Share

BAB 2

Penulis: Namaku Malaja
last update Terakhir Diperbarui: 2025-05-18 11:54:11

Aryana buru-buru mendekati Albert. Sebelum Aryana bisa menyentuhnya, Albert melangkah mundur, menghindari Aryana.

“Mas, kamu salah paham. Aku tidak ada maksud apa-apa.” Aryana dengan cepat menjelaskan kepada Albert, agar suaminya itu tidak salah paham kepadanya. “Aku juga tidak bermaksud mempermalukan ataupun membuat masalah. Malam tadi aku lapar dan makan di luar, kebetulan aku bertemu Arga di rumah makan.”

“Alasan!” Albert tidak percaya.

Saat Albert terlelap di kamar kekasihnya, dia menerima pesan dari salah satu temannya yang masih menginap di hotel tempat Albert mengadakan pesta pernikahan, dan kebetulan malam tadi temannya keluar untuk mencari angin segar sekaligus makan malam, dan temannya itu tidak sengaja melihat Aryana dan Argandara makan bersama. Mereka terlihat bahagia saat makan bersama. Karena itulah Albert tidak mempercayai ucapan Aryana. Albert lebih memilih percaya dengan apa yang dikatakan oleh temannya. Albert yakin temannya tidak akan berbohong.

“Aku mengatakan yang sebenarnya, Mas. Tolong percaya padaku.” Aryana menghampiri Albert untuk menggenggam tangan suaminya, tapi Albert menepis tangan Aryana.

“Sudahlah! Kali ini aku maafkan, tapi lain kali, kalau aku tahu kamu berduaan dengan orang lain, awas kamu!” ancam Albert dengan mata mendelik tajam kepada Aryana.

“Iya, Mas. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi,” jawab Aryana patuh.

“Hari ini kita pulang ke kediaman Handaryana. Jadi, kemasi semua barang-barangmu!” perintah Albert sebelum melangkah ke kamar mandi. Tadi dia buru-buru pulang dari rumah kekasihnya tanpa mencuci muka, apalagi mandi.

Aryana menghela napas pelan. Dia tidak mengerti kenapa sikap Albert begitu berubah. Saat mereka bertemu sebelumnya, pria itu sangat ramah dan terlihat begitu penyayang.

‘Mungkinkah Mas Albert cemburu pada Arga?’ pikir Aryana menebak. ‘Ya, pasti Mas Albert cemburu pada Arga. Tapi, kan, Arga adiknya sendiri. Kenapa dia harus cemburu?’

Walau merasa aneh dengan sikap Albert, memikirkan bahwa Albert cemburu karena dia dekat dengan pria lain, membuat dada Aryana menghangat. Senyum kecil menghiasi wajahnya. Melupakan apa yang sudah Albert lakukan malam tadi kepadanya.

Tidak ingin membuat Albert marah, Aryana segera mengemasi barang-barangnya yang tidak terlalu banyak. Dia juga mengemasi barang-barang Albert.

“Apa yang kamu lakukan?!” bentak Albert yang keluar dari kamar mandi dan melihat Aryana menyentuh barang-barangnya.

Aryana tersentak. Dia menatap Albert dengan takut-takut.

“Aku ... aku hanya ingin memasukkan pakaianmu ke koper, Mas.” Aryana berkata dengan sedikit tergagap.

“Tidak perlu! Aku bisa melakukannya sendiri,” ucap Albert seraya berjalan menghampiri Aryana. “Ingat baik-baik! Meski kamu istriku, jangan pernah sedikit pun menyentuh barang-barangku. Awas kalau aku melihatmu menyentuh barang-barangku tanpa seizinku lagi.”

“Baik, Mas.” Aryana menjawab sambil mengangguk pelan.

“Sudah, pergi sana!” usir Albert.

Aryana langsung meninggalkan tempat, pergi ke kamar mandi. Dengan cepat dia membersihkan diri dan merias wajahnya.

Pukul tujuh pagi, Albert dan Aryana meninggalkan kamar hotel menuju restoran hotel di lantai dasar untuk sarapan. Aryana terkejut saat Albert menggandeng tangannya. Raut kemarahan di wajah pria itu menghilang, digantikan senyum kecil setiap kali berpapasan dengan pengunjung lain.

‘Sepertinya aku terlalu berpikiran buruk terhadap Mas Albert. Mungkin dia tipe pria yang posesif, makanya dia cemburu kalau aku bertemu dengan pria lain meski itu adiknya sendiri,’ pikir Aryana dengan hati yang mulai lega, bahwa apa yang dia takutkan mengenai sikap kasar Albert tidak terjadi.

Akan tetapi, apa yang Aryana pikirkan mengenai Albert tidaklah benar. Begitu mereka kembali ke kediaman Handaryana, sikap Albert berubah. Seolah-olah pria itu memiliki kepribadian ganda. Saat di hadapan Alvonso—kakek Albert dan Argandara—dan di depan publik, Albert bersikap romantis dan hangat kepadanya. Namun, saat mereka hanya berdua saja, pria itu kembali kasar dan dingin kepadanya.

“Ingat baik-baik, jangan sampai Kakek tahu apa yang terjadi di antara kita. Dan kalau kamu berani mengadu pada kakekku, awas saja kamu,” ancam Albert dengan nada dingin. “Dan satu hal lagi, bersikaplah sebagai istri yang baik di hadapan Kakek dan juga di depan publik. Sedikit saja ada rumor buruk mengenai pernikahan kita, kamu yang harus menanggung akibatnya.”

Aryana mengangguk pelan penuh ketakutan. “Baik, Mas.”

“Sekarang kamu tidur di sana.” Albert menunjuk ke sofa yang ada di dekat dinding kamar.

Tanpa belas kasihan, Albert langsung tidur begitu saja. Dia pun tidak ada niatan untuk memberi bantal dan selimut kepada Aryana.

Aryana hanya bisa menurut. Dia pergi ke sofa dan merebahkan diri. Air mata menggenang.

‘Ya Tuhan, kenapa nasibku begini? Kenapa pernikahan yang seharusnya bahagia justru menjadi petaka untuku?’ keluh Aryana dalam hati. Air mata perlahan merembes dan membasahi wajahnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 24

    Aryana dengan cepat menghapus air mata di sudut matanya saat pintu kamar mandi dibuka. Albert dan Narana keluar dengan mengenakan baju pasangan yang tadi Albert beli."Tunggu sebentar!" Narana menahan tangan Albert, lalu mengambil rambut palsu dari tasnya.Albert mengernyit. "Untuk apa kamu memakai wig?""Untuk penyamaran, Al." Narana menjawab tanpa menatap Albert. Dia sibuk menata rambut palsunya. "Untuk berjaga-jaga. Kita tidak tahu apakah kakekmu menyuruh orang untuk mengawasi kalian selama liburan atau tidak."Narana berbalik menatap Albert setelah memastikan rambut palsu yang dikenakannya rapi. "Bagaimana? Kira-kira kalau dari kejauhan, aku sudah mirip dengan Aryana tidak?"Albert dan Aryana terkejut. Namun, keterkejutan keduanya sangat berbanding terbalik. Albert terkejut karena tidak menyangka Narana memikirkan kemungkinan terburuk untuk mereka, sementara Aryana terkejut karena tidak menyangka Narana begitu licik dengan menyamar sebagai diri

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 23

    Setelah dua jam berlalu, akhirnya Albert mengakhiri panggilan teleponnya. Aryana yang sejak tadi pura-pura tidur, perlahan membuka mata. Dia menunggu setengah jam sebelum bangkit dari sofa dan menghampiri tempat tidur dengan langkah sangat pelan.Ponsel Albert tergeletak begitu saja di tengah kasur. Aryana melambaikan tangan di wajah Albert yang terlelap, memastikan bahwa sang suami terlelap sebelum mengambil ponsel pria itu. Akan tetapi, Aryana kesulitan membuka layar ponsel Albert yang terkunci.'Apa pasword-nya?' pikir Aryana setelah berkali-kali gagal memasukkan angka di ponsel Albert.Walau begitu, Aryana tidak menyerah. Dia terus memasukkan angka-angka meski pada akhirnya tetap sia-sia.Aryana menghela napas. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Dia harus tidur sekarang jika tidak ingin besok bangun terlambat.'Sepertinya aku tidak akan bisa mencegah Narana untuk tidak mengganggu liburanku dengan Mas Albert,' pikir Aryana kecewa.

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 22

    Argandara mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan kediaman Handaryana menuju Kala Rasa. Bayangan wajah pucat Aryana dan ucapan Alvonso terus terngiang di kepalanya. Beberapa kali Argandara menghela napas kasar untuk melonggarkan dadanya yang sesak.“Arga!” Nehan melambai kepada Argandara yang baru saja memasuki kafe.Argandara mengedarkan pandangan sebelum akhirnya dia menemukan sosok sang sahabat. Dengan langkah lebar Argandara menghampiri Nehan.“Sudah lama?” Argandara menarik dan menduduki kursi di hadapan Nehan.“Ya, lumayan. Lyla bilang katanya kamu baru berangkat ke kediaman Handaryana waktu aku datang.” Nehan mengernyit saat memperhatikan wajah Argandara. “Kenapa sama mukamu? Kok kusut begitu?”“Tidak ada apa-apa.”Nehan tentu saja tidak percaya. “Apa Pak Tua itu membuat masalah lagi padamu? Atau, Albert yang membuatmu seperti ini?”Argandara menggeleng pelan. “Kenapa kamu selalu berpikir buruk tentang mereka sih, Han?”“Ya jangan menyalahkan aku berpikiran bur

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 21

    Aryana tersenyum kecil menatap pantulan wajahnya di kaca wastafel. Sembap di matanya sudah berkurang. Dan Aryana bisa menutupinya dengan riasan sedikt tebal agar tidak terlihat, seperti yang dia lakukan tadi siang.Aryana terkejut saat membuka pintu kamar mandi dan mendapati sosok Albert di depan pintu. Tangan pria itu terangkat untuk mengetuk pintu.Albert menatap marah Aryana. “Apa yang kamu lakukan di kamar mandi sampai begitu lama, hah? Kamu tidak lihat sekarang sudah jam berapa?”“Maaf, Mas. Aku tadi mengompres mataku supaya tidak bengkak, makanya lama di kamar mandi.” Aryana menjawab pelan dengan kepala tertunduk.Albert berdecak keras. “Cepat ganti baju. Jangan sampai Kakek berpikir aku menyiksamu karena terlambat ke meja makan.”Setelah mengatakan itu, Albert menuju sofa dan melanjutkan panggilan videonya bersama Narana.Aryana menatap Albert. Cemburu dan sakit hati bercampur menjadi satu. Meskipun dia istri Albert, tapi nyatanya dia tidak bisa mendapatkan hati suaminya.Aryana

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 20

    Argandara mengalihkan pandangannya kepada Albert yang berdiri di belakang Aryana hanya dengan mengenakan jubah mandi. Kedua tangannya terkepal erat. Kemarahan menguasai dirinya, tapi Argandara berusaha menahan sekuat tenaga agar tidak lepas kendali.“Tidak. Tapi kenapa kakak harus menyakitinya?” Argandara berusaha menekan suaranya agar tidak terdengar marah.“Bukan urusanmu! Dia istriku, jadi aku berhak melakukan apa saja padanya.” Albert mengalihkan tatapannya kepada Aryana, sorot matanya masih sama. “Untuk apa masih di sini? Pergi!”Aryana tidak membantah dan langsung pergi tanpa melihat Argandara. Karena hari semakin sore, Aryana pun memutuskan untuk mandi sambil mengompres matanya yang sembap.Argandara yang mendengar bentakan Albert kepada Aryana pun semakin geram dengan sikap sang kakak memperlakukan Aryana.Albert kembali menatap Argandara. “Untuk apa kamu ke kamarku? Mau merayu istriku, ya? Apa di kafe tadi kamu masih belum puas merayunya, sampai-sampai kamu ingin merayunya di

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 19

    “Kamu tidak perlu berpura-pura di hadapanku lagi, Albert! Bagas sudah mengatakan semuanya padaku. Apa kamu pikir bisa membodohiku? Apa kamu pikir kata-kataku di meja makan tadi hanya bercanda?”Badan Albert menegang mendengar Bagas sudah memberi tahu Alvonso. Seketika pikirannya tertuju kepada Narana yang berada di apartemennya.‘Apa Bagas mengetahui keberadan Narana di apartemenku?’ pikir Albert panik dan gelisah. Keringat dingin mulai membasahi tubuh Albert.“Kalau memang itu maumu, baik!” lanjut Alvonso. “Aku akan segera meminta Linggar mengurus semuanya.”Albert berlutut dan memeluk kedua kaki Alvonso. Dengan wajah dan suara yang memelas, Albert berkata, “Kakek, aku mohon. Tolong beri aku kesempatan lagi. Aku janji tidak akan menemui Narana lagi, Kek. Aku mohon, Kek.”Albert terus berusaha memohon agar Alvonso memberikannya kesempatan kedua.Di dalam kamar mandi, Aryana yang mendengar perdebatan Alvonso dan Albert pun bergegas mencuci muka dan keluar untuk melihat apa yang telah te

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status