambil buru-buru mengenakan pakaian.“Kakekku ada di rumah kakek Aryana. Aku harus ke sana sekarang. Atau kalau tidak, semuanya bisa semakin berantakan.”“Kamu yakin kakekmu di sana? Kamuy akin kalau Aryana tidak berbohong?” tanya Narana memastikan.Sejak pulang dari berlibur, Narana sedikit menaruh prasangka kepada Aryana. Dia takut wanita itu akan membalasnya sekarang karena mendapat dukungan dari Alvonso.“Aku yakin dia tidak berani berbohong. Aku sudah mengancamnya dan akan menghukumnya kalau dia sampai mengadu pada Kakek atau membohongiku. Ya sudah, aku pergi dulu, ya.”Albert mencium bibir Narana yang masih berada di tempat tidur sebelum meninggalkan apartemen Narana. Dengan kecepatan tinggi Albert meninggalkan gedung apartemen Narana, menuju rumah Yudha. Beberapa kali dia hampir menabrak mobil lain, tapi dia terus memacu kecepatannya.

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 44

    Aryana tertegun. Tubuhnya menegang. Tapi itu hanya sesaat. Aryana dengan cepat tersenyum lebar. “Aku baik-baik saja, Nek. Nenek tidak perlu mengkhawatirkan aku. Ada Mas Albert yang akan menjagaku.”“Kamu jujur saja pada nenekmu ini, Nak. Jangan berbohong.”“Aku tidak berbohong, Nek. Serius!” Aryana mengangkat tangan dengan membentuk huruf V kepada Sinta.Sinta menghela napas. “Sejujurnya, sejak kamu menikah, perasaan nenek tidak enak. Setiap hari, setiap malam, nenek selalu memikirkanmu. Meski nenek berusaha tidak memikirkannya, tapi entah kenapa hati nenek selalu tidak enak, Aryana. Nenek merasa kamu tidak bahagia di sana.”Aryana kembali dibuat terkejut. Ingatan waktu Sinta dan Yudha menelepon saat dia liburan pun kembali berputar. Di mana Sinta juga mengatakan hal yang sama, jika wanita itu mengkhawatirkan dirinya tepat setelah dia sakit akibat dicambuk oleh Albert.‘Apakah nenek dapat merasakan apa yang aku alami selama ini jika Mas Albert sela

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 43

    Aryana menatap mobil Albert yang semakin menjauh dengan rasa kecewa. Dia pikir Albert benar-benar akan menemaninya pergi ke rumah keluarganya. Tapi ternyata itu hanya angannya saja.“Sepertinya tidak mudah membuat Mas Albert berubah baik padaku seperti sebelumnya. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan merebut kembali Mas Albert dari Narana,” kata Aryana penuh keyakinan jika dia bisa merebut dan membuat Albert kembali mencintai dan menyayanginya seperti sebelumnya.Aryana menatap barang bawaannya yang begitu banyak. Dia mengembuskan napas pelan.“Sepertinya aku harus naik taksi,” ucap Aryana yang berpikir tidak memungkinkannya dia menaiki bus dengan bawaan sebanyak itu sendirian.Aryana pun menghentikan taksi dan melanjutkan perjalanan ke rumah kakeknya.Sementara itu, Albert melajukan kendaraannya ke tempat Narana. Sebelumnya Albert kesal karena Aryana ingin mengunjungi keluarganya tanpa memberitahunya, tapi setelah dia memikirkannya lagi, Albert

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 42

    Argandara menerima kertas itu dengan kening berkerut. “Dari siapa?” tanyanya penasaran.Pramusaji itu menunjuk Aryana yang menyeberang jalan, menghampiri Albert yang berdiri di tepi jalan menunggu taksi. “Dari wanita itu, Kak.”Argandara menatap Aryana sebentar sebelum kembali menatap pramusaji itu dengan senyum lebar. “Terima kasih.”“Sama-sama, Kak.”Pramusaji itu pun meninggalkan mereka.Argandara segera membuka kertas itu.[Arga, maafkan aku. Kami akan pulang hari ini. Malam tadi Mas Albert tiba-tiba mengajak pulang. Aku tidak bisa menemuimu secara langsung untuk memberitahumu, jadi aku hanya bisa menulis ini untukmu. Maafkan aku. Jaga dirimu baik-baik dan hati-hati saat di perjalanan pulang nanti. Aryana.]Kedua sudut bibir Argandara terangkat sedikit. Tidak menyangka Aryana rela mengambil risiko hanya untuk bisa berpamitan kepadanya.Argandara kembali melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku celana. Lalu dia menatap k

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 41

    Aryana pun kembali melanjutkan kegiatannya menonton drama. Tepat saat drama yang ditontonnya habis, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar. Aryana bergegas membuka pintu.“Arga! Apa yang kamu lakukan di sini?!” seru Aryana yang dibuat terkejut hingga jantungnya terasa mau lepas dari rongganya.‘Kenapa Arga harus ke sini, sih? Bagaimana kalau Mas Albert dan Nanara kembali?’ Aryana menjerit dalam hati karena Argandara yang datang ke kamarnya.Argandara tersenyum lebar. Gemas dengan Aryana yang selalu saja menatapnya dengan mata melotot setiap kali bertemu dengannya.“Aku datang ke sini untuk menjengukmu.”“Tunggu di sini!” Aryana kembali menutup pintu tanpa menunggu jawaban Argandara.Argandara tertegun menatap pintu di depannya. Namun, pintu itu kembali terbuka beberapa menit kemudian.Aryana keluar dengan mengenakan jaket kain. “Ayo!” Aryana menarik tangan Argandara menuju l

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 40

    Albert menatap Narana dengan rasa penasaran. “Sayang, ada apa?”Albert juga merasa aneh dengan Narana yang ekspresinya mendadak berubah saat memasuki kamar.Narana menatap Albert. “Apa kamu tidak menciumnya? Aku mencium parfum orang lain di kamar ini, Al. Aku yakin Aryana pasti sudah membawa orang lain masuk ke kamar kita.”Mendengar itu, Albert pun mengendus bau di sekitarnya. Dan benar, Albert mencium wangi parfum cendana yang kini baunya sudah mulai samar-samar.“Kamu benar, Sayang,” kata Albert, ekspresinya berubah datar. Dia menatap tajam Aryana yang telihat tenang, tapi dadanya sudah bertalu-talu. “Katakan, apa benar yang dikatakan Narana? Kamu membawa orang masuk ke kamar ini?”“Kamu percaya dengannya?” bukannya menjawab, Aryana justru balik bertanya kepada Albert.“Tentu saja! Jadi katakan saja dengan jujur, apa kamu membawa orang lain ke sini?”“Bukan sekedar orang lain, Al. Tapi lebih tepatnya dia membawa masuk seorang pria

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status