Home / Rumah Tangga / Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku / Bab 5 Pernikahan yang Dikorbankan

Share

Bab 5 Pernikahan yang Dikorbankan

last update Last Updated: 2025-11-11 12:09:01

“Bagaimana kabarmu, Nak? Baik-baik saja, kan?” 

Suara Citra, Ibunya, membuat Savita menutup mata. Dihela napasnya pelan lalu tersenyum.

“Baik, Ma,” balas Savita. “Aku lagi di sekolahan Kaivan.”

“Loh, Kaivan bukannya ada mobil antar jemputnya dari sekolah kan, Vita?” terdengar suara heran dari Citra.

 Savita mengangguk masih tersenyum. Dia senang mendengar suara Ibunya walau dari sambungan telepon. Saat ini dia sedang menunggu di dalam mobil, di depan sekolah Kaivan. 

“Iya, Ma. Ada. Cuma aku lagi pengen aja jemput,” balasnya. 

Diperhatikan jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktunya masih jauh dari jam jemput. Masih ada dua jam lagi. Savita butuh keluar dari rumah itu sebab di rumah tersebut ada Gita. Dia sedang tidak ingin bersama dengan Gita satu atap untuk sekarang.

“Kamu belum jawab pertanyaan Mama. Kamu baik-baik aja?”

Senyum Savita memudar. Ditahannya air mata agar tidak jatuh. Mendadak dadanya terasa sakit hingga dia bahkan hampir sulit bernapas. Perlahan, dia membuka kaca jendela mobilnya lalu menjauhkan ponselnya. 

“Vita?” Citra masih memanggil lagi. Panggilan yang sangat Savita sukai. 

“Ya, Ma,” Savita berdehem. “Vita baik.” 

“Kamu nangis?”

Savita menutup mata lalu meletakkan ponsel di pangkuannya. Dia menangis tanpa suara. Berbagai macam pikiran melintasi kepalanya. Dia ingin menceritakan pada Mamanya akan tetapi khawatir kalau nanti malah membuat kepikiran orang tua. 

“Mama tau kamu nangis,” ucap Citra lagi. “Kenapa? cerita sama Mama.”

Isakan keluar begitu saja dari bibir Savita. “Enggak, Ma,” balasnya pelan. Ponsel masih berada di pangkuan dengan mode pengeras suara diperdengarkan. 

“Capek, ya?” Citra bertanya lembut.

Pertanyaan itu membuat Savita menangis lagi. Benar, dia sangat lelah. Lelah dengan semuanya. Dia ingin menyerah tetapi teringat Kaivan. Dia tidak mungkin meninggalkan Kaivan begitu saja. 

“Boleh pulang dulu ke rumah sini.” Citra berkata lembut. “Mama kebetulan masak rendang kesukaan kamu.”

Savita tidak menjawab. Hanya airmata yang dia berikan pada ucapan Citra.

“Jam jemput Kaivan masih lama kan? nanti datang lagi saja ke sekolahnya. Ya?”

“Papa ada, Ma?” Savita bertanya hal lain. 

Dia ingin ke rumah orangtuanya tetapi dia tidak sanggup. Dia takut jika pulang ke rumah orangtuanya, maka mereka akn tahu semuanya. Dia tidak ingin melakukan itu. 

“Papamu di kantor. Pulang kayak biasa. Malam.”

Savita menghapus jejak air matanya. Dia memerhatikan wajahnya dari kaca spion. Matanya bengkak dan hidungnya merah. 

“Kayaknya nggak hari ini, Ma.” Savita berkata pelan. “Lain kali saja aku mampir ke rumah Mama, ya.”

Citra menghela napas. “Iya, nggak apa-apa,” balasnya. “kalau ada apa-apa cerita sama Mama, ya.”

“Iya, Ma.” Savita menjawab pelan.

“Mahendra apa kabar?”

Pertanyaan itu membuat Savita menghela napas. “Baik, Ma.” Bahkan dia menjawabnya dengan ketus. “Sangat teramat baik.” Tambahnya lagi.

Setelah berbincang dengan Citra yang membuat Savita mati-matian untuk menahan diri agar tidak bercerita masalah rumah tangganya, dialihkan tatapannya pada sekolah Kaivan. 

Alisnya bertaut ketika melihat kendaraan yang dia kenal berhenti tepat di depan pagar sekolah tersebut. 

“Mahendra? mau ngapain dia ke sekolahnya Kaivan?” Savita bergumam sendiri.

kebingungannya berubah kesal saat melihat orang yang bersama dengan Mahendra. 

“Gita?” bisik Savita.

Walau Gita memakai topi dan masker, tetapi pakaiannya itu tidak bisa dibohongi. Itu pakaian yang Gita kenakan saat datamg ke rumah pagi tadi. 

“Jam jemputnya masih satu jam lagi. Mau ngapain mereka?” Savita tidak lantas turun dari mobil itu. Dia memilih untuk tetap duduk di kemudi seraya memerhatikan. 

Savita melihat Mahendra dan Gita keluar dari sekolah bersama dengan Kaivan. Anak itu tampak riang saat digandeng oleh Gita. 

Savita mengepalkan tangannya di kemudi. Dadanya bergemuruh. “Mau ngapain mereka? mau ajak Kaivan bolos sekolah?” kemudian tangannya mengambil ponsel. “Aku coba telepon Mahendra.”

Savita mencoba menelepon Mahendra. Dalam dering ketiga, Mahendra mengangkat teleponnya. “Ya?”

“Di mana?” Savita bertanya tanpa basa-basi.

“Di kantor. Kenapa?”

Savita menghela napas. Matanya mengamati Mahendra yang memegang ponsel di telinga. 

“Bukan mau jemput Kaivan?” tanya Savita langsung.

“Oh,” balas Mahendra. “Gita yang jemput. Katanya dia mau ajak Kaivan jalan-jalan. Kamu di mana?”

Savita menghela napas. “Di rumah Mamaku.”

Kemudian tanpa basa-basi, Savita menutup teleponnya. 

“Kamu sudah bisa bohong, Mahendra.” Savita berkata. Matanya tidak lepas dari Mahendra yang memeluk erat Kaivan dan memasukkan anak itu ke dalam mobil. Bahkan, dia membantu Gita masuk ke dalam mobil. “Demi perempuan itu, kamu korbankan perasaanku dan pernikahan kita.”

Savita mengambil ponselnya lagi lalu mulai menelepon. Dering kedua, telepon diangkat.

“Aku pulang, Ma.” Savita berkata dengan mata berkaca-kaca.

“Ya, Mama tunggu ceritamu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 92 Penolakan

    “Kaivan, ini Mama, Nak. Mama sayang banget sama Kaivan.”Permohonan itu keluar dari bibir Savita yang pecah-pecah dengan lirih. Setiap ucapan diwarnai kerinduan dan keputusasaan yang teramat mendalam. Air matanya mengalir deras hingga menciptakan jejak basah di wajahnya yang pucat.Penolakan Kaivan tidak lantas membuatnya jera. Dia masih merangkak. Tangannya terulur hendak menggapai. Dia hanya beberapa senti dari Kaivan yang bersembunyi ketakutan di balik kaki Mahendra.“Nggak. Bukan Mama aku!” cicit Kaivan masih bersembunyi. “Mama nggak kayak gitu. Mama aku cantik.”“iya, Nak. Ini Mama, Sayang,” bujuk Savita. Dia mencoba membuat suaranya selembut dan sehalus mungkin walau meskipun yang keluar hanya bisikan serak. “Mama kan cuma sakit. Tapi Mama ini tetap Mama kamu, Nak. Mama nggak bakalan sakiti kamu. Sini, Nak. Coba kamu pegang tangan Mama.&rdqu

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 91 Pertemuan yang Menghancurkan

    “Siti, panggil penontonnya kemari.”Kali ini Mahendra yang memerintahkan Siti. Wanita muda itu mengangguk patuh lalu keluar dari kamar Savita yang berantakan seperti terkena badai. Siti seolah tahu yang dimaksud oleh Tuannya tersebut tanpa bertanya lagi.Gita tersenyum miring pada savita. Sementara Mahendra menatap Savita tajam.“Tuan,” ucap Siti.Tidak lama dia datang lagi. Savita tidak perlu menebak. Di belakang Siti, Kaivan memeluk pinggang wanita itu.Savita, yang masih duduk di pojok kamarnya segera menegang. Jantungnya berdebar kencang dan suaranya tercekat di tenggorokan.Mahendra menoleh.“Kaivan, kemari, Nak,” pinta Mahendra dengan nada sabar.Seperti seorang ayah yang sedang mengajari anaknya belajar. “Papa mau tunjukin sama kamu. Kenapa kamu nggak boleh dekat-dekat lagi ke kamar in

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 90 Panggung Sandiwara

    “Siti, bantu saya. Kamu berantakin kamarnya. Bikin kamar itu kayak baru aja ada perang di sini.”Perintah Mahendra terdengar keesokan paginya hingga membuat Savita yang sedang meringkuk di tempat tidur segera waspada. Savita sudah bangun pagi-pagi sekali, akan tetapi tubuhnya memilih untuk tetap tidursaja sebab tidak ada yang bisa dia kerjakan di kamar itu.Savita bahkan mendengar Siti menjawab patuh, “Baik, Tuan Mahendra.”Tidak lama kemudian, pintu kamar Savita menjeblak terbuka. Savita duduk di atas tempat tidur. Tatapannya waspada karena bukan hanya Siti yang masuk tetapi Mahendra dan Gita ikut masuk ke kamar itu.Savita segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang tiba-tiba gemetar. Beruntung kali ini dia tidur menggunakan penutup kepala.“Mau ngapain kalian?” tanyanya. Walau suaranya lemah tetapi penuh perlawanan dan waspada.

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 89 Hancurnya Mainan Kesayangan

    “Ada apa, Kaivan? Kenapa kamu teriak-teriak, Sayang?” tanya Mahendra.Savita yang masih berdiri di atas kloset di kamar mandi, mendengar itu dengan hati yang hancur berkeping-keping. Kemudian, dia mendengar langkah tergesa-gesa dari Gita dan Mahendra menghampiri Kaivan di halaman belakang.“Bunda, ada hantu … ada hantu di jendela!” isak Kaivan sambil menunjuk pada arah jendela kamar mandi Savita.Savita menelan ludah lalu segera menutup rapat jendela ventilasi itu dan turun dari sana. Akan tetapi, dia sudah terlambat. Kerusakan telah terjadi.Terdengar tawa kecil Gita menanggapi ucapan Kaivan. “Ya ampun, Sayang. Itu bukan hantu. Itu Mama kamu. Memangnya kamu udah lupa muka Mamamu sendiri? Hm?”“Bukan!” teriak Kaivan histeris. “Mukanya seram! Kayak monster yang Bunda ceritain kemarin!” tambahnya masih histeris.

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 88 Wajah di Balik Jendela

    Pagi harinya, Savita terbangun dengan pintu menjeblak terbuka. Mendengar itu, dia segera menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tipis.Dia tidak ingin orang lain melihat rambut di kepalanya yang rontok. Biasanya dia akan memakai penutup kepala. Namun, saat hendak tidur, dia melepasnya.“Bangun, Nyonya.”Itu suara Siti.Terdengar suara sesuatu benda dikeluarkan dari dalam plastik lalu membentur nampan beberapa kali. Savita diam tidak bergerak.“Kata Non Gita, Nyonya hari ini makanannya roti kering aja. Ini jatahnya sampai makan malam.”Terdengar pintu tertutup lalu terkunci dari luar. Savita keluar dari selimut. Dia melihat di nakas terdapat roti kering yang jumlahnya menurutnya sedikit lebih banyak. Dia menghela napas pelan. Dia tidak ingin makan. Kembali dia menarik selimutnya. Dia lebih memilih tidur lagi.Sore

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 87 Doktrin

    “Kamu tahu nggak kenapa Mama dikurung di kamar itu?”Suara Mahendra yang terdengar bijaksana dari ruang tengah. Savita yang sedang menelan roti kering jatah makan malamnya, segera berhenti mengunyah. Sudah beberapa jam sejak kedatangan polisi dan rumah itu terasa sunyi.Dia merangkak menuju pintu lalu menempelkan telinganya di sana. Dia dapat membayangkan Kaivan duduk di karpet, di antara Mahendra dan Gita berusaha mendengarkan penuh perhatian.“Nggak tahu aku, Pa,” jawab Kaivan. “Katanya Mama lagi sakit ya?”“Betul, Mama lagi sakit,” sahut Mahendra. “Tapi bukan sakit biasa kayak batuk pilek. Ini sakit yang bikin orang jadi beda.”Savita mengepalkan kedua tangannya. Dia tahu arah pembicaraan itu. itu merupakan strategi yang terkoordinasi.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status