Share

Bab 4 Istri Kedua

Penulis: Celestial Soul
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-11 12:08:13

"Kabar bahagia sekaligus mengejutkan datang dari artis papan atas, Gita Yosani!" suara ceria host acara gosip selebriti terdengar dari layar televisi.

Savita duduk memandangi layar dengan tatapan kosong. Ditampilkan potongan video Gita beserta unggahan pernyataan resmi di laman pribadinya.

"Ya, ini benar-benar mengejutkan. Gita Yosani, artis cantik yang dikenal sangat tertutup soal kehidupan asmaranya, tiba-tiba mengumumkan pernikahan!"

Host wanita berpenampilan kasual itu tersenyum lebar, suaranya riang dan ringan.

"Dalam unggahan tersebut, Gita hanya menulis caption singkat sambil mengenakan gaun pengantin putih. Namun, dia tidak menandai siapa pun. Hal ini tentu saja membuat para penggemar penasaran dengan sosok pria yang berhasil mempersuntingnya."

Dua hari lalu, setelah Savita mengizinkan Mahendra menikahi Gita, pria itu langsung mempersiapkan segalanya tanpa menunda. Dan kemarin, Gita resmi mengumumkan pernikahannya di media sosial.

Suara host kembali terdengar, "Mari kita lihat bagaimana tanggapan para penggemar setelah kabar mengejutkan ini tersebar."

Layar menampilkan unggahan Gita yang dipenuhi ribuan komentar.

"Wah, ternyata ramai sekali! Banyak yang memperdebatkan siapa sosok suami dari sang artis. Ada yang menduga Gita menikah diam-diam dengan seseorang dari kalangan bisnis atau dari dunia hiburan," ucap sang host.

"Namun hingga saat ini, Gita belum memberikan tanggapan apa pun."

Savita mematikan televisi. Suara riuh berganti keheningan yang menyesakkan. Dia beranjak dari sofa, langkahnya pelan, matanya kosong. Hampir semua media membicarakan hal yang sama, pernikahan Gita.

Dalam hati, Savita bertanya-tanya, bagaimana reaksi orang-orang jika tahu bahwa idola mereka sebenarnya adalah orang kedua dalam pernikahan seseorang?

Saat hendak naik ke lantai dua. Namun, suara Mahendra terdengar dari belakang.

"Savita," panggilnya.

Savita menoleh. Di belakangnya, Mahendra berdiri bersama Gita. Mereka baru kembali dari rumah sakit. Sebelumnya, Mahendra bilang akan mengantar Gita untuk pemeriksaan kandungan.

"Kabar pernikahan Gita sudah tersebar," kata Mahendra, memandangi Savita. Wajahnya sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah. "Tapi kamu tenang saja. Enggak akan ada yang tahu kalau aku suami Gita."

Savita tidak peduli jika dunia tahu, karena bukan dia yang dirugikan. Hanya saja saat ini dia terlalu lelah untuk membahas apa pun.

"Hmm, iya. Aku mau istirahat sekarang," balas Savita pelan.

Sejak pulang dari rumah sakit, tubuhnya terasa mudah lelah. Savita berbalik menuju tangga, meninggalkan Mahendra dan Gita. Sejak kejadian itu, dia belum pernah benar-benar berbicara nyaman dengan Mahendra. Bahkan tentang penyakitnya pun belum dia ceritakan.

Begitu tiba di kamar, Savita langsung merebahkan diri dan tertidur. Saat terbangun, langit sudah gelap.

Turun ke bawah, pandangannya tertuju ke ruang tengah. Di sana, Mahendra, Gita, dan Kaivan duduk bersama.

"Mama," panggil Kaivan begitu melihatnya, berlari kecil mendekat.

Gita yang tadinya tertawa, langsung diam. Tatapannya kepada Savita seolah baru saja melihat singa keluar kandang.

"Mama, kami sedang lihat foto adik perempuan yang masih di perut," ucap Kaivan sambil menunjukkan selembar foto USG berwarna abu kehitaman pada Savita.

Savita memandangi gambar itu. Ada rasa sesak yang menekan dadanya, tapi melihat wajah ceria putranya, dia memaksa tersenyum.

"Kamu senang?" tanyanya lembut.

Kaivan mengangguk semangat. "Iya! Aku nggak sabar nunggu adik perempuanku lahir."

Dada Savita terasa diremas kuat. Dia sadar, pilihan menyakitkan ini mungkin memang yang terbaik demi kebahagiaan putranya.

"Mama mau ke dapur, mau ambil minum," kata Savita pelan, mencoba menghindar.

Mendengar kata 'minum', mata Kaivan membulat. "Mama buatkan susu coklat juga, ya!"

Savita mengangguk, lalu berjalan ke dapur. Sebelum pergi, sempat-sempatnya dia menatap sekilas ke arah Mahendra dan Gita. Tatapan yang dingin tapi penuh makna.

Tak lama kemudian, Savita kembali membawa nampan berisi segelas susu hangat dan sepiring kue kering. Di ruang tengah kini hanya ada Kaivan yang sibuk bermain mobil-mobilan.

"Kaivan, ini susu dan cemilannya. Mama mau naik ke atas," ucapnya sambil meletakkan nampan di meja.

Kaivan menoleh, tersenyum cerah, lalu mengucapkan terima kasih.

Begitu masuk ke kamar, Savita sempat tertegun. Mahendra duduk di sofa tunggal di sudut ruangan, seperti sudah menunggunya sejak tadi.

Mahendra beranjak, lalu melangkah mendekat. Suaranya serius. "Savita, ada yang mau kusampaikan sama kamu."

Udara di kamar seketika berubah. Dingin, menekan, dan menyesakkan. Bahkan penghangat ruangan pun terasa menusuk, bukannya menenangkan.

"Ada apa?" tanya Savita dengan alis berkerut. Dalam hati, dia merasa pria di hadapannya kini bukan lagi Mahendra yang dulu dia kenal.

Mahendra berdeham. Tatapannya berubah dari serius menjadi tegas. “Kuminta padamu bersikap baiklah pada Gita.”

Ucapan itu membuat Savita tidak lantas menjawab. Sebaliknya, dialihkan tatapannya ke arah lain. Permintaan itu sulit baginya untuk dipenuhi.

“Kami akan menikah dan tinggal di rumah ini.”

Savita mengalihkan tatapannya pada Mahendra kini. Dia tidak memikirkan hal itu. Tinggal bersama Gita. Satu atap.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Yeni_Lestari87
gita. lu bener bener ya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 136 Angin Segar

    Alis Maia naik. Dia menoleh cepat pada Dimas.“Apa? dia adiknya Mas Dimas? Dia?!” tunjuknya tidak percaya pada Danang.“Heh, emang kenapa?” Danang menyipitkan mata pada Maia. Jelas tidak suka.“Aneh.” Maia menyahut. “Mas Dimas yang kalem gini punya adik nggak jelas.”“Apa kamu bilang?!” Danang mulai geram.Dimas berdehem.“Udah, udah,” ucapnya menengahi. “Ini di rumah sakit. Ada Savita. Jangan berisik kalian berdua bisa?”Danang dan Maia diam seketika.“Kamu Danang, kenapa ke sini?” tanya Dimas pada adiknya.Mata Danang yang masih memelototi Maia akhirnya menatap Dimas. “Mau tanya. Donornya Mbak Savita udah datang, Mas?”Dimas mengangguk lalu menunjuk Maia dengan telunju

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 135 Kedatangan dari Inggris

    “Ini bukan rumah sakitnya ya?”Maia turun dari taksi. Matanya menatap lurus pada rumah sakit lalu kembali pada ponsel yang dia genggam. Sopir taksi menurunkan koper besar milik Maia itu ke sisi jalan.“Mbak kopernya.” Sopir itu menunjuk koper tersebut. Maia menoleh.“Oiya,” balas Maia. Dia mengeluarkan uang dolar dari dalam tasnya. Karena terburu-buru, dia belum sempat menukarnya di money changer. “Pak, maaf bisa pakai dollar? Saya belum sempat nukar.”Sopir taksi itu segera mengangguk saat melihat lima puluh dollar terulur dari tangan penumpangnya tersebut. “Bisa, Mbak. Nggak apa-apa.”Maia menghela napas lega. “Makasih ya, Pak.”Sopir itu mengangguk. “Mau saya bantu, Mbak bawa kopernya?”“Nggak usah, Pak.” Maia menolak. “Saya aja. Makas

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 134 Hitung Mundur Organ

    “Dimas, organnya hatinya sudah mulai shutdown. Kita kehabisan waktu.”Laporan dari Anwar terdengar. Mereka berdiri di ruang monitor di luar ICU. Setelah insiden serangan semalam, kondisi Savita yang tadinya stabil, kini merosot tajam. Stres akibat keributan itu sepertinya menjadi pemicu bagi tubuhnya yang sudah di ambang batas.“Lakuin dialisis darurat,” perintah Dimas putus asa. “Kita harus bersihin racun dari darahnya secepat mungkin.”“Sudah kita coba, Dim,” balas Anwar dengan wajah tampak lelah sambil menunjuk layar monitor. “Tekanan darahnya terlalu rendah. Jantungnya nggak akan kuat nahan prosedur dialisis. Tubuhnya nolak. Setiap kali kita coba hubungin ke mesin, irama jantungnya kacau.”Dimas memukul meja monitor dengan kepalan tangannya, pelan. “Jadi maksudmu kita cuma bisa diam dan nonton dia mati?!”

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 133 Serangan Malam

    “Suster! Ada orang mencurigakan di tangga lantai empat!”Teriakan dari seorang perawat jaga yang sedang berpatroli memecah keheningan malam di koridor ICU. Dimas, yang sedang mencoba memejamkan mata di ruang dokter yang bersebelahan dengan ICU, segera terbangun.Dimas tidak benar-benar tidur. Sejak Savita dirawat, dia tinggal di rumah sakit, hanya pulang beberapa jam untuk mandi.Dia tidak bisa meninggalkan Savita, bahkan di bawah penjagaan ketat. Firasatnya selalu mengatakan Mahendra tidak akan tinggal diam.Jika bukan karena Danang yang mengingatkannya untuk membersihkan diri dan makan, dia tidak akan pulang ke rumah. Ketika di rumah pun pikirannya tertuju pada Savita. Dia selalu khwatir meninggalkan Savita sendirian.“Kenapa sih, Mas?” tanya Ajeng saat melihat Dimas yang selalu tidak tenang jika di rumah.“Mau ke RS, Ma.&rdquo

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 132 Panggilan ke Inggris

    “Halo, Maia? Ini Mama. Kamu harus pulang, Nak. Sekarang. Mbak Vita butuh kamu.”Suara Ami bergetar saat mengucapkan kalimat itu. Dia berdiri di koridor rumah sakit yang sepi, setelah baru saja keluar dari ruang rapat darurat dengan tim onkologi.Para dokter memberi informasi untuk mencari donor lebih cepat. Ami dan Bagus mengajukan diri sebagai donor dari keluarga akan tetapi tim dokter menolak karena masalah usia. Lalu mereka teringat Maia. Hanya Maia yang paling aman untuk usia. Maia masih muda dan kuat.Di London, Maia Ardianti yang baru saja bangun karena perbedaan waktu, mengerutkan kening mendengar nada suara Ami.“Pulang, Ma?” ulang Maia bingung. “Ada apa, Ma? Mama kenapa? Ini masih pagi buta di sini.”“Ini… ini tentang Mbak Savita.”“Mbak Vita?” Suara Maia terdengar lebih waspada. &ldq

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 131 Sadar di Antara Mimpi

    “Kaivan … jangan bawa dia… jangan ….”Rintihan lirih itu terdengar. Ami yang sedang duduk di samping tempat tidur Savita, langsung menegakkan punggungnya. Dia mendekatkan telinganya ke bibir Savita yang pucat.“Sayang? Vita? Kamu bisa dengar Tante?” bisik Ami.Mata Savita bergerak gelisah di balik kelopaknya yang tertutup. Alisnya berkerut. Keringat mulai membasahi dahinya.“Jangan, Mahen… jangan sakitin anakku…” gumamnya lagi. Kali ini lebih jelas.Dimas masuk ke dalam ruangan itu ketika Ami masih mendekatkan telinganya di bibir Savita. Berusaha mendengar ucapan keponakannya itu.“Ada apa, Tante?” tanya Dimas penuh perhatian.“Dia mimpi buruk,” kata Ami pada Dimas yang hendak melakukan pemeriksaan rutin.Dimas mendekati ran

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status