Share

BAB 38

Penulis: Namaku Malaja
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-27 12:00:00

Gani memasuki restoran hotel di mana Argandara menginap dan duduk di hadapan Argandara yang sudah menunggunya sejak beberapa menit lalu.

Tanpa basa-basi, Gani langsung menceritakan apa yang terjadi saat dia mengawasi Albert dan Narana. Di mana Gani mendapati seorang pria yang juga mengawasi Albert. Awalnya Gani tidak terlalu peduli saat pria itu mengikuti Albert dari kejauhan, dia pikir mungkin pria itu memiliki tujuan yang sama dengan Albert.

Namun, pria itu ternyata terus meng

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 45

    Apartemen Narana.“Ada apa, Al?” tanya Narana ketika mendengar Albert memaki setelah menerima telepon sambil buru-buru mengenakan pakaian.“Kakekku ada di rumah kakek Aryana. Aku harus ke sana sekarang. Atau kalau tidak, semuanya bisa semakin berantakan.”“Kamu yakin kakekmu di sana? Kamuy akin kalau Aryana tidak berbohong?” tanya Narana memastikan.Sejak pulang dari berlibur, Narana sedikit menaruh prasangka kepada Aryana. Dia takut wanita itu akan membalasnya sekarang karena mendapat dukungan dari Alvonso.“Aku yakin dia tidak berani berbohong. Aku sudah mengancamnya dan akan menghukumnya kalau dia sampai mengadu pada Kakek atau membohongiku. Ya sudah, aku pergi dulu, ya.”Albert mencium bibir Narana yang masih berada di tempat tidur sebelum meninggalkan apartemen Narana. Dengan kecepatan tinggi Albert meninggalkan gedung apartemen Narana, menuju rumah Yudha. Beberapa kali dia hampir menabrak mobil lain, tapi dia terus memacu kecepatannya.

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 44

    Aryana tertegun. Tubuhnya menegang. Tapi itu hanya sesaat. Aryana dengan cepat tersenyum lebar. “Aku baik-baik saja, Nek. Nenek tidak perlu mengkhawatirkan aku. Ada Mas Albert yang akan menjagaku.”“Kamu jujur saja pada nenekmu ini, Nak. Jangan berbohong.”“Aku tidak berbohong, Nek. Serius!” Aryana mengangkat tangan dengan membentuk huruf V kepada Sinta.Sinta menghela napas. “Sejujurnya, sejak kamu menikah, perasaan nenek tidak enak. Setiap hari, setiap malam, nenek selalu memikirkanmu. Meski nenek berusaha tidak memikirkannya, tapi entah kenapa hati nenek selalu tidak enak, Aryana. Nenek merasa kamu tidak bahagia di sana.”Aryana kembali dibuat terkejut. Ingatan waktu Sinta dan Yudha menelepon saat dia liburan pun kembali berputar. Di mana Sinta juga mengatakan hal yang sama, jika wanita itu mengkhawatirkan dirinya tepat setelah dia sakit akibat dicambuk oleh Albert.‘Apakah nenek dapat merasakan apa yang aku alami selama ini jika Mas Albert sela

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 43

    Aryana menatap mobil Albert yang semakin menjauh dengan rasa kecewa. Dia pikir Albert benar-benar akan menemaninya pergi ke rumah keluarganya. Tapi ternyata itu hanya angannya saja.“Sepertinya tidak mudah membuat Mas Albert berubah baik padaku seperti sebelumnya. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan merebut kembali Mas Albert dari Narana,” kata Aryana penuh keyakinan jika dia bisa merebut dan membuat Albert kembali mencintai dan menyayanginya seperti sebelumnya.Aryana menatap barang bawaannya yang begitu banyak. Dia mengembuskan napas pelan.“Sepertinya aku harus naik taksi,” ucap Aryana yang berpikir tidak memungkinkannya dia menaiki bus dengan bawaan sebanyak itu sendirian.Aryana pun menghentikan taksi dan melanjutkan perjalanan ke rumah kakeknya.Sementara itu, Albert melajukan kendaraannya ke tempat Narana. Sebelumnya Albert kesal karena Aryana ingin mengunjungi keluarganya tanpa memberitahunya, tapi setelah dia memikirkannya lagi, Albert

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 42

    Argandara menerima kertas itu dengan kening berkerut. “Dari siapa?” tanyanya penasaran.Pramusaji itu menunjuk Aryana yang menyeberang jalan, menghampiri Albert yang berdiri di tepi jalan menunggu taksi. “Dari wanita itu, Kak.”Argandara menatap Aryana sebentar sebelum kembali menatap pramusaji itu dengan senyum lebar. “Terima kasih.”“Sama-sama, Kak.”Pramusaji itu pun meninggalkan mereka.Argandara segera membuka kertas itu.[Arga, maafkan aku. Kami akan pulang hari ini. Malam tadi Mas Albert tiba-tiba mengajak pulang. Aku tidak bisa menemuimu secara langsung untuk memberitahumu, jadi aku hanya bisa menulis ini untukmu. Maafkan aku. Jaga dirimu baik-baik dan hati-hati saat di perjalanan pulang nanti. Aryana.]Kedua sudut bibir Argandara terangkat sedikit. Tidak menyangka Aryana rela mengambil risiko hanya untuk bisa berpamitan kepadanya.Argandara kembali melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku celana. Lalu dia menatap k

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 41

    Aryana pun kembali melanjutkan kegiatannya menonton drama. Tepat saat drama yang ditontonnya habis, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar. Aryana bergegas membuka pintu.“Arga! Apa yang kamu lakukan di sini?!” seru Aryana yang dibuat terkejut hingga jantungnya terasa mau lepas dari rongganya.‘Kenapa Arga harus ke sini, sih? Bagaimana kalau Mas Albert dan Nanara kembali?’ Aryana menjerit dalam hati karena Argandara yang datang ke kamarnya.Argandara tersenyum lebar. Gemas dengan Aryana yang selalu saja menatapnya dengan mata melotot setiap kali bertemu dengannya.“Aku datang ke sini untuk menjengukmu.”“Tunggu di sini!” Aryana kembali menutup pintu tanpa menunggu jawaban Argandara.Argandara tertegun menatap pintu di depannya. Namun, pintu itu kembali terbuka beberapa menit kemudian.Aryana keluar dengan mengenakan jaket kain. “Ayo!” Aryana menarik tangan Argandara menuju l

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 40

    Albert menatap Narana dengan rasa penasaran. “Sayang, ada apa?”Albert juga merasa aneh dengan Narana yang ekspresinya mendadak berubah saat memasuki kamar.Narana menatap Albert. “Apa kamu tidak menciumnya? Aku mencium parfum orang lain di kamar ini, Al. Aku yakin Aryana pasti sudah membawa orang lain masuk ke kamar kita.”Mendengar itu, Albert pun mengendus bau di sekitarnya. Dan benar, Albert mencium wangi parfum cendana yang kini baunya sudah mulai samar-samar.“Kamu benar, Sayang,” kata Albert, ekspresinya berubah datar. Dia menatap tajam Aryana yang telihat tenang, tapi dadanya sudah bertalu-talu. “Katakan, apa benar yang dikatakan Narana? Kamu membawa orang masuk ke kamar ini?”“Kamu percaya dengannya?” bukannya menjawab, Aryana justru balik bertanya kepada Albert.“Tentu saja! Jadi katakan saja dengan jujur, apa kamu membawa orang lain ke sini?”“Bukan sekedar orang lain, Al. Tapi lebih tepatnya dia membawa masuk seorang pria

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status