Share

Bab 3 Hanya Status

Penulis: Celestial Soul
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-11 12:07:38

"Sebelumnya aku ingin minta maaf, Savita," ucap Gita pelan. Suaranya bergetar, seperti menahan tangis. "Aku tidak bermaksud menghancurkan pernikahan kalian."

Gita melangkah mendekat membuat Savita otomatis menegang, matanya waspada. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Gita. 

"Aku cuma butuh status menikah,” lanjut Gita lagi saat Savita hanya diam. “Aku nggak mau anakku lahir dicap anak haram."

Savita tetap diam. Tapi dadanya terasa sesak. Jari-jarinya mengepal, meremas kertas di belakang tubuhnya sampai kusut.

Gita melanjutkan dengan suara rendah. "Aku juga enggak masalah kalau cuma jadi istri kedua."

Ucapan itu membuat dunia Savita terasa berhenti berputar hingga membuatnya mundur satu langkah dan hampir menabrak lemari kecil di belakangnya.

Mahendra ikut maju selangkah. "Savita, bisakah kita nggak bercerai? Pikirkan Kaivan. Anak kita pasti sedih kalau kita berpisah tiba-tiba."

Savita terdiam lama memikirkan ucapan Mahendra. Selama enam tahun pernikahan mereka, hubungan keluarganya sangat harmonis. Jika bercerai tiba-tiba, itu akan membuat Kaivan kebingungan, sekaligus sedih.

"Mah, Pah, jangan berantem lagi."

Suara kecil dari ambang pintu memecah ketegangan. Kaivan berdiri di sana dengan mata merah. Savita bahkan hampir lupa kalau Kaivan masih berdiri di ambang pintu kamar itu. 

Anak itu berlari ke arah Savita dan memeluknya erat. "Mama, ayo baikan sama Papa," pintanya polos.

Savita tertegun. Dia mengelus kepala Kaivan lembut, berusaha tersenyum walau bibirnya gemetar.

"Kami nggak berantem, Sayang," ucap Savita pelan, menenangkan walau suaranya pastilah terdengar sangat sedih dan merana.

"Tapi kenapa Mama nangis?" tanya Kaivan polos, menatap wajah mamanya dengan mata bening penuh kebingungan.

Savita menunduk, cepat-cepat menyeka air matanya. "Nggak , Mama nggak nangis kok."

"Savita, apa kamu masih berpikir mau cerai? Kamu nggak memikirkan, Kaivan?" 

Pertanyaan Mahendra mengejutkan Savita. Savita menghela napas pelan. 

“Aku butuh waktu,” ucap Savita lalu meraih tangan Kaivan. “Ayo, Nak. Kita ke kamarmu.”

Kaivan menurut. Dia menggenggam balik tangan Savita lalu berjalan keluar dari kamar itu menuju kamar Kaivan.

Saat tiba di kamarnya, Kaivan segera mengambil kertas dan pensil warna. Dia duduk di kursi kecilnya lalu mulai menggambar.

“Aku mau gambar.” Kaivan berbicara penuh semangat. Seolah lupa kejadian tadi. 

Savita mengikuti Kaivan lalu duduk di sebelahnya. 

"Kaivan, kalau Mama dan Papa pisah. Kamu mau, kan, ikut sama Mama?" tanya Savita.

Kaivan yang tadi sibuk menggambar sontak menoleh. Mata bulatnya perlahan mulai berkaca.

"Kenapa Mama dan Papa mau pisah?" tanyanya polos. Meski baru lima tahun, Kaivan sedikit mengerti arti kata 'pisah' diantara pasangan suami istri.

Savita tertegun. Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibirnya, dan kini dia sendiri tidak tahu harus menjawab apa.

'Apa yang harus kukatakan pada Kaivan, supaya dia bisa mengerti?' batinnya, menatap wajah Kaivan yang penuh tanya.

Melihat mamanya hanya diam, Kaivan kembali memanggil dengan suara kecil. "Mama?"

Savita tersentak. Dia berdehem, mencoba menenangkan diri, lalu mengelus lembut rambut Kaivan. "Mama sama Papa lagi ada masalah, makanya Mama berpikir untuk berpisah."

Kaivan tidak menjawab. Tapi tatapan matanya menancap kuat pada Savita. Hidungnya mulai memerah, bibirnya bergetar, dan tidak lama buliran bening jatuh dari sudut matanya hingga membentuk aliran air mata.

"Nggak! Mama dan Papa nggak boleh pisah!" suaranya pecah, tinggi di ujung kalimat. Lalu dia berbalik dan berlari keluar kamar.

Savita panik. Dia tak menyangka reaksi Kaivan akan seperti itu. Padahal dia sudah bicara selembut mungkin agar anaknya paham.

"Kaivan! Dengar Mama dulu!" serunya sambil berlari mengejar.

Namun langkah kecil Kaivan sudah lebih dulu sampai di depan ruang kerja Mahendra. Pintu terbuka keras membuat Mahendra yang tengah duduk langsung menatap kaget.

"Papa!" seru Kaivan sambil memeluk kaki Mahendra erat. "Papa, jangan pisah sama Mama, ya?"

Alis Mahendra berkerut. Pandangannya turun ke arah Kaivan yang matanya sembap dan hidungnya merah. Tidak lama kemudian, Savita muncul di ambang pintu dengan wajah pucat. Dan Mahendra langsung tahu apa yang baru saja terjadi.

Tatapan Mahendra beralih ke Savita, sorot matanya menjadi lebih serius. 

"Baru dikasih tahu, Kaivan sudah begini. Bagaimana nanti kalau kita beneran pisah?" Mahendra menghela napas berat. "Savita, kumohon... jangan egois. Pikirkan perasaan anak kita."

Savita terdiam. Kata-kata Mahendra membuat tubuhnya seolah membeku di tempat.

'Kenapa sekarang malah aku yang terlihat egois di sini?' Pikir Savita lirih.

Savita memandangi Mahendra, wajahnya terlihat terluka. 'Bukankah disini dialah yang egois? Ingin menikahi wanita lain tanpa bercerai terlebih dulu.'

Namun, kata-kata itu hanya tersangkut di kepala. Entah mengapa saat ini bibirnya kelu untuk sekedar mengeluarkan kata-kata pembelaan.

Mahendra sadar dengan perubahan raut wajah Savita. Dia berdeham, lalu berjongkok, menatap Kaivan serius. "Jangan menangis, Mama dan Papa nggak akan berpisah."

Pandangan Mahendra lalu kembali ke arah Savita yang masih berdiri kaku di ambang pintu. "Meski Mama ingin, Papa akan menolak. Kita keluarga, dan apapun yang terjadi, kita akan tetap bersama."

Setelah mendengar itu, Kaivan mulai tenang, meski sesekali masih menyeka hidungnya dengan punggung tangan. 

Mahendra menghela napas. 

"Berhenti berpikir untuk cerai, Savita. Karena aku nggak akan pernah mengabulkan itu,” ucap Mahendra saat Savita hanya diam. “Aku akan menikahi Gita, sementara kamu akan tetap menjadi istriku."

Savita tertegun. Sungguh dia tidak menyangka Mahendra akan seegois itu. 

"Mama, kumohon jangan pisah sama papa," ucap Kaivan, suaranya terdengar serak karena habis menangis. Suara kaivan membuatnya urung mengatakan penolakan.

Kaivan melangkah ke arah Savita lalu meraih tangan mamanya. Dia memandangi Savita dengan mata yang kembali berkaca. "Aku nggak mau seperti Mila, Ma."

Savita tertegun. Dia tahu siapa Mila, teman sekelas Kaivan di prasekolah yang orang tuanya baru saja berpisah.

"Teman-teman suka ngejek dia, katanya dia nggak punya ayah. Kaivan nggak mau kayak gitu, Mah," lanjutnya, kini air matanya kembali mengalir.

Dada Savita seolah dihantam balok kayu. Napasnya terasa berat. Dia baru sadar, luka akibat perpisahan orang tua bisa sedalam itu bagi anak sekecil Kaivan. Dan kini, ketakutan itu jelas terlihat di mata putranya sendiri.

Savita tidak ingin Kaivan terluka. Tapi kalau dirinya yang harus bertahan dalam pernikahan yang penuh luka, bukankah hatinya sendiri yang hancur? Dia harus rela membagi suaminya dengan wanita lain.

"Mama, jangan diam saja. Katakan sesuatu," desak Kaivan sambil menggoyang tangan Savita karena sedari tadi mamanya hanya diam. Kaivan butuh jawaban yang pasti.

Savita tersadar. Tatapannya kemudian bergantian ke arah Kaivan dan Mahendra. Kaivan masih terlalu kecil untuk menanggung beban dari perpisahan mereka.

Mungkin memang lebih baik dirinya yang terluka daripada putranya.

Savita menatap Mahendra, wajahnya mulai serius. Dia menarik napas panjang, seolah ingin menelan seluruh udara yang mampu mengurangi rasa sesak di dadanya.

"Aku mengalah. Kamu bisa menikahi Gita, dan kita nggak perlu bercerai." Begitu kalimat itu selesai, buliran kristal bening langsung jatuh dari matanya.

Mahendra yang mendengar keputusan Savita, segera berdiri dan menghampiri. Senyum lebar terbit di wajah tampannya.

"Sungguh? Terima kasih, Sayang!" serunya, lalu menarik Savita ke dalam pelukannya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Yeni_Lestari87
selalu anak yang jadi korban kalau ada ortu cerai
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 136 Angin Segar

    Alis Maia naik. Dia menoleh cepat pada Dimas.“Apa? dia adiknya Mas Dimas? Dia?!” tunjuknya tidak percaya pada Danang.“Heh, emang kenapa?” Danang menyipitkan mata pada Maia. Jelas tidak suka.“Aneh.” Maia menyahut. “Mas Dimas yang kalem gini punya adik nggak jelas.”“Apa kamu bilang?!” Danang mulai geram.Dimas berdehem.“Udah, udah,” ucapnya menengahi. “Ini di rumah sakit. Ada Savita. Jangan berisik kalian berdua bisa?”Danang dan Maia diam seketika.“Kamu Danang, kenapa ke sini?” tanya Dimas pada adiknya.Mata Danang yang masih memelototi Maia akhirnya menatap Dimas. “Mau tanya. Donornya Mbak Savita udah datang, Mas?”Dimas mengangguk lalu menunjuk Maia dengan telunju

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 135 Kedatangan dari Inggris

    “Ini bukan rumah sakitnya ya?”Maia turun dari taksi. Matanya menatap lurus pada rumah sakit lalu kembali pada ponsel yang dia genggam. Sopir taksi menurunkan koper besar milik Maia itu ke sisi jalan.“Mbak kopernya.” Sopir itu menunjuk koper tersebut. Maia menoleh.“Oiya,” balas Maia. Dia mengeluarkan uang dolar dari dalam tasnya. Karena terburu-buru, dia belum sempat menukarnya di money changer. “Pak, maaf bisa pakai dollar? Saya belum sempat nukar.”Sopir taksi itu segera mengangguk saat melihat lima puluh dollar terulur dari tangan penumpangnya tersebut. “Bisa, Mbak. Nggak apa-apa.”Maia menghela napas lega. “Makasih ya, Pak.”Sopir itu mengangguk. “Mau saya bantu, Mbak bawa kopernya?”“Nggak usah, Pak.” Maia menolak. “Saya aja. Makas

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 134 Hitung Mundur Organ

    “Dimas, organnya hatinya sudah mulai shutdown. Kita kehabisan waktu.”Laporan dari Anwar terdengar. Mereka berdiri di ruang monitor di luar ICU. Setelah insiden serangan semalam, kondisi Savita yang tadinya stabil, kini merosot tajam. Stres akibat keributan itu sepertinya menjadi pemicu bagi tubuhnya yang sudah di ambang batas.“Lakuin dialisis darurat,” perintah Dimas putus asa. “Kita harus bersihin racun dari darahnya secepat mungkin.”“Sudah kita coba, Dim,” balas Anwar dengan wajah tampak lelah sambil menunjuk layar monitor. “Tekanan darahnya terlalu rendah. Jantungnya nggak akan kuat nahan prosedur dialisis. Tubuhnya nolak. Setiap kali kita coba hubungin ke mesin, irama jantungnya kacau.”Dimas memukul meja monitor dengan kepalan tangannya, pelan. “Jadi maksudmu kita cuma bisa diam dan nonton dia mati?!”

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 133 Serangan Malam

    “Suster! Ada orang mencurigakan di tangga lantai empat!”Teriakan dari seorang perawat jaga yang sedang berpatroli memecah keheningan malam di koridor ICU. Dimas, yang sedang mencoba memejamkan mata di ruang dokter yang bersebelahan dengan ICU, segera terbangun.Dimas tidak benar-benar tidur. Sejak Savita dirawat, dia tinggal di rumah sakit, hanya pulang beberapa jam untuk mandi.Dia tidak bisa meninggalkan Savita, bahkan di bawah penjagaan ketat. Firasatnya selalu mengatakan Mahendra tidak akan tinggal diam.Jika bukan karena Danang yang mengingatkannya untuk membersihkan diri dan makan, dia tidak akan pulang ke rumah. Ketika di rumah pun pikirannya tertuju pada Savita. Dia selalu khwatir meninggalkan Savita sendirian.“Kenapa sih, Mas?” tanya Ajeng saat melihat Dimas yang selalu tidak tenang jika di rumah.“Mau ke RS, Ma.&rdquo

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 132 Panggilan ke Inggris

    “Halo, Maia? Ini Mama. Kamu harus pulang, Nak. Sekarang. Mbak Vita butuh kamu.”Suara Ami bergetar saat mengucapkan kalimat itu. Dia berdiri di koridor rumah sakit yang sepi, setelah baru saja keluar dari ruang rapat darurat dengan tim onkologi.Para dokter memberi informasi untuk mencari donor lebih cepat. Ami dan Bagus mengajukan diri sebagai donor dari keluarga akan tetapi tim dokter menolak karena masalah usia. Lalu mereka teringat Maia. Hanya Maia yang paling aman untuk usia. Maia masih muda dan kuat.Di London, Maia Ardianti yang baru saja bangun karena perbedaan waktu, mengerutkan kening mendengar nada suara Ami.“Pulang, Ma?” ulang Maia bingung. “Ada apa, Ma? Mama kenapa? Ini masih pagi buta di sini.”“Ini… ini tentang Mbak Savita.”“Mbak Vita?” Suara Maia terdengar lebih waspada. &ldq

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 131 Sadar di Antara Mimpi

    “Kaivan … jangan bawa dia… jangan ….”Rintihan lirih itu terdengar. Ami yang sedang duduk di samping tempat tidur Savita, langsung menegakkan punggungnya. Dia mendekatkan telinganya ke bibir Savita yang pucat.“Sayang? Vita? Kamu bisa dengar Tante?” bisik Ami.Mata Savita bergerak gelisah di balik kelopaknya yang tertutup. Alisnya berkerut. Keringat mulai membasahi dahinya.“Jangan, Mahen… jangan sakitin anakku…” gumamnya lagi. Kali ini lebih jelas.Dimas masuk ke dalam ruangan itu ketika Ami masih mendekatkan telinganya di bibir Savita. Berusaha mendengar ucapan keponakannya itu.“Ada apa, Tante?” tanya Dimas penuh perhatian.“Dia mimpi buruk,” kata Ami pada Dimas yang hendak melakukan pemeriksaan rutin.Dimas mendekati ran

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status